Logo PHDI Pusat
Memuja Tuhan untuk Kemakmuran yang Adil Print E-mail

Memuja Tuhan untuk Kemakmuran yang Adil

Sarvo vai tatra jivati
gaur asvah purusah pasuh.
yatredam brahma kriyate
paridhir jivanaya kam
.
(Atharvaveda VIII.2.25).


Maksudnya: Setiap orang termasuk tumbuhan dan hewan ternak serta semua jenis makhluk hidup dalam keadaan bahagia. Tuhan Yang Maha Esa disembah dengan teguh untuk kemakmuran yang adil bagi semuanya.

Salah satu ciri beragama yang paling utama adalah percaya dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ajaran Hindu disebut sraddha dan bhakti.

Tujuan memuja Tuhan bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk kepentingan diri manusia. Tujuan manusia memuja Tuhan untuk menguatkan eksistensi dirinya dalam menapaki kehidupannya di dunia ini. Pemujaan Tuhan bukan untuk menambah beban hidup dan menjadi kendala dalam upaya mencapai bahagia. Pemujaan Tuhan justru untuk mendapatkan kekuatan yang dapat membantu manusia menopang beban hidupnya. Kalau masih ada yang merasakan beragama memuja Tuhan adalah beban dan memberatkan hidupnya, itu bukan kesalahan agama dan Tuhan, tetapi paradigma umat dalam memahami agama yang dianutnya keliru. Kalau benar dan tepat cara kita memahami dan mengamalkan agama, tidak akan terjadi beragama sebagai beban yang memberatkan hidup. Justru dengan memuja Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang disabdakan Tuhan akan menimbulkan berbagai kekuatan mewujudkan kehidupan yang bahagia.

Dalam Pustaka Bhagawata Purana VII.5.23, dinyatakan ada sembilan cara memuja Tuhan yang disebut Nawa Wida Bhakti. Sembilan cara itu adalah Sravanam, Kirtanam, Smaranam, Arcanam, Vandanam, Dasyanam, Pada Sevanam, Sakhyanam dan Atmanive Danam. Sembilan jenis pemujaan inilah umumnya ditradisikan oleh umat Hindu di seluruh dunia dengan wujud budaya yang berbeda-beda.

Di Bali umat Hindu memuja Tuhan di tempat pemujaan yang disebut Pura. Ada empat konsepsi yang melatarbelakangi pendirian Pura bagi umat Hindu di Bali. Ada konsepsi Rwa Bhineda, konsepsi Catur Loka Pala, konsepsi Sad Winayaka dan konsepsi Padma Bhuwana.

Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda adalah Pura Besakih dan Pura Batur. Pura ini untuk memuja Tuhan sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Tujuan pemujaan Tuhan sebagai pencipta Purusa dan Pradana untuk membangun keseimbangan dinamika hidup antara kehidupan rohani dan jasmani. Pura Catur Loka Pala adalah Pura Lempuhyang Luhur, Pura Luhur Batu Karu, Pura Anda Kasa dan Pura Puncak Mangu. Keempat Pura ini berada di empat penjuru Pulau Bali.

Tujuan pemujaan Tuhan di Pura Catur Loka Pala adalah untuk membina rasa aman (raksanam) atas perlindungan Tuhan dari semua arah. Konsepsi Sad Winayaka adalah konsepsi yang melandasi pendirian Pura Sad Kahyangan. Sad Kahyangan saat Bali masih satu kerajaan dengan Klungkung sebagai pusat kerajaan dinyatakan dalam Lontar Kusuma Dewa. Sad Kahyangan tersebut adalah Pura Besakih, Pura Lempuhyang Luhur, Pura Gowa Lawah, Pura Luhur Ulu Watu, Pura Luhur Batu Karu dan Pura Pusering Jagat. Setelah Bali menjadi sembilan kerajaan tidak kurang dari sembilan lontar yang menyatakan Pura Sad Kahyangan yang berbeda-beda. Tujuan pemujaan Tuhan Yang Mahaesa di Pura Sad Kahyangan adalah untuk menguatkan komitmen umat Hindu di Bali menegakkan Sad Kerti sebagai dasar membangun Bali yang aman dan makmur atau sejahtera dan adil. Sad Kerti itu adalah Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti. Selanjutnya Konsepsi Padma Bhuwana melahirkan sembilan Pura Kahyangan Jagat yang berada di sembilan penjuru Pulau Bali. Sembilan Pura itu adalah Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Gowa Lawah, Pura Andakasa, Pura Luhur Ulu Watu, Pura Luhur Batu Karu, Pura Batur dan Pura Pusering Jagat. Sembilan Pura Padma Bhuwana inilah memiliki radius sekitar lima kilometer sebagai warisan dari leluhur para Mpu sejak dahulu. Dalam radius lima kilometer kini sudah ada yang semakin terdesak dialihfungsikan dengan bangunan yang tidak nyambung dengan kesucian Pura tersebut.

Sembilan Pura Kahyangan Jagat itu ada yang berfungsi lebih dari satu. Misalnya Pura Besakih di samping sebagai Pura Rwa Bhineda juga sebagai Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana, di samping fungsi utamanya sebagai Hulunya Bali Rajya. Pura Lempuhyang Luhur sebagai Pura Catur Loka Pala, sebagai Pura Sad Kahyangan dan sebagai Pura Padma Bhuwana. Demikian juga Pura-Pura lainya. Semua Pura Kahyangan Jagat itu memiliki Pura Prasanak atau Jajar Kemiri. Seperti Pura Besakih memiliki Pura Prasanak lebih dari dua puluh Pura termasuk empat Pura Pasar Agung yang ada di empat penjuru Besakih yaitu di Desa Kedampal, Sibetan, Selat dan Kubu. Pura Lempuhyang Luhur memiliki dua puluh lima Pura Prasanak. Demikian juga Pura-Pura yang lainya.

Semua Pura Kahyangan Jagat itu untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam fungsi yang berbeda-beda. Yang jelas pemujaan Tuhan dalam berbagai fungsinya itu untuk menguatkan daya spiritual umat dalam menyelenggarakan berbagai aspek kehidupannya mewujudkan kehidupan yang aman damai dan makmur. Semua aspek kehidupan itu membutuhkan daya spiritual yang dinamis untuk memberikan ketahanan mental dan moral yang tangguh. Kecerdasan intelektual dan kepekaan emosional tanpa landasan moral dan mental yang tangguh dapat menggoyahkan prinsip hidup mencapai kehihupan yang makmur dan bahagia. Pemujaan Tuhan itu bukan hanya dengan mencakupkan tangan di atas ubun-ubun dalam rangka Kramaning Sembah semata dalam upacara yadnya yang bersifat ritual formal. Hal itu merupakan proses awal untuk dilanjutkan dengan wujud nyata sehingga dapat bermakna dalam mewujudkan kehidupan yang makmur dan bahagia.

Pemujaan Tuhan bukan untuk merayu Tuhan agar segala kehidupan manusia dilimpahkan karunia dengan gampang dan enak. Pemujaan Tuhan justru untuk menguatkan konsistensi diri menghadapi dinamika hidup agar berbagai persoalan hidup dapat diselesaikan dengan landasan yang benar, baik dan tepat. Demikianlah daya guna pemujaan Tuhan menurut Hindu.

[Weda Wakya – Balipost Minggu, 1 Mei 2011 – Ketut Wiana].

 

 
< Prev   Next >
"));