Logo PHDI Pusat
Menonjolnya Sifat-sifat Keraksasaan Print E-mail

Weda Wakya
Menonjolnya Sifat-sifat Keraksasaan

Dambho darpo abhimaanas ca
Krodhah paarusyam eva ca
Ajnyaanam caabhijatasya
Paartha sampadam aasurim
.
( Bhagawad Gita XVI,4)

Maksudnya: Berpura-pura (dhambo), sombong (darpo), membanggakan diri (abhimana), pemarah (krodha), kasar (parusya), tidak berilmu (ajnyanam) dan membangga-banggakan wangsanya (abhijatasya) semuanya itu ciri sifat orang yang memiliki kecenderungan keraksasaan, wahai partha.

Semakin retaknya keakraban sosial atau semakin munculnya hubungan saudara tanpa sahabat dewasa ini karena kehidupan modern memunculkan sifat-sifat yang disebut dengan asuri sampad atau kecendrungan kerakasaan. Tentunya hal ini bukan salahnya konsep hidup modern. Nampaknya ada kekeliruan dalam memahami paradigma hidup modern.

Saudara tanpa sahabat meliputi berbagai rumpun kehidupan. Ada sekelompok orang satu saudara kandung seayah dan seibu tetapi bermusuhan. Ada karena merebut waris, merebut perhatian orang tua dan seterusnya. Demikian juga ada yang serumpun satu suku tetapi juga bermusuhan. Bersaudara se-agama juga banyak yang bermusuhan. Ada yang bersaudara separtai politik, bersaudara karena bersaudara dalam satu instansi,bersaudara karena satu clan dan seterusnya banyak yang bermusuhan. Maraknya saudara tanpa sahabat ini karena agama, pendidikan, pembinaan moral dan mental belum berhasil mencegah semakin munculnya sifat-sifat yang disebut asuri sampad seperti tercantum dalam Bhagawad Gita XVI. 4 tersebut. Sloka tersebut menyebutkan ada tujuh ciri sifat-sifat keraksasaan yang belum berhasil diredam oleh berbagai sistem pembinaan kehidupan bersama ini. Tujuh ciri kecendrungan keraksasaan yang dinyatakan dalam Bhagawad Gita itu adalah:

Dhambo, artinya berpura-pura. Orientasi hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat pada zaman modern menurut Prof. Dr. Zakyah Darajat semakin bergeser dari hubungan berdasarkan kasih sayang semakin menuju hubungan berdasar kepentingan. Karena itu dewasa ini semakin berkembang penghormatan dan keakraban semu hanya untuk basa-basi semata. Karena itu ada sementara oknum pejabat setelah pensiun menderita post power syndroom. Saat menjabat dia merasa demikian dihormati dan disayangi oleh sekeliling anak buah dan masyarakat sekitarnya. Ternyata di antara penghormatan dan kasih sayang itu banyak yang semu. Ada juga oknum yang berpura-pura menampillkan diri punya kepekaan sosial yang tinggi. Pura-pura dermawan menebar sumbangan sosial, mendadak rajin ke Pura-Pura besar bersembahyang. Semua kepura-puraan itu dilakukan karena untuk mengambil hati khalayak karena yang bersangkutan sedang menjajakan diri agar dipilih menjadi pemimpin. Berbagai ke pura-puraan kini semakin merebak.

Darpo, artinya sombong yang juga merupakan ciri manusia yang memiliki kecendrungan sifat-sifat keraksasaan. Sombong itu karena ego yang tanpa kasih. Kalau sifat sombong sudah melekat dalam diri seseorang maka setiap orang yang tidak memujinya akan dianggap rendah. Kehidupannya selalu mementingkan diri sendiri. Tak hirau akan kepentingan orang lain.

Abhimanas, artinya membanggakan diri berlebihan yang diekspresikan pada orang lain. Bangga akan suatu yang dimiliki adalah manusiawi tapi tidak perlu diekspresikan pada pihak lain. Kebanggaan yang demikian itu wujudkan dengan bersyukur pada Tuhan. Membangga-banggakan diri dengan menganggap orang lain lebih rendah umumnya di dorong oleh nafsu yang disebut distinksi. Nafsu distinksi itu adalah nafsu untuk selalu membedakan diri dengan orang lain dan mendudukkan diri lebih dari orang lain. Nafsu ini akan positif apabila diekspresikan dengan melakukan hal-hal yang prestisius secara nyata bukan dengan membangga-banggakan diri dengan pernyataan vokal.

Krodha, adalah sifat pemarah, dengki dan pendendam. Krodha adalah salah satu dari pintu neraka yang dinyatakan dalam Bhagawad Gita. Tiga pintu neraka itu adalah lobha, kama dan krodha.

Menurut Manawa Dharmasastra semua keburukan berasal dari lobha, sedangkan kama menimbulkan sepuluh keburukan dan krodha menimbulkan delapan keburukan. Maha Resi Vyasa dalam Maha Bharata menyatakan jauh lebih mulia tidak pernah marah kalau dibandingkan dengan sembahyang seratus tahun. Tentunya yang paling ideal adalah sembahyang terus dan juga tidak pernah marah.

Parusia, artinya keras dan kasar. Umumnya orang yang keras dan kasar baik dalam hatinya maupun dalam ekspresinya dalam Wrehaspati Tattwa di golongkan manusia tipe Raksasa Yoni. Dalam Wrehaspati Tattwa ada lima tipelogi manusia yang lahir ke dunia ini ada lima yaitu Dewa Yoni, Widyadara Yoni, Detya Yoni, Naga Yoni dan Raksasa Yoni. Orang yang yang Yoni Raksasa ini suka melakuan ujar apergas berkata-kata keras dan kasar. Ujar Mitya berkata-kata bohong. Ujar Ahala berkata yang bermaksud jahat. Ujar Pisuna berkata-kata yang tujuannya memfitnah.

Ajnyana, artinya tanpa kesadaran atau disebut juga Awidya karena digelapkan oleh berbagai kelebihan yang dimiliki. Dalam Nitisastra dinyatakan ada tujuh hal dapat membuat orang mabuk. Kalau tidak mabuk karena tujuh hal itu dialah yang disebut orang yang merdeka atau yeka ngaran sang mahardika. Tujuh penyebab mabuk itu adalah surupa atau berwajah indah, guna berilmu, dhana punya kekayaan, yowana muda, kula kulina dari keturunan mulia, sura artinya air nira dan kasuran pemberani.

Abhijatassya, artinya mengagung-agung kewangsaan atau keturunan tergolong ciri orang yang punya kecendrungan keraksasaan. Sifat ini dalam kehidupan beragama Hindu sampai memerosotkan ajaran Catur Warna menjadi Catur Kasta yang merupakan noda hitam bagi ajaran Hindu yang mulia dan suci itu.

Demikianlah ciri-ciri sifat-sifat Keraksaaan yang semakin eksis dalam masyarakat post modern dewasa ini. Pembangunan moral dan mental lewat kehidupan beragama seyogianya berdaya guna mereduksi sifat-sifat keraksasaan agar kehidupan bersama semakin kondusif.

[Weda Wakya – Balipost Minggu, 15 Mei 2011 – Ketut Wiana].

 

 
< Prev   Next >
"));