Logo PHDI Pusat
Lindungi Alam dan Manusia dari Kejahatan Print E-mail

Lindungi Alam dan Manusia dari Kejahatan

Om Brhatsumnah prasavita nivesano.
jagatah sthaturubhayasya yo vasi
sa no devah savita sarma yacchatvasme
ksayaya trivarutham amhasah
(Rgveda IV.53.6).

Maksudnya: Ya Tuhan yang melimpahkan kehidupan pada alam serta menegakkannya. Tuhan sebagai pengatur dengan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Semoga Savitri memberi pencerahan kepada kami untuk membangun ketenteraman hidup. Anugerahkan kami kemampuan untuk menghindari kekuatan jahat.

Pemujaan kepada Tuhan hendaknya jangan menghasilkan sikap sinisme dan fanatisme kepercayaan. Sebab, semua keyakinan pada Tuhan Yang Mahaesa mengajarkan bahwa alam semesta dan segala isinya adalah ciptaan Tuhan. Seyogianya wujud bhakti kita kepada Tuhan dengan menyayangi alam dengan asih dan mengabdi pada sesama manusia berdasarkan punia.

Tentunya sangat aneh menyatakan percaya dan bhakti kepada Tuhan dengan perilaku merusak alam dan kehidupan sesama manusia. Sikap dan perilaku keras, kasar dan brutal dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama justru telah merusak citra agama. Hal ini sebagai salah satu penyebab semakin munculnya orang-orang yang menyatakan dirinya tidak menganut salah satu agama tetapi tetap ber-Tuhan. Ada yang menyampaikan alasannya karena semakin banyak munculnya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Tindak kekerasan dan permusuhan dengan mengatasnamakan agama memang suatu fakta. Tetapi hendaknya juga dilihat lebih banyak fakta bahwa orang rukun, damai, tenang, sehat dan tegar menghadapi hidup karena agama. Meskipun demikian semakin munculnya orang yang tidak beragama tetapi tetap ber-Tuhan akan mandeg atau berkurang apabila kehidupan beragama membuat dunia ini semakin aman damai dan sejahtera. Kalau tokoh-tokoh agama tidak berhasil menjadikan agama sebagai kekuatan moral dan kuatnya daya tahan mental menghadapi hiruk-pikuknya kehidupan di dunia ini maka citra kehidupan beragama terus akan merosot. Orang tidak beragama pun akan semakin bertambah. Syukur mereka masih tetap percaya pada Tuhan, kalau kepercayaan mereka pada Tuhan itu diwujudkan dengan nyata melakukan pemeliharaan pada kelestarian lingkungan alam, seperti meningkatkan upaya penghijauan lingkungan dan hutan. Pembersihan sungai dari sampah, pemeliharaan sumber-sumber air dan berbagai usaha mensejahterakan alam lingkungan (bhuta hita). Demikian juga kepercayaanya pada Tuhan diwujudkan dengan upaya yang dapat secara nyata meningkatkan kesehatan, pendidikan maupun kesejahteraan yang adil pada masyarakat. Meskipun mereka melakukan itu tidak atas nama agama tertentu tetapi mereka meyakini sebagai perwujudan atas kepercayaan dan pemujaannya pada Tuhan. Citra mereka akan lebih baik dari mereka yang beragama.

Kehidupan yang tenteram dan sejahtera akan terwujud apabila semua umat manusia dapat menghindari kekuatan jahat baik yang merusak kelestarian alam maupun kehidupan umat manusia sendiri sebagaimana dinyatakan dalam Mantra Rgveda IV.53.6 yang dikutip di atas. Mantram tersebut menyatakan bahwa Tuhan menciptakan alam dengan segala isinya itu sudah lengkap dengan normanya. Kalau alam dengan segala isinya diperlakukan sesuai dengan norma tersebut maka alam itu akan senantiasa melimpahkan sumber penghidupan. Tuhan juga turun menjadi Dewi Savitri untuk memberi pencerahan pada manusia agar dengan hati yang cerah membangun kerukunan hidup dan mencegah munculnya niat jahat di hati manusia. Untuk membangun pencerahan jiwa itu pujalah Dewi Sawitri dengan Mantra Sawitri yang lebih terkenal dengan Gayatri Mantram. Tuhan sebagai Dewi Sawitri akan memberi pencerahan jiwa apabila umat memanjatkan doa dengan merapalkan Mantram Sawitri dengan benar, baik dan tepat. Doa dengan Mantram Sawitri itu yang dilakukan dengan disiplin yang ketat itu seyogianya diyakini akan memberikan vibrasi suci secara individual dan sosial untuk menutup munculnya niat jahat pada diri manusia. Sawitri Mantram ini dibangun oleh Rgveda, Yajurveda dan Samaveda. Baris pertama yaitu: Tat Sa Vi Tur Va Re Ni Yam. Delapan aksara ini diambil dari Rgveda. Baris kedua yaitu: Bhar Go De Vas Ya Di Ma Hi. Delapan aksara baris kedua ini diambil dari Yajurveda. Dhi Yo Yo Nah Pra Cho Da Yat. Delapan aksara baris ketiga ini diambil dari Samaveda. Seluruhnya menjadi 24 aksara suci, inilah yang sebut Tri Pada Mantra dari Sawitri Matram. Kalau diwujudkan dalam doa didahului dengan pengucapan Omkara dan Tri Vyahtri yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah barulah dilanjutkan dengan merapalkan Sawitri Mantram. Mantra Sawitri ini tergolong Dainika Mantra yaitu mantram yang dapat dilakukan sehari-hari tanpa ada pantangan. Chandogya Upanisad menyatakan pemujaan dengan Dainika Mantram hendaknya dilakukan dengan tiga Dina yaitu pada Raditya Dina atau pagi, Madya Dina pada siang hari dan Sandhya Dina atau sore hari. Hal ini akan dapat mengendalikan Tri Guna untuk melakukan Tri Kona atau Utpati, Sthiti dan Pralina dengan benar, baik dan tepat. Kalau ini dilakukan dengan benar, baik dan tepat, dapat menimbulkan vibrasi suci secara individual dan sosial untuk melakukan perubahan ke arah yang semakin baik. Kalau saja banyak umat yang menyempatkan diri secara rutin melakukan hal ini dengan benar, baik dan tepat maka niat jahat dari diri sendiri maupun dari berbagai kalangan dapat ditundukkan. Tuhan sebagai Dewi Sawitri sebagai sumber pencerahan jiwa tidak akan dicapai tanpa melakukan kontemplasi pada Tuhan sebagai Dewi Sawitri dengan merapalkan Sawitri Mantram. Keadaan menjadi carut marut karena potensi spiritual agama masih banyak digunakan untuk saling merendahkan dan saling menista sesama dan mengeksploitasi alam untuk memenuhi kehidupan yang hedonis.

[Weda Wakya – Balipost Minggu, 22 Mei 2011 – Ketut Wiana].

 

 
< Prev   Next >
"));