Logo PHDI Pusat
Mengatasi Kekerasan dengan Cara Vedanta Print E-mail

Mengatasi Kekerasan dengan Cara Vedanta
Oleh I Gede Suwantana

* Vedanta mengajak kita untuk selalu melihat ke dalam. Apa pun yang terjadi di luar hanyalah proyeksi dari apa yang terjadi di dalam.

* Mulatsarira dalam artian yang sesungguhnya harus tetap dilakukan agar gempuran sifat-sifat buruk, apakah yang datang dari luar maupun dari dalam bisa dihindari.

* Selalu berpegang pada kemurnian hati adalah semangat yang mesti terus ditumbuhkan oleh orang Bali.
 

Bentrok massa berulangkali terjadi di Bali. Kejadian terakhir terjadi pada Selasa, 19 Juli di Bangli yang melibatkan warga Songan, Kintamani dan warga Banjar Kawan, Bangli. Kejadian ini sampai menewaskan satu orang dan beberapa lainnya luka-luka. Kondisi ini menambah deretan panjang sejarah kekerasan di Bali yang dilakukan secara massal. Pemicunya adalah hal-hal yang bisa dikatakan tidak terlalu signifikan seperti perkelahian antarpemuda, tapal batas wilayah, kuburan, saling cureng, dan hal-hal lainnya yang relatif kecil. Apakah penyebab atau pemicu yang demikian kecil akan berakibat atau berdampak besar?

Jika mengikuti teori termodinamika dan teori chaos, yang menyatakan bahwa perubahan sedikit saja pada titik awal akan mampu memengaruhi dan bahkan mengubah keseluruhan lainnya, mungkin bisa dijadikan pijakan untuk menelusuri akar kekerasan orang Bali. Hal ini juga senada dengan teori yang dinyatakan oleh Erich Fromm tentang akar kekerasan yang menyatakan bahwa agresi yang dilakukan oleh manusia berhubungan dengan narsisme. Masyarakat yang terbentuk dari individu-individu narsis akan menciptakan masyarakat narsis. Satu anggota dari masyarakat tersebut merasa terlecehkan simbol kenarsisannya, maka individu-individu lainnya merasakan hal yang sama dan memunculkan kemarahan yang bersifat kolektif. Kemarahan yang kolektif ini memiliki kekuatan besar untuk menghancurkan apa pun yang ada di depannya. Viveka individu yang ada di masing-masing orang telah melebur ke dalam narsisme massal. Jadi menjunjung citra diri yang berlebihan tersebut menjadi akar kekerasan yang berakibat fatal.

Namun, tindakan kecil yang bersifat individu seperti perkelahian antarpemuda yang berbuntut pada kekerasan antarkelompok jika dikembalikan ke dalam ajaran agama Hindu tentang konsep Hukum Karma menjadi tidak sesuai. Hukum ini menyatakan bahwa besarnya penyebab harus equal dengan besarnya akibat. Bagaimana mungkin menanam sebatang pohon kekerasan kemudian berakibat pada panen berton-ton kehancuran? Dalam hal ini pemicu yang kecil itu bukanlah ''penyebab'', tetapi ''akibat awal''. Seperti halnya pohon pinus yang bergesekan terlalu lama, percikan api awal adalah pemicu terjadinya kebakaran hutan yang luas.

Mencabut Akarnya
Oleh karena demikian, gejala awal sekecil apa pun adalah sebuah akibat yang bisa merembet dan sangat membahayakan. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana mencari penyebabnya? Menurut ajaran Vedanta, akar permasalahan yang harus dicabut terletak di dalam kualitas diri individu masing-masing. Diri individu yang telah tercemari oleh berbagai polusi konsumerisme, kapitalisme, dan lain-lain yang datang dari ''luar'', serta tembok-tembok klan, wangsa, suku, dan keegoan lainnya yang ditumbuhkan di ''dalam'' mesti dimurnikan.

Sekilas jika kita lihat kegiatan keagamaan masyarakat Bali khususnya untuk menyucikan diri, baik dalam skala individu manusia maupun buana, telah banyak dilakukan. Demikian juga pelaksanaan awig-awig adat telah diupayakan untuk dijalankan secara maksimal. Tetapi hal ini tidak mampu membendung terjadinya berbagai kekerasan yang melibatkan massa. Dalam konteks ini pelaksanaan keagamaan dan awig-awig bisa dinyatakan telah gagal. Namun bukan berarti pelaksanaan tersebut yang salah, melainkan api semangat bagaimana melaksanakan hal itu yang mesti dipertanyakan. Ketika masing-masing individu orang Bali tampak telah melakukan penyucian diri dengan baik, tetapi tetap terjadi kekerasan yang nyata-nyata bertentangan dengan tindakan kesucian tersebut, maka tindakan keagamaan dewasa ini bisa dikatakan tidak berbeda dengan fashion show. Mempertontonkan diri agar tampak telah menjadi religius, agar tampak telah memenuhi kewajiban melaksanakan ajaran leluhur, atau yang lebih parah, agar apa yang diperagakan bisa dijual demi keuntungan. Akar kelemahan ini mesti dicabut dan mesti menumbuhkan ''akar' kemurnian yang mampu memberikan nutrisi secara maksimal kepada ''daun-daun'' masyarakat.

Pentingnya Vedanta
Penyelesaian masalah ini tidak mungkin hanya dengan cara-cara pragmatis. Yang mesti dipakai untuk menyelesaikan masalah ini adalah wacana-wacana yang mampu memunculkan kesadaran yang bersifat ideal. Menguraikan fakta-fakta tersebut dan menawarkan solusi per kejadian tidak banyak membantu menuntaskan permasalahan. Membangun kesadaran masing-masing individu tentang pentingnya nilai-nilai etika Vedanta seperti Tat Twam Asi (Aku adalah itu), Wasudaiwa Kutumbhakam (semua orang berada dalam rumah yang sama), Aham Brahmasmi (aku tidak berbeda dengan Tuhan), dan lain sebagainya yang sejenis menjadi sangat penting dan signifikan.

Vedanta mengajak kita untuk selalu melihat ke dalam. Apa pun yang terjadi di luar hanyalah proyeksi dari apa yang terjadi di dalam. Kekerasan yang terjadi di masyarakat adalah kekerasan yang ada di dalam diri masyarakat itu sendiri. Mulatsarira dalam artian yang sesungguhnya harus tetap dilakukan agar gempuran sifat-sifat buruk, apakah yang datang dari luar maupun dari dalam bisa dihindari. Selalu berpegang pada kemurnian hati adalah semangat yang mesti terus ditumbuhkan oleh orang Bali. Kemeriahan pelaksanaan ajaran agama yang tidak diimbangi dengan kejernihan hati justru bisa berbalik, di mana pelaksanaan agama itu sendiri menjadi alat untuk menguatkan keegoan dan ketidakmurnian kita. Hal tersebutlah yang terjadi dewasa ini tanpa kita sadari. Kedalaman makna pelaksanaan keagamaan itu tidak begitu penting, tetapi gengsi penampilannya menjadi nomor satu untuk menunjukkan gengsi diri di masyarakat.

Pendidikan Satu-satunya Cara
Menanamkan sesuatu yang ideal di masyarakat adalah sesuatu yang sangat sulit, tetapi hal itu bukan berarti tidak mungkin. Kemajuan peradaban ini terjadi oleh karena pendidikan yang berkelanjutan dan komprehensif. Demikian juga kemajuan karakter masyarakat akan terbangun apabila pendidikan yang berkelanjutan dan komprehensif diberikan. Nilai-nilai mulia yang diajarkan oleh Vedanta mesti diberikan sejak dini dan dilakukan secara berkesinambungan. Nilai-nilai ini bisa diberikan dengan metode dan gaya yang berbeda. Pendekatan nilai-nilai kemanusiaan, atau pendidikan budi pekerti, penguatan karakter atau apa pun namanya bisa dijadikan alat untuk mencapai tujuan tersebut. Semakin banyak orang belajar tentang dirinya, pasti makin mereka sadar bahwa sesuatu yang ada di luar dirinya tidak memiliki perbedaan dengan dirinya sendiri. Kemampuan ini mengantarkan masyarakat menjadi harmonis.

*Penulis, Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta.

[Balipost – Sabtu, 23 Juli 2011]

 

 

 
< Prev   Next >
"));