Logo PHDI Pusat
Tujuan Pemujaan Tuhan Pencipta Surya Print E-mail

Tujuan Pemujaan Tuhan Pencipta Surya

Visvaahaa tvaa sumanasah sucaksasah.
Prajavaanto anamivaa anaagasah.
Udyantam tva mitramaho divedive
Jyog jivaah prati pasyema surya.
(Rgveda X.32.7)

Maksudnya: Tuhan pencipta Surya yang terbit setiap saat, yang senantiasa kami puja, tuntunlah kami mencapai suasana hati yang bahagia. Memiliki pandangan yang baik dan luas. Mempunyai anak cucu yang baik. Memiliki kesehatan yang prima dan terhindar dari dosa.

Tujuan pemujaan Tuhan khususnya sebagai pencipta Surya untuk menguatkan moral dan mental, membangun diri lahir batin. Lahir dan batin yang kuat, sehat bugar dan tangguh sebagai dasar utama mewujudkan tujuan hidup selanjutnya. Tuhan sebagai pencipta Surya umumnya dipuja sebagai Dewi Savita atau lebih terkenal dengan Dewi Gayatri.

Unsur-unsur alam di dunia ini dapat berfungsi karena adanya sinar matahari. Dalam sinar matahari ada energi kehidupan yang mengeksistensikan berbagai daya yang terkandung dalam unsur alam tersebut sesuai dengan hukum rta. Demikian juga dalam diri manusia terdapat berbagai potensi untuk dieksistensikan sehingga berguna bagi kemajuan hidup sesuai dengan hukum dharma.

Manfaat yang akan didapatkan dengan pemujaan Surya menurut Mantra Rgveda yang dikutip di atas sbb:

Pertama, sumanasah yakni suasana pikiran atau hati sentosa atau suasana hati yang cerah. Suasana hati yang cerah itu adalah gerak indria, emosi, pikiran, nurani dan jiwa akan terukur sesuai dengan komposisi dan fungsinya. Unsur nurani berada di bawah sinar suci jiwatman. Dengan demikian apapun dilakukan di bawah kontrol kesadaran nurani. Hati yang cerah itu mengontrol dinamika kecerdasan intelektual. Komposisi jiwa yang demikianlah yang akan diproleh atas pemujaan Tuhan sebagai pencipta Surya.

Kedua, sucaksusah yakni berpandangan mulia dan luas. Orang yang berpandangan mulia dan luas akan menerima manis pahitnya kehidupan ini dengan seimbang. Suka duka, sukses gagal, dipuji dicaci dan seterusnya dipandang sebagai buah karma. Tidak mungkin Tuhan membiarkan kita kena duka, gagal dan sejenisnya, kalau kita tidak pernah berbuat yang memang pantas mendapat pahala yang demikian. Suka dan duka itu sebagai akibat hukum karma. Orang yang berpandangan mulia dan luas sangat meyakini bahwa Tuhan adalah sutradara agung kehidupan di dunia ini. Mereka amat yakin dengan kebenaran ajaran karma phala. Nasib baik dan buruk yang kita peroleh amat tergantung dari karma yang kita lakukan. Tidak mudah mengkambinghitamkan orang lain kalau seandainya tertimpa nasib buruk dalam perjalanan hidupnya. Demikian juga saat mendapatkan nasib baik, tidak akan menyombongkan diri dan meremehkan orang lain yang hidupnya menderita.

Ketiga, prajavantah yakni pemuja Tuhan sebagai pencipta Surya akan memperoleh keturunan yang baik. Dalam sinar Surya itu ada bioenergi. Pemuja Tuhan sebagai pencipta Surya itu akan selalu mendapat vibrasi bioenergi yang terdapat dalam sinar Surya itu. Vibrasi negatif akan tereliminasi oleh pemujaan tersebut karena senantiasa membayangkan sinar Surya yang mengandung bioenergi. Dari pemujaan sangat besar, seorang ibu akan melahirkan anak utama. Dalam kitab Ananda Dayi dinyatakan ada tiga jenis keturunan yaitu: Adama yaitu keturunan yang menghabiskan warisan leluhurnya bahkan sampai meninggalkan hal-hal negatif. Madyama adalah keturunan yang juga menggunakan warisan leluhur tetapi sampai akhir hidupnya warisan itu tidak berkurang. Utama adalah keturunan yang sukses mengembangkan warisan leluhur bahkan sampai dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya termasuk masyarakat luas. Keturunan Utama ini adalah orang yang disebut hidup sukses. Demikian juga mereka hidup tidak saling bermusuhan. Generasi yang tidak mudah beringah emosional. Segala sesuatunya senantiasa dianalisa dengan tenang dan damai. Generasi yang tidak mudah tersinggung. Segala sesuatu dilihat dengan cerdas dampak positif dan negatifnya.

Keempat, Anamivaa yaitu bebas dari penyakit. Mereka yang rajin memuja Tuhan sebagai pencipta Surya juga akan hidup lebih sehat dan bugar. Karena jiwa yang cerah itu akan senantiasa hidup teratur. Seperti memilih makan tidak sembarang. Makan tidak berdasarkan dorongan hawa nafsu semata. Orang yang makan hanya terdorong oleh nafsu semata menurut Swami Satya Narayana disebut manusia rogi. Sedangkan mereka yang makan dua kali sehari dan tidak berlebihan disebut manusia bhogi. Mereka yang makan sekali dalam sehari disebut manusia yogi. Konon dewasa ini ada orang kekurangan makan karena ada yang lainya makan berlebihan sampai lima ribu kalori per hari. Idealnya makan dalam sehari antara dua ribu dan tiga ribu kalori sehari dan mengkonsumsi makanan yang kandungan nutrisinya seimbang.

Kelima, Anaghasa yaitu bebas dari dosa. Orang hidup senantiasa mengikuti hukum rta dan dharma akan terhindar dari dosa. Tentunya tidak mudah mendapatkan perilaku tanpa dosa itu. Dalam hal ini pemujaan Tuhan sebagai sutra agung kehidupan kita harus senantiasa didayagunakan sebagai kekuatan rokhani mengendalikan perilaku kita, setidak-tidak dapat mengurangi perilaku melanggar rta dan dharma. Lebih lebih pada zaman Kali ini, kecendrungan adharma demikian kuat mendorong manusia berbuat adharma. Demikian juga keseimbangan manusia menyerap ilmu humaniora dan spiritual sangat kalah dengan ilmu eksakta. Otak cerdas tetapi hati nurani gelap, sehingga kecerdasan otak tanpa kemanusiaan dan daya spiritualitas justru perilaku adharma dianggap tidak berdosa. Demikian makna pemujaan Tuhan sebagai pencipta Surya akan memberi pencerahan pada hidup ini.

[Weda Wakya – Balipost Minggu, 9 Oktober 2011 – Ketut Wiana]

 
< Prev   Next >
"));