Ketika Kekerasan masih Warnai Hari Suci Print E-mail

Ketika Kekerasan masih Warnai Hari Suci—
Bekali Diri dengan Kesadaran Rohani  

Masih serangkaian hari besar keagamaan Hindu. Tiga hari lagi, Sabtu (19/3) Kliwon Wuku Kuningan, umat Hindu kembali merayakan hari raya Kuningan. Berbagai simbol ''perang'' dapat dilihat dalam perayaan Kuningan seperti ter, tamiang dan endongan. Lalu, dalam konteks kekinian -- ketika tindak kekerasan masih mewarnai hari raya -- apa sesungguhnya makna simbol yang dapat dipetik dari perayaan Kuningan?  

Dalam menata kehidupan ke depan, tamiang dalam perayaan Kuningan itu mesti dimaknai sebagai benteng atau perisai diri. Memperisai diri dengan kebertahanan mental-spiritual, diharapkan umat Hindu mampu menghadapi musuh dalam diri (sadripu) dan dapat mengendalikan diri.

Dalam konteks kekinian, kata agamawan Dr. Made Titib, umat Hindu diharapkan mampu menghadapi musuh-musuh yang ada dalam diri seperti kebodohan, kegelapan, kemelaratan, keterbelakangan dan sebagainya. Dalam menghadapi musuh-musuh itu umat Hindu sudah semestinya mampu membawa kemenangan. Dalam sastra agama disebutkan parade jaya, prakaseng perang yang artinya memamerkan kejayaan di medan pertempuran. Itu mengandung pengertian bahwa umat Hindu hendaknya selalu ingat bahwa dharma itu selalu jaya. ''Dengan demikian kita tidak berniat menodai dharma dengan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama seperti perilaku anarkis,'' kata Titib yang mantan Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu dan Buddha ini.

Agama, kata Titib, jelas-jelas mengajarkan umat untuk dapat mengendalikan diri. Jika ada persoalan, hendaknya dipecahkan  dengan semangat kekeluargaan dengan berkonsultasi dengan lembaga keagamaan seperti Parisada, Majelis Desa Pakraman dan sebagainya.

Hari raya Kuningan, kata Titib yang dosen Istitut Hindu Dharma (IHD) Negeri Denpasar, merupakan momentum untuk mengingatkan umat akan ajaran kearifan, sebagai ekspresi ajaran agama. Pun, hari raya itu membangkitkan kesadaran umat bahwa kita semua adalah bersaudara. Karena itu, jika di antara kita ada persoalan, hendaknya diselesaikan dengan cara-cara kekeluargaan, bukan kekerasan.

Kata Titib, ajaran agama Hindu sudah demikian bagusnya. Ajaran tersebut juga dapat kita maknai dalam perayaan hari besar keagamaan. Cuma, terkadang dalam tataran implementasi masih perlu ditingkatkan. Dalam perayaan Kuningan, misalnya, berbagai simbol keagamaan ditampilkan seperti tamiang, kolem, nasi kuning dan sebaginya. Tamiang itu mengandung makna benteng atau perisai diri. Dengan membentengi diri dengan ajaran agama, umat dapat menghindari perilaku yang kurang baik seperti anarkis. Sementara kolem dalam Kuningan mengandung arti perbekalan (logistik). Dalam konteks agama, bekal yang dimaksud adalah bekal spiritual atau kerohanian. Dalam mengarungi hidup, umat mesti berbekalkan hal itu. Dengan memegang ajaran agama dengan seerat-eratnya, niscaya umat mampu mengatasi setiap persoalan dengan cara-cara yang santun. Sedangkan nasi kuning dalam Kuningan, kata Titib, sebagai wujud karunia Tuhan. Dengan demikian dalam diri umat akan selalu tumbuh rasa bakti. ''Jadi, umat hendaknya selalu membentengi diri dengan kesadaran spiritual. Dengan selalu mengedepankan rohani, kekerasan dapat dihindarkan,'' katanya.

Hal yang sama dikatakan dosen IHDN Denpasar Dr. Ketut Subagiasta. Dalam era sekarang, umat dituntut mampu memaknai hari raya suci sebaik-baiknya, sehingga tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Pada hari raya suci, umat memiliki kewajiban untuk memuliakan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan tapa, bratha, yoga dan samadi. Bukan, justru melakukan tindak kekerasan. Jika pada saat hari raya umat melakukan tindak anarkis, jelas sangat bertentangan dengan etika Hindu. Dalam etika Hindu sudah jelas ada istilah anigda yang artinya jangan melakukan perusakan, penghancuran atau pembakaran milik orang lain.

''Untuk memantapkan kehidupan beragama semestinya umat mampu mengontrol diri serta melakukan memujaan kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Tidak menyalakan api dendam (dvesa) pada saat perayaan hari suci keagamaan. Sebab, hari suci merupakan mementum termulia bagi umat Hindu untuk memohon anugerah Tuhan,'' kata Subagiasta yang Direktur Pascarsarjana IHDN Denpasar.

Jika hari suci mampu dimaknai dengan sebaik-baiknya, umat akan merasa malu jika sampai melakukan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sependapat dengan Titib bahwa tamiang dalam perayaan Kuningan sebagai simbol benteng diri. Dalam menghadapi persaingan, umat mesti mampu membentengi diri dengan sesuluh hidup agar tak sampai tergelincir pada hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Di samping itu, tamiang juga bisa dimaknai sebagai simbol keseimbangan dan keharmonisan hidup, baik lahir maupun batin. Menjaga keharmonisan itu mesti dimulai dari diri sendiri. Dengan memagari diri dengan ajaran agama dan pengetahuan yang cukup, diharapkan umat tidak mudah terombang-ambing oleh desakan arus global. Dengan selalu bersikap bijaksana dan menjaga keharmonisan diharapkan umat menemukan kebahagiaan.

Agamawan yang anggota DPD Drs. IBG Agastia mengatakan beragama hendaknya tidak berhenti pada formalitas. Demikian juga dalam perayaan hari raya keagamaan, juga tidak berhenti  pada rutinitas. Pemaknaan dan pengejawantahan nilai-nilai agama menjadi sangat penting. Hari raya keagamaan merupakan tonggak evaluasi diri, apakah sudah ada peningkatan spiritual. Saat itu umat mesti berhenti atau merenung sejenak tentang hakikat manusia yang berbudi. Akan menjadi kontradiktif, apabila momen hari raya itu dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama. (lun)

 

 
< Prev   Next >