|
Purana yang dalam tradisi Wedha mendapat tempat mulia, sebagai bahan renungan dan perbandingan begitu pula dalam Tradisi Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Hal ini dirasakan begitu seringnya Sri Bhagawan mengutip cerita-cerita yang bersumber dari Purana di dalam wacana-wacana beliau. Kenapa demikian? Karena dalam Purana terkandung cerita-cerita yang memiliki pesan moral serta spiritual yang tinggi dan dalam maknanya bahkan selalu up to date dalam jaman modern. Di India dan di Indonesia (tradisi Jawa dan di Bali) tradisi Purana sering disebut sebagai tradisi Wayang Purwa. Tradisi ini diceritakan secara bertutur, melalui seni pedalangan yang terus hidup subur sampai kini. Sebuah Purana sebenarnya mirip dengan sebuah cerita sejarah/riwayat hidup Dewa-dewa, manusia pertama, para Nabi dan para Awatara. Sebagai misal, Siwa Purana. Dalam buku Siwa Purana ini diceritakan riwayat hidup Dewa Siwa dari sejak lahir/diciptakan oleh Tuhan (Brahman) hingga beliau menjadi penguasa alam semesta (Siwa Natha). Begitu pula dengan Purana-purana lainnya. Bhagawatha Purana merupakan Purana terbesar dan terpenting diantara semua purana. Disini dikisahkan tentang riwayat hidup Sang Manu (manusia pertama) yang diciptakan Brahman. Riwayat ini turun temurun hingga bercerita tentang para Awatara, Nabi, Maha Rsi, Raja-raja dan para Ksatria. Dalam Bhagawatha lengkap diceritakan tentang hukum alam, proses dari buah perbuatan; baik kesucian maupun kejahatan. Seperti yang kita ketahui, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba adalah sosok guru Agung (Sad Guru) yang memiliki kemampuan bercerita dan mengulas berbagai masalah dengan baik dan mampu memikat pendengar/ pembacanya. Bahkan dalam Bhagawatha Vahini, Sai Baba, mengulas dengan kajian-kajian yang dikaitkan dengan berbagai masalah yang menjadi masalah manusia modern saat ini. Bahasa beliau lentur, segar serta mempesona. Sehingga siapapun yang membaca Bhagawatha Vahini ini akan mendapat berbagai nuansa yang tak terduga. Kemampuan beliau memberi wejangan disini sangat hebat, sehingga para pembaca akan larut dalam Bhagawatha Vahini. Bahkan terlebih dari itu, seakan pembaca serasa berada di dalam kisah itu. Merasakan kritik Bhagawan terhadap perjalanan spiritual kita. Seusai membaca Bhagawatha Vahini kita merasakan koordinat serta posisi kita dalam perjalanan spiritual yang panjang dan melelahkan itu. Kita dibuatnya menjadi seperti kecil dan tak berarti dibanding dengan keuletan para Sadhaka dalam memperjuangkan dirinya untuk mencapai tingkatan yang luhur dalam spiritual. Namun sekaligus buku ini bisa membangkitkan serta mengisi strum accu daya-daya spiritual kita yang telah loyo. Kami yakin apa yang diurai dalam buku ini oleh Sri Bhagawan pasti besar manfaatnya bagi kita semua. Ini merupakan sebuah sajian wajib yang penuh gizi bagi para Sai Bakta untuk dinikmati serta direnungkan, diterapkan dalam hidup sehari-hari. Untuk Retno Buntoro yang dengan penuh pengabdian menterjemahkan buku ini, serta Bapak Dr. I Wayan Jendra SU sebagai editor, kami atas nama Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia mengucapkan banyak terima kasih. Begitu pula bagi para donatur yang tak kalah perannya sehingga buku ini bisa diterbitkan kami ucapkan banyak terima kasih. Jakarta, 7 November 1998 Tjokorda Raka Pemajun Ka II YSSSBI
|