Logo PHDI Pusat
02. Pengantar II Print E-mail

Pembaca terkasih,

Bhagawata merupakan dialog antara seseorang yang dijatuhi hukuman mati dengan seorang suci agung yang menyiapkannya menghadapi maut. Kita semua menghadapi kematian, jantung kita bagaikan genderang yang terselubung, menggendangkan irama prosesi pemakaman menuju tempat perabuan. Ada orang yang lambat sampainya, ada pula yang cepat. Kita juga memerlukan nasihat seorang suci yang agung untuk menyiapkan diri menghadapi ajal dan menyaksikan akhirat.

Bhagawata dapat diibaratkan dengan Sungai Gangga, timbul dari Tuhan dan manunggal di dalam-Nya setelah menempuh perjalanan yang jauh melalui berbagai lika-liku geografi, aneka kisah hidup dan legenda orang-orang suci, penyelidikan asal muasal, dan setelah menyuburkan lembah luas pikiran serta perasan manusia dengan air kehidupan Sri Krishna yang jernih dan murni.

Bhagawan telah datang lagi sebagai Sathya Sai untuk menghidupkan kembali darma diantara umat manusia. Salah satu aspek penting kebangkitan darma itu adalah ditegakkannya kembali penghormatan pada kita-kita suci kuno seperti Alkitab, Quran, Zend Avesta, Tripitaka, Weda dan Baghagawata. Dewasa ini rasa hormat itu hanya dapat timbul, bila makna yang terkandung dalam pernyataan dan kisah-kisah tersebut dipaparkan secara jelas, sederhana dan menarik, oleh tokoh agung yang telah mengilhami kitab aslinya.

Dalam buku ini, kitab suci bakti yang disusun oleh Maharesi Wedawyasa atas saran Narada agar ia memperoleh kedamaian dan ketenangan diceritakan kembali dengan versi beliau (Sathya Sai). Ini bukanlah sekedar buku, pembaca terkasih, melainkan balsam, kunci, atau mantra untuk melembutkan, mengobati, dan menyelamatkan, untuk melepaskan ikatan (duniawi), dan membebaskan manusia dari kesedihan, penderitaan, kehausan, serta kebutuhan untuk memperoleh pengajaran.

Bukalah kitab ini dengan rendah hati, bacalah dengan tekun, hormatilah dengan penuh bakti, amalkanlah petuahnya dengan tabah, dan capailah tujuan yang telah diraih oleh Maharesi Wyasa serta Narada; tujuan yang diajarkan oleh Maharesi Suka dan dipelajari oleh Parikshit. Adakah imbalan lebih besar yang dapat diharapkan manusia?

Prashanti Nilayam
N. Kasturi
Guru Purnima
18-7-1970

 
< Prev   Next >
"));