Logo PHDI Pusat
Yoga Tattwa dalam Gita Print E-mail

Apa yang kita ketahui tentang Gita sebetulnya bisa dikatakan amat minim. Tak banyak yang tahu bahwa Vyasadeva - yang juga dikenal dengan Bhadarayana - juga menulis Yoga Bhasya, ulasan Yoga Sutra Patanjali, disamping Brahma Sutra.

Apa yang kita ketahui tentang Gita sebetulnya bisa dikatakan amat minim. Tak banyak yang tahu bahwa Vyasadeva - yang juga dikenal dengan Bhadarayana - juga menulis Yoga Bhasya, ulasan Yoga Sutra Patanjali, disamping Brahma Sutra. Bagaimana apresiasi Vyasa terhadap Yoga Sutra, antara lain dapat kita lihat didalam Bhagavad Gita. Sesungguhnyalah, Gita adalah Yoga Tattwa - mahakarya seni spiritual, Mokshasastra - yang dibabarkan dalam bentuk Kidung Suci Ilahi.

Maharshi Patanjali sendiri adalah seorang siswa dalam sistem filsafat Sankhya. Dari Sankhya-lah terlahir Yoga sistematis, dan selanjutnya menginspirasikan Vyasadewa dalam mahakarya-mahakarya agungnya.

Dalam aliran kefilsafatan Hinduisme, baik Sankhya maupun Yoga dimasukan kedalam kategori ajaran Dualistik (Dvaita). Namun sesungguhnya Yoga - yang berarti penyatuan atau penggabungan - telah beranjak dari faham Dvaita menuju Advaita. Rupanya ini tidak disoroti oleh para pencermat Hinduisme hingga periode belakangan Vedanta masih menggambarkan faham Dvaita, walaupun dengan gigih berbagai Upanishad telah meyiratkan dan menyuarakan Adavaita.

Pratyahara adalah tahapan ke-5, segera sebelum Samyama (Dharana, Dhayana dan Samadhi). Tahap penarikan indriya dari objek-objeknya ini, sesungguhnya dijelaskan pula oleh Vyasa dalam sloka II-58 Bhagavad Gita.

"yada samharate cha 'yam
kurmo 'ngani 'va sarvasah
indriyani 'ndriyarthebhyas
tasya prajna pratishthita"

Yang dapat diterjemahkan sebagai:
"ibarat penyu menarik anggota badannya kedalam, ia menarik semua indriya dari segenap objek-objeknya, demikianlah jiwanya mencapai kemurnian yang bijaksana"

Dalam Yoga Sutra II-54 dan 55, disebutkan:
"swa wisayasamprayoge citta swarupanukara iwendriyanam pratyahara' tatah parama wasyatendriyanam"

Yang diterjemahkan dengan:
"pratyahara atau penarikan organ-organ indriya dari objeknya atas kendali pikiran, dengan demikian dicapai penguasaan tertinggi atas semua indriya"

Dari kenyataan itu, dapat kita pahami bahwa Yoga Sutra yang dikompilasi secara sistematis oleh Patanjali pada abad ke-2 SM, yang kemudian dilengkapi atau dikomentari oleh Vyasadeva dalam Yoga Bhasya pada abad ke-4 M (Nyoman S. Pendit; 1995), juga telah mempengaruhi karya beliau lainnya.

Selanjutnya dalam Bhagavad Gita II-61, juga menyebut Samyama (Dharana, Dhyana dan Samadhi) sebagai berikut:
"yani sarvani samyamya
yukta asita matparah
vase hi yasye 'ndriyani
tasya prajna pratishthita"

Yang ditejemahkan dengan:
"setelah dapat menguasai 'semua itu', ia dapat teguh pada-Ku, karenanyalah ia yang dapat mengendalikan indriyanya adalah orang bijaksana yang berhati suci"

Samyamya atau Samyama disini diterjemahkan dengan 'semua itu', yang dimaksudkan adalah ketiga tahapan terakhir: Dharana, Dhyana dan Samadhi. Para penekun Astangga Yoga, akan amat memahami ini, oleh karena dalam praktek ia berlangsung secara mengalir dalam suatu kurun waktu. Hanya penekun yang berpengalaman sajalah yang dapat menyadari bahwa sesungguhnya terjadi 3 fase yang berbeda yakni: bangkitnya bara dari keterpusatan dalam pratyahara, menyalanya bara yang menerangi batin dan penggabungan penuh dimana 'tiada apapun lagi', semuanya lebur dan musnah tercerap dalam kedalaman Samadhi. Mungkin fenomena inilah yang melahirkan sebutan 'Sang Hyang Embang', dikalangan umat Hindu di Bali. Embang berarti lapang, kosong, sunyi, tiada apa-apa lagi.

Nyoman S. Pendit menamakan Adhyaya II Bhagavad Gita dengan 'Samkhya Yoga', sedangkan Prof. Dr. I.B. Mantra dengan 'Teori Samkhya dan pelaksanaan Yoga'. Agaknya, ini sudah lebih dari cukup untuk mengindikasikan bahwa antara Yoga, Sankhya dan Gita (yang mewakili Upanishad dalam faham Vedanta) sesungguhnya tak terpisahkan. Yang satu melahirkan yang lain.

Bagi kita, seharusnya semua itu mengingatkan bahwa, adalah tidak mungkin untuk memahami Veda-veda dengan baik, tanpa memahami Sankhya dan menerapkan Yoga Sadhana. Vedanta terlahir dalam Yoga-nya para Mahayogi; melalui Yoga pulalah hendaknya kita menelusuri kepekatan ajaran Veda-veda, bukan melalui upaya-upaya diluar itu.

Semoga Cahaya Agung-Nya menerangi setiap gerak-langkah kita.
Semoga kedamaian dan kebahagiaan melingkupi kalbu semua insan.

 

Shanti citta,
Kontributor : Annatagotama

 
< Prev   Next >
"));