Logo PHDI Pusat
29. Menggapai Kebebasan Sejati Print E-mail

Memasuki Kaivalya Pãda adalah memasuki gerbang paparan alam Kebebasan Sejati. Untuk dapat mengikutinya dengan baik, diperlukan pemahaman yang memadai tentang konsepsi pembebasan ala Sankhya —yang merupakan pijakan dasar dari Yoga Darsana, disamping memahami beberapa prinsip pokok tentang Hukum Karma, terutama yang terkait dengan masa —lampau, kini dan yang akan datang— terbentuknya vasana dan matangnya vasana menjadi phala. Semua ini tak dapat dipisahkan dengan doktrin Samsara.

Siddhi sebagai Alat-bantu untuk menyingkirkan Hambatan-hambatan Alamiah.

Dari pembawaan kelahiran, obat-obatan tertentu (usadhi), mantra, tapa ataupun samãdhi, dapat bangkit kekuatan supra-natural (siddhi).
Evolusi dari yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi dicapai, selaras dengan hukum alam (prakriti).
Peralatan —yang berasal dari prakriti—tidaklah menyebabkan manifestasi, namun daripadanya dimungkinkan tersingkirkannya hambatan-hambatan alami, layaknya yang dilakukan oleh seorang petani.
[YS IV.1 - IV.3]

Siddhi-siddhi merupakan sesuatu yang alamiah bagi Sang Yogi; mereka datang dengan sendirinya, bersamaan dengan ditundukkannya pengaruh dari kekuatan Prakriti. Siddhi-siddhi tidak lagi berbahaya bagi beliau; mereka telah kehilangan daya pikatnya di mata Sang Yogi. Seorang Yogi Sejati telah terbekali secukupnya sikap-batin luhur pada tahapan-tahapan Yama-Niyama dan Asana, terbekali daya tahan dan proteksi terhadap godaan-godaan luar dalam Pranayama dan Pratyahara, maupun kekuatan tandingan dalam Samyama.
Beliau amat maklum bahwa, segala sesuatu yang beliau alami dan jalani di dunia, hanya bekerja sesuai alurnya Prakriti. Sementara beliau masih menyandang jasad yang berasal dari alam, maka ia mesti toleran pada kaidah-kaidah alam. Seorang Yogi Sejati bukanlah penentang hukum alam; bahkan sebaliknya, beliau hidup selaras dan harmonis dengannya, kendati Purusa telah tegak dan berdiri dengan ajegnya.
Seorang petani yang baik, akan dengan rajin membersihkan saluran air yang mengairi sawahnya. Sampah-sampah ataupun kotoran yang menghalangi aliran air tentu tak dibiarkan begitu saja mengganggu, apalagi sampai menyumbatnya. Membersihkan saluran, tidak melawan hukum alam. Bahkan sebaliknya; dengan membersihkan saluran air petani membantu pemanfaatan air dengan baik sehingga tak terbuang sia-sia. Saluran yang tersumbat oleh sampah, kotoran, rerumputan dan tanaman air liar dapat menjadi penyebab meluapnya air sehingga ia terbuang percuma dan membanjiri area sekitarnya.
Tersingkirnya Asmita mencerahkan kembali Citta.
 
Citta yang jernih (cittany), tanpa dikotori oleh berbagai bentuk-bentuk pemikiran (nirmana), dimungkinkan dari tersingkirkannya ke-aku-an (asmita).
Berbagai aktivitas pikiran yang beraneka-ragam dan tak terhitung banyaknya dalam kehidupan duniawi (pravritti) ini, kini terkendali hanya oleh satu kesatuan citta.
Apa yang terlahir melalui dhyana, tidak menyisakan bekas atau pengaruhnya lagi.
Karma bukan lagi hitam atau putih bagi Sang Yogi, apalagi tiga jenis —hitam, putih dan abu-abu—seperti bagi yang bukan Yogi.
Dari semua jenis perbuatan beliau, pahala yang dihasilkan hanya berupa perwujudan dari vasana yang telah matang saja.
[YS IV.4 - IV.8]

Asmita-lah yang mengalami dan yang merasakan baik atau buruk dari perbuatan, karena dialah yang menganggap dirinya sebagai ‘pelaku’, yang beranggapan bahwa ‘ini aku’, ‘ini punyaku’ atau sejenisnya. Dengan tersingkirkannya asmita, maka kléša lain pun kehilangan dayanya. Dengan hilangnya daya hambat kléša, citta termurnikan kembali. Sang Yogi tak lagi menerima pahala baik atau buruk dari perbuatannya.
Tiada subha ataupun asubha karmavasana —yang dikiaskan sebagai hitam-putih (krsna-sukla) oleh Patanjali—lagi yang berpotensi sebagai penyebab berlangsungnya kelahiran berikut. Sesungguhnyalah tumimbal-lahir telah hancur bagi beliau; kelangsungan hidup dalam kurun kelahiran ini hanya mengikuti prarabdha karma-nya dan hukum alam yang berlaku bagi jasad yang masih dikenakannya. Sancita karma vasana-nya telah terbakar habis oleh api Yoga. Demikianlah Sang Jivanmukta. Apa yang beliau lakukan merupakan nishkamakarma, perbuatan tanpa pamerih, tanpa motivasi. Sisa umur beliau abdikan bagi semua, demi kebaikan semua. Sesungguhnya, kelahirannya ini merupakan kelahiran terakhirnya; tiada suatu sebabpun yang mengharuskannya untuk terlahir di alam kehidupan manapun.
Bagaimana dengan mereka yang telah, menjelang, maupun belum berhasil dalam kehidupannya ini? Rinciannya disampaikan lewat paparan sutra-sutra berikut.

 
< Prev   Next >
"));