Logo PHDI Pusat
21. Kekuatan dan Kesempurnaan Print E-mail

Paparan Tentang Kekuatan dan Kesempurnaan. Sebelum kita masuk pada sutra-sutra dalam Vibhuti Pãda ini, ada baiknya saya kutipkan pengingatan Sri Swami Sivananda berikut: “Siddhi terwujud dengan sendirinya, apabila sang Yogi telah mencapai kemajuan dalam pelaksanaan Yoga-nya. Siddhi merupakan penghalang dalam jalan spiritual. Seorang penekun harus menjauhkan diri darinya tanpa kompromi, dan tetap tegar langsung menuju tujuan, yaitu Asamprajñãta Samãdhi dan Nirvikalpa Samãdhi. Spiritualitas yang sesungguhnya tak ada kaitannya dengan daya-daya ini, mereka hanyalah hasil sampingan dari konsentrasi”.

PAPARAN TENTANG KEKUATAN DAN KESEMPURNAAN.

Sebelum kita masuk pada sutra-sutra dalam Vibhuti Pãda ini, ada baiknya saya kutipkan pengingatan Sri Swami Sivananda berikut:
“Siddhi terwujud dengan sendirinya, apabila sang Yogi telah mencapai kemajuan dalam pelaksanaan Yoga-nya. Siddhi merupakan penghalang dalam jalan spiritual. Seorang penekun harus menjauhkan diri darinya tanpa kompromi, dan tetap tegar langsung menuju tujuan, yaitu Asamprajñãta Samãdhi dan Nirvikalpa Samãdhi. Spiritualitas yang sesungguhnya tak ada kaitannya dengan daya-daya ini, mereka hanyalah hasil sampingan dari konsentrasi”.

Samyama dan menjadikan Pratyãhãra sebagai Terminal.
 
Pikiran yang terkonsentrasi hanya pada satu objek tertentu adalah Dharana.
Dan aliran kesadaran yang terus-menerus pada objek tersebut adalah Dhyana, meditasi.
Bilamana cahaya kesadaran telah bersinar sendiri dalam kemurniannya (nirbhasam svarupa), dan kesunyian (sunyam) dimasuki, inilah tercapainya Samãdhi.
Ketiganya —yang berlangsung dalam satu rangkaian menerus— sebagai hasil dari pengendalian di dalam ini, disebut Samyama.
[YS III.1 - III.4]

Samyama adalah istilah spesifik dalam Yoga Sutra ini. Dharana-Dhyana-Samãdhi, yang mengalir dan berlangsung dalam satu kurun waktu tak bersela, disebut Samyama. Bagi pemula, masing-masing umumnya berlangsung sendiri-sendiri, yang satu diikuti oleh yang lainnya secara susul-menyusul. Dharana segera dikuti oleh Dhyana, namun Samãdhi tak kunjung dicapai hingga Dhyana yang telah tercapai memudar, turun kembali pada dharana untuk selanjutnya konsentrasi buyar kembali. Kadangkala keterpusatan seolah-olah melaju tanpa kendali, dimana tak disadari dengan jelas kapan tercapainya Dharana, kapan Dhyana ataukah Samãdhi oleh karena mengalir begitu saja.
Samãdhi, seperti yang disebutkan dalam sutra III.3 tadi adalah tercapainya penyatuan dengan objek yang dipegang (evãrthamatra), tidak ada lagi kata-kata —apakah itu berupa japa atau yang lainnya—dalam keterpusatan itu (nirbhasam). Citta bercahaya sesuai kemurniannya, dan yang hadir hanya kesunyian atau keheningan total (sunyam). Menurut yang berpengalaman, ketika penyatuan itu benar-benar terjadi, tidak ada lagi objek meditasi, semuanya sirna bahkan —apa yang selama ini kita sebut sebagai—kesadaran itu sendiri, namun tidak tertidur. Bila kondisi ini berlangsung cukup lama, aktivitas biologis penekun seolah-olah terhenti samasekali, atau dengan kata lain, raganya mengalami kematian klinis. Inilah yang disebut mati-raga oleh sementara kalangan. Kondisi ini bisa berlangsung berjam-jam. Dan oleh karenanya, ada yang memperingatkan agar berhati-hati, karena bisa ‘kebablasan’.
Akan tetapi Samãdhi yang dimaksudkan dalam kaitannya dengan Samyama ini, saya rasa bukan yang seperti itu. Ia lebih dimaksudkan dengan penyatuan dengan objek meditasi (ekagrata), dimana pusaran-pusaran ditenteramkan, sementara kesadaran masih tetap hadir dan terkendali. Ini adalah Sabija Samãdhi; masih hadir objek perenungan. Ini akan ditegaskan kembali nanti, pada pemaparan sutra III.8.
Sekedar sebagai perbandingan, di dalam “Samma Samãdhi”, Yang Ariya Ven. Sucino menyebutkan 5 tahapan atau ciri dalam mancapai keterpusatan total (ekagrata), yaitu:
• Vitarka; mulai berusaha memegang objek.
• Vicara; objek mulai terpegang dengan kuat.
• Piti; bangkitnya kegiuran.
• Sukha; kebahagiaan yang sulit digambarkan saat menjalaninya.
• Ekagrata-ramana; batin terpusat, bersatu dengan objek.

Dalam paparan sutra III.9 - III.15 nanti, akan dipaparkan lebih jauh tentang tahapan-tahapan transformasi internal (parinama) yang terjadi dalam batin sang penekun. Bila paparan ini dicermati, ternyata dalam prakteknya ia amat berhampiran dengan kelima tahapan ini.
 
Walaupun pada fase awalnya, Samyama tak serta-merta dan dicapai dengan mudah, namun upaya ini sudah merupakan suatu latihan yang sangat baik. Ia membentuk abhyasa —kebiasaan dalam praktek spiritual. Untuk itu—seperti yang telah dianjurkan di akhir Sadhana Pãda—‘berterminal’ pada Pratyãhãra akan amat membantu. ‘Berterminal’ disini berarti senantiasa menjaga kejernihan batin, dengan membatasi diri dalam mengadakan kontak dengan objek-objek luar. Secara praktis ini dilakukan dengan segera menarik perhatian kembali melalui Pranayama, ketika ada tanda-tanda akan ngelantur. Disini Pranayama bukan lagi sekedar praktek mengatur nafas, namun praktek pengendalian daya-vital (prana) sehingga mempunyai kekuatan cukup untuk melaksanakan Pratyãhãra. Ia bertindak sebagai benteng daya-vital, yang melindungi penekun dengan dunia objek. Bagaikan seekor penyu yang dengan sigap menarik anggota badannya bila dirasa ada bahaya mengancam, demikianlah kewaspadaan penekun yang berterminal pada Pratyãhãra.
Tentang rangkaian praktis antara Pranayama, Pratyãhãra dan Dhyana ini, menarik untuk dicermati ungkapan dari Sri Sankarãcharya ini:
“Dengan Pranayama terbuanglah kekotoran badan;
dengan Pratyãhãra terbuanglah kekotoran akibat ikatan-ikatan;
dengan Dhyana tersingkirkan semua penghalang yang ada antara manusia dan Isvara”.
Menariknya, disini beliau tidak menyebut-nyebut Dharana. Setelah Pratyãhãra, beliau langsung masuk ke dalam Dhyana (meditasi). Pola yang serupa juga ditemukan di dalam Wrhaspati Tattwa dan Maitri Upanishad manakala membahas Sadangga Yoga. Tidak seperti urutan yang dikemukakan oleh Patanjali, baik Wrhaspati Tattwa maupun Maitri Upanishad menempatkan Dharana setelah Dhyana dan Dhyana segera menyusul setelah Pratyãhãra. Mengapa demikian? Jawabannya hanya bisa ditemukan di dalam praktek langsung.

 
< Prev   Next >
"));