Logo PHDI Pusat
Berhadapan dengan Kakawin Smaradhana Print E-mail

Berhadapan dengan Kakawin Smaradahana, Siapakah Kita ?

ImageKEDUDUKAN Kama-Ratih di kerajaan Indraloka tidaklah ting­gi. Dalam bahasa sekarang bisa disebutmenengahke bawah. Kare­na itu, suami-istri itu bias disuruh­-suruh oleh dewa-dewa atasannya. Jenis suruhan tentu disesuaikan dengan bidang keahliannya, yaitu asmara.

Misalnya, ketika Dewi Uma sangat merindukan suaminya, Shiwa, yang sedang bertapa, ia menyuruh Dewa Kama untuk melakukan suatu mission impossible. Mis­inya adalah membuat Shiwa merindukan istrinya, sehingga ia pulang. Cara mem­buatnya rindu adalah dengan membang­kitkan hasrat birahi asmaranya. Uma tidak perlu menjelaskan bagaimana car­anya. ltu memang sudah pekerjaan sehari-hari Kama. Tapi karena yang akan digarap adalah Shiwa, dewa tertinggi, maka peker­jaan kali ini sangat berisiko. Kama harus ekstra hati-hati. Ia harus mengerahkan segala kemampuan dan intuisi, guna men­gantisipasi segala kemungkinan. Dan me­mang begitu pula pesan istrinya, Ratih, ketika melepas keberangkatan Kama.

 

“Hati-hatilah, Suamiku! Kesalahan sekecil apa pun akan berakibat fatal. Jangan pandang sepele kemarahan Shiwa! Was­padailah mata ketiganya”!


Maka, Kama pun berangkat dengan perasaan cemas. Sampai di tempat perta­paan Shiwa, Kama sembunyi-sembunyi tidak berani memperlihatkan dirinya di hadapan Shiwa. Kalau sampai Shiwa me­lihat wajahnya, beliau akan langsung tahu apa maksudnya. Dan itu berarti kegagalan misinya. Karena ilmu asmara yang dimil­ikinya, adalah juga pemberian Shiwa. Jadi, posisinya sungguh tidak selevel, kama tidak ingin misinya gagal. Jika itu sampai terjadi, ia tidak akan punya muka di hada­pan Dewi Uma. Kredibilitasnya akan jatuh di hadapan khalayak dewa-dewa. Ia akan lama menyalahkan diri, merasa tidak profesional.


Maka dengan sangat ekstra hati-hati, Kama menyiapkan anak panah dan perlengkapannya. Sesuai dengan prose­dur pelepasan anak panah asmara. Kama melepaskan anak panah pertamanya. Te­pat mengenai sasaran bidik. Anak panah kedua dan seterusnya juga tidak meleset sedikit pun. Kama memang master di bidangnya.


Shiwa pun membuka mata dari keterpejamannya yang dalam. Hal pertama yang diingatnya adalah istri. Hal pertama yang ia ingat ten­tang istrinya adalah kemolekan tubuh dan kecantikan wajahnya. Bersamaan dengan itu, kenangan manis persenggamaan terakhir sebelum mereka berpisah muncul perlahan-lahan endapan kenangan. Kenangan itu menarik-narikn­ya. Dan Shiwa pun sangat merindukan is­trinya. Ia ingin segera ada di depan istrin­ya. Ia ingin senggama-asmara badan.

Pada momen kritis itu Shiwa melihat kelebatan Kama di tempat persembuny­ian. Detik itu juga Shiwa sadar, bahwa ker­induan asmaragamanya adalah ulah Kama. Untuk apa Kama ada di sekitar pertapaannya kalau bukan niat memper­mainkan libidonya. Kurang ajar! Berani­ -beraninya anak bau kencur itu. Bahwa per­tapaannya menjadi batal, itu adalah kesalahan Kama, bukan kesalahan dirinya.

Murkalah beliau, sebelum tahu apakah kedatangan Kama murni atas kemauan sendiri, atau atas suruhan orang lain. Sudah menjadi pengetahuan umum di alam dewa­-dewa, bila Shiwa sampai murka, itu artin­ya masalah yang sangat serius. Pasti akan jatuh korban kutukan. Melihat situasi ga­wat seperti itu, dan Kama sudah tidak mungkin berkelit, ia pun pasrah.


Lututnya gemetar. Semua kariernya akan berakhir saat itu juga, di tempat itu juga. Kutukan sudah pasti akan dijatuhkan. Entah kutu­kan apa akan diterimanya, itu harus di­nanti. Adakah yang lebih menyiksa dari­pada menanti kutukan?


Api menyambar-nyambar dari mata ketiga Shiwa. Tidak tahu bagaimana harus melukiskan kedahsyatan api itu. Kama hangus gosong terbakar menjadi debu han­ya dalam hitungan detik. Tanpa ampun. Tanpa ada faktor-faktor yang meringankan hukuman. Di hadapan Shiwa semua fak­tor memberatkan si pesakitan. Jenis ke­salahan Kama sudah masuk ke dalam extraordinary crime. Durhaka. Lancang. Berakhirkah karier Kama? Ternyata tidak. Ratih, istri Kama, tidak bisa menerima kematian suaminya tanpa jasad. Tapi ia tidak punya posisi tawar apa pun di hadapan Shiwa. Yang bisa ia lakukan, sebagai dewi bawahan, tentu hanya memohon. Sudi apalah kiranya Shiwa mencabut kutukannya,dan mengembalikan Kama seutuhnya kepada dirinya. Untuk memperkuat permohonannya ia minta rekomendasl Dewi Uma, karena beliaulah yang mengirim Kama untuk melakukan mission impossible itu. Permohonan yang disampaikannya dengan derai air mata, cukup berhasil walau tidak seratus persen. Kesimpulannya: Shiwa berkenan menghidupkan kembali Kama, dengan beberapa persyaratan. Pertama, ia akan hidup kembali tapi tidak memiliki tubuh seperti sebelumnya. Kedua ia tidak boleh tinggal di alam dewa, tapi harus hidup jauh di dunia bawah sana bergabung dengan manusia. Ketiga di dunia dimana ada kematian (mertyupada) Kama bertugas menyusup kedalam hati tiap laki-laki.


Bagaimana dengan Ratih? Agar Ratih tidak terpisah dengan suaminya, iapun lantas digeseng, “bakar”, dan diturunkan ke dunia, juga tanpa tubuh, dengan tugas menyusup ke hati tiap perempuan. Di dunia yang disebut semacam ashrama itu, keduanya tidak akan leluasa bertemu semau mereka. Mereka dipisahkan oleh tubuh laki dan badan perempuan. Mereka hanya akan bertemu bila terjadi senggama asmara antara laki dan perempuan. Itupun kalau asmaragama itu benar. Bagaimana asmaragama yang benar ? Itu masalah lain lagi.


Sungguh tragis nasib Kama. Ironis perjalanan hidupnya. Ia menjalani sisa hidupnya dalam penjara bernama tubuh lelaki. Han­ya sesekali ia akan bertemu dengan pasan­gannya, yang dijebloskan ke penjara tubuh perempuan.


Pertemuan itu akan berlangsung seben­tar saja. Apa boleh buat, itu semua adalah konsekwensi dari sebuah tugas yang diem­bannya sebagai dewa bawahan.


Begitulah cerita Mpu Dharmaja dalam Kakawin Smaradahana, yang berarti “dahaga asmara”. Mpu Dharmaja barangkali terharu dengan nasib Kama. Karena itu ia, menggubah sebuah kakawin. Tentu bukan karena ingin membuat kisah tokoh-tokoh yang dikalahkan, lantas beliau mengger­akkan alat tulisnya. Sebagai pembaca kita merasa diberitahu, bahwa kemenangan­-kemenangan Shiwa terjadi dengan pengor­banan, dewa lain. Dewa yang berkorban itu, seperti Kama, pada gilirannya menunjukkan “kemenangan” dimensi lain. Cuma, sudah lama sekali, perhatian kita tertuju pada kemenangan-kemenangan, dan hampir tidak kita perhatikan yang dikalahkan.


Padahal kita bersikeras ingin mendapatkan pemahaman yang utuh.


Karena sebuah kesalahan alam atas Kama dan Ratih diturunkan ke dunia alam bawah. Ketika keduanya dijebloskan ke dalam kerangkeng tubuh lelaki dan badan perempuan, itu adalah konswensi lanjutan dari kesalahan tadi. Ketika keduanya bertemu dalam upacara asmaragama suami dan isteri, itu adalah konskwensi lebih lanjut lagi. Tapi tunggu dulu, ketika kemudian lahir bayi, masihkah itu kelanjutan dari kesalahan di alam atas itu ?


Saya tidak berani meladeni pikiran sendiri, bahwa semua kita ini adalah rentetan terujung dari sebuah lingkaran yang titik awalnya adalah kesalahan. Dan dengan meneruskan kehidupan ini, kita akan membuat lingkaran-lingkaran kesalahan baru. Siapakah kita ketika sedang berhadapan dengan Kakawin Smaradahana?


SMARA RATIH, yang tanpa mengembara di dunia dari hati ke hati. Di setiap persinggahan hati mereka bekerja, membangkitkan rindu, mendorong-dorong agar terja­di pertemuan. Tidak setiap yang me­mujanya akan disinggahi. Dan tidak setiap yang tidak memujanya tidak akan dis­inggahi. Ia benar-benar hidup. Ia tahu di hati mana mesti menabur benih. Dan mereka tidak mengatakan rahasianya. Orang yang mengetahui rahasia itu, bukan karena mem­baca, bukan pula karena tidak membaca. Bukan karena puasa, bukan pula karena tidak puasa. Tidak ada jalan, kecuali Smara Ratih itulah jalan.


Suksma, rahasya, tepet, itulah ciri perte­muan benih-benih mereka. Bila mereka se­dang bekerja, maka mulailah akan dirasa­kan hal-hal yang halus di dalam dan di 1uar diri ltulah suksma. Yang ramai menjadi sun­yi, yang biasanya dikatakan akhirnya dibisik­kan, dan yang biasanya dibisikkan menjadi tidak diucapkan. Tidak ada yang melihat, karena yang melihat berubah menjadi yang dilihat. Itulah rahasya, pertemuan itu hanya sesaat. Tapi apalah sesaat, dan apalah artinya lama, bagi sebuah kedalaman. Dari yang sesaat terjadilah kesuburan, kehidupan, pen­ciptaan, wajah baru. ltulah yang disebut te­pet. Dari keadaan tepet inilah lahir apa yang orang sebut dengan istilah taksu. Tidak bisa dipelajari, tidak bisa dinanti. Ia terjadi oleh sebuah “pertemuan”.


Tidak bisa lain. Hanya dengan cara seper­ti itu Smara Ratih menyatakan diri ada. Smara Ratih pendatang baru di dunia, yang di daerah asalnya diusir karena kutukan akibat kesalahan fatal. Dewa datang dari jauh. Ia dipuja. Ia disembah. Ia diistanakan di dalam hati. Kepadanya orang menangis mengadu­kan penderitaan sepi hatinya. Kepadanya orang memohon bantuan agar bisa berdamai dengan kerinduan yang me1edak-1edak. Me­mang seperti itu alam berbicara. Ia yang men­ciptakan adanya rindu, dan kepadanya orang mencari obat kerinduan. Diciptakannya hati yang merana. Diberinya obat pada ke­meranaan hati itu. Kemudian dibuatkanlah oleh orang sebuah cerita. Bagaikan seutas tali, cerita yang dibangun kata-kata lebih erat mengikat pikiran orang-orang daripada tali itu sendiri.


Inilah yang dikatakan cerita selanjutnya.

Smara Ratih harus dipertemukan agar ke­hidupan terus ber1anjut. Tapi tidak sem­barang orang tahu bagaimana cara memper­temukan mereka. Tidak setiap senggama asmara badan berarti. pertemuan Smara Ratih. Tidak setiap pembuahan benih dan telur dihadiri Smara-Ratih. Oleh karena itu Shiwa sendiri yang kemudian turun untuk mempertemukan mereka. Kesuburan, tan­da kehidupan akan berlanjut, harus diada­kan. Maka Smara dan Ratih dipertemukan secara mistis disebuah bale paselang. Yantra, mudra, mantra tertuju pada kedua pasan­gan yang masih tertidur. Berbagai rentetan upacara digelar sebe1umnya. Pertemuan mis­tis itu adalah puncaknya. Smara adalah salah satu ujung duri. Ratih adalah ujung duri satunya 1agi. Perwakilan Shiwa di dunia berjuang untuk mempertemukan kedua ujung duri. Halus, suksma, gerakannya. Ra­hasya, itulah pertemuannya. Bila kedua ujung duri itu bertemu, itulah yang disebut tepet. Dengan penguasaan teknik, yang suksma, rahasya, tepet itu bisa diusahakan. Bisa di­adakan. Tinggal pembuktiannya saja. Apa­kah setelah itu kehidupan akan menjadi leb­ih bagus, atau tidak. Untuk itu perlu diket­ahui dengan apakah itu bisa dirasakan?


Pertemuan Smara Ratih adalah masalah guna, kualitas. Banyakn­ya bayi-bayi yang dilahirkan bukan sebuah pertanda keberlangsungan kehidupan. Melimpahnya hujan, berlipatnya hasil panen juga bukan. Semakin banyak yang bisa dikon­sumsi, juga bukan. Kehidupan tidak dititip­kan keberlangsungannya pada “yang bany­ak” itu. Tapi ada apa? Jawabannyapun dititip­kan pada cerita. Pada ceritalah orang kemba­li. Dan di dalam cerita, sekali lagi, bukan ke­pastian yang didapatkan tapi kemungkinan-kemungkinan. Orang harus merasa cukup . dengan kemungkinan-kemungkinan itu. Ingin lebih dari itu, lobha namanya. Lobha itu­lah awal kematian.


Tapi ada cerita lain. Orang yang ingin be­bas dari lingkaran roda kelahiran, bebas dari putaran hidup mati, harus tahu cara memis­ahkan Smara dan Ratih. Ada beberapa pe­san yang disampaikan tentang pemisahan ini. Pasahakna ikang purusa lawan pradha­na. “pisahkanlah Purusan dengan Pradhana”. Mempertemukan dan memisahkan. Men­yatukan dan menguraikan. Mabhanda bhe­da, mengikat dan melepaskan. Seperti main layangan, mengulur dan menarik. Tahu dari mana dan kemana angin bertiup. Pada saat­nya angin (baca: bayu) pulalah yang memis­ahkan Purusha dengan Pradhana. Tapi ke­sadaran tidak sama dengan layang-layang putus. Tubuh ini tidak persis sama dengan tali. Metafora tidak pernah persis sama den­gan kenyataan.


Itulah yang hendak dicontohkan oleh Shi­wa ketika meninggalkan istrinya, dan menggelar tapa. Shiwa, rajanya para perta­pa, masih menggelar tapa? Ya, begitu yang dikatakan cerita. Tidak lebih dan tidak kurang. Shiwa saja masih bertapa. Mataha­ri saja masih bekerja. Laut saja masih ge­lisah. Gunung saja masih memendam panas di dadanya. Angin saja masih menempuh arah. Apalagi Kama dan Ratih yang ada dalam penjara badan.


Ketika Kama berusaha menarik Shiwa kembali ke istri, Shiwa pun mematikan Kama detik itu juga. Apa yang hendak dis­ampaikan oleh Shiwa dengan mematikan Kama? Kehidupan ini harus dikalahkan. ltu­lah? Mengapa kemudian Shiwa meralatnya, karena permintaan dari dua orang “ibu”, yang satu Ratih dan satunya lagi Uma. Kenapa ia menghidupkan kembali Kama dan mengir­imnya ke Mertyupada?


Bumi ini disebut mertyapada yang berar­ti tempat dimana ada kematian, bukan tem­pat di mana ada kehidupan. Apakah itu pertanda kelak Smara dan Ratih juga akan mati di mertyupada ini? Atau, mereka hanya transit sebentar di tubuh dan jiwa orang-or­ng yang pasti akan mati? Ternyata ada cerita lain. Kanan yang pas­ti mati hanyalah yang dilahirkan, dan yang memiliki tubuh. Yang tidak dilahirkan (a-ja) tidak akan mati. Yang tidak memiliki tubuh (anangga) tidak akan mati. Jadi, Kama Ratih tidak akan mati. Mereka juga tidak akan kembali ke asalnya. Mereka akan terus saja nengembara di dunia ini, sebagai Sanmatta dan Indu. Shiwa sendirilah sesungguhnya Mahaka­ma itu. Shiwa terus bekerja, dan masih bek­erja. ☼IBM Dharma Palguna. (Balipost - Apresiasi).

 

 

 

 
< Prev   Next >
"));