|
Page 1 of 8 Studi Teologis dan IntertekstualitasI Made Titib Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Bali Tinjauan Umum Ceritera Bagus Diarsa (CBD) telah dikaji oleh Nyoman Tusthi Eddy, Tafsir Simbolik Cerita Bagus Diarsa, diterbitkan Yayasan Dharma Sastra, Denpasar (2002). Pada awalnya hanyalah tradisi lisan, cerita dari mulut ke mulut, yang kemudian dituliskan dalam bentuk Satua Bagus Diarsa, yakni Cerita Bagus Diarsa (2002: 153). Selanjutnya, cerita tersebut diubah dalam genre kidung disusun dengan memakai aturan bahasa Kawi-Bali oleh seseorang yang tidak dikenal namanya (lazimnya para kavi, sastrawan tidak mencantumkan nama dalam karyanya), yakni dituangkan ke dalam 270 pupuh (irama). Pupuh yang digunakan hanya satu, yakni pupuh Adri (2002:89). Selanjutnya, dalam genre gaguritan, cerita Bagus Diarsa ini dikemas dalam beberapa pupuh, yakni pupuh sinom sebanyak 194 pupuh dan durma 99 pupuh. Cerita Bagus Diarsa dalam bentuk satua (cerita) an dua genre tersebut menunjukkan bahwa cerita ini sangat populer di kalangan masyarakat Bali.
Menurut informasi Ida I Dewa Gde Catra (wawancara, tanggal 3 Juli 2005) penyusun CBD dalam genre kidung (KBD) lebih tua umurnya dibandingkan gaguritan adalah I Gusti Gde Tanah, hal ini sesuai dengan manggala KBD, yakni pupuh pertama karya sastra ini menyebutkan I Tanah iseng manggawe kidung. Informasi ini diperoleh di Lombok dan sampai sekarang diakui kebenarannya oleh anak cucu pengarang tersebut. I Gusti Gde Tanah adalah buyut I Gusti Ngurah Dauh Bale Agung, sastrawan terkenal pada zaman pemerintahan Vaturenggong di Kerajaan Gelgel. Kidung tersebut diyakini ditulis di Lombok dan diperkirakan setelah Kerajaan Karangasem, Bali menguasai seluruh kerajaan di Pulau Lombok. Bila pendapat itu dapat diterima, maka sesuai dengan Pabencangah Dane Poleng dan tulisan R.van Eck, “Schets van het Eiland Lombok, TBG XXII (l875) (dalam Parimartha, 1984:31-32), peristiwa itu terjadi beberapa waktu sesudah tahun 1692 Masehi. Dalam CBD terdapat enam tokoh, yaitu Bagus Diarsa, Ni Sudadnyana (isteri Bagus Diarsa), I Viracita (anak Bagus Diarsa), Pengemis Tua (wujud samaran Dewa Siva) dan Raja Surakrama (tidak disebutkan namanya). Tokoh utamanya adalah Bagus Diarsa. Ia berposisi sebagai tokoh protagonis, sedangkan Raja Surakrama sebagai tokoh antagonis. Bagus Diarsa adalah tokoh utama inti karena menjadi pusat cerita dan penceritaan. Bila nama-nama tersebut dianalisis secara etimologis, maka tampaklah identitas dan wataknya masing-masing. Identitas dan watak ini mengandung makna simbolis. Kata bagus berarti ‘baik, mulia’. Arsa berarti ‘ingin, harap’. Bagus Diarsa berarti selalu berkeinginan baik, dengan kata lain berhati mulia. Setelah berhasil menjadi raja, ia bergelar Prabhu Niti Yukti. Prabhu berarti ‘raja’, niti berarti ‘ilmu pemerintahan/kenegaraan’ dan yukti berarti ‘benar-benar atau sungguh-sungguh’. Prabhu Niti Yukti berarti raja yang sungguh-sungguh melaksanakan ilmu pemerintahan / kenegaraan. Dalam konteks kekinian, berarti kepala negara yang sungguh-sungguh menegakkan undang-undang dan hukum (Tusthi, 2002:5). Menurut hemat peneliti, kata diarsa berasal dari adiarsa, dalam konteks ini bagus-adi-arsa mengandung makna ‘ia yang mengutamakan kebajikan atau kemuliaan’. Isterinya bernama Ni Sudadnyana, perubahan dari bahasa Sanskerta atau Jawa Kuna menjadi kosa kata bahasa Bali, Suddha dan jnyana. Kata Suddha berarti ‘suci atau murni’ dan jnyana berarti ‘pikiran atau pengetahuan’. Putranya bernama I Viracita (perubahan kosa kata Sanskerta atau Jawa Kuno menjadi bahasa Bali vira, berarti ‘pemberani’ dan citta berarti ‘pikiran’). Jadi, Viracita mengandung arti ‘cita-citanya pemberani, paling tidak berani untuk menyatakan bahwa seorang penjudi pun bila berjalan di jalan yang benar (dharma), mampu mengembangkan kasih sayang, tulus, dan senantiasa berpegang teguh pada kebenaran juga akan diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sumber kajian teks Cerita Bagus Diarsa (CBD) ini adalah karya kajian yang dilakukan oleh Nyoman Tusthi Eddy, Tafsir Simbolik Cerita Bagus Diarsa yang telah disebutkan di atas. |