Logo PHDI Pusat
Perempuan dan Perkawinan Print E-mail
Article Index
Perempuan dan Perkawinan
Page 2
Page 3

Perspektif Agama Hindu*

Dr. I Made Titib**


Strì hi brahmà babhùvitha

(Ågveda VIII. 33. 19).


‘Perempuan sesungguhnya adalah seorang sarjana dan seorang pengajar’


Saýhotraý sma purà nàrì, samanaý vàva gacchati

(Atharvaveda  XX. 126. 10).


‘Dulu para perempuan pergi ke tempat dilangsungkannya upacara agnihotra

dan ke medan pertempuran’

Pendahuluan

Globalisasi dan pemahaman tentang hak azasi manusia (HAM) membawa konskuensi tentang kesetaraan gender, kedudukan dan persamaan hak dan kewajiban setiap orang baik laki-laki maupun perempuan.  Tuntutan tersebut adalah hal yang wajar bila setiap umat beragama menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan menyadari bahwa seorang perempuan adalah sekaligus juga seorang ibu atau calon ibu yang akan menurunkan anak-anak yang berbudhi pekerti luhur. Berbicara mengenai perempuan dan perkawinan dalam perspektif Agama Hindu tidak dapat untuk tidak merujuk kepada kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya sebagai sumber ajaran  Agama Hindu yang di dalamnya juga menguraikan tentang keutamaan perempuan, kedudukan perempuan, pendidikan anak perempuan termasuk juga tentang perkawinan. Kewajiban suami dan istri serta bagaimana mendidik anak-anak yang dilahirkan dalam sebuah keluarga sehingga anak tersebut menjadi anak yang suputra, yakni anak yang berbakti kepada kedua orang tua, keluarga dan berguna bagi masyarakat dan  bangsa. Dari ayah dan ibu yang baik tentang akan lahir putra-putri yang baik merupakan sebuah adigium yang umum di masyarakat. Demikian pula anak merupakan cerminan dari kedua orang tuanya menuntut setiap orang tua untuk dapat mendidik anaknya menjadi putra-putri yang baik pula.

 

Tulisan ringkas ini mengetengahkan perempuann dan perkawinan dari perspektif agama Hindu dengan  pokok bahasan perempuan menurut kitab suci Veda, makna, tujuan dan jenis perkawinan dan realitas perkawinan dalam masyarakat Bali yang mayoritas (93,5 %) menganut agama Hindu. Uraiannya bersifat deskriptif  dan normatif, namun tidak akan terlepas dari realitas sosial di masyarakat berdasarkan pengamatan empirik.


Perempuan Menurut Veda dan Susastra Hindu

Penghargaan kepada perempuan, wanita, istri atau putri sesungguhnya demikian tinggi. Di dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya, dengan demikian maka bila terjadi pelecehan terhadap wanita, sesungguhnya pelakunya yang tidak memahami tentang kedudukan wanita dalam agama Hindu. Banyak tokoh-tokoh wanita disebutkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya sangat dihormati karena kesucian, kecerdasan dan kepemimpinannya.

 

Untuk melihat  tokoh-tokoh ideal dalam agama Hindu, maka dapat dirunut pada pengelompokan atas profesi seseorang. Di antara profesi tersebut yang mendapatkan posisi sangat terhormat adalah posisi sebagai Bràhamaóa dan Kûatriya.  Tokoh-tokoh terkemuka di kalangan profesi Bràhmaóa adalah para Maharûi, Saýnyàsin, Sadhu atau orang-orang suci yang tersebut dalam kitab suci Veda maupun susastra Hindu lainnya seperti di dalam kitab-kitab Upaniûad, Itihàsa, Puràóa, termasuk pula kitab-kitab parwa dan kakawin di Indonesia. Intinya, kita bisa mengkaji melalui Veda dan susastra Hindu baik yang berbahasa Sanskerta maupun dalam karya sastra yang menggunakan media bahasa Jawa Kuno. Lebih jauh tokoh-tokoh ideal dalam agama Hindu dapat dimulai dari tokoh-tokoh yang disebutkan dalam kitab suci Veda, sebagai para Brahmavàdinì antara lain: Viûvavàrà, Apàlà, Ghoûà, Godhà istri dari Vasukra, saudara perempuan dari maharûi Agastya, Lopàmudrà, Ûaûvatì dan Romaûà. Di samping nama-nama tersebut ada lagi Vàch (Sushil, 1982:130). Selain tokoh-tokoh Brahmavàdinì di atas, di dalam kitab-kitab Upaniûad terdapat tokoh-tokoh yang dikenal sebagai perempuan ideal dan ahli filsafat, yaitu: Maitreyì, Kàtyàyanì, yang merupakan dua istri dari Yàjñvalkya,  seorang maharsi yang sering dan amat dominan disebutkan di dalam kitab-kitab Upaniûad. Tokoh perempuan lainnya adalah Gàrgì, yang merupakan putra seorang tokoh atau pahlawan yang berasal dari kota Banares (Ibid: 138).

 

Berikut kami sampaikan bagaimana pandangan kitab suci Veda terhadap seorang perempuan, istri atau wanita: Seorang gadis hendaknya suci, berbudi luhur dan berpengetahuan tinggi (Atharvaveda XI.1.27). Seorang gadis menentukan sendiri peria idamanan calon suaminya (svayaývara/Ågveda X.27.12). Mempelai wanita sumber kemakmuran (Ågveda X.85.36), Seorang lelaki yang terlalu banyak mempunyai anak selalu menderita (Ågveda I.164.32). Terjemahan mantra ini menunjukkan bahwa bila lelaki tidak merencanakan keluarganya (istrinya terlalu banyak melahirkan, atau suami banyak punya istri dan anak) tentunya sangat menderita. Pengendalian nafsu seks juga mendapat perhatian dalam kitab suci Veda. Lebih lanjut seorang wanita dituntut untuk percaya kepada suami, dengan kepercayaannya itu (patibrata), seorang istri dan keluarga akan memperoleh kebahagiaan (Atharvaveda XIV.1.42).

 

Lebih jauh keutamaan seorang perempuan atau wanita di dalam kitab suci Veda dinyatakan memiliki sifat innovatif, cemerlang, mantap, memberi kemakmuran, diharapkan untuk cerdas menjadi sarjana, gagah berani dan dapat memimpin pasukan ke medan pertempuran dan senantiasa percaya diri.(Yajurveda XIV.21, Ågveda VIII.33.19, Atharvaveda XX.126.10, Ågveda X. 86.9, Ågveda X.159.2, Atharvaveda I.27.2, 4; Yajurveda XIII.26, Yajurveda V.10 dan Atharvaveda XIV.2.14). Dalam pengamatan kami terhadap mantra-mantra Veda, tidaklah menemukan diskriminasi antara seorang perempuan dengan laki-laki, anak laki-laki dengan anak perempuan dan sejenisnya.

 

Tokoh-tokoh perempuan ideal lainnya dapat dijumpai dalam kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa, khususnya dalam Ràmàyaóa, antara lain: Anasùyà (seorang perempuan pertapa dan Jñànin yang pernah bertemu memberi nasehat kepada Ràma, Sità dan Lakûamaóa), Ûabarì (seorang bhakta yang tulus dan merupakan abdi dari maharûi Mataòga), Svayamprabha (pertapa perempuan yang memberikan bantuan kepada Sang Hanùman), Ahalyà (istri maharûi Gautama), Saramà (perempuan yang ditugaskan oleh Ràvaóa untuk menjaga dewi Sità), Trijaþà (putra Vibhìsaóa yang sangat telaten melayani dan melindungi dewi Sità), Mandodarì (istri Ràvaóa), Tara (istri Sugriva yang dilarikan oleh Subali), Kausalyà (ibu Úrì Ràma), Sumitrà (ibu dari Lakûamaóa dan Satrughna), Sìtà (tokoh sentral dan perempuan ideal dalam Ràmàyaóa (Nihshreyasananda, 1982:142-16). Dalam Mahàbhàrata, antara lain: Kuntì (ibu dari Pandava), dan  Draupadì (istri dari Pandava/Tripurari Chakravarti, 1982:173-176).  Di samping itu terdapat juga: Úakuntalà (leluhur raja-raja Hastina/ Pandava dan Kaurava), Damayantì (istri prabhu Nala), dan Savitrì (putri maharaja Aúvapati )(Suniti, 1982:205, 214).

 

Di dalam kitab-kitab Puràóa dapat dijumpai nama seorang perempuan ideal, yaitu: Devahùtì (ibu dari maharûi Kapila, seorang tokoh dan pendiri dari filsafat Saýkhya atau Saýkhya atau Saýkhya Darúana)(Rajendra, 1982: 229). Hal yang sangat menarik, di Bali dapat dijumpai sebuah mantra yang populer disebut dengan nama Smarastava, Panca Kanyam. Mantram ini terdiri dari satu bait mantram yang biasa digunakan dalam upacara kematian, dengan harapan orang yaing meninggal tersebut mencapai kebahagiaan di alam baka. Menurut informant pandita Úiva, mantram ini digunakan pada waktu upacara kehamilan (upacara pada saat seorang istri hamil)  dan pada saat bayi berumur tiga bulan (Hooykaas, 1971:38). Berikut kami petikkan mantram Smarastava, Pañca Kanya, sebagai berikut:

            Ahalyà Draupadì Sità, Tàrà Mandodarì tathà,

            Pañca-kanyam smaren nityam, Mahà-pàtaka-nàúanam.


            ‘Seseorang hendaknya bermeditasi kepada 5 perempuan

            mulia, yaitu: Ahalyà, Draupadì, Sità, Tàrà dan Mandodarì.

             Mereka yang melakukan hal itu, segala dosanya akan dile-

             Nyapkan’.


Terhadap mantram di atas, Prof. Dr. C. Hooykaas (1970:38) memberikan penjelasan tentang kelima perempuan mulia itu, sebagai berikut: “Ahalyà populer dikenal sebagai istri dari maharûi Gautama, ia melakukan perbuatan serong dengan dewa Indra dan kemudian dihukum  dengan pengucilan abadi, yang kemudian diselamatkan (dibebaskan) oleh Úrì Ràma. Draupadì dan Sità  adalah masing-masing pahlawan perempuan dalam Mahàbhàrata dan Ràmàyaóa. Tàrà adalah istri Båhaspati yang dilarikan oleh Soma, dan Mandodarì tercatat sebagai yang paling favorit dari para istri Ràvaóa. Kelima orang perempuan mulia itu digambarkan secara tradisional sebagai perempuan yang sangat cantik dan menawan. Tokoh-tokoh perempuan ideal tersebut pada umumnya dari kalangan profesi Bràhmaóa dan Kûatriya. Demikian antara lain tokoh-tokoh perempuan ideal dalam Veda dan susastra Hindu lainnya. Di samping tokoh-tokoh ideal di atas, terdapat juga tokoh-tokoh yang tidak patut ditiru, antara lain: Kaikeyì, Surphanaka (Titib, 1998:53) di dalam kitab Ràmàyaóa.    

 

Di dalam sejarah Indonesia dikenal pula tokoh Ratu Simhà yang sangat adil menurut prasasti Dinoyo. Pramodhavardhanì, salah seorang keturunan maharaja Sanjaya di Jawa Tengah. Ratu Gàyatrì dan Tribhuvanatunggadevì, ratu-ratu yang terkenal semasa kerajaan Majapahit. Di Bali dikenal pula ratu Vijayamahàdevì dan Guóapriyà-dharmapatnì.


Berdasarkan informasi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa menurut Veda, susastra Hindu dan juga sejarah Indonesia, perempuan menduduki tempat yang tinggi dan bahkan di dalam Veda, perempuan dapat memimpin, pimpinan sidang parlemen, cendekiawan dan bahkan terjun sebagai panglima perang memimpin pertempuran.



 
< Prev   Next >
"));