Logo PHDI Pusat
Sinergi Agama Hindu dan Budaya Bali Print E-mail
Article Index
Sinergi Agama Hindu dan Budaya Bali
Page 2
Page 3
Page 4
Dari penelitiannya terhadap 4 raja yang berkuasa pada masa Bali Kuna, Semadi Astra (1997:280) menemukan ada 16 orang pemuka agama Siva dan 12 orang pemuka agama Buddha, sebagai berikut.

Pemuka Agama Siva

    Pemuka Agama Buddha

1.

Mpukwing Dharmahanyar

1.

Mpukwing Kutihanyar

2.

Mpukwing Hyang Padang

2.

Mpukwing Canggini

3.

Mpukwing Binor

3.

Mpukwing Bajrasikhara

4.

Mpukwing Mpukwing Lokeswara

4.

Mpukwing Kadhiran

5.

Mpukwing Banyu Garuda

5.

Mpukwing Dharmaryya

6.

Mpukwing Makarun

6.

Mpukwing Waranasi

7.

Mpukwing Antakunyarapada

7.

Mpukwing Barabahung

8.

Mpukwing Udayalaya

8.

Mpukwing Karana

9.

Mpukwing Kanya

9.

Mpukwing Raganagara

10.

Mpukwing Kusumahajika

10.

Mpukwing Purwanagara

11.

Mpukwing Kusumadanta (Puspadanta)

11.

Mpukwing Nalnyja

12.

Mpukwing Kunjarapada

12.

Samgat Mangirengngireng

Wandami

13.

Mpukwing Pasabhan

14.

Mpukwing Sikharadwara

 

 

15.

Mpukwing Hyang karampas

 

 

16.

Samgat Juru Wadwa

 

 



Berdasarkan jumlah pemuka agama yang tersebut dalam jabatan pemerintahan empat raja pada zaman Bali Kuna di atas, dapat dinyatakan bahwa pemeluk Agama Hindu lebih banyak dibandingkan dengan agama Buddha.

Mengenai bangunan suci terkait dengan kedua agama di atas, sumber prasasti hanya menyebut beberapa istilah, seperti satra, patapan, hyang, vihara, sima, sala, kaklungan, pendem, kamulan, meru, dan sebagainya. Di antara nama-nama tersebut, wihara jelas merupakan pesanggrah¬an bagi para pendeta Buddha, hyang singkatan dari istilah kahyangan yang berarti tempat suci. Sampai sekarang di Bali tiga buah pura di tiap-¬tiap desa pakraman (desa adat) disebut Kahyangan Tiga, yaitu Pura Desa, Puseh, dan Dalem. Patapan merupakan tempat untuk bertapa. Sima merupakan daerah perdikan yang tugasnya memelihara bangunan suci yang ada di daerah itu. Kamulan rupa-rupanya masih tertinggal menjadi sanggah kamulan di Bali yang sekarang berfungsi sebagai tempat penghormatan roh suci leluhur. Meru merupakan bangunan suci berbentuk atap tumpang terbuat dari ijuk2.

Perlu ditegaskan kembali bahwa pengaruh Jawa sangat besar di Bali sejak ibu Airlangga (Mahendradattagunapriyadharmapatni) sebagai raja yang amat berkuasa di Bali. Prasasti-prasasti yang diterbitkan sebelumnya berbahasa Bali Kuno yang bercampur dengan bahasa Jawa Kuno, maka sejak tahun 1.022 semua prasasti murni menggunakan bahasa Jawa Kuno (Satyawati, 1978:44). Dalam bidang susastra sejak pengaruh Hindu masuk ke Bali, pada mulanya tampak pengaruh bahasa Sanskerta dan Bali kuno, namun perkembangan berikutnya pengaruh bahasa Jawa Kuno atau Kawi sangat mendominasi, seperti dinyatakan oleh  T. Goudriaan (1980:31) berikut.

In Bali, the sign of a Hinduised culture are found from 8th century onwards. One might rightly speak of an independent Hindu-Balinese culture besides the Hindu-Javanese one of Java; some facts is that the oldest Balinese inscriptions are written  in Sanskrit and Old Balinese. From about the year 1000 onwards. Old Balinese is gradually pushed aside by Old Javanese; a sign of the increasing dominance of Java over the much smaller Bali. In the 14th century, Bali even became a centre for the study of old Javanese literatuer. The influx of Islam, which did not touch Bali, completed the role of this island as a presever  of Hindu-Javanese culture and literary treatures, a role which it has maintained up to these days.


Tentang susastra Jawa Kuno atau Kawi yang mendominasi susastra Hindu di Bali, baik dalam genre parwa, kakawin, dan kidung telah dikaji secara komprehensif oleh P.J. Zoetmulder dalam karya monumentalnya Kalangwan. A Survey of Old Javanese Literature (1974) dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dick Hartoko SJ. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983). Demikian pula hal yang sama dilakukan oleh Rajendra Mishra dalam Sejarah Kesusastraan Sanskerta (1989:84) yang menjelaskan secara gamblang sumber utama susastra Sanskerta seperti Arsa Kavya (Kabya) yakni Ramayana dan Mahabharata, susastra puisi (Mahakavya dan Khanðakavya), prosa (Katha dan Akhyayika),  dan drama (DaSarupaka) yang disadur atau disusun dalam bentuk yang lain dan baru oleh Rakawi Susastra Jawa Kuno baik dalam genre  parwa, kakawin, dan kidung yang diwarisi di Bali.

Di lain pihak, selain dominasi susastra Jawa Kuno seperti tersebut di atas, I Made Suastika menyatakan bahwa pada abad ke-18 (zaman Kerajaan Klungkung) karya sastra Jawa Kuno dan Pertengahan digubah dalam genre baru yang disebut parikan atau gaguritan (1995:30), maka sekitar abad  ke-17 sampai dengan abad ke-19 teks-teks baik berbentuk kidung atau gaguritan sudah sangat populer di antaranya karya sastra berupa Kidung Panji Amalatrasmi, Gaguritan Bhimasvarga, Kidung Bagus Diarsa dan lain-lain disusun oleh para sastrawan pada zaman tersebut yang memberi pemahaman tentang Agama Hindu bagi masyarakat Bali. Aktivitas memahami susastra Jawa Kuno hingga saat ini masih dilestarikan melalui Dharmagita atau Pesantian-Pesantian yang ada hampir di seluruh Desa Pakraman di Bali. Di Bali yang dimaksud dengan susastra Bali tidak lain adalah sebagian besar susastra Jawa Kuno dan sebagian kecil susastra berbahasa Bali, menunjukkan bahwa budaya Bali menyerap budaya Jawa Kuno yang sumbernya adalah budaya India.

Dilihat dari seni arca, karakter arca dalam periode Hindu Bali (periode pertama Hindu masuk ke Bali) terlihat lemah lembut, kegemuk-gemukan, bersikap tenang, mata setengah terbuka, pandangan mengarah ke ujung hidung. Ciri-ciri arca ¬semacam ini dapat dijumpai dalam stupika-stupika tanah liat yang banyak didapatkan di sekitar desa Pejeng, Tatiapi, dan Blahbatuh tetapi arca ini bersifat Buddhist. Untuk arca   Hindu dapat dicontohkan arca Siwa yang terdapat  di Pura Putra Bhatara Desa Bedulu. Kecuali arca Siwa tersebut, arca Hindu lainnya, belum ditemukan tinggalannya. Konteksnya dengan daerah lain, tak dapat dipungkiri bahwa seni arca di Bali saat itu mendapat pengaruh seni klasik Jawa Tengah. Ciri-ciri kelemahlembutan,   kegemukan, dan lain sebagainya seperti tersebut di atas adalah ciri-ciri arca klasik Jawa Tengah. Akan   tetapi arca yang berciri demikian bukan saja didapatkan di Jawa dan Bali, tetapi juga di Kamboja, Thailand, Bhirma, dan Malaysia.  Karena itulah maka arca-arca masa klasik Jawa Tengah disebut memiliki “Gaya Intemasional”, dan pusat persebarannya diduga di Nalanda (Redig, 1997:172). Berdasarkan uraian tersebut di atas, awal mulanya pengaruh Hindu di Bali dari seni arca masih menampakkan gaya internasional atau gaya asli India. Dalam perkembangan berikutnya, utamanya bentuk arca perwujudan tampak kaku, seperti pula halnya di Jawa Timur. Dalam seni ukir yang diwarisi dewasa ini, tampak pula pengaruh China, Arab, dan Belanda seperti patra (lukisan atau ukiran daun), di antaranya: Patra China, Patra Mesir, dan Patra Welanda. Dalam seni tari, tari-tarian yang terdapat pada masa Bali Kuno tampak hingga kini masih lestari, di antaranya adalah Partapukan yang kini dikenal dengan tari topeng, Abanwal yang dikenal dengan lawak. Demikian pula beberapa jenis gamelan masih berkelanjutan diwarisi kini di Bali3. Apakah di kemudian hari akan muncul lukisan atau ukiran patra sebagai pengaruh dari negara lain seperti Amerika Serikat atau Amerika Latin? Perkembangan dan dinamika budaya Bali yang akan menjawabnya.

Senergi Agama-Agama dan Kebudayaan Bali

Kata sinergi (synergy) dalam The New Lexicon Webster International Dictionary of The English Language (1976:996) dinyatakan sebagai: cooperation, working together, combined action, the cooperative action of two or more parts or organs of the the body; the cooperative interaction of different drugs.  Berdasarkan uraian sebelumnya maka Agama Hindu sangat dominan pengaruh atau sinerginya dengan kebudayaan Bali dibandingkan dengan agama-aqgama lainnya. Untuk mengetahui bagaimana kebudayaan Bali (masa prasejarah) mendapat pengaruh dari Agama Hindu (yang mengantarkan memasuki masa sejarah) kiranya dapat dilihat melalui kerangka tentang unsur-unsur kebudayaan seperti yang diajukan oleh C. Kluckhohn dalam karangannya Universal Categories of Culture (1953) seperti yang disetujui oleh Koentjaraningrat (1980:217) yang terdiri dari: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan sistem kesenian. Pengaruh Agama Hindu terhadap 7 unsur kebudayaan Bali dapat dijelaskan sebagai berikut.

1)Bahasa. Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Agama Hindu masuk ke Bali pada mulanya melalui media bahasa Sanskerta kemudian sejak pemerintahan Mahendradattagunapriyadharmapatni (permaisuri raja Dharmodayana Varmedeva), maka bahasa Jawa Kuno menggantikan media berbagai susastra Hindu dan hal ini tampak pengaruhnya terhadap bahasa Bali dewasa ini. Dalam mantra stuti masih menggunakan bahasa Sanskerta4.

2)Sistem pengetahuan. Melalui media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali memiliki berbagai sistem pengetahuan yang bersumber dari Agama Hindu dan budaya India, antara lain sistem pengobatan (ausadha), pembangunan rumah (hastakosalakosali dan hastabhumi) dan lain-lain.

3)Organisasi sosial. Pada prasasti-prasasti Bali Kuno sebelumnya disebut adanya sistem pemerintahan serta adanya lembaga kerajaan yang disebut  panglapuan, paramaksa, samohanda, dan senapati di panglapuan. Sejak tahun 1001 Masehi, lembaga tersebut dinamakan pakira-kira i jero makabehan yang anggotanya terdiri dari para senapati (panglima perang) dan para pandita Siva dan Buddha (Ardana, 1982:31), demikian pula sistem pemerintahan di pedesaan seperti adanya karaman, thani, dan dalam perkembangan selanjutnya di Bali dikenal adanya tipe desa kuno dengan sistem pemerintahnan Mauluapad dan sistem pemerintahan yang dipimpin  oleh raja atau para Punggawa.

4)Sistem peralatan hidup. Di samping sistem yang peralatan hidup yang merupakan produk asli Bali, sejak zaman prasejarah sudah pula memakai peralatan yang berasal dari luar, misalnya dapat dilihat dari tinggalan gerabah Arikamedu dari India Selatan yang rupanya sudah berlangsung sejak awal abad Masehi.

5)Sistem mata pencaharian. Pada masa prasejarah hingga dewasa ini rupanya pertanian yang kemudian berkembang dalam arti luas termasuk perkebunan walaupun merupakan hal yang sangat universal, pengaruh Agama Hindu tampak dari semua sistem pencaharian itu dikaitkan dengan Agama Hindu, artinya dalam memenuhi kebutuhan hidup senantiasa dikaitkan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini tampak hingga dewasa ini sistem pengairan yang sangat terkenal yakni Subak selalu dikaitkan dengan Agama Hindu, misalnya disetiap mata air dan di tempat pembagian air dibangun pura Ulunsui, Bedugul, dan sebagainya.

6)Sistem Religi. Ketika Agama Hindu masuk ke Bali, masyarakat Bali saat itu telah menganut kepercayaan kepada roh suci leluhur, adanya penguasa alam, dan gunung-gunung yang dianggap suci. Agama Hindu yang memiliki keyakinan (Sraddha) yang sama dengan kepercayaan setempat, yakni Pitrapuja (pemujaan kepada roh suci leluhur) mudah saja diterima oleh masyarakat Bali saat itu. Dan hal tersebut berlangsung hingga saat ini. Kedatangan Agama Hindu ke Bali tidak mengubah kepercayaan setempat tetapi memberikan pencerahan dengan lebih mengembangkan kepercayaan setempat. Pemujaan kepada penguasa tertinggi masyarakat Terunyan yakni Da Tonta berupa arca batu megalitik, dipermulia dengan menempatkan kata Bhattara pada nama sebelumnya dan kemudian disemayamkan pada bangunan Meru. Hal ini dapat diketahui antara lain dari prasasti Terunyan yang berasal dari 818 Saka (896 M), isinya tentang pemberian ijin kepada nanyakan pradhana dan bhiksu agar membangun  sebuah kuil untuk Hyang Api di desa Banua Bharu. Prasasti lainnya berasal dari tahun 813 Saka (891 M) isinya tentang pemberian ijin kepada penduduk desa Turuñan untuk membangun kuil bagi Bhatara Da Tonta. Oleh karena itu mereka dibebaskan dari beberapa jenis pajak, tetapi mereka ini dikenakan sumbangan untuk kuil tadi. Beberapa jenis pajak harus dibayar setiap bulan Caitra dan Magha, pada hari kesembilan (mahanavami). Bila ada utusan raja datang menyembah (sembahyang) pada bulan Asuji, mereka harus diberi makanan dan sebagainya (Sartono, 1976:136). Dalam prasasti itu juga menyebutkan haywahaywan di magha mahanavami (Goris, 1954:56). Dalam bahasa Bali dewasa ini kata mahaywahaywa (dari kata mahayu-hayu) berarti merayakan. Haywahaywan di magha mahanavami berarti perayaan Magha Mahanavami. Di India Mahanavami identik dengan Dasara yakni hari pemujaan ditujukan kepada para leluhur (Dubois, 1981:569). Swami Sivananda (1991:8) mengidentikkan  Dasara dengan Durgapuja yang dirayakan dua kali setahun, yakni Ramanavaratri atau Ramanavami pada bulan Caitra, dan Durganavaratri atau Durganavami pada bulan Asuji (September-Oktober). Perayaan ini disebut juga Wijaya Dasami atau Sraddha Wijaya Dasami (hari pemujaan kepada leluhur dan perayaan kemenangan selama sepuluh hari). Hari raya ini di Bali (dirayakan dua kali dalam setahun) dikenal dengan nama Galungan yang hakekatnya adalah Durgapuja atau Sraddha Vijaya Dasami (hari pemujaan kepada leluhur dan perayaan kemenangan selama sepuluh hari) yang dirayakan secara besar-besaran sejak Gunapriyadharmapatni di-dharma-kan sebagai Durgamahisasuramardhini di pura Kedharma Kutri, Blahbatuh, Gianyar5.Beberapa hari raya Hindu di India dipribhumikan ke dalam bahasa lokal antara lain Ayudhapuja di Bali disebut Tumpek Landep, Pasupatipuja disebut Tumpek Uye, dan Sankarapuja disebut Tumpek Pengarah. Yatra disebut Melis, Makiyis, atau Melasti dan beberapa persembahan seperti puja disebut daksina, jajan dari beras berlobang di India selatan disebut Kalimaniarem, di Bali disebut Kaliadrem6 dan sebagainya. Karena adanya persamaan dalam keyakinan dengan religi prasejarah, maka masyarakat Bali saat itu tidak kesulitan dalam memeluk Agama Hindu yang ajarannya telah terdokumentasi dalam bentuk tulisan atau dibawa oleh para pandita.

7)Sistem Kesenian. Sistem ini (kesenian Bali) walaupun tidak bisa dirunut asalnya secara pasti namun adanya pertunjukkan wayang kulit yang oleh Brandes disebut sebagai kesenian asli Indonesia, di India selatan kita jumpai seni yang disebut Kathakali yang mirip dengan wayang kulit yang dipentaskan baik malam maupun siang hari (seperti wayang lemah), demikian pula pementasan cerita Ramayana, dan Bhimakumara seperti disebutkan dalam prasasti Jaha di Jawa Tengah bersumber kepada Ramayana dan Mahabharata yang di India disebut Ramalila dan Mahabharatalila atau Krishnalila. Beberapa tari lepas di Bali tampak seperti Bharatnatyam di India. Dalam seni arsitektur, struktur bangunan yang disebut Meru dapat dijumpai di Nepal dan di India utara7.

Berdasarkan uraian tersebut maka masuknya Agama Hindu di Bali tidak merusak atau  melenyapkan kepercayaan atau kebudayaan, dan bahkan dalam hal tertentu sangat menghargai kepercayaan dan tradisi budaya masyarakat Bali. Demikian  antara lain pengaruh atau sinergi Agama Hindu terhadap berbagai aspek atau unsur-unsur kebudayaan Bali yang demikian rupa seperti sulit dibedakan antara Agama Hindu dan kebudayaan Bali  yang dapat digambarkan sebagai diagram berikut.  

Diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat). Agama Hindu melalui sistem atau media bahasa, yakni (1) Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno diterima dan dianut oleh masyarakat Bali. Demikian pula melalui media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali yang telah menganut Agama Hindu memperoleh (2) sistem pengetahuan. Selanjutnya diterapkan (3) sistem sosial dengan sebagian masih mempertahankan sistem prasejarah dan sebagian lagi mengambil alih atau bersumber pada nilai-nilai Agama Hindu8. (4) Sistem peralatan hidup dan teknologi merupakan kelanjutan dari masa prasejarah dan berkembang pula pada zaman sejarah dengan mengadopsi nilai Agama Hindu, misalnya didirikan tempat pemujaan, arca-arca dan sebagainya. (5) Sistem mata pencaharian masyarakat Bali yang pada mulanya bertani dan berburu, setelah adanya hubungan dengan China dan India mendapat pengaruh dari kedua kebudayaan tersebut, terutama dalam perdagngan. Dalam perkembangannya di setiap tempat untuk memperoleh mata pencaharian didirikan tempat pemujaan yang kemudian dikenal sistem Subak dengan Pura Ulunsui, Pura Bedugul, dan di pasar dibangun Pura Melanting sebagai tempat memuja Dewi Sri Laksmi.(6) Sistem religi pada masa prasejarah dengan masuk dan diterimanya Agama Hindu, kepercayaan lama dicerahkan dan didominasi oleh ajaran Agama Hindu. Demikian pula (7) sistem kesenian, akar-akar kesenian yang sudah terdapat pada masa prasejarah dikembangkan dengan tema-tema yang terdapat di dalam Agama Hindu dengan tetap menghargai dan mensinergikan budaya sebelumnya. Ketujuh unsur kebudayaan di atas (lingkaran-lingkaran kecil) berada dalam lingkaran besar kebudayaan Bali dan mendapat pencerahan dan diabdikan kembali kepada keagungan Agama Hindu (lingkaran di tengah-tengah), dengan demikian terjadi jalinan yang sangat halus sehingga sulit membedakan antara Agama Hindu dan kebudayaan Bali.
Persamaan antara religi prasejarah Bali dengan Agama Hindu dapat dilihat beberapa di antaranya melalui perbandingan berikut .

 

                        Religi Prasejarah

Agama Hindu

1.

 

2.

 

3.

 

4.

 5. 

 

 

6.

 

7. 

 

8. 

 

 

9. 

 

10. 

 


<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->

Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Embang/Sang Hyang Tuduh.
 

Dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir


Tempat yang dipandang suci adalah gunung, sungai, laut.

Percaya terhadap kekuatan alam yang disebut Hyang.

Percaya terhadap roh suci leluhur dengan perwatan jenasah dan roh suci dianggap bersemayam di puncak-puncak gunung.

Membuat tiruan gunung berupa punden berundak-undak, menhir dan tahta batu.

Tinggalan situs Gilimanuk ditemukan gigi manusia telah dipanggur.


Tinggalan sikap jenasah pada sarkopagus dalam posisi bayi dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali.

Adanya orientasi arah yang dipandang suci yakni utara dan timur.

  
Adanya persembahan dan bekal kubur.

 

.

 

2.

 

3.

 4.

 

5.

 

6.

 

 

7.

 

 

8. 

 

9. 

 

10. 

 

 

 


Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang Widhi Wasa.

Dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung disebut Bhattara Giripati atau Mahadewa.

Tempat yang dipandang suci adalah gunung, sungai, laut.

Kekuatan alam disebut dengan nama Dewa.

Percaya terhadap roh suci leluhur yang disebut Atma dan Atma yang suci bersemayam di puncak-puncak gunung.

Membuat tiruan kahyangan dan gunung berupa pura, prasada, candi, meru.


Tradisi panggur tersebut berlanjut disebut upacara “mapandes” atau “matatah”, ditemukan dalam tradisi Veda kuno.

Kepercayaan terhadap kelahiran kembali disebut Punarbhava atau Samsara.

Adanya orientasi arah yang dipandang suci yakni utara dan timur yang disebut Uttara dan Purva.

Adanya persembahan dan bekal kubur berupa upakara yajna.

 

Seperti telah disebutkan di atas, dilihat dari proses dan sejarah perkembangan agama-agama di Bali, Agama Hindu hampir bersamaan datangnya dengan Agama Buddha, demikian pula dengan Agama Kong Hu Chu atau Tao yang rupanya datang bersamaan dengan adanya hubungan dengan China. Agama Islam datang ke Bali dan tidak mendapat respon atau dipeluk oleh masyarakat Bali. Agama ini sudah ada di Bali abad XIV. Sejak saat itu orang-orang Islam berdatangan ke Bali, terkait dengan kepentingan politik masing-masing kerajaan di Bali. (Wijaya, 2005:36). Penganut Agama Islam adalah para pendatang seperti suku Jawa, Bugis, Sasak, dan Madura.  Dalam perkembangan berikutnya pemeluk Agama Islam datang ke Bali berkaitan dengan perdagangan dan mencari nafkah di Bali. Di beberapa daerah utamanya penganut Agama Islam yang terkait dengan kerajaan-kerajaan di Bali umumnya menyatu dalam arti kegiatan suka dan duka dengan komunitas Hindu di Bali dengan tetap mempertahankan identitas agama termasuk budaya asal etnis yang bersangkutan.



 
< Prev   Next >
"));