Logo PHDI Pusat
Teologi dalam Susastra Hindu Print E-mail
Article Index
Teologi dalam Susastra Hindu
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

ImageSumber utama ajaran Agama Hindu adalah Veda. Veda adalah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang di dalam Bahasa Sanskerta disebut Úruti,  artinya yang terdengar atau yang didengarkan oleh orang-orang suci, yakni para mahàrûi. Úruti disebut juga  “Sabda-Brahman”, yakni wacana Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu disebut berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (Divine Origin). Para mahàrûi memperoleh wahyu tersebut, oleh karena itu para mahàrûi disebut “Mantradraûþaá” (yang memperoleh wahyu berupa mantra Veda)  dan bukan “Mantrakartaá” (yang membuat atau mengarang mantra Veda). Di samping Veda sebagai sumber tertinggi ajaran Agama Hindu terdapat juga sumber-sumber lainnya yang disebut susastra Hindu. Susastra Hindu bukanlah wahyu Tuhan Yang Maha Esa, melainkan karya mahàrûi, oleh karena itu disebut berasal dari manusia  (Human Origin). Susastra Hindu merupakan cara penyebarluasan Agama Hindu oleh para Mahàrûi. Mahàrsi dimaksud adalah manusia yang memiliki kualifikasi kesucian yang tinggi, dan mampu melihat jauh ke depan, sesuai makna dari kata åûi yakni yang melihat (seer) yang di dalam Bahasa Sanskerta disebut juga dengan istilah “Divyacakûu” (memiliki pandangan kedewataan).

Susastra Hindu sangat banyak jenisnya, secara garis besarnya terdiri dari kitab-kitab Itihàsa (sejarah), Puràóa (cerita-cerita kuno), Småti atau Dharmaúàstra (kitab-kitab hukum), Āgama merupakan buku utama dari sekta-sekta dalam Agama Hindu, Tantra yang memuja Úaktì (aspek femininum dari Tuhan Yang Maha Esa), Darúana (sistem filsafat Hindu), dan di Indonesia dikenal pula kitab-kitab Tattva. Kitab-kitab Itihàsa terdiri dari mahakarya Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata, dan kitab-kitab Puràóa terdiri dari 18 Mahàpuràóa (Puràóa besar) dan 18 Upapuràóa (Puràóa minor atau Puraóa kecil). Kitab-kitab Dharmaúàstra terdiri 20 jenis dan yang paling besar dan terkenal adalah Manavadharmaúàstra. Kitab-kitab Āgama seperti telah disebutkan di atas, adalah kitab-kitab sekta dalam Agama Hindu, yang terdiri dari kitab-kitab Úaivàgama, Vaiûóavàgama, dan kitab-kitab Úaktàgama yang memuja úakti Tuhan Yang Maha Esa yang sangat banyak jumlahnya. Kitab-kitab Darúana merupakan sistem filsafat India, terdiri dari kitab-kitab Vedànta, Mimaýúa, Vaiúesika, Nyàya, Saýkhyà, dan Yoga yang juga cukup banyak jumlahnya. Kitab-kitab Tattva umumnya memakai syair berbahasa Sanskerta diberi terjemahan dalam Bahasa Jawa Kuno, dan hampir seluruh kitab-kitab tersebut dapat ditemukan di Bali.


Sesuai dengan topik buku ini, maka yang akan dikaji adalah teologi dalam susastra Hindu. Teologi merupakan salah satu bidang ilmu yang mencakup banyak aspek berkaitan dengan studi agama, ilmu agama, studi tentang Tuhan Yang Maha Esa atau Para Dewa, teristimewa tentang atribut-Nya dan hubungannya khususnya Tuhan Yang Maha Esa dengan manusia, dan sebagainya. Bidang yang sangat luas ini  di dunia Barat dikenal dengan teologi. Ilmu yang spesial ini di dalam Hinduisme disebut dengan istilah Brahmavidyà.


Brahmavidyà tidak saja membahas tentang Tuhan Yang Maha Esa, Para Dewa, dan Roh Suci Leluhur, tetapi juga membahas ciptaan-Nya, tentang hakikat manusia yang disebut Ātmavidyà, serta kembalinya Ātmà kepada Paramàtman, Tuhan Yang Maha Esa yang menurut Agama Hindu disebut Mokûa dan merupakan tujuan hidup tertinggi umat manusia. Pembahasan tentang teologi atau Brahmavidyà, khususnya Brahmavidyà dalam susastra Hindu merupakan satu bidang kajian, di luar teologi Veda sebagai sumber tertinggi  ajaran Agama Hindu.


Dapat pula ditambahkan bahwa kitab-kitab Tattva di Bali sebenarnya merupakan kajian dari teologi Hindu atau Brahmavidyà, khususnya kitab-kitab Úaiva Siddhànta yang cukup banyak jumlahnya. Kitab-kitab ini merupakan rujukan utama pelaksanaan ajaran Agama Hindu di Bali yang berpadu dengan unsur-unsur sekta yang lain dan dikembangkan dalam wadah budaya Bali.

1.2 Lingkup dan Sistematika Penulisan

Lingkup penulisan buku ini dibatasi pada ajaran teologi atau Brahmavidyà dalam susastra Hindu baik yang menggunakan media Bahasa Sanskerta maupun Jawa Kuno, yang terdiri dari kitab-kitab Itihàsa, yakni Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata, kitab-kitab Puràóa, kitab-kitab Dharmaúàstra, kitab-kitab Āgama, dan kitab-kitab Tantra, serta kitab-kitab Tattva yang memakai Bahasa Jawa Kuno seperti telah disebutkan di atas.


Eksistensi susastra Jawa Kuno di Indonesia merupakan saduran dan atau terjemahan serta ringkasan dari susastra Hindu dengan media Sanskerta, oleh karena itu diwarisi Ràmàyaóa yang jauh lebih ringkas dari Ràmàyaóa karya Mahàrûi Vàlmìki, demikian  pula parwa-parwa dan kakawin lainnya mengambil sumber pada parwa-parwa kitab Mahàbhàrata. Mantra-mantra para pandita Hindu di Bali yang juga bersifat teologis bersumber pada kitab-kitab Puràóa yang sebelumnya telah dihimpun dalam himpunan mantra bernama Båhatratnastotra yang ditemukan di India Selatan.


Adapun sistimatika penyusunannya adalah sebagai berikut. I Pendahuluan, yang di dalamnya memuat latar belakang, lingkup penulisan, tujuan, dan manfaat penulisan. II Teologi dan Studi Keagamaan, yang menguraikan Pengertian Teologi, Tealogi, dan Brahmavidyà. Perbedaan Studi Keagamaan dan Teologi. Perbedaan Teologis dan Tradisi-Tradisi keagamaan. III Teologi dalam Susastra Sanskerta yang akan menguraikan Pengertian dan Lingkup Susastra Hindu Hakekat Ketuhanan Dalam Hindu Penggambaran Tuhan Yang Maha Esa dalam Susastra Sanskerta Penggambaran Dewa-Dewa dalam kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa Penggambaran Dewa-Dewa dalam kitab-kitab Dharmaúastra Penggambaran Dewa-Dewa dalam kitab-kitab Āgama, Tantra, dan Darúana. IV Teologi Hindu dalam Susastra Jawa Kuno membahas teologi Hindu Susastra Parva, Susastra Kakawin Susastra Kidung Susastra Tattva. V Ajaran Moralitas dan Kepemimpinan dalam Susastra Hindu yang akan mengkaji  ajaran moralitas dalam Ràmàyaóa, ajaran kepemimpinan dalam Ràmàyaóa,  ajaran, moralitas dalam Mahàbhàrata, dan  ajaran kepemimpinan dalam Mahàbhàrata. VI Penutup merupakan bagian akhir dari tulisan ini diketengahkan simpulan dan saran-saran.

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan buku ini adalah: (1) bersifat khsusus, artinya sangat berguna bagi para mahasiswa atau dosen yang berminat untuk secara mendalam menguasai pengetahuan tentang teologi Hindu, dan (2) bersifat umum, artinya memperkaya khasanah pengetahuan dan dalam usaha meningkatkan pengetahuan umat Hindu pada umumnya tentang teologi yang mereka anut dan masyarakat luas yang ingin lebih mendalami ajaran Agama Hindu.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan buku ini meliputi (1) manfaat teoritis, yakni secara teoritis menambah wawasan pembaca untuk mengenal teologi Hindu secara tekstual dan kontekstual, serta  (2) manfaat praktis, yakni akan sangat berguna bago para praktisi Agama Hindu seperti para pandita, pinandita atau pamangku, guru dan dosen Agama Hindu, serta umat Hindu dan masyarakat luas yang tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang ajaran ketuhanan dalam Agama Hindu.

II  TEOLOGI  DAN STUDI KEAGAMAAN

2.1 Pengertian Teologi, Tealogi, dan Brahmavidyà

Di dalam The New Oxford Illustrated Dictionary (1978:1736) pengertian teologi dinyatakan sebagai berikut: Science of religion, study of God or gods, esp. of attributes and relations with man etc.; yang berarti ilmu agama, studi tentang Tuhan Yang Maha Esa atau Para Dewa, teristimewa tentang atribut-Nya dan hubungannya dengan manusia, dan sebagainya. Adian dalam Jurnal Perempuan Untuk Pencerahan dan Kesetaraan (2001:52) menyatakan teologi adalah pengetahuan Yang Illahi. Kata logi berasal dari bahasa Yunani logos yang dapat diartikan sebagai pengetahuan yang berkadar pengetahuan tinggi berbeda dengan opini sehari-hari. Logos  berbeda dengan opini karena ia murni kontemplasi tanpa digayuti  kepentingan apapun. Teologi kemudian dapat diartikan  menjadi pengetahuan kontemplatif, bebas kepentingan, dan benar tentang Yang Ilahi.

Kata teologi berasal dari kata theos yang artinya ‘Tuhan’ dan ‘logos’ artinya ‘ilmu’ atau ‘pengetahuan’. Jadi teologi berarti ‘pengetahuan tentang Tuhan’. Ada banyak batasan atau definisi teologi sebagaimana uraian berikut: telogi secara harfiah berarti teori atau studi tentang ‘Tuhan’. Dalam praktek, istilah dipakai untuk kumpulan doktrin dari kelompok keagamaan tertentu atau pemikiran individu (Maulana,dkk.,2003: 500).  


Selanjutnya di samping kata teologi ditemukan juda istilah tealogi. Kata tealogi berasal dari kata thea yang dalam bahasa Yunani artinya dewi (goddess). Dalam rangka dekonstruksi konsep Yang Ilahi menurut patriaki, tealogi menggali dan mengeksplorasi konsep dewi dari peradaban baik barat maupun timur. Tealogi hendak memunculkan konsep dewi yang terkubur dalam lautan pasir peradaban agama yang berpihak pada laki-laki (Adian, 2001:52). Benarkan pernyataan Adian ini? Bila kita mengkaji dengan baik Agama Hindu, dengan pemunculan konsep úakti (power) maka konsep dewi tidak terkubur dalam lautan pasir peradaban agama seperti pernyataan tersebut. Dalam Hindu, walaupun kemudian karena masuknya agama dan peradaban lain ke India, mengakibatkan dampak bahwa wanita seakan-akan tidak mendapatkan posisi terhormat, namun bila kembali kepada kitab suci Veda dan susastra Hindu kita menemukan tokoh-tokoh atau para mahàrûi yang disebut brahmavadinì yang menunjukkan bahwa wanita juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi rohaniwan Hindu. Demikian dikenal úaktì atau devì yang menunjukkan aspek feminim Tuhan Yang Maha Esa,  dikenal pula konsep ardhanarìúvarì atau ardhaneúvarì, menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak memiliki artibut gender baik sebagai laki-laki maupun perempuan, namun dalam seni arca dibayangkan sebagai separoh laki-laki dan perempuan, yang sebenarnya Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat diberi atribut laki-laki atau perempuan, karena Dia bukanlah makhluk hidup yang memiliki jenis kelamin.


Sejenis dengan istilah teologi, di dalam Agama Hindu dikenal istilah Brahmavidyà. Mahadevan (1984:300) menyebut brahmavidyà sebagai the knowledge of Brahman, sedang Apte dalam Sanskrit English Dictionary (1987:466) menerjemahkan teologi dengan Ìúvara-brahmajñànam, paramàrthavidyà, adhyàtmajñànavidyà yang secara leksikal berarti pengetahuan tentang ketuhanan, pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan rohani (spiritual). Berdasarkan uraian tersebut brahmavidyà berarti pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Esa, mencakup semua manifestasi-Nya, ciptaan-Nya dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Pengertian yang terakhir ini sudah mencakup pengertian yang amat luas tentang brahmavidyà. Menurut Pudja (1984:14) teologi di dalam Bahasa Sanskerta disebut Brahmavidyà atau Brahma Tattva Jñàna.


Pada mulanya teologi merupakan istilah yang digunakan oleh para pemikir Kristen untuk menunjukkan suatu disiplin ilnu yang membahas hal Tuhan dan Ketuhanan. Terminologi teologi  telah menjadi disiplin ilmu yang diakui oleh para pakar  atau ilmuwan dan secara aksiologis atau manfaat dalam penerapannya telah  meluas ke seluruh dunia. Disiplin ilmu teolgi menjadi demikian sangat berarti, karena kebeadaannya telah memenuhi tiga persyaratan sebagai sebuah ilmu pengetahuan, yakni: (1) syarat ontologis atau objeknya jelas, (2) syarat epistemologis (procedure), dan (3) syarat aksiologis  (makna atau manfaat). Karena keabsahan dan keakuratan dari disiplin ilmu teologi tersebut, maka epistemologi teologi telah menjadi pola, patokan, rujukan dalam berteologi dari semua agama tanpa menyadari bahwa terminologi teologi setiap agama tidak persis sama (Donder, 2006:15)


Bila memperhatian uraian di atas, maka brahmavidyà di dalamnya sudah mencakup pengertian teologi yang sangat laus dan dalam, dalam susastra Hindu berbagai atribut penggambaran Tuhan Yang Maha Esa tampak dalam dua pandangan yang berbeda, yakni Tuhan Yang Maha Esa yang berpribadi (Personal God) dan Tuhan Yang Maha Esa yang tidak berpribadi (Impersonal God). Untuk kepentingan bhakti (devotion) Tuhan Yang Maha Esa yang berpribadi menjadi objek pemujaan umat Hindu umumnya.

2.2 Perbedaan Studi Keagamaan dan Teologi

Uraian ini merupakan saduran dari tulisan Frank Whaling dalam Aneka Pendekatan Studi Agama, Connoly, Ed (2002, 311-374) sebagai berikut. Posisi teologi sangatlah penting dalam berbagai pembahasan tentang studi dan pengajaran agama. Pendekatan teologis memfokuskan pada sejumlah konsep, khususnya didasarkan pada ide theologos, studi atau pengetahuan tentang Tuhan atau Dewa-Dewa. Praanggapan ini memuat pesan yang berbeda dari ilmu-¬ilmu kemanusiaan atau sosial. Studi-studi keagamaan dalam bentuknya yang modern, dipandang muncul dari Teologi Kristen. Sehingga studi keagamaan dan teologi menimbu1kan bermacam pandangan, ada yang menganggap penting ada yang menganggap tidak penting atau bentuk pro dan kontra lainnya.


Ada lima macam pendekatan teologis dalam studi agama, yaitu:

1) Teologi agama-agama (theologies of religions), yaitu teologi tertentu yang muncul dalam tradisi keagamaan tertentu. Jadi teologi agama-agama adalah teologi yang mempelajari tentang teologi tertentu yang mulcul dari tradisi-tradisi keagamaan. Pada setiap agama merniliki tradisi-tradisi yang sulit dicari sumbernya dalam kitab suci.

2) Teologi-teologi agama (theologies of religion) yaitu  berbagai sikap teologis dalam tradisi keagamaan partikular yang diadopsi dari luar agama. Jadi  teologi-teologi agama adalah  teologi yang mempelajari tentang sikap teologis suatu agama terhadap tradisi-tradisi keagamaan yang diambilnya dan luar agamanya. Misalnya orang Kristen di Bali menggunakan ‘banten’ ke gereja, menggunakan ‘penjor’ saat hari raya Natal dan Tahun Baru, menggunakan pakaian adat Bali yang lazim digunakan ke pura oleh umat Hindu namun digunakan oleh umat Kristen Bali ke gereja.

3) Teologi agama (theology of religion) yaitu upaya membangun suatu teologi agama yang lebih universal yang dalam hal ini mengkonsentrasikan pada kategori-kategori transenden. Jadi pendekatannya mempelajari tentang teologi yang universal yang memfokuskan diri pada yang transenden (spiritual, kesucian).

4) Teologi agama-agama global (a global theology of religion) yaitu dimulai dari situasi global dalam seluruh kompleksitas,  moral manusia, natural, dan dari sana kemudian mengkonseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis yang muncul dan tradisi keagamaan tertentu yang dapat mengarahkan perkembangan situasi global, yang mempengaruhi setiap orang. Jadi teologi agama-agama global adalah teologi yang mempelajari kompleksitas agama termasuk di dalamnya; moral, manusia, natural, serta mengkonstruksi atau mengkonseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis itu.

5) Teologi agama perbandingan (comparative theology of religion). Melalui membaca teologi-teologi agama tertentu, kita akan mengeksplorasikan beberapa titik temu dan perandingan teologis. Jadi teologi agama perbandingan adalah teologi yang mempelajari agama-¬agama melalui memperbandingkan lewat uraian-uraian teologis setiap agama.

Perbedaan studi keagamaan dan teologi.

1) Studi keagamaan, selain bersifat multireligius, studi-studi keagamaan juga menggunakan beragam pendekatan dan metode. Sehingga; filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, fenomenologi, psikologi, linguistik, dan sebagainya merupakan komponen-komponen dari studi keagamaan.

2) Teologi, lebih merupakan suatu disiplin tersendiri dan meskipun teologi menggunakan berbagai metode yang dipaparkan di atas, metode-metode itu berada di bawah concern teologi dan sering kali juga gereja atau komunitas religius yang terkait.

3) Teologi, sering berpusat pada persoalan doktrin. Ortodoksi agama cenderung menitikberatkan terhadap doktrin-doktrin dan elemen¬elemen konseptual dalam agama sebagai salah satu yang lebih sentral dibandingkan dengan praktek spiritual atau perilaku.

4) Studi keagamaan, memberi titik tekan yang sama terhadap elemen-elemen lain yang ada dalam agarna seperti  praktik sosial, ritual, estetika, spiritualitas, mite, simbol dan seterusnya. Tidak ada penekanan yang berlebihan terhadap doktrin atau  konsep.

5) Teologi memiliki perhatian khusus pada gagasan transendensi yang “dianggap tidak perlu diperdebatkan”  sejauh ada hubungannya dengan teologi.

6) Studi keagamaan titik fokusnya lebih kepada orang-orang beriman dan pengalarnan atau keyakinannya ketimbang objek keyakinan.

7) Teologi berkepentingan dengan transendensi, sedangkan studi keagamaan tidak.

Dalam pembelajaran abad pertengahan, ilmu tetap memiliki tempat, seperti ditujukkan Durkheim dan lainnya, tetapi menduduki tempat kedua. Meskipun demikian, pengetahuan budaya dan ilmu adalah bagian dari totalitas pembelajaran yang diasarkan pada teologi. Seperti dikemukakan oleh Aquinas, teologi adalah queen of sciences. Di era modern, model dominan kembali mengalami perubahan. Eksperimen terhadap alam dan pengembangan ilmu-ilmu kealaman yang terpancar darinya, menjadi landasan pengetahuan. Porosnya lebih berpusat pada alam dibandingkan Tuhan atau manusia, dan titik tekannya pada ilmu-ilmu kealaman sebagai kunci pembelajaran. Karena penelitian ilmiah disandarkan pada spesialisasi, dan pengetahuan dibagi kedalam wilayah-wilayah khusus, dalam hal ini terjadi kemunduran ketika dipahami terdapat totalitas pengetahuan.


Meskipun teologi dan turunannya, studi keagamaan bersamaan dengan humanitas masih tetap ada dan dalam pendekatan terhadap pengetahuan memang cenderung menggunakan pandangan dunia ilmiah tidak ada yang tersembunyi dari fakta bahwa pandangan tentang keutuhan pengetahuan telah terpecah-pecah. Pengetahuan lebih ditemukan dalam bagian unsur-unsurnya, disiplin-disiplinnya, ketimbang dengan totalitasnya. Di era sekarang dengan perspektif  global, terdapat concern yang lebih besar terhadap perlunya mengintegrasikan kembali pengetahuan, bersamaan dengan kesadaran yang lebih dalam akan keuntungan dan kerugian pandangan dunia ilmiah. Gerakan New Age dan posmodernisme, sekalipun memiliki kepentingan tertentu, menghidupi semangat ini dan terdapat keinginan menyatukan kembali pengetahuan guna memenuhi tuntutan dunia global. Dengan kata lain terdapat kesadaran yang lebih besar tentang komplementaritas model-model pengetahuan dan perlunya interkoneksi yang lebih dalam. Teologi dan studi-studi keagamaan, humanitas, dan ilmu-ilmu ke-alam-an saling membutuhkan satu sama lainnya.


Ada tiga alasan bagi teologi maupun studi-studi keagamaan tentang pentingnya model pengetahuan. Pertama,  Konsep-konsep yang begitu penting bagi teologi hanyalah salah satu dari delapan elemen yang dikemukakan dalam model ini. Studi-studi keagamaan berkaitan dengan kedelapan elemen; (1) komunitas keagamaan (2) ritual, (3) etika, (4) keterlibatan sosial dan politik (5) kitab sud dan mite, (6) konsep-konsep, (7) estetika, dan (8) spiritualitas, tanpa melebihkan salah satunya. Terlebih lagi studi-studi keagamaan bersifat lintas budaya dan tidak ada kepentingan tertentu untuk memperkembangkan salah satu tradisi. Kedua, Model ini membahas gagasan transendensi, fokus yang memediasi dan keyakinan atau intensinalitas yang juga terdapat dalam teologi. Bagi tradisi keagamaan tertentu, keyakinan adalah keyakinan terhadap transendensi mereka sendiri, melalui fokus yang memediasikan yang begitu penting, dan ini tampak jelas dalam teologi-teologi tertentu. Namun, selain pengertian ini, model ini  dapat menjelaskan struktur umum dan makna dari tradisi keagamaan tertentu, ia memiliki asumsi-asumsi dasar yakni kepentingan umum (general interest). Model ini juga dapat menunjukkan bahwa agama-agama secara radikal berbeda jika kita membandingkannya secara terbuka melalui model ini. Di sisi lain, model ini juga dapat dipahami guna menunjukkan arah keyakinan, dan transendensi sebagai kategori teologis universal dan oleh karenanya juga arah teologi agama general. Ketiga, Meskipun teologi memiliki suatu kecenderungan terhadap formulasi doktrinal, model ini menunjukkan bahwa formulasi-formulasi itu bisa jadi luas dan beragam. Teologi memberi perhatian pada delapan elemen terkait dan dalam tahun-tahun terakhir perhatian ini berkembang dalam tradisi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita melihat meningkatnya minat pada teologi komunitas¬-komunitas keagamaan, teologi skriptural, teologi doktrinal, teologi seni, dan teologi ritual dan liturgi, etika teologi, teologi praksis sosial dan politis, dan teologi spiritual.


Singkatnya, meskipun batas-batas dan perhatian teologi dan studi-studi keagamaan itu terpisah, namun bukan pemisahan yang mendasar. Keduanya, saling berjalin dengan cara seperti yang telah disampaikan yaitu kaitannya dengan model-model pengetahuan barat dan dengan suatu model agama general.


Tradisi cenderung beragam berdasarkan inti doktrin yang lebih kurang bersifat “terben” (given, bahasa Bali muleketo), dan semua agama memiliki doktrin yang sifatnya seperti ini. Standar kualitas konseptuai tradisi Hindu semenjak era klasik, konsep-konsep kunci tertentu telah menjadi parameter bagi Hindu way of life.


1) Konsep Hindu berpusat pada gagasan tentang Brahman sebagai realitas ultimate di balik alam,

2) Àtmà sebagai diri inner dalam manusia,

3) Karma manusia sebagai lingkaran kelahiran kembali yang terus-menerus,

4) Penyelamatan sebagai pelepasan diri dari kelahiran kembali,

5) Cara-cara penyadaran inner (jñàna), ketaatan (bhakti), dan terlibat aktif di dunia (di bawah kuasa Tuhan) sebagai jalan penyelamatan, dan peran berbagai manifestasi-Nya seperti Śiva, Viûóu, Devì, dan dua inkarnasi dari Viûóu (avatàra) yakni Ràma dan Kåûóa.


John Hick menguraikan bahwa ada tiga sikap teologis pokok yang dapat diterapkan tradisi keagamaan terhadap wilayah keagamaan yang lebih luas: (1) Eksklusivisme, suatu pendapat bahwa satu-satunya posisi yang benar adalah posisi keagamaannya sendiri, (2) Inklusivisme, suatu pandangan bahwa tradisi keagamaan !ain juga memuat kebenaan religius tetapi di hari akhir akan dimasukkan ke dalam posisi yang mereka miliki, (3) Pluralisme, pendapat bahwa tradisi-tradisi keagamaan mengejawantahkan diri dalam beragam konsepsi mengenai yang sejati (the real) dan memberi respon terhadapnya, dari sana muncul jalan kultur yang berbeda-beda bagi manusia. Tiga sikap teologis itu beranggapan bahwa seseorang mencari dengan berangkat dari suatu sistem teologis partikular dan berdasar pada sistem lainnya sebagai entitas yang terpisah. Sikap-sikap ini mengasumsikan nahwa teologi berarti teologi partikular dari suatu tradisi keagamaan partikular.


Agama Hindu sejak diturunkannya kitab suci Veda sudah mengamanatkan umatnya untuk mengembangkan sikap inklusivisme dan pluralisme artinya mengakui ada kebenaran pada tradisi keagamaan lain serta adanya beragam konsepsi yang sejati (the real) dan memberi respon terhadapnya, seperti tampak dalam perkembangan agama Hindu di Bali, kepercayaan kepada roh suci leluhur masih mendapatkan tempat yang semestinya.

2.3 Perbedaan Teologis dalam Tradisi-tradisi Keagamaan

Terdapat perbedaan pandangan teologis dalam tradisi keagamaan, yakni: Pertama: (1) Teologi tidak terbatas pada formulasi doktrinal.  Terdapat delapan elemen model, dimana konsep hanya merupakan salah satu bagiannya, (2) Tradisi-tradisi keagamaan melakukan refleksi konseptual terhadap tujuh elemen lainnya yakni, (a) ritual, (b) etika, (c) keterlibatan politik, (d) sosial kitab suci, (e) estetika, dan (f) spiritualitas. (3) Teologi-teologi yang berkaitan dengan ketujuh elemen ita menjadi signifikan tidak hanya dalam lingkungan agama Kristen tetapi juga dalam pembahasan inner tradisi-tradisi keagamaan lain. (4) Kadang-kadang elemen-elemen dalam tradisi tradisi itu cenderung mencapai titik temu, seperti dalam kasus spiritualitas. (5) Disaat yang lain cenderung dalam arall yang berlawanan seperti dalam ritual dan kitab suci, (6) Madzhab filsafat perennial (philosophia perennis), yang mencakup pandangan para sarjana dari berbagai komunitas keyakinan yang berbeda-beda seperti; Sayyed Hossein Naser, Huston Smith, A.K. Coomaraswamy, R Guenon, T. Burckhardt, M. Lings, dan F. Schoun, mengemukakan tesis bahwa; agama-agarna itu berbeda secara eksternal (dalam bentuk formalnya dan bukan dalarn judgemental-nya) tetapi secara internal mencapai titik temu pada tingkat spiritualitas (Connolly, 2002 : 329-330).


Kedua: Terdapat beragam tipe teologi dalam masing-masing tradisi. Secara mendasar terdapat empat macam tipe:  (1) Tipe teologi deskriptif, historis, positivistik: Tipe ini disukai oleh para sejarawan dalam setiap tradisi yang berusaha mendiskripsik:an apa yang fungsional secara doktrinal tanpa mengabaikan pertimbangan nilai. Pertimbangan nilai tidak ini tidak dapat dihindari secara total karena konteks itu sendiri memuat praanggapan yang tidak bebas nilai. Namun demikian, tipe ini merupakan ripe yang terdekat dengan teologi fenomenologis, dan lebih memfokuskan pada deskripsi ketimbang pengakuan. (2) Tipe tcologi sistematik: Tipe ini berusaha meringkas doktrin-doktrin dan komunitas beriman dalam suatu pengertian pengakuan (confessional). Dalam hal ini tiak ada upaya agar menjadi bebas nilai tetapi ditnaksudkan untuk mengkonstruksi posisi-posisi doktrinal dan persaksian keimanan dengan suatu carn yang akan meningkatkan tradisi im. Seluruh tradisi keagamaan memilki tipe tipologi ini. (3) Tipe teologi filosofis: Tipe ini berusaha terlibat dengan posisi-posisi lain pada tingkat filosofis, dengan membawa dan memberikan reaksi kepadanya secara serius. Tipe ini memungkinkan perdebatan dan pertukaran yang lebih serius dibandingkan tipe confenssional. Ia berusaha masuk dalam dialog dengan budaya yang melingkupi dan dengan posisi filosofi dan keagamaan lainnya. Salah satu tujuannya mungkin tetap tetap apologetik yakni mempertahankan dan menonjolkan posisinya sendifi dengan argumen yang nalar. Maka sudut pandangnya tetap sama bahwa tradisi tertentu bersikap hati-hati teradap tradisi lain, dan berusaha membenarkan posisinya dalam dunia yang lebih luas. Namun demikian, ada ruang untuk berargumentasi dan perbedaan. Misalnya, pemikir-pemikir abad pertengahan dari tradisi-tradisi monoteistik saling memberi penilaian satu sama lainnya pada tingkat filosofis dalam upaya membuktikan keberadaan Tuhan sementara pada tingkat confenssional kitab suci, dan akomodasi keyakinan-keyakinan partikular kurang dimungkinkan antara posisi pemikir dengan pemikir lain. (4) Teologi dialog. Tipe ini lebih lazim, bukan berarti di masa lalu tidak ada. Tipe ini mengandung keinginan secara sengaja untuk: memahami tradisi-tradisi lain demi kepentingannya sendiri, bukan karena alasan apologetik. Ini juga mencakup pemahaman bahwa sesuatu yang menjadi minat dan perhatian dapat dipelajari dari yang lain dan bahwa dengan melompat pada tradisi lain dengan melakukan dialog, seseorang dapat kembali dengan pengalaman disertai penghargaan terhadap tradisinya sendiri dan seseorang sangat mungkin dapat meninggalkan sesuatu yang berharga bagi patner dialognya. Model perbedaan keempat, dan ditinjau dari berbagai segi merupakan perbedaan yang lebih penting baik di dalam maupun lintas tradisi adalah perbedaan yang terjadi antara pandangan-pandangan teologis yang saling berlawanan. Seperti sering telah kami tunjukkan, disharmonisasi antara pandangan teologis kadang-kadang lebih jelas daripada perbedaan antara agama-agama itu sendiri. Terdapat empat pandangan teologis pokok yang saling bertentangan yakni; (1) tradisionalisme pasif, (2) upaya penyegaran kreatif terhadap tradisi, (3) upaya reformasi dan adaptasi, (4) upaya menyatakan dan menginterpretasikan kembali secara radikal. Berikut penjelasan empat pandangan teologis pokok yang saling bertentangan tersebut.

1) Tradisionalisme pasif menutup pandangan teologis seseorang dari angin perubahan yang terjadi dalam dunianya, dengan mundur ke dalam kerangkanya sendiri diharapkan tidak akan terjadi kekacauan. Pandangan ini tidak mengakui keniscayaan perubahan atau bahwa simbol-simbol ritual yang dimuliakan tengah kehilangan efektivitas. Ia berlarut dalam kesedihan masa lalu tanpa kerinduan pada masa depan. Sekarang pandangan teologis ini dalam tingkat tertentu terjadi dalam agama-agama primal, dalam tingkat tertentu juga terjadi di gereja-gereja Katolik Roma sebelum Vatikan II, sebelum Dalai Lama lari ke India dalam tradisi Buddhis Tibet. Seluruh kelompok keagamaan memiliki suatu sayap teologis yang berusaha menutup rapat-rapat semua lobang dan berpegang pada tradisi demi tradisi itu sendiri dengan harapan bahwa daya tahan untuk tidak berubah dapat terus berlangsung dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

2) Upaya penyegaran kreatif terhadap tradisi. Penyegaran kreatif terhadap tradisi berusaha memelihara dan memulihkan tradisi tetapi dengan cara yang lebih dinamis dan proaktif. Model teologis ini mungkin agak konservatif tergolong sayap kanan, bahkan pandangan-pandangannya bersifat fundamentalis. Tetapi kreatif dalam kesugguhan dan tujuannya untuk melakukan revitalisasi tradisi secara terus menerus. Ia berusaha menguatkan kembali akar-akarnya dan secara kreatif memulihkan apa yang dianggap penting dan layak.

Pemahaman akan hilangnya identitas dan kebutuhan akan dinamisme dalam memulihkan apa yang dianggap sebagai tradisi yang merupakan faktor yang kuat dalam mendorong munculnya posisi teologis konservatif secara kreatif, dalam seluruh tradisi keagamaandidunia. Di antaranya terdapat revitalisasi dunia Yeshivah, Hasidic, dan sayap ortodokx modern dalam tr disi Yunani, serta upaya kebangkitan yang dilakukan Evangelical dalam tradisi Kristen, juga kepercayaan dalam dunia Muslim, demikian pula dalam Buddha dan Hindu  semua mengalami kerja pemulihan dan revitalisasi. Meskipun kelompok fundamentalis konservatif telah memperoleh perhatian besar seperti “mayoritas moral” (moral mayority ) di USA, persaudaraan Muslim (Muslim Brother), Rabbi Kahane didunia Yahudi, BJP, Hindu Mahasabha, dan RSS dalam tradisi Hindu, dan elemen Buddha tertentu di Úrìlanka, semua itu tidak merepresentasikan seluruh spektrum teologis yang termasuk dalam pemulihan kreatif terhadap tradisi yang tetap memuat pilihan teologis dalam bebagai komunitas.

3) Upaya reformasi dan adaptasi, pandangan teologis ketiga dalam komunitas beriman adalah pandangan liberal yang menekankan reformasi adaptasi, dan penyesuaian dengan perkembangan modern. Gerakan ini mengambil banyak bentuk dan kondisi, dan. kultural tetapi mengakui perlunya pengembangan. secara teologis guna merespon perubahan yang terjadi didunia sekitar. Yang mencakup munculnya (dan jatuhnya) Marxisme, tumbuhnya humanisme sekular, kelahiran nation states baru, tekanan untuk melakukan modernisasi, concern pada reformasi sosial, meningkatnya peran perempuan, perqbahan status ilmu, perhatian pada bumi, dan munculnya masyarakat global. Posisi reformatif ini menuntut perubahan teologis guna menginterpretasikan kembali pandangan dunia konseptual suatu tradisi agar ia dapat berbicara soal kebutuhan dunia yang sedang mengalami perubahan. Reformasi ini dapat dittujukan pada struktural komunitas keagamaan, misalnya pergantian bahasa lokal dengan bahasa latin dalam Katolik Roma atau gerakan mengadaptasikan spiritual dalam candi-candi Hindu dengan kebutuhan yang lebili kontemporer. Reformasi ini juga dapat menampakan ekspresi partikularnya dalam gerakan-gerakan spesifik seperti gerakan konservatif dan reformatif Yahudi, liberal Protestan, noo Hinduisme, neokonfusianisme, kerja Maulana Abul Kalam Azad, dan tokoh ternama seperti Dalai Lama. Ini terjadi secara spontan. Dalam kehidupan dan teologi masyarakat beriman lokal dalam situasi lokal. Reformasi juga dapat terjadi dengan mengambil elemen-elemen dari tradisi lain agar masyarakat dapat beradaptasi dengan dunia modern. Misal pemikiran dan inspirasi dari Mahatma Gandhi digunakan oleh Martin Luther King dalam tradisi Kristen, Aryaratna di Úrì Lanka, Vinoba Bhave di India, dan oleh orang-orang dan kelompok lain yang terlalu banyak untuk disebut satu persatu. Teologi Kristen non Barat dipengaruhi oleh pandangan¬-pandangan ekologis dari orang-orang asli Amerika, juga oleh pandangan orang-orang Amerika-Afrika tentang pentingnya mimpi dan bayangan, oleh pandangan, postdenominasionalisme orang-orang Cina dan seterusnya di mana hal serupa juga tetjadi dalam tradisi-tradisi lainnya. Reformasi juga dapat terjadi dengan menggunakan elemen-elemen teologis dari tradisi-tradisi yang saat ini telah disingkirkan. Misalnya pendeta¬-pendeta Yahudi modern dapat membayangkan respon-respon abad pertengahan dalam refleksinya tentang perang adil, hak-hak untuk menyerang, bioetik, ibadat Sabbat, kompromi keagamaan dll. Umat Kristen dapat kembali menemukan suatu sensitivitas ekologis yang telah ada dalam Yesus diri Yesus atau St. Francis serta kedalaman spiritualitas yang telah ada dalam spiritualitas Barat Klasik. Umat Hindu dapat kembali menemukan concern  pada persoalan kemajuan, sejarah, masalah-masalah ke duniaan, dan peran perempuan dalam Ågveda dan Tantras.

4) Upaya menyatakan dan menginterpretasikan kembali secara radikal. Pandangan teologi keempat dalam tradisi keagamaan adalah menyatakan dan menginterpretasikan ulang secara radikal. Hal ini meniscayakan kemampuan mengetahui dan kesediaan menerima bahwa beberapa persoalan yang dimuntahkan oleh situasi global modern pada dasamya adalah persoalan barn yang tidak dapat diselesaikan dengan melakukan penyelenggaraan kreatif terdapat tradisi atau melakukan reformasi. Sesuatu yang secara teologis lebih besar dan barn agar dapat menanggapi situasi-situasi barn seperti seperti kerumitan teknis, etika medis, tantangan ekologis, kemajuan genetika, revolusi elektronika, dan perspektif global. Bagi beberapa tradisi, lebih mudah terlibat dalam interpretasi radikal daripada tradisi yang lain.
Ada dua tradisi yang tidak mudah melakukan interpretasi radikal, yaitu: (1) Yahudi; karena concem-nya untuk membangun kembali identitas mereka setelah bencana yang menimpa mereka, dan (2) Muslim; karena concern mereka untuk: membangun kembali identitas setelah trauma terhadap pendudukan Barat atas wilayah-wilayah penting.

Proses interpretasi radikal, melalui benih-benih penemuan kreatif, kini terjadi dalarn agarna Kristen, Buddha, dan tradisi-tradisi Jepang, dan bukan sama sekali tidak terjadi dalarn Yahudi, Muslim, Hindu, dan babkah tradisi-tradisi primal. Guna meringkas pembahasan panjang tentang teologi agama-agama (theologies of religions) ini, sarjana-sarjana agama tertarik pada eksplorasi teologi dari beragam agama untuk memahami konsep-konsep intinya, tipe teologi dalarn masing-masing tradisi dan keragaman pandangan teologis dari setiap tradisi. Meskipun teologi terbatas pada pengertian doktrin dan konsep sedangkan formulasi konseptual tentang persoa1an-persoalan lain hanya merupakan bagian dari masing-masing tradisi (dan dalam beberapa tradisi bahkan tidak menjadi bagian penting),  adalah sulit untuk membayangkan bahwa orang dapat sampai pemahaman yang mendalarn terhadap banyak tradisi keagamaan tanpa dengan serius memahami konsep-konsep dan teologi atau transontologinya.

Demikian perbedaan pandangan teologis dalam tradisi keagamaan yang akan dapat memperluas wawasan dalam mengkaji ajaran teologi dalam susastra Hindu yang demikian luasnya.

Pura Agung Besakih tempat memuja

Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud Trimùrti

(Brahmà, Viûóu, dan Úiva)

 

III TEOLOGI DALAM SUSASTRA SANSKERTA

3.1 Pengertian dan Lingkup Susastra Hindu

Di dalam pendahuluan telah diuraikan sepintas tentang sumber ajaran Agama Hindu, yakni Veda sebagai sumber tertinggi dan otoritasnya sangat diakui karena Veda merupakan Úruti atau wuhyu Tuhan  Yang Maha Esa. Kitab suci Veda terdiri dari kitab-kitab: (1) Saýhità, (2) Bràhmaóa, (3) Āraóyaka, dan (4) Upaniûad. Kitab-kitab Saýhità terdiri dari Ågveda, Yajurveda, Sàmaveda, dan Atharvaveda. Masing-masing kitab Saýhità tersebut memiliki kitab-kitab Bràhmaóa, Āraóyaka, dan Upaniûad. Unsur-unsur upacara yang terdapat di dalam kitab Veda dikembangkan secara luas di  dalam kitab-kitab Bràhmaóa. Bila di dalam Veda upacara korban berarti  untuk memohon karunia para devatà dan kemudian menjadi akhir dari segalanya. Di dalam kitab-kitab Bràhmaóa, para devatà mempunyai  kedudukan  yang  penting terutama dalam sistem upacara.

Terdapat  banyak  ceritra  tentang pertentangan antara para devatà  dengan raksasa, masing-masing ingin menguasai dunia dan selalu dilukiskan bahwa para devatà yang berhasil memenangkan pertarungan melalui kekuatan upacara (Ràdhakrishóan, 1990:46).
Kitab Aitareya dan Kauûitakì (Úaýkhàyana) merupakan kitab Bràhmaóa dari Ågveda dan Aitareya lebih tua umurnya dan isinyapun lebih tebal, tetapi Kauûitakì lebih kaya dan isinya lebih bervariasi.  Aitareya merupakan karya gabungan, lima bagian yang pertama (Pañchika) lebih tua dibandingkan dengan tiga bagian yang terakhir. Demikian pula hanya  2 kitab Bràhmaóa dari Sàmaveda yang masih tersisa, yakni: Jaiminìya dan Tàndyamahà Bràhmaóa, yang terakhir ini disebut pula Pañcaviýsa Bràhmaóa yang terdiri dari 25 bab, 2 bab merupakan sisipan yang  dianggap bagian yang berdiri sendiri dengan satu tambahan yang disebut  Ûaðviýúa Bràhmaóa. Jaiminìya Bràhmaóa sungguh dianggap karya yang terpenting dari literatur Veda belakangan dan yang lainnya yang juga dianggap sangat penting adalah Úatapatha Bràhmaóa dari Yajurveda  yang mengatur secara detail tentang upacara. Penyusun kedua kitab Bràhmaóa itu memperkenalkan berbagai ceritra,  umumnya tentang karakter kedewataan yang tidak lain memberikan informasi tentang keadaan masyarakat. Tentang hubungan antara kedua resensi dari Úatapatha Bràhmaóa yakni  Màdhyandina dan Kànva, Caland menyatakan pendapatnya bahwa kedua  Bràhmaóa itu muncul pada bagian awal, namun akhirnya resensi  Kànva dipengaruhi oleh yang lain (Gosh,1988:238).


Hal ini juga jelas bahwa pada saat yang bersamaan tiada resensi Màdhyandina atau Kanva dari Úatapatha Bràhmaóa telah diturunkan kepada kita dalam redaksinya yang asli dan kutipan dari Úatapatha di dalam literatur yang lebih tua sering hilang di dalam kedua resensi itu. Bagaimanapun tentu kedua resensi Bràhmaóa itu merupakan karya gabungan. Walaupun Yajñavalkya Vàjasaneya sebagai penyusun dan sangat sering dikutip di dalam Úatapatha, namun di dalam kedua resensi itu terdapat 5 Kàóða (VI-X) di dalam Màdhyandina berhubungan dengan kàóða VII-XII di dalam Kàóva) menjelaskan tentang pembangunan altar api dan dalam pada itu penyusun mengutip dari Úàóðilya dan Yajñavalkya yang tidak disebutkan secara keseluruhan. Masih tersisa untuk disebut bahwa hanya satu yang lebih penting yaitu Gopatha Bràhmaóa dari  Atharvaveda yang terdiri dari modifikasi ringan kutipan-kutipan (tanpa pengantar) dari sumber yang lain. Hal itu memberikan penekanan seperti yang dinyatakan oleh Bloomfield bahwa belakangan muncul Úrauta Sùtra (Vaitanà) dan Gåhya Sùtra (Kauúika) dari Atharvaveda (Radhakrishnan, 1990: 48).



 
< Prev   Next >
"));