Logo PHDI Pusat
Ni Diah Tantri 01 Print E-mail

ImageCeritra Tantri memang sudah dari lama dikenal di Bali, baik dalam bentuk prosa maupun puisi, yang memakai basa Bali dan Jawa tengahan. Di dalam masyarakat Bali kita mengenal tiga macam Tantri, yakni Tantri Kamandaka, Tantri Manduka Harana, dan Tantri Pisaca Harana.


Ketiga Tantri tersebut merupakan bentuk kesusantraan (puisi) yang memakai bahasa Jawa tengahan. Penulis mencoba menceritrakan Tantri yang diambil dari bentuk prosa dan puisi Tantri Kamndaka yang mengambil ceritra pertempuran Singa dan lembu Nandaka.

Ceritra ini kami ceritrakan dengan gaya bebas dengan bahasa Indonesia. Sudah barang tentu dalam tulisan ini banyak yang tidak sesuai dengan selera pembaca .Untuk itu penulis mohon dimaafkan. Semoga ceritra ini ada gunanya.

Denpasar ,1999.Penulis I Wayan Tapa

 NI DIAH TANTRI I

Diceritakan seorang raja di negeri Patali, beliau amat dihormati oleh para raja yang ada ditanah Jambuwarsa. Setiap tahun tidak lupa menghaturkan upeti/pajak kepdaja sang raja. Beliau raja yang gagah perkasa, berwibawa dan bijak. Pada waktu pemerintahan beliau tak ada masyarakat yang berbuat jahat, semua patuh akan perintah sang raja. Negeri Patali makmur dan sejahtra. Beliau terkenal bernama Eswaryadala. Beliau didampingi oleh patih yang amat bijak bernama Bande Swarya. Ia selalu patuh menjalankan perintah sang raja, disertai para punggawa.Pembantu sang raja semua pandai dan bijaksana melaksanakan roda pemerintahan, sesuai dengan sastra Agama, Kutara dan Manawa.

Sang Patih mempunyai seoarang putri bernama Ni Diah Tantri. Kecantikannya tersohor ke pelosok negeri. Semua gadis di negeri itu maupun di Jambuwarsa tak ada yang menyamai. Demikian juga akan kesohorannya dalam ilmu pengetahuan. Beliau dipuji oleh masyarakat maupun oleh para pendita. Hal ini didengar juga oleh sang Raja Eswaryadala.

Beliau lalu berkehendak menjadikan Ni Diah Tantri pramesuari kerajaan, tapi beliau malu mengungkapkan hal itu pada Patih Bande Swarya. Beliau lalu mencari upaya. Para punggawa, para pendeta utama dan Patih Bande Swarya diundang menghadap ke balai pertemuan. Sang raja megutus Patih Bande Swarya supaya menghaturkan seorang gadis remaja tiap hari ke istana yang akan dijadikan selir. Sang Patih tidak berani menolak, setiap hari ia menghaturkan seorang gadis remaja ke puri.

Lama-lama habislah para gadis remaja yang cantik diaturkan ka istana Hal itu membikin sang Patih Bande Swarya sedih, memikirkan siapa yang akan diaturkan besok ka istana. Sampai di karang kapatihan sang patih masih lengkap dengan pakain kebesasarannya, menuju ka taman seraya tidur di balai-balai. Istrinya Ni Gusti Ayu biang melihat hal itu, lalu segera memenggil anaknya Ni Diah Tantri seraya menyuruh menanyakan kepada ayahnya, mengapa ia bersedih. Ni Diah Tantri dengan senang hati mengikuti perkataan ibunya, seraya pergi ke taman .Ni Diah Tantri duduk didekat kaki ayahnya yang sedang merebahkan diri dibalai-balai. Ni Diah Tantri memgipasi, serta memijiti kaki ayahnya. Patih Bande Swarya segera bangun seraya memeluk anaknya dengan kasih sayang. Ni Diah Tantri menanyakan mengapa ayahnya bersedih. Patih Bande Swarya menceritakan semua perihal yang telah lalu,yang menyebabkan ia bersedih, sambil meneteskan air mata.

Ni Diah Tantri berdiam tunduk mendengarkan cerita ayahnya. Ia juga merasakan bagaimana sedih hati ayahnya sebagai patih yang patuh dan taat menjalankan perintah raja. Diah Tantri lalu menyuruh ayahnya untuk menghaturkan dirinya sendiri. Patih lalu mengadakan pembicaraan dengan istrinya, mengenai anaknya yang akan diaturkan ke istana besok. Setelah mendapat persetujuan besoknya Ni Diah Tantri diajak menghadap ke istana. Sang Prabu Esuaryadala amat bersuka cita, karena cita-citanya telah tercapai untuk mempersunting Diah Tantri yang dari lama menjadi idamannya.

Setelah matahari terbenam .lampu istana sudah dinyalakan, bau bunga memenuhi ruangan menambah keindahan istana. Sang Raja pergi ketempat peraduan disetai Ni Diah Tantri dan seorang dayangnya. Sang raja menelentangkan badannya diatas kasur seraya menyuruh Ni Diah tantri memijiti kaki. Ni Diah Tantri mengikuti perintah sang raja. Setelah larut malam Ni Diah Tantri merasa amat kantuk, matanya rasanya amat berat untuk dibuka. Ni Diah Tantri lalu menyuruh dayangnya mengecilan nyala lampu serta menyuruh dayangnya bercerita untuk menghilangkan kantuk. Dayangnya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa bercerita, tapi amat senang kalau mendengarkan cerita. Dayangnya memohon supaya Ni Diah Tantri bercerita sendiri. Ni Diah Tantri pun lalu bercerita sebagai berikut. (Bersambung)

 
< Prev
"));