|
Tukang Mas Yang Jahat Adalah seorang pendeta, bernama Sri Yajnya Dharmaswami Ia pergi mencari air suci berkelana dalam hutan dan gunung.Pada waktu itu musim sedang kering ,maka ia tidak mendapatkan airsuci.Sang pendeta kepayahan, lalu berhenti.Beliau mendapatkan sebuah sumur.Hati sang resi amat senang. Lalu berpikir dalam hati. Kebetulan sekali ada sumur,lebih baik mandi dulu,untuk mengobati kepanasan. Beliau lalu menurunkan timba,lalu menariknya. Sang Resi amat terkejut melihat,sebab timba itu berisi macan. Yang kedua berisi ular, dan yang ketiga kera. Sang Pendeta berkata halus,” Apa sebabnya kamu berada dalam sumur? Kasihan saya melihatmu,sebab kamu semua pucat lesi,dan kurus kering, hamper mati. Yang Ditanya menjawab,”kami diterjang angin disertai hujan lebat. Waktu kejadian itu kebetulan tengah malam, dan tak disangka sudah menerjang kami. Kami tak bisa melihat apa-apa.Tak terduga kami sudah masuk dalam sumur.Karena belas kasihan pendeta,kami binatang yang menderita bisa selamat. Apa yang kami pakai untuk membalas kebaikan pendeta. Kami mohon jangan sekali-kali pendeta menurunkan timba lagi, karena berisi manusia yang jahat,dan kotor. Tidak tahu tata krama manusia,tidak usah dikasihani. Sekarang kami mohon diri.” Sang pendeta mengangguk,seraya berpikir dalam hati,” Apa yang aku harus perbuat sekarang?
Binatang kita tolong selamatkan,apa lagi manusia,patut kita selamatkan,sebab ia tahu baik buruk. Kalau kita pikirkan perbuatan sang pendeta sama dengan perbuatan Hyang Surya. Beliau tidak membeda-bedakan menyinari, membikin kebahagian dunia.” Sang pendeta akhirnya menurunkan timba itu, dan segera mengangkatna. Timba itu berisi manusia kurus kering,lesu kepayahan. Ia segera menghormat menghaturkan sembah.” Hamba abdi sang pendeta,dari Maduradesa. Pekerjaan hamba tukang mas bernama I Swanangkara.Sekarang lanjutkan pertolongan pendeta ,bisa simpang kepondok hamba. Hamba mengharap bisa membalas jasa baik pendeta. Hamba ingin menjadi pengikut sang pendeta.” Sang Pendeta menjawab dengan halus,” Ya,besok-besok saja, nanti kalau sudah selesai saya melakukan tirtayatra, baru saya simpang kepondokmu.’ Sang Swanangkara lalu mohon diri,dan segera sampai di rumahnya. Sang pendeta Dharmaswami nberangkat kembali mencari air suci.Sudah jauh beliau berkelana dalam hutan. Sampailah beliau dalam hutan Kandawa yang luas. Berjalan dipinggir hutan yang berbelak-belok, lalu beliau bertemu dengan sang kera,yang dulu ada dalam sumur. Sang Kera lau menghaturkan bermacm buah-buahan yang sudah masak,seraya diterima oleh sang pendeta.Lagi beliau berjalan pelan-pelan,karena hutan amat lebat dan berbahaya. Burung Manukrawa bersuara ,sepertinya memberi tahu sang pendeta ada tempat air,yakni telaga yang airnya hening suci yang bernama Mandakini. Tidak lama sang pendeta sudah sampai disana. Sang pendeta lalu bersiap untuk membersikan diri, seraya bersemadi,Beliau menghaturkan air suci memuja mohon maaf, serta mohon kesucian dalam hati.Sudah selesai lalu beliau berbusana,seraya duduk diatas batu datar dan menguraikan rambut, sebab masih basah. Lalu sang pendeta berjalan, dipinggir bukit-bukit yang berbahaya, naik turun jurang. Sepanjang jalan keadaannya sepi,tidak ada cirri-ciri pengarang yang melintasi daerah itu,untuk menikmatinya. Hal ini disebabkan oleh bahayanya hutan, keganasan sang macan, dan kegarangannya si singa. Kecuali orang yang telah suci dan sadu dengan binatang. Sang pendeta telah melewatai hutan berbahaya,dan telah sampai di hutan Dandawa,tiba-tiba datang sang Macan,yang beliau tolong dahulu. Sang Macan menghormat lalu berdatang sembah,”Ratu Sang Pendeta,ini saya mempunyai pakaian putra raja yang hamba rampas dahulu. Waktu itu beliau pergi berburu. Ini saya aturkan pada sang pendeta. Sang Resi dengan gembira menerimanya. “Ah pakai apa pakaian ini,sebab tak ada gunanya bagi seorang pendeta. Juga tidak dibenarkan pendeta memiliki itu. Teman kita dari Maduradesa seorang tukang mas patut kita berikan.” Begitu pikiran beliau sang pendeta. (Bersambung Tukan Mas Yang Jahat 2 ) |