Logo PHDI Pusat
Sesananing Sulinggih Print E-mail

Di HD-Net - milis Hindu ter-ramai di Nusantara, pernah ada tulisan yang diposting oleh Jero Mangku Sudiada (JMS), tentang Upetika Sesaning Sulinggih (aturan tingkah laku seorang pemuka agama).

Yang antara lain disebukan sebagai berikut :

1. Sebagai sang "Apta" - Berkata Benar
2. Sebagai sang "Satyavadi" - Menyampaikan dengan cara, tatakrama yang benar
3. Sebagai sang "Patirtaning Rat" - Membawa kesejukan pada setiap pemunculan beliau
4. Sebagai Sang "Upadeca" - Nara sumber pencerahan.

Saya kira "petinget" atau peringatan tentang sesananing sulinggih, tersebut haruslah di perhatikan dengan seksama baik oleh umat se-Dharma dan apalagi oleh sulinggih itu sendiri. Jika sudah memposisikan diri sebagai sulinggih, maka selain tatwa dan upacara, tentu susila itu juga harus dijaga.

Dan dalam rangka melaksanakan susila tersebut, maka sesananing sulinggih itu disusun. Sesana tersebut sepertinya disusun terutama untuk mengembangkan budi pekerti. Karena tingkah laku, tidak dipupuk melalui pikiran, perkataan dan perbuatan yang benar, walau sudah tua dan pikun, maka orang tersebut, bagaikan sepahan tebu, habis manisnya tinggal ampas tiada berguna lagi.

Tri Kaya Parisuda sebagai dasar olah rasa bathin tersebut, jika hanya diwacanakan oleh para sulinggih, apalagi denga emosi keduniawian masih membelenggu, maka alih-alih akan menegakkan Dharma, namun yang terjadi adalah "negakin" Dharma atau menggunakan kendaraan Dharma / Agama, untuk sekadar mempertahankan eksistensi dalam masyarakat ataupun alasan-alasan ekonomis jangka pendek.

Akibat tidak memiliki "hati" dalam menegakkan Dharma, maka yang terjadi adalah banyak para cerdik cendekia yang sudah berani memposisikan diri sebagai sulinggih, ternyata pada akhirnya hanya membuat bingung umat-Nya. Pembenaran dan kebenaran diolah dengan ketinggian ilmu pengetahuan yang dimiliki, sehingga menjadi sumir.

Bait ketiga dari serat wedhatama di bawah ini, dapat diingat-ingat, barangkali bisa membantu kita untuk tetap waspada dengan "ego" yang seringkali muncul ketika bergaul di masyarakat. 

 

 Nggugu karsane priyangga
Nora nganggo paparah lamung angling
Lumuh ingaran balilu
Uger guru aleman
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
Sinamun ing samudana
Sesadon ingadu manis

[Serat Wedhatama]

 

Jika diterjemahkan secara bebas, dan sesuai dengan interpretasi penulis, maka dapat diartikan sebagai berikut. Kala orang itu berbicara, dia hanya menuruti pikiran sendiri, tidak menggunakan acuan yang benar, lebih celaka lagi tanpa dipikir terlebih dahulu. Jika dikritik maka timbul amarah, karena keinginan utamanya hanya ingin dipuji dan disanjung. Namun walau banyak orang yang bersikap demikian, tetaplah jadi "manusia" yang paham akan "semu" atau pertanda, bijaksana dan mampu bersikap sama terhadap suka dan duka. Pikiran, perkataan dan juga tindakan, tentulah harus dijaga, agar membuat senang hati orang lain.

Rasanya, bait-bait itu, tentu tidak hanya untuk sulinggih : pedanda, pinandita, jero mangku, resi atau sejenisnya, namun juga untuk umat se-Dharma yang ingin membasuh budi pekerti, sehingga tergali ilmu "rasa" sejati, melalui pelajaran tatwa, upacara dan tentu susila itu sendiri.

Tentu baik juga diingat-ingat oleh kita, para pengguna milis  Parisada. Semoga tidak menulis dengan kata-kata marah dan hujatan, lalu setelah itu mengakhirinya dengan "santi" yang berarti "damai". Jika tidak dimulai dari para cerdik cendekia Hindu, yang telah mampu menggunakan internet untuk berdiskusi, dimanakah lagi harus kita mulai "santi" yang berarti "damai".


Ki Dalang Tangsub

 

 
< Prev   Next >
"));