Logo PHDI Pusat
Goa Putri Obyek Wisata Spiritual Di Pulau Tandus Print E-mail
Goa Putri Obyek Wisata Spiritual Di Pulau Tandus

Kiriman dari: Putra Semarapura
OM Svastyastu,
http://www.kompas.com/business/investment/0104/09/ketik.htm


Oleh S Sastradhinata

Goa Giri Putri, salah satu dari sekian banyak obyek wisata spiritual, kini mulai menjadi perhatian para pelancong yang berkunjung ke Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Masyarakat (baca umat Hindu) yang datang ke tempat itu umumnya punya satu tujuan, yakni melakukan persembahyangan, terkait dengan perjalanan spiritual atau "Tirta Yatra" ke beberapa tempat suci di Nusa Penida yang daerahnya dikenal tandus.

Dari penuturan beberapa tokoh masyarakat Nusa Penida, Goa Giri Putri yang terletak di Dusun Karangasri, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, selain memiliki beberapa keunikan yang sulit dicerna nalar, juga dianggap pas untuk melakukan ‘komunikasi’ transendental karena suasananya yang hening.

Menurut seorang kuncen (penunggu goa) tersebut, Pan Kerti, salah satu keajaiban yang dimiliki Goa Giri Putri adalah air suci (tirta) yang tidak pernah habis, walaupun sudah diambil berkali-kali oleh para pemedek (umat yang melakukan persembahyangan) yang datang ke tempat itu.

"Tirta ini tidak pernah menyusut walau musim kemarau, serta tidak pula meluber pada musim hujan dan tidak diambil dalam waktu cukup lama. Inilah salah satu bentuk kejaiban yang dimiliki Goa Giri Putri," tuturnya, sembari menunjukkan lokasi air suci yang berada di salah satu lorong goa itu.

Keajaiban lain, yaitu adanya tetesan air dari langit-langit goa ke bagian lantai yang kemudian membatu dan menyerupai stupa. Goa yang oleh masyarakat setempat dikeramatkan itu diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Di dalam goa terdapat empat "pelinggih" (tempat untuk sembahyang), sedang di luar goa ada satu pelinggih. Umat yang ingin bersembahyang di dalam goa, terlebih dahulu diwajibkan melakukan persembahyangan ‘matur piuning’ (permisi) di depan pelinggih yang ada di luar goa.

Untuk dapat mencapai mulut goa yang terletak di lereng bukit ‘berbunga’ karang itu, pengunjung harus terlebih dahulu menaiki lebih dari seratus anak tangga. Goa Giri Putri terkesan unik, karena setiap orang yang ingin masuk ke dalam goa harus terlebih dahulu memasuki mulut goa yang tidak begitu besar (seukuran badan), sehingga untuk bisa memasuki goa harus satu per satu.

Saat melewati mulut goa pun mereka yang masuk harus tiarap dan membungkuk dalam beberapa meter karena adanya tonjolan-tonjolan batu. Namun, setelah membungkuk sekitar lima meter mereka akan menemukan ruangan besar dengan garis tengah kurang lebih 60 meter dan memanjang sekitar 200 meter.

Sementara di bagian utara dinding gua dipasang beberapa lampu listrik untuk penerang umat yang ingin bersembahyang ke tempat itu. Selain lampu listrik, kuncen (penjaga gua) juga menyewakan lampu petromak untuk umat yang ingin bersembahyang. Bagian ujung goa, tembus ke dinding jurang yang di bagian bawahnya membentang sungai kering.

Menurut warga setempat, sungai tersebut hanya berair sewaktu-waktu apabila hujan turun cukup deras di bagian hulu sungai yang adalah bukit kecil yang rimbun dengan pepohonan. Untuk mencapai Goa Giri Putri dibutuhkan waktu sekitar 35 menit dari Pelabuhan Buyuk atau 25 menit dari Kota Sampalan (kota Kecamatan Nusa Penida) dengan menumpang kendaraan umum.

I Dewa Koming, petugas pada biro jasa Nusa Garden Bungalow, mengatakan bahwa pihaknya kini mulai kebanjiran tamu yang ingin melakukan perjalanan wisata spiritual ke beberapa tempat suci di Nusa Penida, termasuk Goa Giri Putri. Di antara tempat suci yang paling banyak menjadi sasaran kunjungan spiritual adalah Pura Penataran Ped, Pura Puncak Mundi, Pura Batu Mas Kuning, dan Goa Giri Putri.

Di keempat tempat suci tersebut, masyarakat, khususnya umat Hindu, melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan penghuni gaib yang bersetana (tinggal) di tempat suci tersebut. Mereka, kata Koming, datang secara perorangan maupun berkelompok dengan membawa perlengkapan sembahyang seperti sesajen (banten) dan dupa (hio). Tidak jarang pula, mereka yang datang bersembahyang ataupun "Bertirta Yatra" ke Nusa Penida, bermalam di salah satu tempat suci tersebut.

"Tidak sedikit para pemedek yang tangkil (umat yang sembahyang) ke mari memilih untuk makemit (bermalam) di salah satu pura yang sebelumnya sudah ditentukan. Biasanya mereka yang bermalam di pura sebelumnya memang sudah diniatkan dari rumah atau karena alasan melakukan kaul," urainya.

Namun dari sekian banyak pura (tempat suci) yang ada di Nusa Penida, yang paling berkarisma adalah Pura Penataran Ped. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya animo masyarakat, baik dari Bali sendiri maupun dari luar Bali yang melakukan persembahyangan ke tempat tersebut, terutama saat berlangsung "Penirtaan".

Tidak itu saja, kata Koming, "khusus ke pura yang satu ini yang datang sembahyang bukan saja umat Hindu, tetapi juga dari umat lain, termasuk beberapa pejabat penting dari Jakarta". Makanya tidak mengherankan, hampir di seluruh Bali dan daerah-daerah di mana ada transmigran asal Bali dipastikan punya "penyungsungan" (tempat pemujaan) pura Penataran Ped. "Dari cerita para transmigran Bali di luar daerah, mereka benar-benar merasa dilindungi dari marabahaya apabila di rumahnya terdapat tempat pemujaan Betara Penataran Ped," kata Koming.

Dari informasi yang didapat, banyak transmigran asal Bali tiba-tiba tubuhnya menjadi kebal (tidak mempan dibacok senjata tajam) karena "nyungsung" Ida Batara Penataran Ped. "Mereka yakin, semua itu bisa terjadi karena dilindungi oleh Ida Batara Penataran Ped," tutur Koming, dengan raut wajah serius.

Prospektif Paket wisata khusus, berupa wisata spiritual atau religius kini makin marak dan banyak diminati wisatawan mancanegara (wisman) terutama Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

"Biasanya para wisatawan asal AS, Australia, India, Jepang, dan Eropa yang suka wisata khusus itu datang secara berkelompok, masing-masing berjumlah 15 sampai 20 orang," ungkap Anak Agung Prana, Managing Director Nagasari Tour, Denpasar.

Bali yang masih kental dengan adat istiadat dan kegiatan pariwisata budaya bernafaskan Agama Hindu, sangat potensial bagi pengembangan paket wisata khusus bernuansa religius spiritual. Prana mengemukakan, paket wisata khusus spritual tersebut, biasanya dikelola atau dikoordinir oleh lembaga yoga atau kelompok negara asal turis yang bergelut dibidang olah batin.

"Para turis yang berminat pada wisata spiritual itu, umunya mendatangi beberapa tempat yang dianggap ‘angker’ dan bertaksu, sebagai tempat untuk yoga atau meditasi," tuturnya.

Setelah melakukan yoga atau meditasi, para turis tersebut menyerap energi dan kekuatan alam, untuk kemudian dikonversikan sebagai kekuatan baru untuk menghilangkan stres.

Tidak itu saja, para turis juga mengunjungi para dukun atau balian untuk mengasah kemampuan spiritual yang telah mereka miliki.

"Bahkan, tak jarang mereka melakukan adu kemampuan dengan dukun yang didatangi," paparnya.

"Ketika orang-orang modern mulai lelah, capek menghadapi himpitan hidup, sebagian dari mereka mencari suasana yang lain. Terutama dengan kembali kepada kekuatan alam,"

Menyinggung beberapa tempat yang biasa dikunjungi sebagai obyek wisata spritual, Prana menyebutkan sebagian besar berada di Kabupaten Karangasem dan Bali bagian barat.

Selain itu, hal lain terkait paket wisata spiritual itu adalah dengan mendatangi sejumlah pura yang dianggap memiliki kekuatan supranatural.

Empat pura penjaga Bali seperti Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung, Pura Ulu Watu (Selatan), Pura Batu Karu (Barat), dan Pura Lempuyangan (Timur), sering menjadi tempat bagi para turis untuk meditasi dan bersemadi, mentautkan antara kebatinan manusia dengan alam lingkungannya, ungkap Prana.

Tentang tudingan kegiatan wisata spiritual sebagai upaya ‘menjual’ inti paling dalam Bali, ia menilai sebagai tindakan yang tidak perlu ditanggapi karena hal itu tidak benar sama sekali. "Kami hanya menyediakan transportasi, penginapan dan akomodasi secukupnya.

Selebihnya mereka sendiri yang menjalaninya, sampai-sampai ada yang minta ditemani Pedanda (tokoh agama) untuk memudahkan dalam berolah bathin," ucapnya.

S Sastradhinata Penulis Anspek.

Source : HDNet

 
< Prev   Next >
"));