Logo PHDI Pusat
Perjalanan Keheningan di Kaki Gunung Salak Print E-mail
Perjalanan Keheningan di Kaki Gunung Salak

Oleh:Putu Fajar Arcana
Sore sedang tumbuh ketika tiba-tiba kabut merayap dari lereng utara Gunung Salak. Kota Bogor dari ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut hanya sayup-sayup, seakan dengan sekali empas menghilang ditelan cakrawala. Dalam hitungan detik seluruh halaman Pura Parahyangan Agung Jagatkartha tertutup halimun. Sebelum akhirnya hujan turun dan membuka kembali lanskap agung di hadapan kami.

Di situlah waktu menjadi sangat relatif. Seolah dalam satu pandangan mata kami berhadapan dengan beberapa fenomena alam: kabut, hujan, dan cerah; gelap dan kekudusan; kesesatan dan kesadaran. Alam telah menyodorkan dirinya menjadi fenomena yang harus dibaca sebagai kegaiban. Ia telah memberi kesempatan kepada manusia untuk lahir dan hidup turun-temurun sejak jutaan tahun silam. Dan gunung adalah jantung kehidupan. Sejak masa-masa pertapaan sampai periode di mana rasionalitas begitu diagungkan, gunung selalu diidentifikasi sebagai keindahan dan keheningan.

Itu membuktikan posisinya tak pernah berubah dalam kacamata manusia. Orang-orang dari masa lalu seolah telah mewariskan pandangan bahwa pergi ke gunung ibarat perjalanan mencapai keheningan yang terdalam. Gunung telah menjadi semacam simbol pencapaian spiritualitas manusia dan alam. Kosmologi gunung bahkan dirumuskan dalam satu filosofi agung bernama giri-segara. Ketika cahaya menguapkan air laut menjadi awan mendung dan turun sebagai hujan, gunung telah menyimpannya sebagai energi kehidupan. Karena itu, laut dan gunung dalam rumusan yang amat klasik ditandai dengan lingga yoni, suatu pandangan tentang dualitas yang apabila dikelola dengan baik akan mendatangkan kemakmuran.

Tidaklah aneh kalau kini dari kaki Gunung Salak seakan menebar getar-getar spiritual yang begitu kudus. Pada penghujung tahun 2005 telah diresmikan dua tempat suci di kawasan Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Umat Hindu memiliki Pura Parahyangan Agung Jagatkartha, sedangkan umat Buddha meresmikan penggunaan Maha Vihara Saddharma. Vihara yang terletak pada ketinggian 590 meter di atas permukaan laut ini secara khusus menjadi pusat kegiatan spiritual umat Buddha dari sekte Niciren Syosyu Indonesia (NSI). Tak jauh dari situ di Desa Sukaluyu, 15 tahun lalu Bante Suballa Rattano Mahatera (69) telah mendirikan Vihara Saung Paramita sebagai pusat aktivitas spiritual agama Buddha dari Sangha Theravada.

Ismed Natsir, salah seorang anggota kelompok pengkaji teosofi di Bogor, mengatakan bahwa pemilihan gunung sebagai pusat kegiatan spiritual telah ada sejak dulu. Gunung, kata dia, adalah wilayah yang memberi kemungkinan bagi manusia mendapatkan keheningan sehingga leluasa melihat diri sendiri.

Toleransi spiritual

Seluruh tempat suci itu berdiri sebagai pusat-pusat kegiatan spiritual yang menyiapkan ruang seluas-luasnya bagi kemungkinan pendakian spiritual manusia dari berbagai agama. Agaknya ini bisa menjadi tanda bahwa satu tahapan baru telah dimulai dalam pencarian spiritual manusia: mereka tidak lagi mengandaikan toleransi sebagai hidup bertetangga dan saling menghargai semata, tetapi lebih dari itu toleransi telah menyusup ke relung spiritual.

Toleransi spiritual ini sebagaimana terjadi di Parahyangan Agung Jagatkartha, misalnya, sangat terbuka bagi siapa saja untuk melakukan meditasi. Harap dicatat, meditasi di sini pemaknaannya lebih dekat dengan pemujaan terhadap Sang Pencipta sebagai sumber energi yang memberi hidup. Di pura ini terdapat bangunan candi yang, baik oleh pengempon (pengelola) pura maupun masyarakat sekitar Desa Taman Sari, dipercaya sebagai istana dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang diyakini sebagai "cikal-bakal" komunitas Sunda. Candi yang berdampingan dengan bangunan padmasana (pemujaan Tuhan dalam Hindu) dimanfaatkan pula oleh umat berbagai agama untuk bermeditasi.

"Sering kali kami melakukan pemujaan bersama-sama dengan cara masing-masing. Semuanya sebagai tanda bakti terhadap Pencipta," ujar Wayan Surata, salah seorang yang mula-mula "menemukan" pemujaan di Gunung Salak itu. Meditasi tak hanya dilakukan oleh komunitas Sunda yang merasa memiliki kaitan "sejarah" dengan Kerajaan Pajajaran, tetapi juga oleh kelompok-kelompok meditasi yang mengkaji spiritualitas dengan jalan pengetahuan metafisika. Sebutlah kelompok teosofi, yang antara lain diikuti oleh Hadi Widjaja, Ismed Natsir, dan Sitawati Soejono. Kelompok yang bermarkas di Kota Bogor itu tidak hanya melakukan kajian-kajian secara lintas agama, tetapi juga bermeditasi di tempat-tempat di sekitar kaki Gunung Salak, di mana aura kebaikan memancar.

"Tujuan kami tetap kepada Yang Esa, yang kami akui sebagai sumber segala kehidupan ini," ujar Sitawati yang tinggal di kawasan Ciawi, Bogor, di tengah-tengah hutan pribadinya. Edi (40) asal Purwokerto yang sejak lama menjadi pengikut Bante Suballa Rattano Mahatera mengungkapkan, pada saat-saat tertentu Vihara Saung Paramita menyelenggarakan meditasi yang tidak memandang agama. Agama di situ bukan berarti diabaikan, apalagi ditiadakan, tetapi justru menjadi dasar bagi pendakian spiritual yang dipertajam lewat meditasi.

"Biasa di vihara ini diadakan meditasi yang para pesertanya dari berbagai agama," ujar Edi. Bukan pengikut Pada tataran toleransi hidup bertetangga dengan saling menghargai, kehadiran tempat suci Hindu dan Buddha di kaki Gunung Salak memiliki dasar pandangan serupa. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) Suhadi Sendjaja mengungkapkan, kehadiran vihara seluas 1,5 hektar itu bukanlah untuk mencari pengikut. Keberadaan vihara itu, kata dia, untuk mewadahi isi (umat) yang telah ada sebelumnya. "Kami tidak bangun vihara terus mencari isinya, tetapi memberi wadah kepada isi. Kami tidak ingin mencari pengikut, tetapi memberi pelayanan," katanya.

Hal serupa dikemukakan oleh Wayan Surata. Pura yang luasnya hampir tiga hektar tersebut benar-benar dimaksudkan sebagai pemberi cahaya bagi peningkatan kualitas spiritual umat manusia. Oleh karena itu, meski berada dalam lingkungan umat Muslim, kehadiran tempat suci tidak pernah dianggap sebagai ancaman.

Iwan dan Mang Apud, misalnya, dua di antara puluhan warga Kampung Loak, Taman Sari, yang dipekerjakan di pura mengaku tidak pernah merasa eksistensi keberagamaan mereka terancam. Mang Apud bahkan belajar merangkai canangsari (persembahan berupa rangkaian janur dan bunga) dari warga Bali. "Saya sudah ikut orang Bali sejak tahun 1980-an, jadi biasa saja," kata Mang Apud soal kemampuannya merangkai canangsari.

Bahkan, para pengempon pura sepakat membangunkan tempat ibadah bagi umat Muslim yang ada di Kampung Loak. Sampai sekarang sebuah masjid berdiri agung di hulu pura, bagai dua saudara yang saling menjaga. Suhadi Sendjaja dan Bante Suballa Rattano Mahatera juga mengatakan, mereka selalu berkomunikasi secara intens dengan warga sekitar. Komunikasi bisa saja diterjemahkan sebagai bentuk-bentuk kepedulian terhadap berbagai kebutuhan warga, termasuk berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah keagamaan.

"Kami selalu bersosialisasi dengan warga sekitar sini," kata Bante Suballa Rattano Mahatera.

Jodoh

Gunung Salak memang bukan sekadar latar cerita yang memuat perjalanan para "spiritualis" di dalam mencari keheningan. Wayan Surata dan Suhadi Sendjaja mengaku telah berjodoh dengan kawasan di barat Kota Bogor itu. Surata, misalnya, mengaku pada awalnya membeli lahan di Kampung Loak, di mana pura kini berdiri, sebagai tanah kebun. "Saya sama sekali tidak menduga kalau di lahan itu kini berdiri pura," katanya.

Sementara Sendjaja telah mencari ke berbagai tempat sekitar Sukabumi dan Garut ketika berencana membangun vihara. "Ketika kami dapat lokasi yang sekarang ini, ya itu jodoh saja. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan karena daya ingat manusia terbatas. Sementara pengalaman hidup membentang sampai ke masa lalu, di kehidupan terdahulu," ujarnya.

Jodoh dalam pengertian ini tentu saja bukan peristiwa kebetulan belaka. Di kawasan yang membentang sekitar 13 kilometer dari ujung Jalan Tol Jagorawi itu memang penuh dengan aura spiritual. Sepanjang perjalanan dari Kota Bogor menuju Ciapus, Buniaga, Sukaluyu, dan Taman Sari, pusat-pusat aktivitas keagamaan seperti tumbuh subur. Dan seluruh aktivitas di situ telah memberi pelajaran berharga bahwa toleransi harus diselenggarakan pada tingkatan aktivitas tertinggi manusia: spiritualisme!

(Maria Hartiningsih/ Fx Puniman)

Source : Kompas

 
< Prev   Next >
"));