Logo PHDI Pusat
14. Mahavrata - Sumpah Universal Nan Agung Print E-mail

Dengan hadirnya kemantapan Ahimsa, rasa permusuhan tidak punya tempat berpijak (vairatyaga). Dengan hadirnya kemantapan Satya, ketulusan di dalam menyerahkan kerja dan hasilnya dimungkinkan (phalasrayatvam). Dengan hadirnya kemantapan Asteya, semua ‘kekayaan’ mendekat dengan sendirinya bagi Sang Yogi. Dengan hadirnya kemantapan Brahmacarya, semangat spiritual yang kuat (virya) diperoleh. Dengan hadirnya kemantapan Aparigraha, muncullah pemahaman yang baik tentang proses kelahiran manusia (janma kathamta).
[YS II.35 - II.39]

 

 
Hasil-hasil nyata berupa perkembangan sikap batin lewat pelaksanaan kelima sumpah batin yang diterapkan berupa disiplin mental atau moral-etik dipaparkan dalam kelima sutra ini. Ini semestinya lebih menyadarkan kita kalau Asana disini bukan semata-mata sebagai olah tubuh ataupun sikap-sikap tubuh tertentu saja, seperti yang umumnya kita pahami sebelumnya. Ini akan kita bicarakan lebih lanjut pada ulasan terhadap sutra II.46 - II.48.

Di Indonesia, ia lebih dikenal dengan sebutan Panca Yama Brata, atau ada pula yang memberinya sebutan Panca Sila, yang bersama dengan Panca Niyama Brata membentuk Dasasila. Tidak membunuh atau menyiksa makhluk hidup, tidak mencuri, tidak berjinah atau melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong atau berkata-kata tidak jujur, dan tidak mabuk-mabukan atau menghindari yang memabukkan merupakan lima ajaran moral-etik buddhis, yang juga disebut Panca Sila.

Ajaran moral-etik adalah ajaran praktis, yang harus diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Mereka jelas bukan sekedar untuk dihafal. Seperti yang disebutkan dalam sutra II.30 dan II.31, Yama mesti diposisikan sebagai mahavrata —sumpah universal yang agung.

Ahimsa dipraktekkan dengan tiada menyakiti baik lewat pemikiran, ucapan, maupun tindakan fisik. Banyak yang memandang Gandhi sebagai ‘Nabi Ahimsa’, mengingat perjuangan kemerdekaannya yang tanpa kekerasan fisik. Bahkan sebutan Mahatma —‘manusia yang berjiwa besar’— diberikan oleh Rabindranath Tagore, pemenang nobel sastra dan penggubah “Gitanjali” yang termasyur itu, kepadanya.

Ahimsa bukan saja merupakan pengkondisi ketentraman hati dari setiap pelakunya, namun ia secara aktif ikut menjaga kedamaian dunia. Pertanyaannya kini adalah: Bagaimana melatih Ahimsa atau penerapan praktisnya dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut ini saya sertakan petunjuk-petunjuk dari Sri Swami Sivananda. Manakala pemikiran untuk membalas dendam dan kebencian muncul, cobalah mengendalikan tindakan dan ucapan Anda terlebih dahulu. Jangan sekali-kali ikuti godaan setan dengan mengucapkan kata-kata kasar. Jangan lemah! Janganlah mencoba menyakiti orang lain. Bila Anda berhasil mempraktekkannya dalam beberapa bulan, pemikiran-pemikiran negatif yang dimunculkan oleh kebencian, tak akan punya kesempatan untuk menampakkan dirinya ke luar, merekapun akan mati dengan sendirinya.

Awalnya memang amat sulit mengendalikan pemikiran-pemikiran serupa itu, tanpa upaya untuk mengendalikannya terlebih dahulu. Pertama-tama kendalikanlah jasmani Anda. Ketika seseorang memukulmu, berdiamlah. Tekan perasaanmu. Ikutilah perintah Jesus Kristus dalam ‘Kotbah di atas Bukit’-nya: “Bila seseorang menampar sebelah pipimu, serahkanlah pipimu yang sebelah lagi. Bila seseorang mengambil jaketmu, berikanlah ia kemejamu juga”. Tentu saja ini amat sulit pada awalnya. Kesan-kesan tua yang terlanjur tersimpan untuk membalas, seperti ‘sebuah gigi, bagi sebuah gigi’, ‘sebuah mata untuk sebuah mata’ dan ‘membayar dengan koin yang sama’, akan menekan Anda untuk berontak. Namun Anda mesti menunggu dahulu hati Anda mendingin. Refleksikanlah itu dan bermeditasilah terhadapnya.

Lakukanlah upaya mempertanyakannya atau upaya yang benar lainnya. Batin Anda akan menjadi kalem. Sang musuh yang tadinya mencak-mencakpun akan menjadi kalem, karena ia tak mendapat tantangan dari pihak Anda. Iapun akan tertegun dan mendingin, oleh karena Anda tetap tegar layaknya orang suci. Demikianlah, Andapun akan memperoleh kekuatan di dalam diri Anda. Jagalah prinsip itu. Cobalah selalu untuk melakukannya, walaupun awal-awalnya Anda gagal. Milikilah sikap yang jelas dan nyata dari citra Ahimsa serta manfaatnya yang pasti.

Nah...setelah berlatih mengend alikan tubuh Anda, kini latihlah ucapan. Ambil sebentuk kebulatan tekad, "Mulai saat ini saya tak akan mengucapkan kata-kata kasar kepada siapapun juga". Awalnya Anda bisa saja gagal beratus-ratus kali. Tak mengapa. Secara lambat namun pasti Anda akan memperoleh kekuatan itu. Periksalah impuls dari ucapan Anda. Latihlah Mouna (diam).

Praktekkanlah Kshama (memaafkan). Dan katakanlah pada diri Anda: “Ia masih berjiwa kekanak-kanakan. Ia lalai; itulah sebabnya ia melakukan itu. Biarlah saya memaafkannya kali ini. Manfaat apa yang saya peroleh dengan membalas tindakannya itu?” Hentikanlah kemelekatan pada ke-aku-an (Abhimana) perlahan-lahan. Abhimana adalah akar dari semua penderitaan yang dialami manusia. Akhirnya mulailah memeriksa dan mengamati dengan seksama bentuk-bentuk pemikiran —di benak Anda— yang bersifat menyakiti. Jangan sekali-kali berpikir untuk mencelakai orang lain.

Diri-Jati menyelusupi semuanya. Semuanya adalah manifestasi dari Yang Esa. Dengan menyakiti yang lain, sesungguhnya Anda juga menyakiti Diri-Jati Anda. Dengan melayani orang lain, Anda juga melayani Diri-Jati Anda. Kasihilah semua. Layani semua. Jangan membenci siapapun. Janganlah menyakiti siapapun melalui pikiran, ucapan dan tindakan atau prilaku Anda. Cobalah selalu memandang bahwa Diri-Jati yang ada pada Anda juga ada pada semua orang. Inilah yang akan menghadirkan Ahimsa.

Satya diterapkan melalui kejujuran dan senantiasa dalam jalur kebenaran. Setiap manusia punya hati-nurani. Kita tak dapat membohonginya. Ia adalah saksi yang senantiasa hadir kemanapun kita melangkah. Kata hati-nurani inilah yang dapat dipegang kejujurannya. Namun berhati-hatilah! Ini seringkali amat mengelirukan, sehingga banyak orang menyangka kalau kilasan emosi atau pemikiran sesaat sebagai kata hati-nurani. Ia jauh lebih dalam daripada itu.

Kecuali Ahimsa yang telah dikenal luas, Satyagraha adalah ajaran dan apa yang juga diterapkan Gandhi. Ia berarti senantiasa bersemayam dalam kebenaran. Menurut Gandhi Satyagraha adalah: perwujudan baru dari Sanatana Dharma (Ajaran Kebenaran Abadi), sama dengan kekuatan kebenaran, kekuatan cinta-kasih dan kekuatan batin, dasar dari kehidupan bersama dalam masyarakat.
Asteya diterapkan dengan tidak melakukan pencurian. Ia bahkan diterapkan sebagai tidak menginginkan milik orang lain, apalagi berupaya merebutnya dengan cara-cara curang, bujuk-rayu, tipu-muslihat, sampai-sampai melakukan pemaksaan fisik. Lebih jauh lagi, ia hendaklah dimaknai sebagai ajaran moral-etik yang mendukung kehidupan tapa, mengekang nafsu-keinginan.

Sri Sankarãcharya pernah berujar:
"Brahmacharya atau kesucian tanpa noda merupakan yang terbaik diantara semua upaya penebusan dosa; seorang Brahmacharin, yang suci tanpa noda, bukan lagi sosok manusia, namun sesungguhnya seorang dewa... Bagi pembujang yang menyimpan mani-nya melalui upaya besar ini, apa yang tiada mampu ia capai di dunia ini? Menggunakan kekuatan yang terhimpun dalam mani, seseorang akan menjadi seperti Diriku."

Brahmacarya juga diterapkan tidak sebatas hidup membujang atau tidak melakukan jinah; akan tetapi dengan selalu mendambakan penyatuan dan berusaha untuk tetap melekat pada Brahman Yang Agung. Dalam pengertian sempitnya, kehidupan membujang memang terbukti menunjukkan manfaat besar di dalam mendorong kemajuan spiritual, seperti yang dipaparkan oleh Sri Swami Sivananda dalam buku “Practice of Brahmacharya”. Beliau sendiri juga menjalani hidup membujang. Namun beliau juga mengatakan bahwa, dalam pengertian yang luas, ia berarti pengendalian mutlak terhadap sensasi-sensasi indriawi.

Mahatma Gandhi dalam “The Gandhi Sutra” —yang disusun oleh Prof. D.S. Sarma— juga berpendapat sama tentang Brahmacarya. Kata Gandhi: “Menjalankan Brahmacarya menurut pernyataan orang-orang sangat sukar, jika bukan mustahil. Jika kita coba menyelidiki apa sebabnya orang mengatakan demikian, maka akan ternyata bahwa mereka memberikan arti yang terlalu sempit pada istilah Brahmacarya ini. Mereka menyangka bahwa Brahmacarya hanyalah penahanan nafsu-birahi saja. Saya rasa pandangan ini kurang tepat. Brahmacarya berarti penguasaan seluruh indria. Orang yang berusaha menguasai hanya satu indria dan mengabaikan, membiarkan indria-indria yang lainnya, segera akan insyaf bahwa usahanya itu tidak ada gunanya samasekali....Brahmacarya berarti penuntun kelakukan kita dalam menemukan Brahman (Hakekat Kebenaran Sejati)”. Inilah yang melahirkan kekuatan semangat (virya) untuk berusaha terus-menerus. Ini terkait erat dengan Isvarapranidhana, berlindung dan menyerahkan-diri kepada Tuhan, salah-satu poin terpenting dalam Niyama.

Aparigraha diterapkan sebagai tidak-rakus, tidak berlebih-lebihan di dalam menimbun harta-benda dan menikmati kemewahan duniawi. Ia merupakan lawan-tanding dari lobha, dalam penerapan metode pratipaksa bhavana. Ia juga berhubungan erat dengan Tapa. Sri Swami Sivananda mengingatkan bahwa, bila ingin sukses dalam Yoga, maka terapkanlah Tapa dan Brahmacarya.

Jadi, tampak jelas bahwa dalam penerapannya, Yama tak dapat dipisahkan begitu saja dari Niyama —yang akan kita bicarakan belakangan. Keduanya setangkup, membentuk Dasasila, yang secara kondusif membentuk sikap-batin luhur dan kejernihan hati, serta menjanjikan kemajuan pesat dan keberhasilan dalam Yoga.

Sauca membangkitkan kemuakan terhadap jasad (savãnga) dan ke-engganan untuk mengadakan hubungan fisik dengan jasad lain. Dengan pemurnian mental (sattvasuddhi) muncul keriangan, daya konsentrasi, penaklukan indria, dan kesiapan untuk menerima pemahaman Sang Diri-Jati (jayãttma darsana). Dari Santosa, kebahagiaan tertinggi (anuttama sukha) diperoleh. Kesempurnaan kinerja organ-organ indria datang bersamaan dengan hancurnya kekotoran batin melalui Tapa. Melalui Svadhyaya dicapai penyatuan dengan Istadevata.

Pencapaian Samãdhi merupakan siddhi dari praktek Isvarapranidhana.
[YS II.40 - II.45]

Enam sloka inilah yang menguraikan (terutama) tentang keampuhan dari pelaksanaan kelima disiplin mental Niyama. Di Nusantara, pelaksanaan kelima disiplin mental atau ajaran moral-etik ini dikenal sebagai Panca Niyama Brata.

Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana telah dipaparkan terdahulu dalam kaitannya dengan Kriya Yoga [YS II.1 - II.2]. Sutra II.40, yang menyebutkan bahwa, Sauca membangkitkan kemuakan terhadap jasad (savãnga) dan keengganan untuk mengadakan hubungan fisik dengan jasad lain, bukan dimaksudkan sebagai anjuran untuk menarik diri dari masyakat atau pergaulan sosial. Salah-tanggap seperti ini sangat mungkin terjadi. Ia lebih diarahkan pada pengikisan raga-dvesa, nafsu dan rasa-kepemilikan dan kemelekatan. Jadi ia juga berkaitan erat dengan upaya mempertipis egoisme itu sendiri.

Sauca adalah kesucian lahir-batin. Dalam sutra II.41 tadi disebutkan pengembangan batin atau sikap-mental yang dicapai melalui Sauca sebagai:

· Sattvasuddhi —kemurnian daya pemilah,
· Saumanasya —keriangan hati,
· Ekagrata —keterpusatan pikiran yang kokoh,
· Indriajaya —penguasaan terhadap nafsu indriawi dengan baik, dan
· Atmadarsana —visi Sang Diri-Jati atau Atman.

Santosa adalah kepuasan-batin. Kepuasan-batin, tidak berlandaskan pada pemenuhan atau memuasi dorongan indria. Kepuasan-batin tidak dicapai melalui penimbunan dan penguasaan materi, karena materi tidak akan pernah mampu memuaskan siapapun secara batiniah. Dicapainya Santosa membangkitkan kegairahan dan semangat baru dalam berbagai sendi kehidupan—fisikal, mental maupun spiritual.

Secara keseluruhan, Niyama kait-mengait satu dengan yang lainnya; yang satu mendukung dan menguatkan yang lainnya. Mungkin mengingat akan betapa fundamentalnya sikap-mental luhur bagi seorang siswa spiritual, Shrii Shrii Anandamurti —gurubesar dari Ananda Marga— juga menekankan penerapan 15 sila tambahan, disamping Yama-Niyama; masing-masing adalah:

· Bersifat mengampuni, memaafkan.
· Berjiwa besar.
· Dengan penuh kesadaran mengendalikan perilaku dan kemarahan.
· Tyaga, siap mengorbankan segalanya yang besifat pribadi untuk kepentingan ideologi.
· Mengendalikan diri sepenuhnya.
· Berpenampilan manis dan murah senyum. · Memiliki keberanian-moral.
· Dapat dijadikan panutan; dapat melakukannya sebelum menyuruh orang lain melakukan suatu kegiatan tertentu.
· Membebaskan diri dari kebiasaan mencela, menyalahkan orang lain, ‘menusuk dari belakang’, serta berpandangan ‘kelompokisme’.
· Dengan ketat melaksanakan Yama dan Niyama. · Apabila suatu kesalahan dilakukan tanpa disengaja—karena kurang berhati-hati—dan kemudian disadari, maka kesalahan itu segera harus diakui dan minta hukuman atasnya.
· Meski ketika sedang berhadapan dengan seorang yang sangat kasarpun, harus membebaskan diri dari kebencian, kemarahan, dan kesombongan. · Bebaskan diri dari kebiasaan terlalu banyak bicara atau beromong-kosong.
· Taat kepada disiplin yang sudah disusun dan disepakati.
· Miliki rasa tanggungjawab.
Wrhaspati Tattwa —yang memuat wejangan-wejangan Hyang Siva kepada Bhagawan Wrhaspati, Guru para dewa—juga menyebutkan Dasasila tidak jauh berbedanya secara esensial dengan Yama-Niyama. Hyang Siva menegaskan kepada Wrhaspati: “Usahakanlah jiwa itu sebagai alat untuk melaksanakan Yoga-Samãdhi. Janganlah menunda-nunda, usahakanlah sadhana itu. Yang disebut sadhana adalah Yogamarga yang didasari Dasasila. Dasasila itu membangun Yoga....Dasasila merupakan penjaga Sang Yogiswara dalam Samãdhi-nya. Disitulah Sang Yogiswara akan menemukan pengetahuan tentang Kebebasan dari pengaruh Mayatattwa”.

Setelah mengikuti paparan panjang-lebar dalam lingkup Yama-Niyama yang disajikan dalam banyak sutra oleh Patanjali, menyimaknya dengan seksama merenungkan arahnya, terlihat kalau sadhaka diarahkan untuk mengembangkan Catur Paramãrtha —empat sifat atau sikap-batin luhur keilahian. Walau paparan pengenalan pada ke-empat sikap-batin luhur keilahian tersebut hanya dipaparkan sepintas pada sutra I.32 sampai I.34, namun mereka disebut sebagai pendukung utama pemusnah derita (dukha). Penerapannya, mengkondisikan batin sedemikian rupa tenang, mantap, penuh kegairahan serta mengeliminir halangan-halangan tak perlu di dalam melaksanakan sadhana demi sadhana.

Disadari bahwa, pelatihan tubuh dalam asana juga amat menunjang kesehatan sang sadhaka. Dalam perjalanan panjang, pendakian yang semakin curam dan licin yang dipenuhi onak dan kerikil-kerikil tajam, seorang pendaki butuh ketahanan fisik maupun mental yang prima. Ketahanan fisik mana pada gilirannya akan amat menunjang ketahanan mental-spiritual. Kondisi prima inilah yang hendak dimantapkan lagi dalam paparan sutra-sutra terkait dengan Asana dan Pranayama berikut.

 

 
< Prev   Next >
"));