Logo PHDI Pusat
Umat Hindu di Sekitar Alas Purwo Print E-mail
Umat Hindu di Sekitar Alas Purwo

Jati Diri sebagai Penganut Hindu Mulai Bangkit

PIODALAN di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi, yang jatuh tiap hari Pagerwesi, selalu menyisakan keunikan tersendiri. Seperti tampak pada piodalan Rabu (11/8) lalu, perpaduan unsur Hindu Bali dengan Hindu Jawa menjadi sarana pemersatu ke tujuan yang sama, yakni pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Umat Hindu Banyuwangi seolah mendapatkan tuntutan spiritual untuk menemukan kembali nenek moyangnya. Umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, yang mewilayahi Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Banyuwangi saat ini jumlahnya sekitar 1.500 KK. Mereka tersebar di sembilan desa. Sebagian besar mata pencaharian mereka sebagai petani.

Menurut Ketua Parisada Kecamatan Tegaldlimo Yuwono, jika menengok sejarah nenek moyang mereka di bumi Jawa, semuanya bermula dari ajaran Hindu. Hanya, situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan mereka muncul. Mereka tidak berani terang-terangan menunjukkan jati diri sebagai umat Hindu. Mereka umumnya mengaku diri sebagai penganut kepercayaan atau kebatinan.

Baru sejak tahun 1967, mereka mencoba menemukan identitas diri sebagai umat Hindu. Itu pun sebagian besar mereka yang memang imannya kuat. Lain halnya yang tidak kuat, apalagi mayoritas umat Hindu tinggal jauh di pedalaman dan berada di golongan miskin. Mereka menutup diri yang pada akhirnya tak percaya diri.

Meski mereka lama hidup terasing, niat untuk kembali mencari jati dirinya yang sebenarnya sangat tinggi. Dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo akhirnya berhasil mewujudkan sebuah Pura Giri Selaka, Alas Purwo, sebagai salah satu simbol Hindu yang kini mereka banggakan. Pura yang menelan lahan dua hektar itu, memang awalnya adalah sebuah situs yang masuk catatan Dinas Kepurbakalaan.

Berbekal dengan keyakinan umat Hindu itulah, sejak 1996, Pura Giri Selaka, Alas Purwo mulai dirintis pembangunannya. Jumlah dana yang dianggarkan membangun pura itu mencapai Rp 12 milyar dan dibagi menjadi tiga tahap. Untuk tahap I, pembangunan telah mencapai pada upacara pemelaspasan kori agung, padmasana dan sejumlah pelinggih. Untuk tahap berikutnya, ditargetkan dalam lima tahun ke depan.

Kurangnya dana bagi umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo bukanlah menjadi faktor penghambat pembangunan Pura Giri Selaka, Alas Purwo. Sejumlah donatur berdatangan, utamanya umat Hindu dari Bali. Tak terkecuali juga Gubernur Bali Dewa Made Beratha. "Kami hanya ingin mendorong umat Hindu sekitar Alas Purwo, merekalah yang kelak menjadi penyokong utama keberadaan Hindu di Banyuwangi," ujar Gubernur Bali Dewa Made Beratha yang turut hadir saat piodalan Pagerwesi belum lama ini.

Ketua panitia piodalan Pura Giri Selaka, Alas Purwo, Suparno mengatakan, dipilihnya Pagerwesi sebagai hari piodalan merupakan hasil kesepakatan umat Hindu Banyuwangi. Kebetulan pula, mendem pedagingan Pura Giri Selaka, Alas Purwo pertama kali dilaksanakan bertepatan dengan hari Pagerwesi.

Untuk tiap kali proses piodalan, umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo selalu diusahakan menjadi ujung tombak karya. Dalam proses pembangunan, peran umat Hindu dari Bali juga dilibatkan secara tidak langsung. Seperti dituturkan pemangku Pura Giri Selaka Mangku Adi, hampir semua rangkaian piodalan dituntun sesepuh Hindu dari Bali. Mereka selalu menyebut sesepuh Hindu, sebagai penghargaan atas kedalaman terhadap ajaran-ajaran Hindu yang dulu mereka sempat abaikan. Sebutlah untuk piodalan pada Pagerwesi yang lalu, karya di-puput oleh Ida Pedanda Gde Putra Bajing dan Ida Pedanda Putra Tembau. Sementara untuk proses lainnya, telah dipercayakan kepada para pengemong dan tokoh Hindu setempat.

Seperti halnya di sejumlah pura lainnya di luar Bali, untuk di Pura Giri Selaka, Alas Purwo, semangat kegotongroyongan dan ngayah umat sangat tinggi. Walaupun mereka tinggal jauh dari Pura Giri Selaka, tetapi untuk rangkaian piodalan telah memanggil semangat ngayah. Mereka beramai-ramai datang ke pura. Seperti dikatakan Suparno, dua hari sebelum piodalan, mereka telah makemit di Pura Giri Selaka. Tidak saja, para orang tua, tetapi juga sejumlah anak muda dan anak-anak Hindu pun memiliki semangat ngayah yang tinggi.

Pembina Yayasan Widya Puspita Soekardi yang khusus membina anak-anak sekolah, mengaku ada kebanggaan yang didapatkan anak-anak mereka ketika ngayah menari di pura atau dalam tiap kali acara keagamaan. Itulah sebabnya, yayasan yang berdiri sejak dua tahun lalu itu, tidak pernah bersedia tampil di luar acara piodalan atau keagamaan. Dengan demikian, anak-anak Hindu Banyuwangi sejak kecil telah tertanam sifat mayadnya, sebagai filosofi mendasar dari ajaran Hindu.

Ia mengatakan, kalau sudah diajak ngayah, mereka pasti senang, walaupun hanya tidur di bawah tenda selama dua atau tiga hari sebelum piodalan. Soekardi menambahkan, untuk di Pura Giri Selaka, memang pihaknya membawa tenda khusus untuk makemit penarinya. Selain melibatkan sejumlah tarian daerah Banyuwangi sebagai sarana ngayah dalam piodalan kali ini, para generasi muda Hindu Kecamatan Tegaldlimo, lokasi Pura Giri Selaka, juga menyediakan waktunya untuk membuat canang sari bagi para pemedek. Hal itu dilakukan sejak hampir seminggu sebelum piodalan dilaksanakan. Dengan demikian, pemedek yang ingin tangkil, jangan kaget bila panitia piodalan telah menyiapkan segala sarana persembahyangan.

"Kami bangga akan filosofi Hindu yang mengajarkan semangat mayadnya. Mudah-mudahan kawan-kawan kami yang lain, bisa kembali seperti kami," ujar Suyono, seorang pemuda setempat. Yang dia maksud kawan lain, tentunya mereka yang selama ini berpaling ke keyakinan lain, meski mengakui nenek moyangnya adalah penganut Hindu. Keyakinan itu didapatkan setelah melihat berbagai tradisi yang dilaksanakan selama ini oleh masyarakat setempat, dengan menyerupai ajaran Hindu. "Kami perlu pembinaan intensif lagi soal ajaran Hindu dan bersyukur kawan-kawan dari Bali bersedia menuntut kami di Jawa," katanya.
* Agus Astapa

Source : Balipost

 
< Prev   Next >
"));