Logo PHDI Pusat
Pura Gaduh Kebo Iwa Print E-mail
Pura Gaduh Kebo Iwa

KESAKTIAN PATIH KEBO IWA

SIAPA yang tidak kenal Patih Kebo Iwa. Dialah mahapatih paling sakti di zaman kerajaan dulu. Berkat kesaktian yang dimilikinya membuat Mahapatih Majapahit, Gajah Mada pusing tujuh keliling. Lantas apa hubungan Pura Gaduh Kebo Iwa dengan Mahapatih Bali, Gaduh Kebo Iwa?

Pura Gaduh Kebo Iwa juga sering disebut Pura Gaduh, terletak disebelah timur Pasar Desa Adat Belahbatuh. Perjalanan menuju Pura megah ini tidak sulit, karena letaknya sangat strategis dan ada di jantung keramaian Kota Kecamatan Belahbatuh, Gianyar.

Dari Denpasar menuju pura ini, jika lalulintas lancar waktu yang dihabiskan hanya 30 menit. Pura Kebo Iwa posisinya ada di sebelah Selatan Bale Wantilan Blahbatuh. Begitu menginjak jalan aspal yang cukup bagus, Anda akan melihat betapa kokohnya Pura Gaduh Kebo Iwa, kondisi ini tidak hanya terlihat dari luar pura, di dalam pura kita juga melihat pemandangan yang sama.

Berbagai pelinggih yang megah akan Anda saksikan di pura ini yang seakan melukiskan betapa luhurnya karya seni dari leluhur kita yang telah mewariskan sebuah mementum bangunan yang sangat agung.Areal pura cukup luas, bisa menampung ledakan umat yang mau pedek tangkil ke pura. Pura Gaduh Kebo Iwa ini adalah kompleks dari berbagai pura yang ada di sebelah barat. Bagaimana sejarah berdirinya pura ini. Menurut Jro Mangku yang ngayah di pura ini, pura yang ada sekarang ini merupakan karya agung Patih Gaduh Kebo Iwa.

LANTAS SIAPA SEBENARNYA KEBO IWA ITU?

Dalam berbagai sumber lontar, disebutkan Gaduh Kebo Iwa adalah sebuah dongeng, tapi ada juga yang menyebutkan sebuah sejarah pada jaman dulu di Bali. Gaduh Kebo Iwa kalau di Bali sangat terkenal dengan kesaktiannya. Karena saktinya dia bergelar mahapatih yang tidak terkalahkan dan patih yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan yang ingin menguasai wilayah kerajaan yang dipegangnya. Tapi ada yang mengatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang raksasa, bertubuh kuat, gagah perkasaa dan sangat sakti. Konon di Bali banyak sekali peninggalan sejarah yang merupakan hasil karya atau setidak-tidaknya ada hubungannya dengan kehidupan Patih Gaduh Kebo Iwa.

Menurut legenda atau dongeng Gaduh Kebo Iwa bertempat tinggal di Desa Blahbatuh tepatnya di sebelah Barat Daya Gianyar sekarang. Disebut-sebut sebagai peninggalan Kebo Iwa adalah Candi Padas Gunung Kawi, Kolam Tirta Empul yang ada di Tampak Siring dimana Kebo Iwa diceritakan mandi dengan menggosok punggungnya dengan batu yang datang sendiri dari Bukit Buluh yang ada di Klungkung. Sebuah jalan yang naik terjal yang ada di Trunyan juga disinggung ada missi perjalanan dari Kebo Iwa dan oleh penduduk dikatakan dengan undag (prigi) Kebo Iwa.

Singkat cerita setiap ada tempat atau tanah, batu berlobang sering dihubungkan dengan tapak kaki Kebo Iwa. Lebih hebat lagi Kebo Iwa hanya bermodalkan dengan kayu Kelor bisa menggotong atau memikul tanah. Jatuhan tanah yang dipikulnya dengan kayu kelor tersebut membuat sebuah pulau-pulau kecil seperti yang dikaitkan dengan adanya Pulau Nusa Dua sekarang.

Yang patut menjadi catatan tersendiri adalah Bali mencapai kejayaan itu justru ketika mahapatih Kebo Iwa masih berkuasa. Pasalnya semenjak Bali dikuasai Kebo Iwa, majapahit tidak bisa menjajah Bali. Untuk membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada membuat taktik jitu dengan menugaskan Kebo Iwa membuat sumur, setelah itu ditimbun dengan batu dicampur kapur. Maka Kebo Iwa pun wafat. *patra dari berbagai sumber.

PERMATA MERAH JATUH DENGAN GAIB

BERBAGAI keunikan yang ada pada sebuah pura ternyata apa yang kita mohonkan bisa jadi kita dapatkan. Begitu juga yang ada di Pura Kebo Iwa. Krama yang tahu pura ini akan mengadakan perjalanan sucinya untuk mendekatkan diri dengan Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita percaya di Pura Gaduh/Kebo Iwa Ida sasuhunan sangat pemurah. Dan banyak para pemedek yang membuktikan mendapatkan sesuatu. Jangankan pada hari-hari piodalan, ternyata pada hari-hari biasa tidak jarang kita saksikan krama yang pedek tangkil. Krama yang tangkil datang dari berbagai daerah, sehingga pura ini bukanlah milik dari krama Blahbatuh. Seperti dikatakan oleh Jro Mangku Ketut Pada ketika dihubungi MBA mengatakan "Pura ini memang sering dikunjungi krama Bali dan tiang tidak tahu dari mana asal pedek tangkil kesini", ujarnya polos. Dengan keyakinan umat untuk mendalami agamanya yang semakin meningkat memang diakui sekarang berbagai pura sempat menjadi sasaran umat. Sehingga termasuk Pura Kebo Iwa ada saja yang datang untuk meminta restu sesuai profesinya. Ada cerita sangat menarik yang mengaku rombongan dari Denpasar. Di saat khusuknya menghaturkan sembah subhakti kehadapan Ida Sasuhunan ternyata salah satu rombongan tiba-tiba dikagetkan sebuah paica berupa batu permata merah.

Menurut rombongan tersebut tujuannya nangkil ke Pura Kebo Iwa tidak pernah terbesit akan mendapatkan suatu yang berupa paica. Batu merah itu tiba-tiba muncul di atas canang sarinya yang hendak dihaturkannya keluhur, kontan saja pemedek yang lainnya ikut kaget. Dibarengi setengah becanda bahwa ada seorang yang kehilangan permata merah hati. Dengan didapatkannya batu permata itu, maka persembahyangan menjadi lebih khusuk lagi karena diyakini Ida Sasuhunan adalah maha pemurah. Bagi krama setempat yang tidak tahu menahu tentang paica yang sering didapatkan pamedek. Karena itu anugerah, maka tidak ada salahnya seorang nangkil kesana nunas damuh", urai Jro Mangku Ketut Pada. Sangat menarik sekali apa yang kita saksikan di Utama Mandala, karena kalaupun hiruk-pikuknya deru kendaraan bermotor menuju jalur timur, namun Pura Kebo Iwa sangat hening dan suasananya sangat mendukung untuk persembahyangan. Suasana sepi dirasakan pamedek karena tembok penyengker dari pura itu sangat megah dan tinggi. Arsitektur Pura ini mengagumkan dan bisa dikatakan betapa tingginya nilai karya yang membuat pura itu dan kini masih sangat tegar berdiri kokoh melambangkan budaya Bali yang sangat agung. *patra

TERPIKAT BAJANG JEGEG

MENURUT sejarah yang disebut diberbagai lontar dikatakan, Gaduh Kebo Iwa adalah sosok patih yang maha sakti. Gaduh Kebo Iwa pepatih dari Raja Gajahwaktra yang memerintah di Bedahulu (sekarang Bedahulu) sekitar tahun 1324M-1343M. Sebelumnya di Bedahulu memerintah seorang raja yag bernama Mesula-mesuli, setelah meninggal kerajaan jatuh pada Gajahwaktra alias Sri Tapolung yang beristana di Bedahulu.

Diceritakan Sri Tapolung ini adalah seorang raja yang sangat sakti, tapi dibarengi dengan sifat-sifatnya yag sangat sombong. Kesombongannya itu sampai berani melawan perintah para dewa-dewa, sifat-sifatnya sesuai dengan sifat Mayadenawa, yang kemudian dapat dikalahkan oleh Bhatara Indra (Mahadewa). Dalam pemerintahan itu Gajahwaktra dibantu bebrapa pepatih yaitu: di Tengkulak dibantu oleh Ki Pasunggrigis sebagai perdana menteri (sebelah barat Bedahulu). Ki Gaduh Kebo Iwa mendapat tugas di Blahbatuh, pembantu lainnya adalah Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kalagemet, menteri Girikmana (Ularan) bercokol di Bali utara, Ki Tunjung Tutus di Tianyar, Tunjung Biru di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya dan Ki Kalungsingkal di Taro. Dengan penjelasan beberapa sumber tadi maka dapat dikatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang patih yang bertempat tinggal di Blahbatuh dan merupakan patih yang sangat disegani Raja Gajahwaktra.

Kisah perjalanan Ki Gaduh Kebo Iwa memang agak aneh, pasalnya Gaduh Kebo Iwa adalah pengagum bajang jegeg. Sehingga dengan kedatangan Majapahit ke Bali, dengan tipu daya untuk membawa Gaduh Kebo Iwa ke Jawa yang akan dijodohkan dengan seorang gadis cantik yang sudah terkenal dengan nama Putri Jejawi.

Upaya ini adalah bikinan Patih Majapahit supaya dapat mengalahkan Bali dengan cara halus. Tapi setelah gadis cantik tersebut mau dikawinkan, harus dipenuhi permintaan membuat sumur yang dalam. Dengan tidak berfikir panjang lebar Gaduh Kebo Iwa tidak menolak, dengan kekuatan atau kesaktiannya membuat sumur dan akhirnya setelah kedalamannya cukup. Putri cantik yang bernama Jejawi menyuruh anak buahnya menimbun Gaduh Kebo Iwa. Akhirnya Gaduh Kebo Iwa ditimbun dengan berbagai bebatuan, seperti batu putih dan tanah. Tapi setelah ditimbun dengan bebatuan, ternyata Gaduh Kebo Iwa tidak mati. Keluarlah sabda Gaduh Kebo Iwa dari dalam sumur, bahwa dirinya tidak akan mati sebelum ditimbun dengan ranting dan garam. Setelah ditimbun dengan ranting dan garam barulah Gaduh Kebo Iwa mati. Hanya dengan janji akan dikawinkan dengan gadis cantik Gaduh Kebo Iwa rela meninggalkan Bali yang merupakan andalannya untuk mempertahankan daerah yang dikuasai Gajahwaktra. Tapi karena Gaduh Kebo Iwa kesukaannya adalah gadis cantik dengan mudah Gajahmada menaklukan Bali.

Sebelum Gaduh Kebo Iwa pergi ke Majapahit dengan tipu daya akan dikawinkan dengan gadis cantik, maka sempat meninggalkan sebuah karya berupa pura yang disebut dengan Pura Gaduh Kebo Iwa. Di pura ini ada sebuah arca kepala yang cukup besar, konon patung kepala Gaduh Kebo Iwa sendiri. Dengan ditemukannya patung kepala tersebut sampai sekarang pura itu sebagai peninggalan perjalanan Gaduh Kebo Iwa. *patra dari berbagai sumber.

Jro Mangku Ketut Pada:
PERCAYA DENGAN IDA SASUHUNAN

KETUT Pada, pemangku Pura Kebo Iwa yang ditugaskan untuk melayani umat yang tangkil ke Pura Kebo Iwa. "Sebagai pemangku memang tiang sangat bodoh dalam bidang tattwa agama," urainya dengan lugu. Tapi Ida Sasuhunan yang melingga disini tahu dirinya bodoh, kebodohannya tidak menjadi halangan ngayah sebagai seorang pemangku. Karena disadari apa yang dilakukan I Ketut Pada ini sebatas mewarisi tugas ini, dan semua itu tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Akibatnya sebagai orang belog, harus mau mengikut garis keturunan ini. Dalam usia yang sudah usur yaitu 70 tahun I Ketut Pada masih bisa memberikan pelayanan kepada umat Hindu yang pedek tangkil walaupun dengan kondisi badan yang agak srayang sruyung. Tujuannya ngayah kata Jro Mangku adalah, "Wantah nunas keselamatan secara sekala-niskala, tidak lebih dari itu,: paparya ketika diajak berdialog MBA. bagi Ketut Pada pada hari Wraspati Umanis, Pahang adalah hari-hari sibuknya melayani umat, pasalnya pada hari itu adalah piodalan Ida Bhatara Pura Gaduh yang mesti dilakukan setiap 210 hari sekali. Disaat itulah selama nyejer empat hari penuh dengan kesibukan bhakti. Tanpa mengenal lelah siap mengantarkan umat melakukan bhaktinya kepada Ida Sasuhunan. Usia tua bagi Ketut Pada yang berpenampilan lugu tidak menjadi halangan dan sudah percaya kepada Ida Sasuhunan yang menuntunnya untuk ngayah disini.

Sebagai manusia matah seharusnya sudah lengser mengingat sudah tidak layak ngayah lagi karena umur sudah memberikan garis yang sudah tua. Tapi karena kehendak niskala, niat itu diurungkan takut nanti ada kualat, tukasnya dengan kalem. Setiap orang yang hidup didunia ini umumnya mempunyai prinsip, demikian juga Jro mangku Ketut Pada mempunyai prinsip hidup yang sangat mulia.

"Didunia ini jangan sekali-kali mempunyai niat nguluk-nguluk, sebab nguluk adalah perbuatan yang tidak baik walaupun itu kelihatannya sangat sepele, tapi hikmah dosa dari nguluk-nguluk itu sangat besar." saran Jro Mangku Ketut Pada.

"Didunia ini tidak ada yang tidak mustahil, dengan hidup ini usahakan berbuat sesuai norma agama dan norma etika." katanya menambahkan. Tapi sayangnya hidup seseorang kini banyak yang mempunyai niat nguluk-nguluk, apalagi nguluk orang belog, sebenarnya itu harus dihindari, demi materi banyak yang nguluk-nguluk dengan cara halus demi mencapai tujuannya. Biasanya orang miskin dan orang belog sering menjadi korban uluk-uluk dari orang pintar, katanya mengingatkan. *patra

Source : Baliaga

 
< Prev   Next >
"));