Logo PHDI Pusat
Pura Chidambaram Nataraja, India Print E-mail

PURA Chidambaram Nataraja yang terletak di Chidambaram, India dikenal ssebagai pura yang memiliki arsitektur paling antik. Oleh pemeluk Hindu di India, Pura ini dijadikan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa atau yang di Bali sering disebut ssebagai Pura Dalem.

Matahari baru saja masuk keperaduannya. Seberkas cahaya tampak memasuki celah-celah lobang yang tampak begitu indah. Sementara itu dari kejauhan tampak sejumlah umat Hindu hendak melakukan persembahyangan. Di tangan mereka tampak setumpuk perlengkapan sembahyang seperti bunga, dupa dan juga air. Beberapa wanita India dengan rambut panjang setengah bahu, dengan pakaian sari terlihat begitu anggun. Sementara yang laku menggunakan pakaian tradisi India yakni kamben yang dibalut dan sebuah udeng yang melingkari kepalanya.

ImageSaat bulan Purnama, pura ini dipadati umat yang hendak melakukan persembahyangan. menurut beberapa sumber, Pura Chidambaram ini merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa atau di Bali sering disebut sebagai pura dalem. Karena pura ini dijadikan tempat pemujaan Siwa, tidak salah kalau disetiap sudut-sudut pura ini tampak dipadati oleh patung-patung, relief-relief dan ukuran lainnya yang menggambarkan tentang keberadaan Siwa.

Lihatlah sebuah ukiran raksasa yang tampak begitu gagah dan anggun di pura ini. Patung ini melambangkan kebesaran Siwa yang dikenal dengan Siwa Nataraja. Jika kita cermati secara seksama, patung seperti ini juga sering kita saksikan disetiap Pura Dalem. Malahan jika kalau kita rajin menyaksikan Pesta Kesenian Bali, maka pikiran kita akan segera terbayang dengan gambar atau patung Siwa nataraja. Patung ini sangat persis dengan patung-patung Siwa Nataraja yang kita kenal di Bali. Patung ini memperlihatkan kepiawaian Siwa dengan kaki nengkleng. Ini merupakan tari kebesaran Patung Siwa Nataraja, secara simbolis menggambarkan kebesarab Dewa Siwa yang dilingkari api sebagai kekuatan Brahma dan Wisnu sebagai penguasa air. Yang kemudian bisa diterjemahkan kedalam bentuk Tri Murti.

Siwa Nataraja dalam budaya India dsebut Siwa sedang menari untuk mengekspresikan kesenangannya, di India tarian ini dikenal dengan nama Ananda Tavadam atau tarian kegembiraan. Mengapa pura in diberi namanya Chidambaram?. Dalam kultur budaya India dan menurut keyakinan Hindu setempat Chidambaram tidak lain adalah salah satu dari Pancha Boota Stalams yakni menyatunya lima unsur alam. Kelima unsur alam itu diantaranya angin (Kalahasti), air (Tiruvanaikka), api (Triuvannmalai), dan angkasa (Chidambaram).

Sebagai sebuah pura besar di India dengan arsitektur di zaman purba yang penuh keindahan dan kecantikan, pura ini seolah-olah memberi inspirasi bagi kalangan seniman India. Apakah dia seorang ahli sastra, pelukis, pematung, sampai kepada penari, semuanya melahap keindahan pura tersebut. Pemandangannya yang luar biasa seakan tidak habis-habisnya untuk diterjemahkan kedalam bentuk karya seni. Inilah pura yang sering menjadi inspirasi bagi kalangan seniman di sleuruh dunia.

The Moovar merupakan sekelompok orang suci yang terdiri atas Sambandar, Appar dan Sundarar, juga Manikkacakar begitu sering menyanyikan lagu-lagu pujaan yang melukiskan tentang keindahan Pur Chidambaram. Tidak hanya itu beberapa karya sastra juga telah begitu banyak melukiskan keindahan pura ini. Inilah sebuiah keindahan yang paling sempurna di jagat raya ini. Begitu mereka melukiskan pura ini.*

SIWA NATARAJA TARIAN DARI SWARGALOKA

PARA pujangga zaman dulu sangat mengagumi arsitektur Pura Chindambaram ini. Pemandangannya dan kisaran air yang mengaliri pura begitu indah, bak pemandangan swargaloka yang mengasyikan. Tidaklah salah kalau kemudian pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Siwa, dewa diantara dewa Hindu.

Bidadari bercengkrama menyaksikan kemolekan pemandangan, konon orang-orang India sangat mempercayai jika pura ini menjadi tempat turunnya Dewata untuk menyaksikan situasi dunia. Seperti diungkapkan salah seorang komposer musik Karnatif India yang terkenal. Muthuswamy Deeshitar yang yang hidup di zaman lampau. Disebut-sebut komposer yang dikenal lewat karya musik yang senantiasa akran dengan nyanyian suci ini begitu menggilai pemandangan pura. Entah sudah berapa banyak arasemen musik sudah dia lahirkan dari upayanya menggali insopirasi disekitar pura. Sebagai seorang komposer, Muthuswami dikenal sebagai orang pemuja Siwa yang fanatik. Ini bisa dilihat dari petikan-petikan musiknya yang selalu mengagung-agungkan Siwa. Salah satu karyanya yagn sangat terkenal berjudul Ananda Natana Prakasam.

Tidak hanya Muthuswami yang mengaku pura ini indah, seorang openyair seperti Naalayira Prabandam juga tergila=gila dengan keindahan pura, dia melukiskan semua itu dalam sebuah pusisi yang sangat terkenal berjudul Alwar. Puisi ini dipersembahkan memuja kebesaran Dewa Wisnu. Perlu diketahui di pura ini diwujudkan sebagai"Tiruchitrakootam". Adi Sankara yang mempersembahkan sebagai sebuah Spatika Linggam yang masih tetap dipuja di pura ini.

Kemudian Sekkizhaar, pengarang periya Puranam punya cara lain untuk mengabadikan keindahan pura ini. Dalam sebuah karya puisinya dia menjelaskan secara puitis tentang kehidupan orang-orang suci Saivite yang berjumlah 63 orang. Cerita ini kemudia dia terjemahkan kedalam sebuah gedung berpilar 1.000 buah, dan ini dia jelaskan sendiri dihadapan Raja ChokaKulottongga II.

Empat orang suci Saivite yang paling dipujanya masing-masing Appar, Sundarar, Sambandar dan Manikkavacakar. Seperti dilukiskan Periya dalam karyanya keempat orang suci ini telah melakukan pemujaan du Chindambaram, salah satu hasil karya dari Manikkavacakar dimaksudkan untuk memuja Shiva di Chindambaram. Karya-karya mereka diletakkan di pindu masuk pura berdasarkan arah tempat masuk. Mereka masuk ke dalam pura (Sambendar - selatan, Appar- barat, Sundarar-utara dan Manikkavacakar- timur. *

PALING DIKENAL DI INDIA

SEBENARNYA jika kita menelusuri dari dekat, sebenarnya disekitar pura ini ada lima lagi tempat pemujaan untuk Dewa Siwa. Kelima pura tersebut diantaranya Pura Chindambaram, Pura madurai, Pura Tiruvalankadu, Pura Tiruvelneli dan Pura Kutralam. namun dari lima pura tersebut hanya pura Chindambaram yang paling terkenal di India. Disamping itu pura ini juga memiliki arti yang sangat penting bagi umat Hindu di negeri ini, karena pura inilah tempat pemujaan Siwa tertua di India dia merupakan tempat bersejarah yang selalu dikenal oleh umat setempat.

Begitu dominannya relief Siwa dipura ini, lantas muncul pertanyaan, bagaimana hubungan antara pura ini dengan Siwa Nataraja. Dalam beberpa literatur disebutkan kedekatan pura ini dengan Siwa pada hakikatnya didasarkan atas fungsi pura sebagai pemujaan Siwa. Dsiamping adanya patung Siwa Nataraja yang artinya Siwa dalam posisi Ananda Tandava yakni sebuah tarian yang melukiskan kosmis kegembiraan yang dialami Siwa pada saat itu, disini dia menari di dalam gedung emas kosmis dan gedung kesadaran (Chit Sabha).

Selain Siwa dipuja sebagai wujud dari Nataraja, disini Siwa juga dipuja dalam bentuk maya (tidak berwujud) atau Chidambara Rahasyam, sedangkan pura tempat pemujaan Siwa disini dikenal dengan nama Akasa Lingam yakni perwujudan Siwa sebagai ruang yagn tidak berwujud. Dengan demikian disini dapat ditarik satu kesimpulan, keberadaan pura-pura ini menunjukkan pemujaan terhadap Dewa Siwa sudah berlangsung berabad-abad, bahkan sejak awal Sangam yakni sejak masa Yesus Kristus. Pada saat itupun sebenarnya orang-orang suci Tamil telah menyajikan kidung-kidung suci yang sudah populer dalam tradisi pemujaan Siwa.

Asal tahu saja saat itu raja-raja Chola di antaranya Aditya I dan Parantaka I, saking cinta dengan bhkatinya terhadap Siwa, mereka kemudian menghias atap pura ini dengan emas. Sementara itu raja-raja Chola lainnya yang sama melakukan pemujaan terhadap Siwa dalam wujudnya sebagai Nataraja yang bertugas menjadi Dewa Pelindung, mereka tidak segan-segan memberikan beberapa sumbangan untuk pura yang terkenal ini. Sumbangan para raja terhadap keberadaan pura ini bisa dibaca dalam prasasti pura yang disimpan rapi oleh para pengemponnya.

Perhatian yag sama juga diberikan raja-raja Pandya dan penguasa Vijayanagar. Kedua penguasa ini memberikan perhatian khusus kepada pura yang memiliki nilai arsitektur tinggi dengan membuat sebuah patung batu Krishna Devaraya di bagian gapura sebelah utara pura tersebut. Semua ini akhirnya menambah keindahan pura.

Kemudian memasuki peperangan abad ke-18, pura ini pernah dijadikan benteng jenderal Inggirs Sir Eyre Coote, dimana pada saat itu dia gagal menguasai raja-raja Mysore. Selama masa ini, perwujudan Nataraja dan Sivakamasundari diungsikan ke pura Tiruvarur Tyagaraja demi keamanan, jika tidak ada upaya penyelamatan ini maka sangat tidak mungkin arja Siwa Nataraja ini terselamatkan. *

Source : Baliaga

 
Next >
"));