|
Balipost – Weda Wakya, Rabu 14 Mei 2008 Menjalin Hubungan Kekeluargaan Samani vah akutih saman hrdayani vah Samanam astu vo mano yatha va susahasati. (Rgveda, X. 19 1,4) Maksudnya: Samalah hendaknya tujuanmu, samaiah hendaknya hatimu, samalah hendaknya pikiranmu. Dengan demikian semoga semua hidup bahagia bersama-sama.
PURA tidak semata-mata sebagai media pemujaan kepada Tuhan dan Dewa Pitara atau roh suci leluhur. Pura memiliki fungsi sosial untuk mempersatukan umat agar umat manusia secara bersama-sama dapat menyatukan dirinya untuk bekerja sama dalam mewujudkan tujuan hidup secara bersama-sama. Sebelum Mpu Kuturan mendampingi raja, di Bali konon sudah ada tiga buah pura sebagai media pemujaan Tuhan. Ada Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak. Pura Penataran Sebagai media memuja Tuhan untuk memohon tuntunan spiritual dalam upaya membangun persatuan untuk bekerja sama dalam menangani berbagai persoalan hidup bersama di suatu daerah. Demikianlah Pura Kedampal di Desa Pakraman Kedampal Perbekelan Datah Kecamatan Abang, Karangasem sebagai salah satu Pura Penataran untuk menyatukan umat lewat pemujaan kepada Tuhan dalam berbagai manifestasmya. Tm artinya Pura Penataran lebih menekankan pada pemujaan Tuhan dalam rangka mendapatkan kekuatan spiritual untuk menajamkan kecerdasan intelektual dan kepekaan emosional untuk menangani penyelenggaraan kehidupan di Bhuwah Loka.
Sementara Pura Segara sebagai simbol agar umat manusia termotivasi untuk menangani kehidupan yang baik di Bhu,r Loka. Pura Puncak adalah simbol pemujaan Tuhan untuk mendapatkan kekuatan rohani untuk memohon kesucian hidup di Swah Loka. Sebagai sentralnya dalam mengupayakan kehidupan di Tri Loka ini adalah di Bhuwah Loka yaitu pada alam manusia.
Keberadaan Pura Penataran Agung Kedampal ini di samping sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati juga Sebagai Pasrarman Ki DUkUh Surya yang diyakini sebagai titisan Batara Surya. Ki Dukuh Surya lahir sebagai pandita dwijati berkat panugrahan Batara di Semeru yaitu Sang Hyang Pasupati. Sang Hyang Pasupati itu adalah sebutan lain dan Batara Siwa.
Dalam mitologi Siwagama diceritakan bahwa Batara Surya menjadi murid Batara Siwa. Saat ada rapat para dewa yang dipimpm oleh Batara Siwa hadir juga dalam rapat para dewa tersebut Batara Surya. Batara Siwa menyaksikan bahwa Batara Surya adalah dewa yang paling cerdas dan bijaksana dalam menyampaikan pendapatnya. Karenanya saat itu Batara Siwa menyatakan Batara Surya sebagai muridnya.
Sejak itu Batara Surya boleh menyabutkan dirinya sebagai Batara Siwa Raditya sebagai saksi agung kehidupan di bhuwana agung ini. Karena Batara Surya diangkat sebagai murid maka sejak itu Batara Surya menyebut Batara Siwa sebagai Batara Siwa Guru. Mitologi inilah sebagai dasar mengapa setiap ada upacara yadnya umat Hindu di Bali di areal uranus atau keluwan didirikan bangunan suci yang disebut Sanggar Surya sebagai Sanggar Pesaksi lambang bahwa Tuhan menyaksikan upacara yadnya tersebut.
Nampaknya Ki Dukuh Surya ini adalah pandita dwijati sebagai Adi Guru Loka yang berasrama di Pura Penataran Agung Kedampal. Tujuan Ki Dukuh Surya ini adalah menjadi Pandita Dang Acarya yang mendidik umat agar senantiasa berkerja sama, bersatu mambangun kehidupan yang aman dan sejahtera di bumi ini. Penataran atau jagat im adalah sentral kehidupan umat manusia yang menentukan baik buruknya kehidupan di bhur loka dan di swah loka.
Kalau salah cara kita menyelenggarakan kehidupan di bhuwah loka ini, maka keadaan di bhur loka akan rusak. Hal itu menyebabkan manusia akan hidup neraka di swah loka. Bhur loka adalah lambang dunia sarwa prani yaitu alamnya flora dan fauna.
Dalam Bhagawad Gita dinyatakan, Sarwa Bhuta Hitaratah Brahma nirwana. Maksudnya barang siapa yang senantiasa dalam hidupnya dengan tekun melestarikan alam (bhuta hita) dia akan mencapai Brahma Nirwana yaitu alam Brahma. Untuk bisa hidup yang baik dan benar di bumi ini amat diperlukan bekerja sama di bawah tuntunan Adi Guru Loka. Ki Dukuh Surya yang diyakiai sebagai keturiman Batara Surya akan dapat memben pencerahan hidup. Hidup yang cerah adalah hidup yang berilmu. Karena itu dalam Lontar Bhuwana Kosa dinyatakancara penyucian diri yang paling utama adalah dengan Jnyana Sauca artinya dengan ilmu pengetahuan suci. Karena itu aspek Batara Surya yang memberikan pencerahan adalah Dewi Savitri.
Bahkan dalam Mantra Veda, Savitri Mantra ini Sebagai Weda Mata atau ibunya Weda. Savitri Mantra lebth populer dengan sebutan Gayatri Mantram. Karena Sayitri Mantra itu menggunakan Metrum Gayatri. Dalam pendidikan memang seorang Acarya harus memberikan ilmu dengan jujur, memberi penerangan jiwa atau pendidikan kerohanian dan memperhatikan perkembangan setiap peserta didik
Ki Dukuh Surya sebagai seorang Dukuh adalah pandita yang Ngeloka Pala Sraya dengan berdiam diri di pasramannya. Para sisya-lah yang datang ke pasraman memohon tuntunan pada sang pandita. Karena itulah dwijati yang demikian itu disebut dukuh. Sebagai Adi Guru Loka, Pandita Dukuh senantiasa mengupayakan umat agar dapat menyatukan kehendaknya, hatinya dan pikirannya.
Dengan kebersamaan itulah mereka berusaha bersinergi untuk membangun kehidupan yang bahagia. Kehidupan yang bahagia itu adalah kehidupan sejahtra serta aman dan damai. Hal itu hanya dapat dilakukan kalau adanya keharmonisan yang dinamis dituntun oleh pandita yang berkualitas. Menyamakan kehendak, hati dan pikiran tidaklah mudah. Untuk itu dibutuhkan tuntunan dan seorang Pandita Dukuh yang berkualitas sebagai Dang Acarya. Lebih-lebih hidup di bh.uwah lokci atau di Penataran Buwana ini harus dilakukan dengan jnyana sauca atau ilmu yang memberi kesucian. Ilmu itu kalau salah cara kita memahami dapat menimbulkan kegelapan hati atau timira. Namun kalau tepat cara kita memahami ilmu pengatahuan, maka halitulah yang akan dapat memberikan kita kesucian diri. I Ketut Gobyah. |