|
Penyatuan Utuh Keindahan dan Kesucian PURA Luhur Uluwatu berada di wilayah Desa Pekraman Pecatu Kabupaten Badung, atau sekitar 30 kilometer arah selatan kota Denpasar. Piodalan di pura ini dilaksanakan tiap 210 hari pada Anggara Kasih Medangsia. Saat piodalan, Hyang Siwa Rudra yang disebut Ida Batara Lingsir distanakan pada satu daksina palinggih. Pada saat piodalan masyarakat dari segala penjuru tumpah ruah melakukan pemujaan di pura itu.
Jika disimak bangunan Pura Luhur Uluwatu, terdapat peninggalan kuno berupa candi kurung atau kori gelung agung yang membatasi jaba tengah (madya mandala) dengan jeroan (utamaning mandala). Peninggalan arkeologis lain terkait terkait Pura Luhur Uluwatu dan prasanakan lainnya di wilayah Pecatu diantaranya arca singa yang disimpan di Pura Parerepan yang dipercaya sebagai wahana Ida Batara Sakti. Dalam lontar Kusumadewa, Usana Bali dan Pararaton disebutkan nama Mpu Kuturan sebagai penata parahyangan Bali termasuk Pura Luhur Uluwatu. Berdasarkan sumber-sumber historiografi Bali seperti babad termasuk Dwijendra tatwa yang ditulis sekitar abad 17 atau 18 digambarkan sosok Dang Hyang Dwijendra yang menjadi bagawanta pada masa keemasan kerajaan Gelgel yang dipimpin Dalem Watu Renggong. Dalam catatan panglingsir (tetua) Puri Agung Denpasar Ida Cokorda Mayun Samirana, Pura Luhur Uluwatu semula merupakan milik Kerajaan Mengwi. Pada abad XIV berlangsung perkawinan antara leluhur Puri Denpasar I Gusti Ngurah Pemecutan Sakti dengan I Gusti Ayu Agung Bongan dari Puri Mengwi. Dari perkawinan mereka, I Gusti Ayu Bongan memperoleh wilayah Dalung Daji hingga Pecatu sebagai tatadan (warisan pemberian). Pada abad XVIII berdirilah Puri Denpasar. Untuk ngempon Pura-Pura yang ada di wilayahnya, tanggung jawab kemudian dibagi. Pura Petitenget, Pura Perancak dan Pura Batubolong diempon Puri Anyar Lelangon, Denpasar. Dan kini pura ini pengelolaannya diserahkan kepada warga desa pekraman setempat. Kemudian, Pura Sakenan pangempon diserahkan ke Puri Kesiman. Sementara Puri Agung Jero Kuta menjadi pangempon Pura Luhur Uluwatu. Sebagai pangemong Pura Luhur Uluwatu ditunjuk warga Desa Pecatu. Ada yang berbeda sekaligus unik di Pura Luhur Uluwatu. Umat Hindu biasanya memuja Tuhan menghadap arah timur laut atau utara. Namun di pura ini, pemujaan justru menghadap arah barat daya (nrti). Jumlah palinggihpun tidak sebanyak yang terdapat di pura kahyangan jagat lainnya. Di Mandala Utama (jeroan) hanya terdapat Meru Tumpang Tiga menghadap ke timur laut. Di depan meru, terdapat dua pengapit. Juga terdapat prasada atau piyasan. Jeroan sendiri dibatasi kori gelung agung dengan arsitektur kuno kori agung. Pura Luhur Uluwatu memiliki beberapa pura prasanak atau prasanakan. Pura prasanakan ini tersebar mengelilingi pura utama yang menjadi pusat sehingga komposisi secara keseluruhan mengingatkan pada bunga teratai atau lotus. (ded) |