|
Balipost – Rabu Pon 4 Juni 2008 Pura Dalem Mangening di Renovasi
Adbhigatratrani suddhyanti. manah satyena suddhyanti. vidyatapobhyam bhutatma. buddhir jnyanena suddhyati (Manawa Dharmasastra, V.109)
Maksudnya: Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran atman disucikan dengan ilmu dan tapa. Kesadaran budhi disucikan Jnyana atau ilmu kebijaksanaan.
PURA Dalem Mangening di Desa Renon yang berdiri di pertigaan timur Pasar Renon merupakan pura untuk pemujaan umum yang mungkin belum banyak umat Hindu mengetahuinya, terutama yang di luar Desa Renon. Di pura ini pada awalnya adalah sebuah sumur. Menurut Drs. Nyoman Majawan (54), sumur itu sudah ada sejak zaman sebelum dia lahir. Setelah kemudiannya sekali barulah berdiri Tugu Capah sebagai pangayatan atau panyawangan Ida Batara Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur. Sekarang Nyoman Majawan sudah menjadi Jero Mangku Dalem Mangening karena telah menjadikan jan banggul Ida Batara di Pura Dalem Mangening. Konon, Pura Dalem Mangening ini yang pada awalnya berupa sebuah sumur tua itu airnya tidak pernah habis-habis.
Menurut penuturan Jero Mangku Made Sudita, Penyarikan Paiketan Pemangku Desa Renon, menyatakan bahwa sumur tua tersebut airnya sangat hening dan jernih. Konon sumur itu pada tahun 1930 sudala menjadi tempat nunas Tirtha Ening umat Hindu di sekitar Renon saat ada upacara yadnya, terutama kalau ada upacara ngaben. Umumnya umat Hindu dan empat banjar yang sering mohon Tirtha Ening di Pura Dalem Mangening ini seperti Br. Renon Tengah, Br. Pande Renon, Br. Peken dan Br. Renon Kelod. Meskipun saat itu pura tersebut terdiri atas sebuah sumur tua, tetap diyakini sangat sakral oleh sebagian masyarakat. Seingat Jero Mangku Sudita tradisi nunas tirtha seperti itu berlangsung sampai tahun 1960-an.
Keterangan ini diperkuat oleh Jero Mangku Dalem Mangening, karena seingatnya kakeknyalah yang menjadi juru sapuh di sumur sakral tersebut. Tugasnya adalah melayani umat yang mohon tirtha di sumur Mangening tersebut. Sumur tersebut ada di semak-semak di barat daya tanah milik Wayan Suta yang dengan ikhlas menyerahkan tanahnya itu sebagai tempat untuk meningkatkan keberadaan pura tersebut dan sebuah sumur dan Tugu Capah saja sekarang. menjadi pura dengan pelinggih yang lebih lengkap.
Saat Kota Denpasar belum begitu ramai seperti sekarang, semak-semak tempat sumur sakral itu berada terkenal sangat angker dan keramat. Sering orang melihat makhluk gaib di sekitar termpat tersebut. Menurut Jero Mangku Dalem Mangening, kegunaan Tirtha Ening yang dimohon oleh umat yang sedang melangsungkan upacara yadnya tidak semata-mata sebagai Tirtha Ening dalam rangka ngaben saja. Tirtha tersebut berguna untuk menolak berbagai godaan yang mungkin sengaja dilakukan oleh orang-orang yang ingin menggoda orang yang sedang melangsungkan upacara yadnya. Kalau ada yang sengaja menggoda seperti Tirtha Ening itu akan menetralkan niat jahat tersebut. Bukan menghancurkan mereka tetapi memperbaiki mereka yang jahat itu. Jadi sifatnya Ahimsa Karma. Pura Dalem Mangening ini terletak di ujung selatan Jalan Tukad Yeh Penet atau di pertigaan antara Jalan Tukad Yeh Aya dengan Ji. Tukad Yeh Penet. Menurut Mangku Dalem Mangening, Jalan Tukad Yeh Penet itu pada zaman dahulu memiliki nama rohani yaitu Jalan Saga Mona. Kata "saga" ini konon sebelumnya disebut Marga Mona. Lama-kelamaan disebut Saga. Maksudnya di jalan ini sebagai jalan rohani untuk mengembangkan perhatian rohani ke dalam diri. Karena itu haruslah "mona". Mona itu artinya diam tidak bicara yang ke luar dari bibir. Tetapi bicara ke dalam dengan bahasa hati. Bahasa berdasarkan hati nurani yang murni pada hakikatnya menyuarakan suara Sang Hyang Atma. Melakukan Mona Brata itulah yang dilakukan oleh sementara umat Hindu di Renon disekitar Pura Dalem Mangening dalam menjaga kesucian tirtha di sumur sakral di Pura Dalem Mangening. Setelah cukup lama Pura Dalem Mangening terdiri atas sebuah sumur suci dan sebuah pelinggih tugu muncullah upaya Nyoman Majawan yang berasal dan dekat pura tersebut. Dahulu kakeknyalah yang menjadi juru sapuh di pura tersebut. Sejak kakek Majawan sudah tiada, tidak ada keturunannya yang melanjutkan sebagai juru sapuh di Pura Dalem Mangening itu. Mungkin hal itu terjadi karena kekurangan informasi dan komunikasi saja.
Mungkin sudah kehendak dewata sejak tahun 1999 keluarga Majawan silih berganti kena serangan penyakit yang cukup aneh ditinjau dan sudut pandang medis. Setelah berbagai upaya, baik secara sekala inaupun niskala, melalui liku-liku yang cukup melelahkan akhirnya Majawan mendapat petunjuk niskala agar dia nielanjutkan swadhar inn kakeknya untuk ngayah di Pura Dalem Mangening itu. Dengan keyakinan yang bulat dan tulus ikhlas Majawan siap untuk ngayah. Sejak itu keadaan keluarga besar Majawan menjadi tenteram semuanya sembuh seperti sedia kala dan harmonis sejahtera. Setelah melalui proses yang cukup secara niskala Majawan dapat meningkatkan keberadaan pura tersebut menjadi seperti sekarang ini dan Majawan sebagai pemangkunya melalui proses upacara yadnya untuk menjadi pemangku.
Dana punia untuk meningkatkan keberadaan pura tersebut di samping dan keluarga besar Majawan juga ada dana punia dati berbagai pihak baik dari sekitar Renon maupun dari umat lain di luar Renon. Setelah ditingkatkan keberadaan Pura dalem Mengening itu sekarang sudah dilengkapi beberapa pelinggih utama. Sumur sakral itu di tengah-tengah diapit oleh Pelinggih Padma dan Pelinggih Gedong.
Padma di timur sumur sebagai panyawangan Ida Batara di Semeru Agung Lumajang. Sedangkan di sebelah barat sumur adalah Pelinggih Gedong sebagai pelinggih utama sebagai media pemujaan Ida Batara Dalem Mangening. Di pelinggih inilah sebagai media nunas Tirtha Ening baik untuk keperluan upacara yadnya maupun dalam rangka mohon penyembuhan. Sumur, Pelinggih Gedong dan Padma sebagai unsur-unsur yang utama di Pura Dalem Mangening itu terdapat juga Pelinggih Ngerurah dan Tajuk serta Sebuah Piasan. Dijaba sisi air suci di sumur pura itu dialirkan sebagai media nunas Tirtha Pengelukatan baik untuk keperluan upacara yadnya dan juga untuk mohon penyembuhan. Menurut Pemangku Pura, sudah banyak sekali umat yang memohon kesembuhan di pura ini berhasil dengan baik dengan sarana nunas tirtha ini.• I Ketut Gobyah. |