Logo PHDI Pusat
DHATU ELEMEN PEMBANGUN TUBUH MANUSIA Print E-mail

Dhatu
Elemen Pembangun Tubuh Manusia
Oleh : Ngurah Nala, Universitas Hindu Indonesia

Dhatu bermakna : “sesuatu yang masuk ke dalam formasi struktur dasar tubuh secara keseluruhan’ atau “sesuatu yang mempertahankan keberadaan tubuh”. Berdasarkan hal ini, maka dhatu dikenal sebagai dasar elemen jaringan, yaitu materi yang membangun jaringan tubuh. Karena unsur ini dalam tubuh manusia terdiri atas tujuh elemen, maka disebut juga sebagai tujuh unsur elemen tubuh atau sapta dhatu. Ketujuh dhatu yang menyusuri tubuh manusia tersebut adalah:

1). rasa (plasma dan cairan tubuh lainnya).
2). rakta (darah dan semua bahan yang berwarna merah).
3). mamsa (otot, baik otot skeleta maupun otot polos dan jantung).
4). meda (lemak cair yang ada di plasma dan padat berupa jaringan lemak)
5). asthi (tulang, termasuk tulang rawan)
6). majja (sumsum tulang, termasuk sumsum tulang belakang dan otak), dan
7). sukra (benih reproduksi, baik sperma maupun telur).

Dengan adanya dhatu ini maka plasma, darah, otot, lemak, tulang, sumsum dan benih reproduksi menjadi “hidup”. Tanpa ada dhatu ketujuh unsur tubuh tersebut tidak akan “hidup”. “Hidup” artinya dapat berfungsi secara wajar. Tulang manusia yang berserakan di dalam kuburan misalnya, tidak “hidup”, karena tidak mengandung dhatu.

Ketujuh dhatu itu bahannya terdiri atas kelima unsur panca mahabhuta, yakni akasa (ether, hampa, sunia, kosong), bayu (udara, gas), teja (api, cahaya, panas), apah (air, cairan), dan pertiwi (tanah, padat). Tetapi dalam hal kandungan dhosa, (vata, pitta, kapha) hanya ada situ atau dua unsur tri dosha yang dominan pada salah satu dhatu. Jadi, dhatu di dalam tubuh manusia berfungsi untuk memberi kekuatan hidup dan memelihara tubuh. Dhatu meresap di seluruh sel, organ, jaringan tubuh manusia. Seluruh tubuh manusia terdiri atas dhatu.

Di Bali dikenal ada tri dhatu dan panca dhatu. Maknanya adalah sama, yakni sebagai sesuatu yang masuk (sebagai elemen) ke dalam struktur tubuh manusia atau bangunan.  Dhatu ini akan memberi kekuatan “hidup”.  Kepada sosok manusia, benda atau bangunan. Tri dhatu merupakan tiga unsur kekuatan yang terdiri atas kekuatan utpatti atau penciptaan dari Dewa Brahma. Kekuatan sthiti atau pemeliharaan dan Dewa Wisnu. Dan kekuatan pralina atau pemusnahan dan Dewa Iswara. Biasanya kekuatan ini diwujudkan dalam bentuk benang atau goresan pada bangunan yang berwarna merah, putih dan hitam. Tri dhatu yang berwujud benang ini sering dililitkan di pergelangan tangan. Bagi siapapun yang memakai gelang ini setelah diupacarai, dipercayai akan mampu menolak segala macam bahaya yang akan mengancam keselamatan jiwanya. Gelang tri dhatu ini sebagai simbol penolak bala. Dengan memakai gelang tri dhatu pada pergelangan tangannya, pada pergelangan tangannya, para pemakai akan merasa aman tentram pikirannya, lebih percaya diri. Adanya kepercayaan diri dengan sendirinya akan meningkatkan pertahanan tubuhnya. Imunitas atau kekebalan tubuhnya akan meningkat. Logislah bila sulit dimasuki oleh unsur negatif ke dalam tubuhnya. Pikiran yang kreatif akan selalu muncul di dalam dirinya dikarenakan adanya kekuatan utpatti atau penciptaan dari Dewa Brahma. Apa yang dipikirkan dan direncanakan mampu menjadi kenyataan akibat adanya kekuatan sthiti dari Dewa Wisnu. Dan apa yang negatif atau jelek akan dimusnahkan oleh Dewa Iswara, kemudian diganti oleh Dewa Brahma dengan yang baru, yang lebih baik. Daur ini, utpatti-sthiti-pralina, atau diciptakan-dikembangkan-dimusnahkan, akan terus berlangsung selama hidup manusia. Goresan tiga warna merah-putih-hitam pada kayu bangunan (rumah, kantor, toko, dsb) yang baru dibangun, mempunyai fungsi yang sama. Menolak malapetaka yang akan menimpa bangunan tersebut.

Panca dhatu di Bali terdiri atas benda-benda logam dan permata. Diyakini bahwa simbol kekuatan Panca Dewata berada di dalam logam yang sewarna dengan lambang warna pada Panca Dewata. Kelima dewa tersebut adalah Dewa Iswara (putih), Dewa Brahma (merah), Dewa Mahadewa (kuning). Kelima kekuatan panca dewata tersebut secara simbolis diwujudkan dalam bentuk logam. Logam dianggap memiliki kekuatan magis. Kekuatan warna putih dari Dewa Iswara diwujudkan dalam bentuk logam perak. Kekuatan warna merah dari Dewa Brahma diwujudkan dalam logam tembaga. Kekuatan warna kuning dari Dewa Mahadewa diwujudkan dalam logam kuningan. Kekuatan warna hitam dari Dewa Wisnu diwujudkan dalam logam besi. Sedangkan kekuatan warna panca warna dari Dewa Siwa diwujudkan dalam logam emas atau permata mirah. Panca dhatu ini biasanya ditanam di palinggih tempat para dewa bertahta bila datang ke bumi. Diharapkan dengan adanya panca dhatu ini palinggih tersebut menjadi “hidup”, memiliki kekuatan magis spiritual.

Demikianlah makna dan fungsi dari dhatu baik yang ada di bhuana alit maupun di bhuana agung. Dhatu adalah elemen pembangun tubuh manusia, pemberi unsur “hidup”, sehingga semua organ dan sistema tubuh manusia dapat berfungsi dengan baik. Di Bali ada tri dhatu dan panca dhatu. Dhatu di Bali berfungsi agar semua manusia maupun bangunan, memiliki kekuatan para dewa, Dewa Tri Murti dan Panca Dewata. Ingat bahwa dhatu lain dengan atman. Atman adalah percikan Paramatma atau Hyang Widhi.*WHD No. 498 Juni 2008.

 
< Prev   Next >
"));