Logo PHDI Pusat
Sang Hyang Kumara (sambungan) Print E-mail

Sang Hyang Kumara
Oleh: I Gusti Made Yuni Indriani, UNHI
(Sambungan WHD 497)

Menurut kisah yang terdapat dalam Lontar Siwa Gama bahwa Dewa Kumara adalah salah satu putra Dewa Siwa dan Dewi Uma. Putra Siwa yang lainnya adalah Dewa Kala dan Dewa Ghana. Dikisahkan suatu ketika Dewa Siwa sedang sakit. Untuk mengobati sakitnya itu Dewa Siwa minta kepada Dewi Uma untuk mencarikan susu lembu hitam. Demi kesehatan Dewa Siwa dan rasa setianya kepada suami maka Dewi Uma berusaha keras untuk mendapatkan susu tersebut. Setelah berusaha sekian lama tetapi belum juga memperoleh hasil, maka Dewi Uma mencoba mencarinya di dunia. Turunlah Dewi Uma ke dunia dan berusaha mendapatkan susu lembu hitam. Setelah sekian lama mencarinya maka akhirnya berjumpalah Dewi Uma dengan seorang gembala yang sedang menggembalakan seekor lembu hitam. Dewi Uma mencoba meminta kepada penggembala tersebut agar diberikan meminta susu lembu dimaksud. Tetapi permintaan Dewi Uma ditolak. Dewi Uma berusaha meyakinkan penggembala tersebut bahwa dirinya adalah seorang dewi sedangkan susu tersebut akan digunakan untuk mengobati Dewa Siwa yang sedang sakit. Namun demikian penggembala tersebut tetap tidak memberikan susu lembunya ia bersedia memberikan susu lembunya kepada Dewi Uma asalkan Dewi Uma bersedia memenuhi keinginannya untuk bersetubuh. Dewi Uma berada pada posisi dilematis, bila tidak mendapatkan susu tersebut
maka suaminya dalam bahaya; bila dia berusaha bersetubuh maka ia akan menjadi kotor tetapi suaminya selamat. Akhirnya karena dorongan rasa cinta demi keselamatan suaminya Dewi Uma bersedia bersenggama dengan penggembala tersebut.

Selanjutnya dikisahkan Bhatari Uma datang menyembah di kaki Bhatara Guru (Dewa Siwa). Beliau mempersembahkan susu, susu itu diterima oleh Bhatara Guru dengan pandangan lembut. Adalah perintah Bhatara Guru kepada Sang Hyang Ghana. Sang Hyang Ghana disuruh menyelidiki perjalanan ibunya dalam memperoleh susu. Sang Hyang Ghana menurut, lalu mengambil pustaka tenung pemberian Bhatara Guru, kemudian diberi mantra, Upasinam na ca kuryat.

Tampaklah bayangan ibunya berbuat serong dengan pengembala. Hal itu lalu disampaikan kepada Bhatara Guru. Bhatara Guru tampak tersipu dan betapa marahnya Bhatari Uma dengan serta merta berkata kasar. Atyatam durmukam vedah ‘Apa katamu Ghana? Kau masih bayi sok tahu meramal sesuatu yang tidak jelas. Kau begitu tega mencela perilaku ibumu. Kau tidak tahu rahasia. Jika saja kau tidak memegang pustaka suci, pastilah kau mati dimakan olehku. Kau kira siapa ibumu ini. Bukankah aku ini perwujudan Durga, aku bisa menelan bumi, demikian kata Bhatari Uma menghujat. Keluarlah api dari mukanya, sangat dahsyat membasmi pustaka itu dalam sekejap berubah menjadi abu.

Hati Sang Hyang Ghana sedih atas terbakarnya pustaka itu. Pustaka itu ditulis kembali oleh Sang Hyang Ghana. Bhatari Uma menyuruh Sang Kumara untuk menginjak-injak abu pustaka itu. Segera Sang Kumara menginjak-injak abu pustaka itu dengan kedua kakinya. Oleh karena itu abu itu berserakan menyebar tidak bisa dilihat lagi. Sang Hyang Ghana marah kepada Sang Kumara, ia berubah wujud menjadi Ghanamurti bertangan empat, bertaring empat. Sang Kumara ditangkap dan dibantai, Segera Bhatara Guru menyapa Sang Hyang Ghana dengan ramah “Wahai Ghana janganlah kau berbuat demikian, itu dinamakan brahmatya, yang dapat mengakibatkan kesucianmu hilang. Dia masih kanak-kanak, jika seseorang belum genap berumur empat belas tahun janganlah dikenai hukuman, hentikanlah kemarahanmu kepada Sang Kumara”. Nanti jika Sang Kumara sudah besar, lebih dari sepuluh tahun disanalah kau melanjutkan kemarahanmu kepada Sang Kumara, kau tidak akan kena brahmatya (hukum kemarahan) silahkan bunuh Sang Kumara. Demikianlah kata Bhatara Guru.

Akhirnya Sang Hyang Ghana merasa kasihan, Sang Kumara dilepaskannya dan menangis tersedu-sedu memeluk kaki Bhatara Guru, memohon maaf atas kesalahannya, memohon agar terhindari dan kematiannya, jika besar akan dimakan oleh kakaknya Sang Hyang Ghana. Demikian ratapan Sang Kumara, Bhatara Guru menjawab.

Sang Kumara bertanya : “Daulat Bhatara, apakah maksudnya aku terus menerus menjadi kanak-kanak, dikutuk oleh Bhatara’? Demikian kata Sang Kumara. Pravyaksya tryambakobha vah jayati Kumara jayet, svya manah sukavaptih, bahuni  anigastutah.

Bhatara Guru menjawab : ‘Wahai anakku Sang Kumara, janganlah kau salah paham akan isi kata-kataku. Ada baiknya jika kau bisa menjaga dunia sejak kanak-kanak, kokoh beristana sebagai pelindung bayi, dikelilingi oleh Sang pancakosika, sebagai dewanya “baligya rare”. Kau mengetahui prilaku semua mahluk, baik buruk perbuatan manusia. Ada perjanjianmu dengan anak-anak bahwa jika gigi anak-anak telah tanggal berhentilah kau menjaganya.

Adapun hukumanmu kepada manusia, jika ada bayi giginya belum tanggal, tidak boleh membuka pintu Sang Hyang Saraswati. Bila akar itu meninggal tidak boleh diupacarai di rumah, disemayamkan sampai besok. Kapan mati, saat itu juga dibawa ke kuburan. Kau berhak menghukum orang yang melanggarmu. Biarlah ia menemukan bahaya besar, sebab mayat bayi yang disemayamkan di rumah dapat mengotori dunia”. Demikian kata Bhatara Guru, setelah itu beliau dinobatkah menjadi Sang Wredhakumara atas kemuliaan yoganya. Beliau ditemani Sang Pancaresi diberi anugerah sebagai pahala atas perbuatan jasanya dulu, berhak atas keinginannya. Beliau adalah juga Jagatpati demikian anugerah Bhatara Guru.

Sang Hyang Kumara dalam Lontar Kala Purana dan Dharma Pewayangan merupakan Putra Dewa Siwa. Tersebutlah Bhatara Siwa di Sorga mempunyai dua orang putra, yang satu berperawakan raksasa yang bernama Bhatara Kala, sedangkan adiknya bernama Sang Hyang Kumara yang masih kecil atau rare. Bhatara Kala lahir pada saat sore hari tepat pada sandikala yaitu Kemis Pon Wuku Wayang dan adiknya Sang Hyang Kumara lahir pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Wayang. Bhatara Kala pergi bertapa dan adiknya diasuh oleh ayahnya (Bhatara Çiwa) karena masih kecil. Ini panugrahan itu yang memperbolehkan memakan orang-orang yang lahir pada wuku Wayang, memakan orang yang berjalan pada kalitepet (pertengahan hari) dan sandikala (waktu peralihan antara sore dan malam hari). Bethara Kala teringat dengan anaknya yang lahir pada waktu Wayang itu, yang kiranya dapat menjadi makanannya.


Begitu pikiran serta keinginan Bhatara Kala, akhirnya datanglah Bhatara Kala menghadap kepada ayahnya di Sorga dan menyembah dihadapan ayahnya lalu berkatalah ayahnya, ‘Hai anakku Bhatara Kala bagaimana kabarmu dan apa kehendakmu datang kemari, cepat katakan’. Menyembahlah Bhatara Kala kepada ayahnya dan berkata. “Tujuan saya datang kemari minta makanan kehadapan ayah, sebagai panugrahan Sanghyang Kasuhun Kidul. Orang yang dapat saya makan adalah orang-orang yang lahir pada waktu Wayang, orang berjalan pada kalitepet dan sandikala. Karená adik saya Sanghyang Kumara lahir pada wuku Wayang akan saya makan tapi sebelumnya saya minta dulu kepada ayah. Begitulah perkataan Bhatara Kala kepada ayahnya. Menyahut Bhatara Çiwa,” “Uduh anakku Hyang Kala besar sekali permintaanmu kepada ayah, ayah akan berikan, tetapi dengan syarat supaya adikmu berumur akupak, kalau belum akupak tidak boleh kau makan, tunggulah dulu”. Begitulah kata Bhatara Çiwa.

Setelah lima tahun teringatlah Bhatara Kala akan janjinya kemudian lagi menghadap ayahnya minta adiknya Sanghyang Kumara. Bhatara Siwa minta lagi waktu akajeng (Tiga hari menurut perhitungan Agama Hindu).

Lagi Bhatara Kala mohon din dan hadapan ayahnya kembali ke tern- pat asalnya. Disinilah Bhatara çiwa mengutuk anaknya Sanghyang Kumara agar tetap menjadi rare (bayi) selamanya. Setelah akajeng datang lagi Bhatara Kala menghadap kepada ayahnya hendak memakan Sanghyang Kumara. Berkatalah Bhatara Çiwa, ‘karena adikmu lahir pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wayang, sebaiknya hari itu kau makan adikmu”, demikian kata Bhatara Çiwa. Lagi Bhatara Kala kembali ke tempatnya semula. Pada saat mi berkatalah Bhatara Çiwa kepada Sanghyang Kumara yang sudah dikutuk itu, “Hai anakku Sanghyang Kumara, engkau akan dimakan oleh kakakmu Bhatara Kala pada waktu Saniscara Kliwon Wuku Wayang. Nah sekarang akal ayahmu, pergilah engkau ke Mecapada. Di sana ada raja baik sekali bernama Prabu Maya Sura sebagai raja di Kreta-Negara. Di situlah kuinginkan sebagai tempat persembunyianmu. Mintalah keterangan padanya sebagai petunjuk untuk hidupmu, karena kakakmu Hyang Kalà lagi tiga hari pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wayang akan datang memakanmu. Baiklah, sekarang turunlah ke dunia, tujulah Kreta-Negara. Dipastu Sanghyang Kumara supaya selamat dan panjang umur, sempurna selamanya oleh Bhatara Çiwa. Menyembah dan minta dirilah Sanghyang Kumara kepada ayahnya lalu turun ke dunia, menuju tempat kediaman kerajaan Maya Sura di Kreta-Negara.

Setibanya Sanghyang Kumara di Kreta-Negara terlihatlah raja Maya Sura sedang rapat dengan para pendeta semuanya. Di sanalah ia menyerahkan dirinya kepada Sang Prabu. Begitu Sanghyang Kumara dilihatnya datang terkejutlah Sang Prabu dan berkata, Hai, engkau masih bayi datang kepadaku sambil menangis apakah yang menyebabkan?’,cepat katakan. Berkatalah sang rare (Sanghyang Kumara) dengan tak putus-putus tangisnya. Ya, Sang Prabu Maya Sura, saya anak Bhatara Çiwa. Nama saya Sanghyang Kumara, tujuan saya datang kemari ialah untuk meminta perlindungan Sang Prabu, Sebab kakak saya yang mendapat penugrahan dari Sanghyang Kasuhun Kidul yang menyuruh memakan orang-orang yang lahir pada wuku Wayang dan saya lahir pada hari Saniscara Kliwon wuku Wayang. Itulah tujuan saya datang kemari minta perlindungan kehadapan paduka Sang Prabu. Demikianlah permintaan Sanghyang Kumara. Berkatalah Sang Prabu. “Ya anakku Sanghyang Kumara, kalau betul begitu mulai sekarang saya melindungimu”.
Para pejabat kraton, para menteri, menjemput kedatangan Sanghyang Kumara, serta dihormatilah Ia yang baru datang itu. Berkata lagi Prabu Maya Sura kepada Sanghyang Kumara, Uduh, anak dewa putra, janganlah takut bersembunyi di kerajaanku ini semasih saya hidup. Sekarang saya menjaga kebidupanmu bersama menteri semua. Saya memberitahu untuk mempersiapkan perang dan mengecek kelengkapan senjata, kamu diam saja di keraton dan saya akan menghalangi kedatangan Bhatara Kala’. Begitu kata sang Prabu, lalu Sanghyang Kumara dibawa masuk ke dalam kamar.

Sang Prabu mempersiapkan semua tentaranya untuk menjaga sekeliling kratonnya dengan segala macam senjata untuk menandingi kedatangan Bhatara Kala.

Setelah waktunya tiba teringatlah Bhatara Kala akan janjinya dahulu, yaitu untuk memakan adiknya pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wayang. Berangkatlah Bhatara Kala menuju Sorga menghadap Bhatara Çiwa menuntut janjinya. Setibanya Bhatara Kala di Sorga disambut oleh Bhatara Çiwa dan berkata ‘Nah, mengenai janjiku yang dahulu sekarang saya beritahu kamu memakan Sanghyang Kumara, carilah dia karena ia pergi dan Sorga, kemungkinan ia turun ke dunia. Di sanalah dia dimakan, karena ia tidak ada di Sorga. Pergilah jika engkau ingin memakan manusia”, demikianlah kata Bhatara Çiwa kepada Bhatara Kala. Mohon dirilah Bhatara Kala terus pergi ke Mercapada. Bhatara Çiwa membayangbayangkan anaknya akan dimakan oleh kakaknya. Didoakanlah agar anaimya mendapat keselamatan dan panjang umur Dalam perjalanan Bhatara Kala menuju Mercapada, dipanggil-panggilah Sanghyang Kumara dari angkasa. Dikatakan Sanghyang Kumara membawa leteh yang mäha besar bagi Mercapada. Langsung Bhatara Kala menuju bumi Kreta-Negara. Setibanya di sana dijumpai manusia-manusia serta tentara-tentara lengkap dengan senjata dalam keadaan siap untuk bertempur. Di sini tertegunlah Bhatara Kala melihat keadaan demikian terus bertanya kepada orang yang banyak itu. “Apa yang kamu jaga siap begini? Apa yang menyebabkan, apa pula yang terjadi dan siapa musuhmu? Cepat katakan kepadaku”. Menjawablah orang banyak itu dengan serentak. “Saya siap siaga karena disuruh oleh Prabu Maya Sura, untuk menghadang kedatangan Bhatara Kala, konon yang akan membunuh dan memakan manusia di Mercapada ini. Hai, langgah katamu. Kamu manusia, coba beritahu aku dimana tempatnya Sanghyang Kumara itu. Kalau tidak bisa mengatakan, kamu semuanya yang akan kumakan. *WHD. No. 498 Juni 2008.
(BERSAMBUNG)

 
< Prev   Next >
"));