Logo PHDI Pusat
Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal Menurut Hindu Print E-mail

Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal
Menurut Hindu
Oleh: Ni Putu Suwardani, Denpasar

Semua langkah yang diambil bersumber dan keyakinan akan adanya Samsara atau Reinkarnasi sehingga Jiwatman yang baiklah akan turun untuk merestui kelahiran suputra. Ada kalanya karena bawaan bayi, ibu yang sedang mengandung sering berbuat yang tidak pada umumnya dilakukan. Misalnya, karena perubahan bentuk tubuh dan hawa panas dan dalam membuat si ibu sering “uring-uringan”. Dalam keadaan seperti ini suami dituntut selalu bersabar dalam mendampingi istri yang sedang mengandung. Sentuhan-sentuhan langsung, baik dan ibu maupun suami sangat dibutuhkan bayi yang dikandung seperti dinyatakan dalam sebuah sumber sebagai berikut.

Pertumbuhan anak, baik secara badaniah maupun mental sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan langsung dengan ibunya serta dengan orang-orang di sekelilingnya yang memberikan kepastian yang serba menjamin dan berdialog. Kemungkinan benih pada anak dan seluruh pengaruh lingkungan dalam arti menyeluruh dan seutuhnya membentuk watak, perilaku, dan pemekaran diri anak. Pengaruh itu juga berlaku dalam perkembangan pertumbuhan kesehatan, pertumbuhan kepandaian, selera, suka menolong, suka memanfaatkan, dan rasa keagamaan.

Telah disinggung bahwa tiap individu mempunyai sejarah perkembangannya
sendiri. Perkembangan ini tidak hanya ditentukan oleh faktor dalam diri individu itu sendiri (nativus) sebagai pengaruh Tri Guna (Sattwam, Raja, Tamas) dan karma wesananya, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor luar lingkungan (empiris). Unsur Tri Guna adalah sifat naluri yang asal mulanya telah ada sebagai sifat hakiki dalam prakerti. Ketiga sifat ini ada pada setiap manusia dalam kadar yang berbeda.

Lingkungan yang paling besar pengaruhnya adalah orang tua, terutama ibu. Hubungan psikologis antara ibu dan anak sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anak yang dikandung. “Demikian juga hubungan antar perorangan (interpersonal) antara ayah dan ibu, ayah atau ibu dengan anak, ibu dengan orang lain yang ada dalam keluarga merupakan kekuatan-kekuatan yang membentuk (mold) suatu kepribadian (personality)”. Ancaman-ancaman, sarkastis dan orang tua (ayah) akan menimbulkan ketegangan-ketegangan pada ibu. Dalam keadaan demikian si ibu akan merasakan ketidaktenangan jiwa dan ini sangat berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Suasana emosi dalam keluarga, komunikasi verbal dan non verbal, serta pengetahuan keluarga (suami) akan kebutuhan ibu yang sedang mengandung merupakan hal yang sangat penting di dalam menumbuhkan pribadi yang sehat. Dengan demikian, nantinya setelah kelahiran menjadi anak yang memiliki pribadi yang mantap, memiliki karakter yang bersifat daiwi sampat (Bhagawadgita, XVI, syair 1, 2 dan 3), yaitu mutu kedewaan yang dapat menuntun perasaan manusia ke arah keselarasan antara sesama manusia. “Rumah tangga yang berantakan, situasi pergaulan yang tidak menyenangkan, kekerdilan cinta kasih dalam keluarga, keharmonisan keluarga yang tidak terbina, fitnah yang membudaya dalam keluarga adalah perlambang kehancuran pendidikan dalam keluarga”. “Segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda, orang-orang, peraturan-peraturan, adat istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan dan pendidikan anak dalam kandungan”.
Manusia dalam prosesnya menjadi manusia berlangsung dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan. Artinya, manusia yang sedang berkembang itu tidak hanya berhubungan secara timbal balik dengan lingkungan alam tertentu, tetapi juga dengan suatu tatanan budaya dan sosial spesifik yang dihubungkan dengannya melalui perantaraan orang-orang berpengaruh (significant other) yang memeliharanya.

Dalam hubungan ini ada sebuah metode yang diperkenalkan George Losanov, seorang pendidik Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “sugestology” atau “sugestopedia”, yakni Quantum Learning. Prinsip utama metode ini sugesti dapat dan pasti mempengaruhi anak didik, baik secara positif maupun negatif dalam hasil belajarnya. Dengan menggunakan teknik-teknik tertentu sugesti positif, maka respons positif
anak didik akan meningkat. Teori ini pun dapat diberlakukan dalam pendidikan prenatal. Misalnya saja dengan memperlakukan ibu yang sedang mengandung dengan baik, yakni memperhatikan/memenuhi ketubuhannya dengan sewajarnya, menumbuhkan perasaan merasa disayang, diperhatikan, perasaan nyaman, dan sebagainya akan memberikan kesan positif pada jiwa si ibu yang kemudian mengalir pada jiwa anak yang dikandung.

Quantum Learning bahkan bisa mensugesti kerja otak kanan. Proses kerja otak kiri yang selalu bersifat logis, sekuensial, linear, dan mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis, serta cara berpikirnya yang sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, mendapatkan detail dan fakta. Dan fonetik dapat disesuaikan dengan cara berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan, kesadaran spesial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas, dan visualisasi.

Disamping itu, penanaman pendidikan (jiwa) agama pada anak sudah dapat dimulai saat anak dalam kandungan. Misalnya, dengan cara ibu rajin membuat sesajen, rajin sembahyang (berdoa), membaca buku-buku agama dan sebagainya. Dengan demikian, jiwa agama ini akan tertanam dan merasuk pada anak sejak awal, yang nantinya dijadikan pedoman (pola anutan) dalam bertingkah laku selama mengarungi kehidupannya. Anak yang masa kecilnya tidak mendapat didikan dan pengalaman agama, maka kelak ia akan menjadi orang yang acuh tak acuh terhadap agama dan cenderung mempunyai sifat negatif. “Sebaiknya jiwa agama itu mulai ditanamkan ketika bayi masih dalam kandungan, yaitu yang dikenal dengan upacara magedong-gedongan. Hal ini penting karena bayi sejak dalam kandungan sudah peka terhadap getaran-getaran tertentu.

Upacara megedong-gedongan ini dilaksanakan dengan maksud “pembersihan”, pemeliharaan atas keselamatan si ibu dan anaknya disertai pula dengan pengharapan agar anak yang lahir kelak menjadi orang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya”. Magedong-gedongan berasal dan kata “gedong” yang berarti gua garba. Gua artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam, berada pada perut si ibu. Dalam hal ini yang dimaksud kehidupan pertama itu adalah si Bayi. Untuk keselamatan bayi dalam perut ibu inilah dilakukan upacara magedong-gedongan.

Menurut Lontar Kuna Dresthi, upacara ini dilakukan setelah kehamilan berumur lima bulan (enam bulan kalender). Kehamilan yang berumur di bawah lima bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna dan tidak boleh diberi upacara yang dilakukan sebelum usia tersebut, maka upacara itu dianggap tidak benar karena janin belum lengkap yang dapat dikatakan sebagai manusia. Tujuan pokok upacara tersebut adalah agar ibu dan bayi yang dikandung dalam keadaan bersih, terpelihara, dan memperoleh keselamatan, serta selain itu, sebagai ungkapan terima kasih karena janin telah dapat tumbuh sempurna dan melampaui masa krisis. Di samping itu, tujuan upacara ini adalah agar anak yang akan lahir kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya. Harapan ini dicirikan dari simbol-simbol upakara yang digunakan, antara lain banten Byakala, banten Prayascita, banten Pulagembal, banten Sesayut Pamehayu Tuwuh, yang semua itu bermakna untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan sehingga anak yang lahir nanti menjadi anak yang baik (suputra) sehat jasmani dan rohani.

Sesungguhnya sebelum upacara magedong-gedongan dilaksanakan ada bentuk upacara yang tidak umum dilakukan, yaitu upacara Garbhalambhana (upacara penyucian badan =
Sarira Samskara). Upacara yang dimaksud adalah upacara saat terjadinya pembuahan, marerujakan (upacara ngidam), upacara ngelukat bobotan, dan sebagainya. Bentuk-bentuk upacara ini telah ditandaskan dalam kitab Manawadharmasastra, II. 26, yaitu sebagai berikut: “Sesuai dengan ketentuan-ketentuan Weda, upacara-upacara suci hendaknya dilaksanakan pada saat terjadinya pembuahan dalam rahim ibu serta upacara-upacara kemanusiaan lainnya bagi golongan dwijati yang dapat menyucikan dari segala dosa, baik dalam hidup ini maupun setelah meninggal dunia.

Selain bentuk upacara, ada beberapa mitos (larangan) makanan bagi wanita hamil, seperti tidak dibolehkan makan daging ayam karena ayam sering berkelahi dengan sesamanya. Hal ini mengandung makna bila si ibu suka makan daging ayam, maka akan mempengaruhi jiwa anak yang nantinya juga akan suka berkelahi. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan dianjurkan agar si ibu tidak memakan daging dan semua makhluk yang bernyawa, tetapi hanya dibolehkan makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Larangan lainnya yang perlu diindahkan antara lain tertuang dalam transkripsi Lontar Arda Semara, 1p. 34a, yaitu larangan-larangan/pantangan-pantangan bahwa orang hamil tidak boleh sering-sering tidur, tidak boleh menyembah mayat, tidak boleh diberi kata-kata kasar, tidak boleh didatangi atau mendatangi orang yang sedang melangsungkan pernikahan, tidak boleh berkumpul dengan laki-laki lain, tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar (wakcapala), mencela orang cacat fisik, mencaci maki (wakparusya) atau melihat orang menyembelih binatang (ahimsa karma) apabila binatang dalam keadaan menggelepar-gelepar saat disembelih sebab semuanya itu akan mempengaruhi janin yang sedang dikandung. Selain itu ibu harus selalu bersih dalam penampilan dan menjaga kesehatan, rajin membaca hal-hal yang menyokong pengetahuan tentang kehamilan, tidak dibenarkan ribut/berkelahi dengan suami, banyak mendengar nasihat dari lagu-lagu yang mencerminkan tata susila dan pemujaan (kerohanian), tidak menonton film yang membuat tegang, dan sebagainya.

Kemudian dalam transkripsi Lontar Buana Purana, lp.6a, dinyatakan orang yang hamil tidak boleh potong gigi (matatah/mesangih), si suami dilarang potong rambut sebagai tanda kecintaan dan kesetiaannya terhadap istri, tidak dibenarkan pula mencela orang cacat jasmanis dan mental, tidak mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakitkan hati, dapat memenuhi perasaan istri, dilarang membangun rumah dan temakuh, suami harus hormat pada istri yang berarti pula hormat pada bayi yang sedang dikandung dan sebagainya.

Di samping itu, ada pula larangan-larangan yang berlaku pada masyarakat Hindu, yaitu pada saat istri hamil suami tidak boleh membuat pagar dengan “turus” (semacam kayu runcing) agar bayi tidak merasa tertusuk-tusuk yang menyebabkan keguguran. Tidak boleh membayang-bayangi ibu yang sedang mengandung. Hal ini menyangkut aura, yaitu bila orang yang sedang membayang-bayangi auranya buruk, akan mempengaruhi si bayi. Si ibu tidak boleh duduk di ambang pintu, tidak boleh duduk di bawah cucuran air (capcapan). Semua itu mengandung kepercayaan bahwa bayi merupakan penjelmaan yang tidak boleh dihalang-halangi dan agar tidak menjadi anak yang durhaka kelak. Di samping itu dianjurkan agar ibu yang sedang mengandung hendaknya mengambil teladan antara lain dari Dewi Saraswati, yang memiliki sifat-sifat utama: menawan hati (lambang keindahan), bersifat suci, sumber kebijaksanaan, serta memiliki rasa cinta kasih dan kasih sayang yang tulus yang tak berkeputusan (abadi).

Reinterpretasi Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal
Manusia modern terlalu menonjolkan pikir rasional dibandingkan dengan rasa (intuitif) sehingga mitos-mitos sering diabaikan. Artinya, mitos-mitos yang sempat berkembang di masyarakat sering diinterpretasi dan dirasionalisasi. Ambillah sebuah contoh : pada manusia arkhais religius (meminjam istilah Eliade untuk menunjuk manusia terdahulu = primitif).
*WHD No. 498 Juni 2008.

 
< Prev   Next >
"));