Logo PHDI Pusat
Dewi Saraswati di Jepang Print E-mail

Dewi Saraswati di Jepang
Oleh : I.B. Putu Suamba, India

Selama ini pengetahuan kita tentang keberadaan dan pemujaan kepada Dewi Saraswati di India wajar-wajar saja karena memang di sanalah kelahiran agama Hindu. Di dalam kitab suci Weda terutama pada Catur Weda Samhita banyak mantra menyebutkan, memuja dan mengagungkan Dewi Saraswati sebagai dewi kesuburan, sungai, pengetahuan, kebudayaan, dan kecerdasan. Sungai Saraswati pun diyakini ada di sana walaupun secara fisik tidak ditemukan lagi. Namun ada fakta lain, keberadaan Dewi Saraswati di Jepang sungguh mengagetkan kita yang tidak begitu memperhatikan tradisi rohani Jepang. Fakta ini menandakan pengaruh India yang begitu luas di Asia, termasuk Asia Timur. Jika selama ini Jepang dikenal sebagai tempat meluasnya agama Buddha yang bersinergi dengan agama lokal di sana yang kemudian melahirkan agama Shinto, maka tidak heran jika ada elemen-elemen Hindu dan Buddha yang juga masuk ke dalam tradisi rohani jepang. Tradisi lokal beradaptasi dan diungkapkan dengan bahasa dan tata cara sendiri. Tidak mengherankan nama-nama dewa tidak lagi menggunakan bahasa Sanskerta, namun bahasa Jepang yang artinya sama dengan sumber asalnya.

Kedekatan agama Buddha, khususnya Sekte Mahayana dengan agama Hindu memperlihatkan bahwa ada sejumlah konsep yang mirip sehingga keduanya dapat saling berdekatan. Kondisi ini tidak sama dengan masa awal Buddhisme muncul ke atas panggung kebudayaan India. Setelah Buddha Gautama wafat, ajaran Buddha pecah menjadi sekte-sekte, yaitu Hinayana dan Mahayana, praktek agama Mahayana mirip sekali dengan agama Hindu dimana terdapat pemujaan kepada dewa-dewa tertentu. Jika di dalam Hinayana tidak mempercayai keberadaan Tuhan yang absolut, apalagi dewa-dewa, namun di dalam sekte Mahayana justeru mempercayainya sehingga praktek pemujaannya tidak jauh dari tradisi Weda. Dalam hal ini, peranan besar seorang filosof India bernama Nagarjuna yang mengarahkan Buddhisme kembali ke semangat awal peradaban Weda; membawa agama Buddha mendekati theisme bukan seperti yang diajarkan di dalam Hinayana atau Therawada yang atheisme. Theisme adalah kebutuhan umat manusia betapapun dia tidak mempercayainya. Mazab. Mahayana-lah yang menyebar dengan pesat ke wilayah Asia Timur seperti China, Korea, Jepang, Vietnam, dan Indonesia dan mungkin ke wilayah-wilayah lain. Paham ini menyebar dengan berkolaborasi dengan elemen-elemen lokal sehingga wajah tradisi Mahayana sedikit banyak diwarnai oleh kemampuan “lokal genius” daerah-daerah yang dimasukinya. Sebagai akibatnya beberapa paham kuno Jepang seperti Shingon, Kegon dan Tendai mempunyai pantheon Hindu dalam porsi yang besar. Dewa-dewa Hindu dan Buddha memerankan peranan penting di dalam tradisi keberagamaan di sini. Contohnya, dari tujuh dewa keberuntungan yang kuil-kuilnya dikunjungi pada setiap tahun baru, tiga di antaranya adalah Hindu: Daikoku (Mahakali), Bishamon (Waishrawana) dan Benten, Benzaiten atau sebutan yang lebih formal Bensaitensama (Saraswati). Pada sebuah kuil di Putako, Tamagawa, Tokyo terdapat arca Ganesha yang lebih terkenal dari patung Buddha. Di Jepang Benten dipandang sebagai sebuah manifestasi Saraswati. Nama lengkapnya adalah “Dai-ben-Zaiten” atau “Dewa Agung atas pikiran”, dan ia diyakini dapat menganugrahkan kekuatan, kebahagiaan, kekayaan, umur panjang, kemashyuran dan kemampuan berfikir. Ia adalah satu-satunya dewi dalam tujuh dewa di atas. Dewi ini juga dikenal dengan mama ‘Ben-Zai-ten’, ‘Benten-Sam’, ‘Koko-kuten’, ‘Kion-ten’ atau ‘Benten’. Dewi ini dalam manifestasinya selalu dibarengi oleh naga dan ular putih. Orang-orang Jepang percaya bahwa ular putih sebagai sebuah manifestasi Dewi Saraswati. Di samping pemujaan kepada dewa-dewa Hindu, penggunaan bahasa Sansekerta juga ada di dalam tradisi Jepang. Sebagaimana diketahui bahwa Mahayana tidak menggunakan bahasa Pali (seperti di dalam tradisi Hinayana atau Therawada di dalam kesusastraannya, dia tidak menggunakan bahasa Sanskerta). Banyak prasasti di kuil-kuil dan kadang-kadang di batu-batu di gunung-gunung dijumpai mengunakan bahasa Sanskerta.

Di dalam tradisi Jepang, Benten biasanya ditampilkan agak mirip dengan wujud seperti biasa disaksikan di dalam tradisi India, yaitu sebagai scorang wanita cantik mengenakan busana berjubah model aristocrat China, memainkan sebuah biwa (sejenis alat musik seruling ala Jepang) dan mengenakan mahkota berpermata indah. Saraswati merupakan dewi yang paling populer di Jepang; sering dimanfaatkan oleh media masa sebagai ilustrasi iklan atau pesan-pesan suatu acara. Beliau juga sering ditampilkan dengan wujud bertangan banyak. Benten adalah dewa yang berkuasa atas musik, pembelajaran, kebudayaan dan hiburan yang dihubungkan dengan seni, dan juga sungai dan air. Kebanyakan kuil-kuil yang memuliakan Benten berada di pulau-pulau lepas pantai, sungai dan sungai-sungai kecil, bendungan dan danau atau di dekat laut.

Sejak masa kuno, Benten telah diidentifikasi dengan Dewi Pulau di dalam tradisi agama Shinto disebut Itsukushima-Hime atau Ichikishima-Hime, seorang dewi minor di dalam kitab tertua agama Shinto. Pada than 1870 agama Shinto dan Buddhisme secara syah berpisah, dan para pendeta Shinto telah menekankan identifikasi mi untuk melanjutkan pemujaan kepada Benten di jinja (kuil-kuil Shinto). Seperti terjadi di dalam agama Rg Weda dimana Saraswati dipandang sebagai salah satu dewi dalam dewi tiga serangkai, yaitu Ila dan Bharati atau Mahi, di dalam kitab-kitab kuno agania Shinto, Itsukushima-Hime adalah salah satu dewi di dalam dewi tiga serangkai, yaitu dewi Tagori-Hime dan Tagitsu-Hime. Ketiga dewi ini dipuja di Munakata Jinja dekat Fukuoka, dan juga kuil-kuil lebih kecil di lain tempat.

Walaupun Saraswati adalah Dewi Sungai, Itsukushima-Hime diidentifikasi dengan pulau lepas pantai Miyajima dan Benten dan oleh karena itu kadang-kadang dianggap sebagai Dewi Laut. Namun, semua pulau yang didedikasikan kepada beliau berlokasi dekat dengan daratan dan sering dihubungkan dengan jembatan. Ia juga sering diasosiasikan dengan kegiatan memancing dan perjalanan melintasi laut.

Benten sejak zaman kuno telah dikenal dengan sebutan Uka-no-Kami di Jepang sementara sebagai Dewa Naga di China. Ta dipuja sebagai dewi air yang merupakan kandungan semua keberadaan di alam semesta ini, dan atas semua produksi dan perkembangan. Ia adalah dewi kebahagiaan dan keberuntungan yang memberikan anugrah kepada perniagaan dan produktivitas, mengendalikan panen dan menyebabkan biji-biji bisa tumbuh dan berkembang. Ia juga dikenal dengan nama Myoonten (Dewi Musik) dan secara meluas diacu sebagai dewi yang berkuasa atas seni, kerajinan, teknologi, musik, kesusastraan dan agama. Karakter ini nampak santa dengan Dewi Saraswati.

Saraswati sering diasosiasikan dengan naga dan ular khususnya ular putih. Ada sejumlah ceritra yang melukiskan bagaimana wujudnya berubah menjadi ular putih atau perkawinan seekor ular basar atau ular laut dan kadang-kadang ia dilukiskan sebagai ular berkepala manusia. Di Jepang mitos dan cerita rakyat (folklore) naga dikaitkan dengan sungai dan laut, dan pengikut Taosime menganggap ini sebagai kekuatan alam. Dengan demikian, Benten bisa dipahami sebagai aspek imarten dan ketuhanan yang meresapi alam semesta. Kemudian, jika seseorang memahami Brahma sebagai aspek transendental ketuhanan, pemahaman Saraswati sebagai asepek imanen sesuai benar dengan keberadaannya sebagai sakti-Nya. Dengan cara ini kita melihat agama Shinto dan Taoisme yang berorientasi kepada alam di Asia Timur sebagai bentuk-bentuk yang terkonsentrasi pada pemujaan kepada dewi di dalam Hinduisme.

Tiga kuil (jinja) yang sangat penting adalah Enoshima, Its ukushima dan Chikubushima. Pulau kecil Enoshima dihubungkan dengan jembatan ke daratan dekat Kamakura dibangun untuk memuja Trinitas Munakata. Di jinja ini terdapat dua arca Benten, kedianya usianya lebih dan 600 tahun, satu di antaranya tidak mengenakan pakaian dan yang lain bertangan delapan. Yang tidak berbusana berpahat putih seperti susu memainkan biwa dan dipahat dengan sangat detail. Ta terkenal bersama dengan penghibur wanita, seperti geisha di masa lalu dan artis dan penyanyi-penyanyi pop sekarang. Yang bertangan delapan memegang pedang, roda dharma dan berbagai property lain di dalam ikonografi Hindu. Di Jepang banyak terdapat arca Benten dengan posisi duduk maupun berdiri. Umumnya ia mempunyai dua tangan dan memegang seruling ala Jepang atau wina. Di Jepang wina dikenal dengan mama ‘biwa’. Benten bertangan delapan juga ada. Dalam wujud seperti ini, ia memegang wajra, pedang, chakra, pasa, parasu, how, dan panah. Arca jenis ini dikenal dengan nama ‘happi Benten’.

Cukup banyak ada kuil di Jepang yang memuja Benten, seperti di pulau Itsukushima atau Miyajima, Chikubushima, bendungan Shinobazu di Tokyo dan di bendungan Inokashira di Kichijoji (berarti ‘kuil Laksmi’) di Tokyo Barat dll. ini membuktikan bahwa pemujaan Saraswati dengan nama lokal Benten sudah ada dikenal sejak zaman kuno di Jepang. Pantheon Hindu ini berkolaborasi dengan Buddha Mahayana dan juga Shinto. ◘WHD. NO. 499 JULI 2008.

 

 
< Prev   Next >
"));