|
Mitos-Mitos Pendidikan Prenatal Menurut Hindu Oleh: Ni Putu Suwardani, Denpasar “Bagi masyarakat arkais, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini milik mereka yang paling berharga karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan nilai pada kehidupan”. Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat arkais menganggap mitos menjadi suatu kebenaran yang pasti. dan menetapkan kebenaran absolut yang tak bisa diganggu gugat. “Sesuatu itu demikian karena memang demikian, titik dan habis perkara”. Mitos melukiskan peristiwa primordial in illo tempore yang mempunyai akibat pada masa kini sehingga keadaan dunia dan manusia menjadi seperti sekarang ini. Bahkan, peranan mitos sebagai contoh model kadang-kadang mengandung suatu tanggung jawab yang amat berat bagi masyarakat. Sehubungan dengan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat modern telah terjadi proses demitisasi terhadap mitos-mitos tersebut, yaitu munculnya kritik-kritik terhadap mitos. Proses demitisasi yang diperkuat pula dengan alegorisasi, mitos dianggap sebagai dunia imaj iner, disejaj arkan dengan suatu rasionalisme elementer dan psikologi yang simplistis. Artinya, mitos-mitos tidak lagi dlihat secara literal, yang digali sekarang adalah makna-makna yang tersembunyi di dalamnya dan dilakukan pengkajian-pengkajian. Bahwa “(1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan maknamakna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka ; (2) makna tersebut berasal dan “interaksi sosial seseorang dengan orang lain; (3) makna-makna tersebut disempurnakan pada proses interaksisosial berlangsung”. Peranan mitos sebagai contoh model kadang-kadang mengandung suatu tanggung jawab yang ainat berat bagi masyarakat. Misalnya tentang mitos bahwa ketika istri mengandung suami tidak boleh potong rambut. Dahulu ôrang bisa saja taat pada “aturan” itu karena diyakini bahwa apabila suami memotong rambutnya, maka akan mengakibatkan bayi yang dikandung istrinya tidak selamat, dan mengalami keguguran. Secara logika tampak tidak ada hubungan antara potong rambut dengan bayi dalam kandungan. Namun, menurut kepercayaan, rambut itu mempunyai kekuatan gaib dan bila dipotong, maka bayi dalam kandungan pun ikut terpotong-potong karena bayi itu juga benih dari suami. Akan tetapi, pada saat ini bila ada suami yang mau mengikuti anjuran itu, hanyalah dianggap sekadar menghormati dan menjaga perasaan istri agar istri tidak cemburu yang secara fisik jelas penampilannya tidak bagus akibat kehamilannya. Atau ada juga karena ingin mengikuti mode seperti para lelaki lainnya yang suka memelihara rambut. Jaman sekarang anjuran semacam itu dianggap kuna, tidak masuk akal, dan mulai ditinggalkan apalagi suami yang bekerja pada instansi tertentu menuntut penampilan rapi. Demikian ibu yang sedang mengandung tidak dibolehkan makan daging ayam dan juga daging dari makhluk hidup lainnya karena dibelenggu oleh mitos bahwa makan daging ayam akan membuat anak nantinya suka berkelahi. Akan tetapi, kalau dikaji dari sudut kesehatan, ibu yang sedang mengandung bahkan dianjurkan untuk mengkonsumsi daging seperlunya demi kesehatan bayi. Lain lagi halnya tentang istri yang sedang hamil tidak boleh berkumpul (bercumbu) dengan laki-laki lain. Pada jaman mana pun dan sudut etika hal ini tidak bisa diterima karena si ibu sudah memiliki suami sah dan bayi yang dikandung adalah manik (benih) dari suami. Demikian juga terhadap mitosmitos lainnya mengandung makna kurang lebih sebagai berikut. Tidak boleh sering-sering tidur siang hari agar si bayi nanti jangan menjadi anak yang malas. Untuk menjaga kesucian bayi, si ibu dilarang menyembah mayat (jenasah) sekali-pun yang diupacarai keluarganya sendiri sebab mayat itu masih dimasuki oleh Bhuta Cuil, sedangkan bayi yang ada dalam kandungan dijiwai Sanghyang Kumara. Dilarang didatangi orang yang sedang melangsungkan pernikahan dianggap cuntaka (sebel). Di samping itu, ketika istri sedang mengandung, suami tidak dibolehkan menyumbat atau menutup lubang seperti saluran air (sombah) karena hal ini mengakibatkan bayi akan sulit lahir lewat pintu ibu, dan anak yang dilahirkan tidak punya anus. Apabila alasan-alasan yang dikemukakan diteliti secara ilmiah akan sulit ditemukan hasilnya secara ilmiah pula. Akan tetapi, secara logika alasan-alasan tersebut tampaknya masuk akal, hanya apakah mitos-mitos yang selama ini berkembang tetap dijadikan suatu model atau contoh dalam sikap kehidupan. Semua ini dikembalikan kepada masyarakat. Disadari bahwa selama ini mitos-mitos tersebut telah banyak manfaatnya untuk menuntun kehidupan manusia. Kenyataan, tema-tema dalam mitos arkais tetap bisa ditemukan dalam mitologi modern sekalipun bentuk-bentuknya tidak semurni terdahulu. Artinya, beberapa aspek dan fungsi pemikiran mitos masih menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Hindu, khususnya di Bali. Misalnya mitos agar bayi yang lahir membawa keberuntungan (berkah), sampai pada larangan orang hamil tidak boleh ke kuburan, menengok orang menikah, dan sebagainya tidak hanya menjadi obsesi imajinasi pemikiran modern, tetapi juga ilmu agama, humanisme, dan ilmu kedokteran. Semua mitos tersebut dianggap sebagai suatu kebiasaan yang patut dihormati sehingga terwujud kedamaian yang sasarannya Satyam, Sivam, Sundaram untuk mencapai Jagadhita.• WHD No. 499 Juli 2008. |