|
Budha Wacana Nusa Bali – Rabu, 27 Agustus 2008 Galungan dan Kontemplasi Non-Dual Oleh I Gede Suwantana* Bheda- bhâvanât so’ham-ityasau Bhâvanâ-bhidâ pâvani matâ (Upadesa Sara: 8) Kontemplasi tanpa dualitas di mana “Dia adalah aku” dinyatakan sebagai suci dan superior dibandingkan kontemplasi dengan dualitas (ada aku dan Dia). PERNYATAAN kitab suci mengenai superior lebih tinggi dan lain sebagainya tidak terletak dalam ruang dan waktu. Bahasa yang membawa pemahaman kita menjadi keliru menyebabkan kekacauan terhadap ajaran itu sendiri. Saat kita membahas mengenai Hukum-hukum alam semesta, mengenai Sang Pengatur Jagat Raya, Realitas, Sang Diri Sejati atau Tuhan Yang Maha Esa terhadap tinggi rendah, suci dan kurang suci maka superior dan inferior tidak terletak dalam ruang dan waktu. Intelegensi kita harus mengerti bahwa pernyataan itu mengacu pada keberadaannya sendiri bukan pada gelombang yang ditimbulkan atau mengacu pada sumbernya dan bukan pada ciptaanNya. Kontemplasi non-dual yang superior dibandingkan dengan kontemplasi dualis yang inferior mesti dimaknai sebagai kualitas kesadaran kita terhadap kontemplasi yang dilakukan bukan terletak pada pelaksanaannya. Seperti halnya sungai, superior dan inferior bukan terletak pada sungainya yang berbeda-beda bahwa sungai A lebih superior dibandingkan sungai B, tetapi terletak pada airnya, kualitas kita menyadari bagaimana kita sebagai air. Apakah ada sungai atau tidak, tetapi kesadaran kita tetap sebagai air, bukan pada sungainya. Saat kontemplasi kehilangan pelaku dan objeknya, maka pada saat itu dikatakan sebagai kontemplasi non-dual, tetapi kontemplasi yang masih terdapat pelaku dan objeknya dikatakan kontemplasi dualis. Dikatakan lebih superior kontemplasi non-dual adalah karena pada saat ini tidak ada lagi fragmentasi pikiran. Ego sudah tidak merasa lagi melakukan apa-apa. Ego telah melebur dalam Realitas. Tuhan tidak lagi menjadi objek kontemplasi bagi diri melainkan telah menyatu bersama-Nya. Hari Raya Galungan yang dimaknai sebagai wahana untuk kontemplasi yang superior (non-dual) akan mampu membawa dampak yang sesungguhnya dan tujuan perayaan hari raya tersebut. Kemenangan Dharma melawan Adharma bukanlah pertempuran dua entitas yang pada akhirnya salah satu entitas kalah dan mati. Entitas-entitas yang ada di alam semesta tidak akan pernah dibunuh oleh apa pun dan oleh siapa pun. Entitas yang ada di alam semesta telah sempurna adanya. Perayaan Galungan sebagai kemenangan Dharma terhadap Adharma adalah perayaan atas kemampuan kontemplatif intelegensi kita untuk memasuki kesejatian setiap kejadian sehingga tidak lagi menyisakan penderitaan. Adharma menghasilkan penderitaan. Dengan Dharma penderitaan itu dilenyapkan. Tanpa penderitaan, hidup akan menjadi perayaan. Tanpa penderitaan, hidup akan menjadi damai dan bahagia selamanya. lnilah esensi mengapa hari raya Galungan sangat signifikan dalam kehidupan kita sebagai orang Bali. Lalu apakah dengan memotong babi pada saat Penampahan Galungan serta diikuti dengan pesta lawar dan minuman keras, kita telah memasuki kesejatian hidup dan menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian? Orang menyebut itu simbol yang mesti dipertahankan. Sebagai orang Bali rutinitas tersebut mesti kita lakukan karena dalihnya adalah pelestarian budaya dan pelaksanaan ajaran agama. Masalahnya adalah bagaimana dengan transformasi atas perayaan tersebut. Mampukah pesta yang dilakukan menjadikan perayaan itu hidup yang menciptakan kedamaian dan kebahagiaan atau sebaliknya menjadi biang keonaran dan penderitaan? Kontemplasi yang inferior terletak pada bentuk dan kesemarakannya sedangkan kontemplasi superior terletak pada transformasi dan kualitasnya. Saat kita benar-benar mengenal Dharma, dalam artian bukan hafal atau mampu berbicara tentang Dharma, melainkan Dharma adalah esensi keberadaan kita, maka transformasi tersebut dapat diperoleh. Kita akan kehilangan ego kita dan menyatu dengan keberadaan Yang Tertinggi. Tetapi kalau kita hanya hafal atas Dharma, kemenangan yang diraih juga hafalan saja, sehingga ego kita semakin besar dan terus-menerus minta dipenuhi . *Penulis, Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta. |