Logo PHDI Pusat
PRAJNAPARAMITA HRDYA SUTRA, Sutra Kebijaksanaan Sempurna Segalanya adalah Kekosongan Print E-mail

Sasana – Tabloid KASI 07 Juli 2008
PRAJNAPARAMITA HRDYA SUTRA
Sutra Kebijaksanaan Sempurna Segalanya Adalah Kekosongan

Menyimak Ananttalakhana Sutta yang dikhotbahkan Sang Buddha di Taman Rusa Isipatana setelah khotbahnya mengenai Empat Kesunyataan Mulia, maka akan mengingatkan kita path Sutra Hrdya Prajnaparamita, sebuah sutra yang menjadi landasan ajaran Mahayana dan menumbuhkan filsafat Buddha Mahayana:

Tampaknya memang ada kesamaan ajaran atau bahkan identik antara Anattalakhana Sutta yang membicarakan tentang tiada inti yang kekal sehubungan dengan pancakkhandha manusia dengan Prajaparamita Hrdya Sutra yang membicarakan tentang “Sunyata” atau kekosongan juga sehubungan dengan pancakkhandha manusia.

Untuk itu, tiada salahnya bila icita mengenali Sutra kebijaksanaan atau Prajnaparamitra Hrdya Sutra ini, yang dikatakan sebagai Sutra yang mengungkapkan pengetahuan tertinggi mengenai hakekat dharma yang tiada taranya. Berkat Sutra inti ajaran Buddhadharma dikenal melalui Dharma Mahayana.

Prajnaparamita Hrdya Sutra yang berisikan perenungan yang mendalam tentang Kesempurnaan Kebijaksanaan (prajnaparamita) ini melukiskan dengan agungnya bahwa hakekat (svabhava) dari semua dharma (fenomena) itu adalah sunya (kosong). Manusia yang terdiri dari lima kelompok kehidupan (panca skandha) adalah kosong (sunya).

Dalam Sutra itu disebutkan, bahwa Yang Ariya Sariputra menerima perenungan yang mendalam tentang hakekat semua fenomena (dharma lakshana) sebagai kekosongan (sunyata) dan Buddha Sakyamuni.
 
Melalui sutra inilah kemudian Yang Ariya Nagarjuna memperkenalkan kekosongan (sunyata) sebagai inti Dharma melalui Buddha Dharma Mahayana. Sehingga kekosongan (sunyata) ini mnjadikan kekhasan dan setiap Dharma Mahayana.
 
Segalanya Sunya
Prajnaparamita Hrdya Sutra itu sendiri merupakan inti dan Prajnapramita-Sutra, yang dibabarkan Buddha Sakyamuni kepada Yang Ariya Sariputra. Dalam hal ini, Oh Sariputra, wujud adalah kekosongan (sunyata) dan kekosongan itu sendiri adalah wujud (rupa). Kekosongan tidak berbeda dan wujud, dan wujudjuga tidak berbeth dan kekosongan. Apa pun yang merupakan wujud, itu adalah kekosongan, dan apa pun yang merupakan kekosongan itu adalah wujud. Begitu pun halnya dengan perasaan (vedana), persepsi (samjna), dorongan pikiran (samskara), dan kesadaran (vijnana).
 
Dalam hal ini, Oh, Sariputra, semua dharma (fenomena) bercirikan kekosongan. Mereka tidak muncul ataupun lenyap; titik ternoda ataupun murni; tidak kurang ataupun lengkap. Karenanya, oh Sariputra, di mana terthpat kekosongan, di sana tidak ada wujud, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, ataupun kesadaran. Tidak ada mata, telinga, hidung, lidah ataupun pikiran (manas); tidak ada bentuk, suara, bebauan, rasa, obyek yang dapat disentuh atau pun obyek pikiran. Tidak ada unsur indera penglihatan, dan sebagainya.

Hingga tak ada unsur kesadaran pikiran; tidak ada kebodohan, tidak ada kelenyapan kebodohan, dan sebagainya. Tidak ada kelapukan dan kematian, ataupun lenyapnya kelapukan dan kematian. Tidak ada penderitaan, sebab (penderitaan) akhir (penderitan) ataupun jalan (yang membawa kepada akhir penderitaan). Tidak ada pemahaman, tidak ada pencapaian (naraptih) dan tidak ada bukan pencapaian (apraptivat).
 
Maka, Oh, Sariputra, karena seorang Bodhisattva tidak cenderung kepada pencapaian pribadi apa pun, dan karena telah mendasarkan pada kesempurnan kebijaksanaan, ia tinggal (hidup) dengan pikiran bebas.
 
Karena pikirannya bebas (tanpa rintangan), ia tidak pernah merasa gentar; ia mampu mengatasi apa yang dapat menimbulkan pandangan-pandangan keliru, dan akhirnya menetap dalam Nirvana.

Semua Buddha yang muncul dalam tiga periode waktü (lampau, sekarang, dan akan datang) mendasarkan pada kesempumaan kebijaksanaan. Mereka sepenuhnya menyadari pencerahan yang tertinggi, benar, dan sempurna.
 
Dengan menyanyikan mantra Sutra Hati ini atau mantra Guan Yin Bodhisattva Namo Kwan Shi Yin Bodh Satt, yang berarti “Terpujilah Guan Yin Bodhsattva”, berulang-ulang sampai tidak ada pemikiran muncul, seorang akan dapat masuk ke dalam meditasi yang dalam atau mengalami kesadaran meditatif dan mencapai pencerahan kekosongan.

Karena itu, untuk memahami hakekat dharma itu, hendaknya melakukan perenungan melalui pembacaan Sutra Agung ini. Sutra tertinggi yang tiath bandingnya dan pelenyap semua penderitaan. Baca dan lafalkanlah Prajnaparamita Hrdaya Sutra. Semoga perjalanan ke pantai seberang menjadi terwujud. Gate gate paragate parasam gate bodhi svaha!

Prajnaparamita Hrdaya Sutra
(Atha prajnaparamitahrdayam-sutram Namah sarvajnaya).
Aryavalokitesvaro bodhisattva gambhirayam prajnaparamitayam caiyam caramano vyavalokayati sma. Panca skandhah. Tams ca svabhava-sunyampasyati sma. Iha Sariputra rupam sunyata sunyataiva rupam rupan naparthak sunyata sunyataya naprthag rupam yad rupam sa sunyata ya sunyata tad rupam. Evam eva vedanasamjna-samskara -vijnanani.

Iha Sariputra sarva-dharmah sunyata-laksana anutpana aniruddha amalavimala nona na paripunah. Tasmac chariputra sunyatayam na rupam na vedana na samjna na samskara na vijnanani. Na caksuhsrotra-ghrana-jihva-kaya-manamsi.
 
Na rupa-sabda-gandha-rasasparastavya-dharmah. Na caksurdhatur yavan na mano-vijnanadhatuh. Na vidya navidya na vidyaksayo navidyaksayo yavan na jaramaranam na jara-maranaksayo na duhkha-samudaya-nirodhamarga na jnanam na praptir apraptitvena.
Bodhisattvasya prajnaparamitam asritya viharatyacittavaranah cittavarananastitvad atrasto viparyasatikranto nisthanirvanah.
Tryadhavavyavasthitahsarva buddhah Prajnaparamitamasrityamuttaram
samyaksambodhimabhisambudhah.
Tasmaj jnatavyam prajnaparamitamahamantro mahavidyamantro nuttaramantro samasama-mantrah sarvaduhkhaprasamanah satyamamithyatvat prajnaparamitayam ukto mantrah. Tad yatha gate gate panagate parasamgate bodhi svaha. Itu prajnaparamita-lirthyam samaptam. (Jopri).

 
< Prev   Next >
"));