Logo PHDI Pusat
DENGAN BHUTA YADNYA HIDUP HARMONIS DENGAN ALAM Print E-mail

Dengan Bhuta Yadnya Hidup Harmonis dengan Alam
 
Yadnya merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan ajaran Weda; Tujuan pelaksanaan: "yadnya itu sendiri adalah sebagai pengejawantahan Weda di samping sebagai cetusan rasa terima kasih, dan untuk meningkatkan kualitas diri. Weda menguraikan empat cara yang berbedabeda untuk mengungkapkan ajaran Weda itu sendiri yaitu:

Ream tvah posagaste
Gayatram tvo gayati savavarlsu
Brahma tvo vadati jatavidyam
Yadnasya matram vi mimita uttvah
(Reg.Veda V.71.II)

Artinya: Seorang bertugas mengucapkan sloka-sloka Veda seorang melakukan nyanyian-nyanyian pujian dalam sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda dan yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (yadnya).

Sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan sudah seyogyanya kita berterima kasih pada Beliau, karena Beliau pun menciptakan kita dengan yadnya. Dengan yadnya pula kita sebagai manusia akan mencapai kebaikan yang maha tinggi. Dalam Bagavad Gita III.10 disebutkan, bahwa pada zaman dahulu prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda: "Dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu."

Kalau merujuk pada beberapa kitab suci seperti Manawa Dharma Sastra III.69-70 untuk Butha Yadnya adalah upacara bali (banten), sedangkan dalam kaitannya dengan upacara butha yadnya itu adalah upacara tawur untuk keseimbangan alam. Dalam Agastya Parva disebutkan, bahwa bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ringtuwuh, melaksaanakan butha yadnya menggunakan bali (banten) sebenarnya adalah simbol atau nyasa.

Lontar Yadnya Prakirti menyatakan .... "Sahananing bebantenan pinaka raganta tuwi (seperti simbol tubuh manusia), pinaka warna rupaning bhatara (seperti wujud Bhatara/Dewa), pinaka Anda Buwana (seperti wujud isi alam semesta), Butha yadnya namanya adalah mengembalikan kelestarian alam dengan menyayangi tumbuh-tumbuhan: DaIam melakukan yadnya yang sesungguhnya adalah penyerahan diri sebagai yadnya yang mulia sebagaimana yang dilakukan oleh Sri Guruji Golwakar. Sementara ini pelaksanaan yadnya di Bali selaIu dengan upacara yang seyogyanya dibarengi dengan penguatan sradha dan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Berapa pun banyaknya upacara yang dilaksanakan apalagi dengan keglamouran atau kemewahan yang ternyata ada kepentingan-kepentingan di balik itu, maka itu tidak akan ada maknanya, tanpa adanya susila yang tidak terpisahkan dari sebuah upacara, dan makna di balik ritual sebagai pemahaman tattwa. Jadi melaksanakan yadnya tidak mesti dengan upacara besar dengan mengabaikan susila dan tattwa.

Begitu pun dengan butha yadnya yang di Bali diterjemahkan dengan korban binatang, Mestikah seekor binatang dikorbankan hanya untuk yadnya keharmonisan alam? Sementara ini keadaan itu dikonstruksi sedemikian rupa, sehingga umat Hindu takut pada Kala. Walaupun daIam Manawa Dharma Sastra V.40 disebutkan, bahwa tumbuh-tumbuban dan binatang yang digunakan sebagai sarana upacara yadnya itu akan meningkat kualitasnya dalam penjelmaan. berikutnya. Oleh karena itu penggunaan binatang sebagai sarana pokok upacara banten caru bertujuan untuk meningkatkan sitat-sifat kebinatangan atau keraksasaan menuju sifat-sifat kemanusiaan akhirnya terus meningkat menuju sifat-sifat kedewaan.

Mitologi dalam butha yadnya inipun tidak terlepas dari apa yang dipahami oleh umat, bahwa Caru Ekasata dihubungkan dengan Sahadewa, Caru Panca Sata dengan Panca Kumara, Caru Panca Sanak dengan anjingnya Yudistira, Caru Panca Kelud dengan Prabu Angling Dharma. Keadaan itu kita warisi sampai sekarang, padahal esensinya butha yadnya jangan hanya diartikan pada persembahan kepada butha kala melainkan mestinya esensi yang substantif adalah memperbaiki sifat-aifat yang berada dalam diri manusia dengan jalan ngeret indria, mulat sarira sebagai sifat butha seyogyanyalah sifat-sifat binatanglah yang dikorbankan. Keharmonisan alam semesta sebagaimana konsepsi Tri Hita Karana wajib dilaksanakan agar tercapai dunia yang jagadhita (sejahtera).

Beryadnya di zaman kali adalah dengan berdana dan musuh itu sangat dekat dengan diri kita karena ia berada dalarn diri kita sendiri. Secara normatif ajaran-ajaran dalam Hindu senantiasa menuntun kita ke arah kebaikan, tetapi perkaranya adalah begitu banyak upacara yang dilakukan termasuk butha yadnya demi keharmonisan alam, kenapa masih saja terjadi kerusakan pada alam. Kalau itu adalah kerusakan mekanis karena alam sudah semakin tua usianya, bagaimana upaya kita sebagai makhluk ciptaan yang sama dari beliau memiliki kewajiban moral untuk merevitalisasi. Akan tetapi kalau ternyata manusia sendiri yang merusak alam itu sendiri sehingga alam menjadi rusak betapa berdosanya kita. Pelaksanaan sebuah upacara, baik itu butha yadnya maupun yadnya yang lain seyogyaya menjadikan umat Hindu semakin unggul dan berkualitas meliputi keunggulan rohani, etika, moral, toleransi, dan keunggulan penguasaan teknologi.

Dra. Ida Ayu Tary Puspa, S.Ag, M. Par,
Adalah staf pengajar IHDN Denpasar
 
Source :   raditya 133
 

 
< Prev   Next >
"));