Logo PHDI Pusat
EGO Dan DUA KUTUB Print E-mail

MUTIADA WEDA, NusaBali – Rabu, 22 Oktober 2008
Ego dan Dua Kutub
Oleh : I Gede Suwantana

Agre Vahnih Prsthe Bhanuh Raatrau Cubukasamarpitajaanuh
Karatalabhiksas tarutalavaasah Tadapi na muncatyaasaapaasah
(Moha Mudgara, 16)
Berdiri di depan api, atau di balik matahari, duduk dengan dagu menyentuh lutut,
menerima sedekah dan orang-orang dengan mangkoknya, dan duduk di bawah
rindangnya pepohonan, namun jeratan nafsu belum juga beranjak darinya.

KEBANYAKAN dari kita berpikir bahwa kita merasa telah menjadi spiritualis ketika kita larut dalam upacara agama, larut dalam alunan kidung suci, berbicara banyak tentang Tuhan, melakukan pemujaan terus-menerus, dan lain sebagainya. Pandangan kita selalu melihat spiritual sebagai sesuatu yang kasat mata. Kecenderungan pikiran kita adalah tampak luarnya, kesemarakannya, dan melupakan transformasinya.

Spiritualitas yang dilihat dari sisi luarnya saja menurut teks ini sesungguhnya bukan spiritualitas sama sekali. Bahkan dapat dikatakan bahwa spiritualitas jenis ini hanya pelarian dari hidup keduniawian. Spiritualitas sebagai pelarian tidaklah berbeda dari duniawi itu sendiri. Ia hanya pindah kutub dari kutub satu ke kutub lain. Sepanjang kita tetap berada dalam kutub-kutub itu, maka sepanjang itu kita berada dalam keduniawian. Apapun
bentuknya dengan tidak memandang dilangsungkannya upacara keagamaan, melakukan tapa dengan berdiri terus-menerus di depan api, melakukan gerak yoga, selalu mengidungkan lagu-lagu pujaan, dan lain sebagainya tetaplah duniawi dan tidak berbeda dengan tindakan-tindakan ordinary lainnya sepanjang nafsu masih di sana. Spiritualitas pada prinsipnya mengatasi kutub-kutub itu. Nafsu, keinginan, ego adalah halangan terbesar manusia untuk menemukan dirinya sejati.

Ego selalu mengarahkan kita untuk berputar-putar pada kutub. Saat orang berpikir bahwa kebahagiaan dapat diraih dengan mateni, maka dia berlomba bekerja untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Namun ketika mencapai klimaksnya bahwa materi yang sama dapat menyebabkan penderitaan juga, make mereka lan dan ingin menolak materi atau duniawi. Mereka melakukan tapa, meditasi, upacara keagamaan, membantu orang lain, dan lain sebagainya untuk memperoleh kebahagiaan. Namun ego tidak juga lenyap. Nafsu tidak juga beranjak darinya. Dunia jadi terbelah menjadi dua, satu ego duniawi dan lainnya ego spiritual. Ego duniawi ada pada satu kutub dan ego spiritual ada pada kutub ainnya. Ego spiritual menyalahkan ego duniawi begitu juga sebaliknya.

Sepanjang ego ada di sana sesungguhnya secara esensi tidak berbeda. Ego spiritual dan ego duniawi tidak berbeda, hanya penampakannya yang berbeda, mereka sama-sama budak ego, budak nafsu. Jadi baik orang yang disebut spiritualis maupun duniawi memiliki potensi sama untuk merusak dunia. Dunia spiritual dan dunia materi hanyalah ekspresi ego. Mereka sama-same menciptakan atmosfer kurang kondusif.

Spiritualitas sesungguhnya bukan salah satu kutub yang saling berlawanan. Istilah dunia spiritual dan dunia materi muncul ketika ego ada di sana. Sifat ego selalu ingin memecah segala sesuatu ke dalam fragmen-fragmen sehingga tampak segala sesuatunya berlawanan, namun semua itu sesungguhnya satu yakni ekspresi ego semata dalam wujud/topeng berbeda-beda.

Spiritualitas berada di atas dualisme kutub itu. Boleh dikatakan bahwa spiritualitas mengatasi duniawi. Artinya bukan dalam ukuran inferior dan superior, tetapi kata mengatasi berarti terjadi transformasi spiritual. Tidak ada pemihakan terhadap ekspresi itu tetapi menemukan esensi/ jiwa ekspresi itu. Dengan kata lain dapat dinyatakan ekspresi itu lepas dan ego. Sehingga ekspresi hidup totalitas tanpa campur tangan ego merupakan ranah spiritual yang sejati. Sebutan dunia spiritual tidak lagi menjadi lawan dan dunia materi sebab dimensi spiritual tidak dapat dikacaukan dengan dimensi duniawi atau sebaliknya. Ia eksis apa adanya. Ketika eksistensi tersebut dapat kita saksikan tanpa campur tangan ego, maka apa pun yang ada adalah spiritual. *Penulis, Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta.

 

 
< Prev   Next >
"));