Logo PHDI Pusat
RERINGGITAN Sebagai Pelestarian Nilai Luhur Budaya Bangsa Print E-mail

Reringgitan Sebagai
Pelestarian Nilai Luhur Budaya Bangsa
Oleh: S. Swarsi Geriya, Gianyar

Anand Bhawanti Bhutani
Parjanyad Anna Sambhawah
Yajnad Bhawati Parjanto
Yaj Nah Karma Samudbhawah
Artinya :
Adanya mahiuk hidup karena makanan
Adanya makanan karena hujan
Adanya hujan karena yadnya
Adanya yadnya karena karma

Sloka diatas mengandung makna bahwa upakara maupun reringgitan yang melengkapi merupakan yadnya yang sangat utama dan perlu dilestarikan dan generasi ke generasi. Dalam ajaran Hindu banten dan reringgitan adalah bahasa agama sebagai aplikasi dan ajaran suci Weda.

Upacara tradisional merupakan salah satu unsur kebudayaan yang membakukan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang perlu digali, dikembangkan, dienkulturasikan, mampu ditransformasikan pada generasi penerus sebagai manusia yang berbudi luhur. Upacara maupun upakara mengandung unsur-unsur konkret dan unsur abstrak. Secara fungsional unsur-unsur terkait yang satu dengan yang lain seperti :

(1) ada unsur kepercayaan yang menata terselenggaranya upacara keagamaan seperti halnya ada nilai kepercayaan akan Tri Rna (utang) kewajiban kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa; utang (kewajiban berbhakti pada Rsi dan kewajiban berbhakti pada leluhur. Kepercayaan tersebut memotivasi masyarakat Hindu untuk melaksanakan upacara;
(2) komponen kedua mencakup unsur person, orang-orang, masyarakat sebagai pendukung upacara;
(3) adanya unsur sarana/prasarana, perlengkapan upacara yang disebut Uparengga atau juga Reringgitan, jejahitan, sampian banten yang digunakan untuk melengkapi upakara.

Mengacu pada pengertian diatas, upacara tradisional keagamaan pada masyarakat Bali mengandung atribut, simbol-simbol yang sarat dengan nilai luhur budaya yang perlu digali dan dikembangkan. Disamping itu pula Reringgitan, sampian banten juga mengandung nilai-nilai luhur budaya yang perlu digali. Pada tulisan singkat ini, akan dicoba membedah nilai luhur, atau makna yang terkandung dalam beberapa jenis Reringgitan sebagai Pelestarian Budaya.

Reringgitan Sebagai Pelestarian Nilai Luhur Budaya
Berbicara masalah Reringgitan tak boleh lepas dan simbol-simbol yang bermakna, yang mengandung nilai luhur budaya bangsa yang perlu digali dan dikembangkan. Menurut teori Simbolik dan Herbert Blumer mengatakan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki oleh benda tersebut, makna itu ditangani melalui proses penafsiran yang digunakan. Makna seperti itu menekankan pentingnya arti subyektivitas melalui proses penafsiran yang digunakan. Makna seperti itu menekankan pentingnya arti subyektivitas melalui proses penafsiran dan pemahaman yang jelas menempatkan dirinya sebagai pemerhati makna dan berbagai nilai serta gagasan yang abadi balik benda atau tindakan sosial.

Simbol-simbol tersebut juga digunakan sebagai media bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, mengadakan dialog dengan Ida Hyang Widi Wasa untuk memohon perlindungan dan wara nugraha-Nya. Pemikiran diatas digunakan untuk menganalisis Reringgitan yang sarat dengan simbol bermakna yang juga membakukan berbagai nilai luhur budaya bangsa.

Reringgitan sebagai suatu prasarana upakara secara etimologi mengandung arti yang maha suci. Reringgitan yang terdiri dan suku kata Ra yang mengandung maksud Raditya dan Ringgit mengandung patemon Sang Hyang Raditya. Beliau telah menyaksikan segala perbuatan mahluk di dunia ini.

Secara singkat hal tersebut diatas mengandung makna bahwa apapun yang dilakukan terkait dengan upacara dan upakara harus dengan pikiran yang suci dan ikhlas. Nilai dan ide membuat upakara dan membuat Jejahitan (Reringgitan Banten) harus berhati suci dan ikhlas jangan sampai berbicara yang kasar, kotor, manah, dan lain-lain.

Aplikasi dan perbuatan-perbuatan luhur yang diatas dampaknya cukup tinggi bagi kehidupan seseorang, manusia Hindu menjadi orang yang berbudi luhur, taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Reringgitan (Sampian Banten) sangat bervariasi menurut desa, kala, patra, namun setelah penulis mengadakan penelitian tentang reringgitan, namanya berbeda namun inti atau maknanya sama. Seperti contoh sampian peras, juga disebut sampian metangga, sampian tumpeng, dan lain-lain. Sampian terag juga disebut sampian teenan, juga disebut sampian Penyeneng. Makna sampian terag sama yakni sebagai bentuk pikiran kita, tegak dan suci, ikhlas mempersembahkan upakara sebagai rasa syukur kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa.

Beberapa makna simbolik dan reringgitan adalah sebagai berikut:

(1) Reringgitan yang disebut sampian uras juga disebut urassari, ada yang menyebut wadah lengis. Cara membuat juga bervariasi, ada yang membuat silang, ada yang membuat bundar, ada juga yang sederhana yang metangkih uras kojong. Biasanya penggunaan di canang maupun sampian sodaan. Menurut Ida Bagus Sudarsana urassari, sampian itu dibuat menyerupai bentuk wajah sang ayu, rambut teurai. Makna spiritual sampian urassari supaya Rahayu. Sampian Uras ini memiliki makna permohonan kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa kerahayuan juga ada yang menyebutkan lambang Padma Mandala, maknanya memohon keselarasan dan keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
(2) Reringgitan yang berbentuk sampian metangga menurut beberapa tradisi berbeda seperti daerah Batubulan, jenis yang metangga disebut sampian peras, sampian pengambian, sampian tumpeng. Berbeda dengan Badung yang kebanyakan menyebut dengan nama sampian sambutan, sampian ider, buana, sampian tulung jejanganan. Cara membuat bervariasi dan namanya bervariasi namun makna/simbolnya sama. Sampian metangga nampak bertingkat dengan bentuk diatas biasanya lepas dan di bawah baru diakit (diapit). Pada saat nuas, lidi masih kelihatan empat sebagai bahan penyangga. Diatas simbol bhuana agung (sekala) dan atas bermakna sebagai alam Niskala. Penyangganya simbol dan ajaran catur yoga (jnana yoga, karma yoga, bhakta yoga dan raja yoga. Hal tersebut diatas membuktikan Reringgitan merupakan suatu simbol konkret dari ajaran Veda (ajaran suci agama Hindu yang sarat dengan nilai luhur budaya bangsa). Nilai luhur yang terkandung didalam adalah nilai religius yang tinggi, nilai keyakinan terhadap Ida Hyang Widhi Wasa, sebagai pencipta alam semesta ini, sebagai umat harus berbhakti, beryadnya.
(3) Sampian sodaan yang bagus yang berbentuk bundar juga disebut sampian Winda, sampian gebogan. Sampian ini ditaruh diatas buah-buahan dan jaja dipakai dulang atau bokoran.
Menurut Ida Bagus Sudarsana, sampian sodaan yang bundar merupakan penunggalan antara Lingga dan Yoni. Lingga disimbulkan buah-buahan dan jajan kepala lingga sampian Windia dan dulang simbol dari Yoni. Simbol kekuatan Hyang Widhi.
(4) Dalam lontar Yadnya Prakerti, banten (upakara) memiliki tiga arti : (1) sahananing bebanten pinaka raja tiwi; (2) pinaka warna rupaning Ida Battara; (3) pinaka Anda Bhuwana. Arti lambang itu lambang kemahakuasaan Tuhan, lambang alam
      semesta dan lambang diri kita. Ilustrasi banten peras dengan sampian peras merupakan perjuangan dan doa untuk mencapai kesuksesan hidup. Hal ini bermanfaat universal. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sampian tersebut juga merupakan pengejawantahan rasa bhakti umat Hindu terhadap Tuhannya. Sampian sodaan yang melingkar, biasa juga disebut sampian Windha yang punya makna berbeda sesuai dengan fungsinya masing-masing.

SIMPULAN
Beberapa contoh diatas menunjukkan bahwa Reringgitan mempunyai nilai luhur sebagai pelestarian budaya bangsa. Nilai-nilai luhur tersebut adalah:
1. Nilai religius
2. Nilai taqwa terhadap Ida Hyang Widhi
3. Nilai ketulusan
4. Nilai kebersamaan/nampak pada saat ngayah (Nguopin)
5. Nilai bhakti, nilai luhur
6. Nilai keikhlasan
7. Nilai pengorbanan/rela berkorban
8. Nilai kreativitas
9. Nilai estetika (seni), dan lain-lain
Berdasarkan uraian diatas membuktikan bahwa, kecerdasan nenek moyang kita, para Wiku yang kita warisi sekarang sangat sarat dengan pesan moral, mengkonkretkan, mengaplikasi ajaran suci Veda/ajaran suci agama Hindu melalui reringgitan /Jejahitan (banten).

Reringgitan juga amat penting sebagai pelestarian nilai luhur budaya bangsa. Reringgitan juga merupakan suatu keunggulan unsur budaya daerah Bali khususnya sebagai bagian dan kebudayaan nasional.• WHD No. 491 Nopember 2007.

 

 

 
< Prev   Next >
"));