Esensi dan Bentuk

Mutiara Weda – NusaBali, Rabu 28 Januari 2009
Esensi dan Bentuk
Oleh I Gede Suwantana*

Ye’py anya devatâ bhaktâ yajante sraddhayânvitâh
Te ‘pi mâm eva kaunteya yajanty avidhipurvakam
Bhagavad Gita, 9.23

Bagi mereka yang memuja dewa lain dan memujaNya dengan keyakinan,
seseungguhnya  memuja-Ku, wahai putra Kunti, tetapi
mereka melakukannya dengan cara yang salah.

BANYAK sekali penafsiran yang muncul dari sloka ini. Masing-masing penafsir merasa benar tentang tafsirannya sendiri. Kenyataannya memang semua benar, karena teks seperti ini memerlukan dan memberikan ruang yang luas untuk tafsir dan kita mengerti teks ini apabila kita punya tafsir atau mengikuti salah satu tafsir. Kebenarannya bagaimana? Semua benar. Mengapa demikian? Karena setiap orang memiliki kecerdasan dan cara/pendekatan yang berbeda. Benda yang sama kalau dilihat dengan kacamata yang berbeda warna akan kelihatan benda itu menyesuaikan dengan kacamata yang kita pakai. Apakah bendanya berubah? Apakah penglihatan yang ada berubah? Eksistensi melihat, eksistensi benda dan eksistensi subjek yang melihat ada di sana sama, tetapi hasil penglihatan tampaknya berbeda disesuaikan dengan alat yang dipakai melihat.

Yang menjadi persoalan mungkin mengapa salah? Mengapa ada istilah avidhipurvakam? Mungkin analoginya seperti ini: Setetes air dengan lautan esensinya sama H20. Dewa-dewa lain ml katakanlah tetes-tetes air ini. Krishna adalah lautan itu sendiri atau H20 itu sendiri. Krishna menyatakan sesungguhnya mereka memuja-Ku’ dengan indikasi bahwa tidak ada yang lain sesungguhnya, dan yang ada hanya ‘Aku’ - Krishna. Tetes-tetes air itu sesungguhnya tidak berbeda dengan lautan, unsurnya sama, esensinya sama. Ini tidak
diragukan lagi tentang pernyataan Krishna. Kemudian avidhipurvakam muncul dan menjadi benar demikian, saat pernyataan ini dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Orang cenderung hanya berpaku pada tetes-tetes dan melupakan esensinya sebagai lautan. Orang cenderung dangkal dan tidak menemukan eksistensinya.

Atau tafsir yang mungkin, menurut penulis, sarigat keliru adalah kita mengesampingkan bentuk-bentuk yang telah ada dan membuat bentuk baru dan menyatakan bentuk inilah yang benar. Kita memberikan kotak tentang ‘Aku’ dengan skup yang Iebih besar, namun tetap berada di luar bentuk-bentuk yang telah ada dan menyatakan bentuk ‘Aku’ yang baru ini yang paling sempurna daripada yang lain. Sehingga kita mengagungkan lain kelas dua. Tidak salah jika sampal saat ini terjadi perdebatan dan pengklaiman kebenaran atas ke-otentik-an sudut pandang terhadap kitab suci.

Di sini Krishna adalah keseluruhan eksistensi dan Dia dapat dipuja dengan pecahan-pecahan bentuk, karena bentuk-bentuk itu adalah eksistensi Krishna itu sendiri. Krishna adalah yang menjiwai dan pemujaan adalah bentuk-bentuk yang dijiwai-Nya. Saat kita mengerti bahwa melalui bentuk itu kita mampu mengarungi keseluruhannya, maka Krishna menyatakan bahwa mereka sesungguhnya memuja-Ku’ tetapi jalannya salah apabila kita parsial dan melupakan esensinya. Mungkin kita punya bentuk baru, persepsi/perwujudan tentang Krishna yang baru, akan juga tidak ada artinya apabila lepas dan keseluruhannya.

Lalu apakah salah dengan bentuk baru? Tidak salah dan justru, menurut penulis, lebih atraktif hidup ml kalau ada pembaharuan terus-menerus. Hukum alam telah menyatakan bahwa hanya perubahan yang kekal. Makanya esensi sama, bentuknya berubah sesuai dengan kontekstual dan kebutuhan. Seperti di Bali misalnya, ajaran Tri Hita Karana yang sangat idealis yang merupakan spirit pembangunan masyarakat Bali di segala bidang kehidupan, di zaman dulu diaplikasikan dalam bentuk tata ruang (parhyangan, pawongan, palemahan) dengan konsep pemampatan ruang yang masih bisa kita lihat sekarang, tetapi ketika konteks kehidupan berubah, spirit Tri Hita Karana ini mesti ditafsir ulang untuk membentuktata ruang yang baru dengan spirit yang sama. Kelestarian alam mesti terjaga, jalur hijau harus - tetap terpelihara, ruang kosong dan sawah harus tetap utuh, tetapi di sisi lain orang yang memerlukan lahan untuk pembangunan sangat banyak. Maka dan itu untuk mengakomodasi kedua kepentingan yang kekuatannya sama ini, aplikasi atas bentuk dan Tri Hita Karana harus disesuaikan. Kalau digunakan cara yang dulu dengan pemanfaatan ruang ke samping, niscaya, ajaran Tri Hita Karana ke depan akan tinggal kenangan. Ia akan kehilangan esensinya, karena struktur kerangka bangunannya keropos.
*penulis Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta.