Kera Sangeh Kera Huluwatu...

Balipost – Minggu, 20 September 2009
Kera Sangeh Kera Huluwatu...
Nama Bali Berhubungan dengan Gagasan Shakti...

ADA DUA perkampungan kera yang besar di Badung: Sangeh dan Huluwatu. Sangeh
terletak di pedalaman utara, sedangkan Huluwatu di pesisir Selatan. Di atas peta, kedua perkampungan kera itu dihubungkan oleh sebuah garis lurus utara-selatan.
Di dalam kenyataannya keduanya dihubungkan oleh jalan aspal yang makin hari makin sibuk.

Tentu saja, jalan raya itu tidak membuat kedua komunitas kera tersebut saling berhubungan langsung. Tapi jalan itu telah membuat interaksi kedua komunitas itu dengan manusia makin meningkat. Misalnya, bila dahulu para kera itu berinteraksi terbatas dengan pemangku, pemedek, dan penduduk lokal, sekarang mereka sudah fasih berhubungan dengan orang Probolinggo, orang Appeldron, orang Hongkong, orang Bloomington, dan sebagainya.
 
Kera memang cerdas. Mereka cepat belajar menyesuaikan diri dengan orang baru, barang baru, perilaku baru, dan makanan baru. Para kera tidak memusuhi secara instingtif apa yang berbau asing. Para kera itu juga terbukti mampu melestarikan kebiasaan nenek-moyang mereka. Misalnya, melestarikan sistem take and run. Kera pertama-tama mengambil barang orang, dan barang itu akan dikembalikan bila ada tebusan. Dengan cara seperti itu terjadilah interaksi aktif antara masyarakat kera dengan orang-orang pengunjung. Dengan interaksi aktif itu para kera tidak lagi sekadar menjadi objek yang ditonton difoto dan ditinggalkan. Para kera kini memiliki kekuatan berupa posisi tawar berimbang dengan para pengunjung. Dengan power yang dimiliki para kera itu, para pengunjung mau tidak mau mesti respek terhadap para kera.
 
KURANG LEBIH seperti itulah gambarannya. Dari mana para kera itu belajar menaikkan posisi tawarnya? Jelaslah dari para pengunjung itu sendiri. Pada mulanya para pengunjung melemparkan makanan kepada para kera. Pada akhirnya para kera terbiasa menunggu lemparan makanan. Manakala lemparan itu tidak kunjung datang, karena pengunjung tidak ingin lagi melakukannya, maka para kera telah mendapatkan sebuah pelajaran secara tidak langsung, bahwa yang namanya makanan itu adalah hak yang harus direbut.
 
ITU BUKAN pelajaran hanya level teori, tapi pelajaran yang akan berguna kalau dipraktikkan. Para kera ternyata tidak mengalami kesulitan apa pun untuk mempraktikkannya. Keberhasilan latihan merebut makanan yang pertama dilanjutkan dengan yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Maka terjadilah apa yang di kebudayaan manusia disebut transformasi nilai budaya: dari nilai menunggu menjadi nilai merebut. Demikian seterusnya sampai akhirnya para kera itu mempelajari ilmu yang lebih rumit lagi tingkatannya. Misalnya, ketika makanan tidak ada pada diri pengunjung, para kera tahu bahwa dengan menyandera salah satu barang pengunjung mereka akan mendapatkan tebusan berupa makanan. Canggih!
 
SUNGGUH HEBAT proses pembelajaran diri para kera itu. Kera Sangeh dan Kera Huluwatu belajar dari perguruan yang sama: yaitu para pengunjung yang tidak ubahnya seperti guru keliling yang mengajarkan ini itu yang baru kepada yang dikunjunginya. Mungkin para ”guru” itu juga hebat. Terbukti begitu mereka meninggalkan sebuah tempat tujuan wisata, orang-orang di tempat itu sudah mampu mempraktikkan satu pelajaran baru tentang sesuatu yang baru. Guru yang hebat bertemu dengan murid yang juga hebat sungguh menjanjikan sebuah perubahan besar di masa depan.
 
Namun demikian tetap saja ada bedanya antara kera Sangeh dan kera Huluwatu. Sepandai-pandainya kera Sangeh, mereka belum pernah melihat sebuah “negeri” yang bernama laut yang letaknya jauh di Badung selatan sana. Demikian pula sepandai-pandainya kera Huluwatu mereka belum pernah melihat “negeri” bernama Alas Bojog Sangeh yang bercirikan alam pegunungan. Sehingga yang paling hebat tetap saja “para guru” mereka. Karena mereka tahu bukan hanya negeri laut dan negeri gunung, juga mereka tahu negeri bukan laut bukan gunung, bukan panas bukan dingin, bukan lahar bukan salju.
 
Hubungan aneh macam apa sebenarnya yang ada antara masyarakat kera itu dengan guru-guru mereka? Ketika para pengunjung itu datang, mereka sama sekali tidak bermaksud datang sebagai guru yang akan mengajarkan para kera. Ketika mereka pergi mereka pun tidak berpikir telah meninggalkan para murid di tempat itu. Yang aneh adalah hubungan yang tidak seimbang itu. Para kera itu seakan jatuh bangun meniru para guru tapi yang ditirunya ternyata tidak seperti mereka pikirkan (kalau kera bisa berpikir).
 
LALU APA? Entahlah. Dalam cerita Tantri ada kisah harimau yang belajar pada sapi. Dalam batas tertentu harimau memang bisa meniru sapi. Pada mulanya harimau itu ikut-ikutan vegetarian ala sapi. Pada akhirnya harimau itu gagal. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia bukan sapi. Pesan moral dari cerita Tantri itu barangkali harimau hendaknya menjadi harimau dan sapi hendaknya menjadi sapi. Janganlah seekor harimau karena satu dan lain hal ingin menjadi seperti sapi.
 
Tapi kera Sangeh dan kera Huluwatu tentu tidak seperti harimau itu. Mereka tetap kera seperti leluhur dan nenek moyang mereka yang juga kera. Para pendahulu mereka sangat dibanggakan oleh bangsa manusia karena Shakti dan Bhakti. Salah satu tokoh kera shakti bernama suBali.
 
SuBali berbeda dengan Bali. Karena Bali adalah nama satu Raksasa yang memiliki satu kelebihan dibandingkan raksasa pada umumnya. Ia raksasa yang baik, itulah kelebihannya. Sebaik-baiknya raksasa ia tetap raksasa. Entah Bali itu raksasa entah ia kera yang jelas nama Bali dalam dua kasus itu berhubungan dengan gagasan tentang Shakti. •IBM. Dharma Palguna.