Terang di Selat Lombok……

Apresiasi – Balipost Minggu, 16 Agustus 2009.
Terang di Selat Lombok……
Terowongan Rahasia di Dasar Rumah Maya ……

Dalam bahasa Bali selat itu berarti jarak ruang yang memisahkan dua tempat. Jarak ruang itu bisa berupa gunung, laut, desa, pasar, kuburan, Pura Dalem dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia arti selat itu juga jarak ruang yang memisahkan dua tempat, namun mengkhusus pada laut yang memisahkan dua pulau yang berdekatan. Misalnya Selat Lombok adalah laut yang memisahkan pulau Bali dengan pulau tetangganya Lombok.
 
Kata selat dimaknai jarak yang memisahkan dua tempat. Bali dipisahkan oleh sebuah selat dengan Lombok. Begitulah orang-orang Karangasem dipisahkan dengan anggota keluarganya yang ikut rombongan Raja dan Pedanda pergi ke Lombok beberapa abad lalu. Sampai sekarang pun orang tetap berpikir bahwa selat itu memisahkan. Akan terdengar aneh bila ada orang mengatakan bahwa selat itu bukan memisahkan tapi menghubungkan dua tempat. Buktinya Bali dan Lombok dari dulu sampai sekarang berhubungan dan dihubungkan oleh selat itu. Pendapat ini akan dianggap aneh karena kebanyakan orang berpikir standar seperti ini: Selat itu memisahkan dan perahu (baca: Ferry) itu menghubungkan Perahu, dan sejenisnya dalam klasifikasi standar masuk dalam sarana perhubungan.
 
Sulit Memutar pikiran dari pikiran yang mengatakan “selat itu memisahkan” menjadi pikiran yang mengatakan ”selat itu menghubungkan”. Karena ada sejarah panjang penggunaan dan pemaknaan kata selat. Sejarah penggunaan dan pemaknaan kata selat itu sudah mendarah-daging berurat-bersumsum dalam tubuh dan pikiran orang. Sama sulitnya bila hendak membaca ulang sebuah sejarah dengan cara terbalik. Maksudnya, tidak lagi kita membaca kisah para pemenang dan kemenangan-kemenangan mereka, tapi mencoba memahami “kebenaran” dari dimensi orang atau kelompok orang yang dikalahkan. Memutar pemahaman kita tentang sejarah, sama sulitnya dengan memutar resepsi kita tentang makna kata. Keduanya sulit karena kita tidak terlatih untuk memutar pikiran. Ajaran memutar pikiran masih terbatas pada level filosofi dan kebanyakan mistis. Kita belum menerapkan ajaran itu dalam memandang ini dan itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. Satu contoh pertanyaan sederhana: “apakah hidup ini menghubungkan kelahiran dengan kematian atau memisahkan keduanya?”
 
Hampir semua orang akan mengatakan bahwa hidup ini menghubungkan kelahiran dengan kematian. Tanpa harus memeras pikiran, orang-orang tahu dan merasakan bahwa lahir-bidup-mati adalah sebuah rangkaian yang sambung-menyambung tanpa ada apa pun yang sejatinya memisahkan. Tidak ruang (desa). tidak waktu (kala), tidak orang (patra) yang memisahkan satu-kesatuan itu.
 
Sebaliknya orang akan langsung membantah bila dikatakan bahwa hidup ini memisahkan dua peristiwa, yaitu lahir dan mati. Orang bisa merasakan bahwa pernyataan itu tidak benar. Sama tidak benarnya bila ada yang mengatakan bahwa waktu memisahkan awal dengan akhir. Sama tidak benarnya dengan pernyataan bahwa ruang memisahkan satu tepi dengan tepi satunya lagi.
 
Itu terjadi barangkali karena hidup ini diibaratkan seperti sebuah titi (jembatan) yang menghubungkan lahir dengan mati. Menjalani hidup sehari-hari diumpamakan seperti berjalan menempuh titi itu. Suka duka ancaman dan harapan menjadi seperti bunga-bunga perjalanan itu, Ada penempuh yang tiba dengan selamat sampai di ujung hidup. Ada yang tiba di ujung hidup itu dengan badan dan batin compang-camping. Dan tidak sedikit yang tamat di atas titi.
 
Di Bali ada ungkapan Titi Ugal-Agil (jembatan oleng) untuk menggambarkan sungguh tidak gampang sejatinya perjalanan dari lahir ke mati ini. Di ujung Sumatera sana saya pernah mendengar ungkapan Titian Rambut Dibelah Tujuh. Ungkapan yang diambil dari sebuah kitab itu menggambarkan betapa tidak mudahnya perjalanan terutama menjelang sampai di ujung hidup ini.
 
Tapi jembatan di atas hanyalah sebuah metafora. Metafora itu terasa pas penggunaannya dalam sastra. Apakah kita memerlukan metafora jembatan untuk melihat bahwa selat itu juga menghubungkan dua pulau?
 
Selat Lombok yang memisahkan Padangbai dengan Lembar adalah Alam dewasaksi. Dan orang yang duduk menunggu Ferry di salah satu tempat itu adalah Tubuh manusia-saksi. Orang yang melihat Alam dan Tubuh berbeda dengan Sastra dan Pikiran mesti menerima hidup seperti di dua dunia.
 
“Selat” apakah yang bisa menghubungkan kedua dunia itu? Ternyata Selat itu tidak tersedia begitu saja. Selat seperti itu harus diusahakan terus-menerus, seperti menggali terowongan rahasia di dasar sebuah rumah mayat. •IBM Dharma Palguna.