Pengantar Weda

G. Pudja SH, MA, 1981

Penulisan Weda ini dimaksudkan sebagai bahan informasi mengenai berbagai aspek yang menyangkut pengertian Weda. Judul yang kami pilih Weda karena bahan yang kami bahas adalah hal-hal yang berhubungan dengan Weda...

DAFTAR – ISI

PENGANTAR
PENGANTAR CETAKAN II
I.Pendahuluan
II. Apakah Weda Itu
III. Sapta Rsi Penerima Wahyu
1.  Grtsamada
2.  Wiswamitra
3.  Wamadewa
4.  Atri
5.  Bharadwaja
6.  Wasista
7.  Kanwa

IV. Weda Sebagai Sumber Hukum Hindu
A. Pengertian Umum
1.   Manawadharmaçastra
2.  Sarasamuccaya
B. Weda sebagai sumber hukum bersifat memaksa

V.      Kodifikasi Weda
A. Sruti
B. Smrti
C. Kelompok Wedangga
D. Kelompok Upadewa
Ad.1. Jenis Itihasa
Ad.2. Jenis Purna
Ad.3. Arthasastra
Ad.4. Ayurweda
Ad.5. Gandharwaweda

VI.     Nibandha

VII.    Penyebaran Ajaran Weda

VIII.  Petunjuk Penggunaan Weda

BUKU BACAAN
Daftar Nama-nama Rsi yang disebut Di dalam Weda


PENGANTAR

Om awighnam astu !
Penulisan Weda ini dimaksudkan sebagai bahan informasi mengenai berbagai aspek yang menyangkut pengertian Weda. Judul yang kami pilih Weda karena bahan yang kami bahas adalah hal-hal yang berhubungan dengan Weda.              

Sampai saat ini pengertian orang-orang awam tentang Weda masih kabur. Umumnya mereka beranggapan bahwa yang dimaksud dengan Weda adalah sebuah buku yang merupakan kitab suci Hindu yang isinya hanva mantra-mantra untuk doa. Bahkan kadang-kadang penilaian umum mengenai Weda sebagai kitab yang tidak memihak ajaran ilmiah sebagai buku yang hanya dikarang oleh pendeta-pendeta.

Untuk mengungkap berbagai aspek pengertian Weda dan mendudukkan peranan Weda sebagai sumber ajaran Hindu. buku kecil ini kami susun sebagai bahan informasi yang mungkin akan bermanfaat untuk direnungkan. Dengan pengetahuan ini besar harapan kami. Kesimpang-siuran dan kesalah-pahaman akan dapat dikurangi.

Penyusunan buku kecil ini kami maksudkan untuk mengatasi kekurangan akan bahan acuan yang diperlukan dibidang ilmu agama. terutama dibidang “Hindu logi”. Kami  yakin betapapun kecilnya buku ini sumbangan ini akan bermanfaat pula artinya terutama didalam serba kekurangan itu. Dengan penyusunan ini maka kedudukan dan hasil-hasil karya terjemahan dari berbagai Weda dan peninggalan-peninggalan berupa rontal-rontal yang masih tersimpan di Bali akan dapat diapresiasi secara lebih tepat.

Didalam menyusun catatan-catatan ini. kami berusaha mencari aspek yang menjadi dasar hukum sehingga dengan demikian apa yang dirasakan sebagai kekurangan dimasa-masa lalu akan dapat diatasi sejauh mungkin. Kami menyadari bahwa didalam penulisan ini masih banyak kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan. dalam penyajian yang serba kekurangan ini. kami mengharapkan akan adanya kritik serta pandangan-pandangan untuk penyempurnaan isinya dimasa masa mendatang.

Perlu pula kami ketengahkan bahwa dorongan yang menjadikan terwujudnya penulisan ini. adalah karena desakan-desakan dari Parisada Hindu Dharma dan teman-teman yang sukar memperoleh kesempatan membaca Weda secara mudah. Apalagi bahasa Weda masih asing sedangkan kebutuhan mengenai informasi mengenai tentang Weda itu masih simpang siur. Dengan penyajian ini. diharapkan selanjutnya akan terdapatnya keserasian dan persamaan pandangan yang benar-benar dirasakan terutama bagi masyarakat Hindu yang sedang membutuhkan pembinaan dan bimbingan.

Jakarta, 4 April 1975
Penulis,

Gde Pudja, MA.


PENGANTAR CETAKAN II

Dalam cetakan II ini tidak banyak mengalami perubahan
Namun harus kami kemukakan bahwa untuk penyempurnaannya disana sini telah pula diadakan perbaikan-perbaikan, baik yang bersifat perbaikan redaksi kalimat maupun penambahan yang dianggap perlu.

Demikian pula perubahan huruf Ç ke Ś walaupun bukan berarti perbaikan namun dalam tulisan ini diharapkan untuk membantu mempermudah para pemakai terutama adik-adik pelajar sehingga akan lebili efektif dalam arti teknis.

Semoga penyempurnaan itu akan lebih bermanfaat adanya.

 

Jakarta, 5 Pebruari 1981.

Penulis,

Gede Pudja, MA, SH.


I.  PENDAHULUAN
Sejak mulai diadakan riset tentang Hinduisme telah banyak penemuan-penemuan, dapat mengungkap ajaran-ajaran Hindu. baik sebagai agama, sebagai kebudayaan maupun sebagai filsafat.

Sampai ditahun 1899 pengajaran Weda masih dilakukan secara lisan, dan mulut-kemulut, walaupun Weda itu sendiri telah berumur ribuan tahun. Terpeliharanya Weda sejak diwahyukan antara 2500 — 1500 S.M. di 1899, meliputi 4000 tahun merupakan sejarah yang cukup lama.

Penelitian menunjukkan bahwa walaupun Weda telah berumur ribuan tahun, 1) otensitasnya masih dapat dipercaya. Yang berobah didalam pengembangannya adalah penafsirannya dan karena itu timbullah kecenderungan antara para Indolog untuk membedakan pelaksanaan ajaran Weda menjadi dua golongan besar, yaitu antara :

  • Hindu tradisional yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun-temurun menurut tradisi.
  • Hindu menurut Weda yang dianggap sebagai satu aliran yang ingin mengembalikan sebagaimana tercantum didalam (Weda yang diwahyukan). “Jadi Hindu menurut,, Çastra Drsta”, 2) untuk membedakan dengan Hindu tradisionil yang disebut menurut “Loka drsta” atau “Desa drsta” atau ,,Purwa drsta” dan mempertemukan ajaran-ajaran yang bersumber pada çastra drsta dengan Deça (loka) drsta.

    1). A history of Sankrit Literature.Macdonell. Dr. AA. edisi tahun 1900.
    2). Drsta supaya dibaca, dresta’

Pandangan ini didasarkan atas kenyataan dimana ayat-ayat Weda diperkirakan ada yang hilang atau terlupakan sehingga mau tak mau peranan penafsiran itu tak dapat dikecilkan artinya.

Untuk mendapat gambaran tentang pokok-pokok pengertian Weda. luas serta kedudukan Weda bagi masyarakat Hindu, berikut akan dikemukakan dengan singkat segala aspek mengenai Weda itu. Mudah-mudahan penjelasan ini akan bermanfaat dan membuka lembaran baru dalam sejarah perkembangan Weda itu. Weda bukan untuk dirahasiakan walaupun isinya penuh bersifat rahasia. ini sesuai dengan apa yang dinyatakan didalam kitab Yajur Weda XV. 18.

Yathemam wacam kalyanim awadini jenebhyah.
brahma rajyanyabhyam cudraya caryaya ca swaya caranaya ca.

Artinya:
Demikianlah semoga hamba dapat menyampaikan sabda-sabda suci (Weda) ini kepada masyarakat pada umumnya. baik kepada Brahmana, kepada Ksatria. kepada Waisya dan kepada Sudra, baik kepada golongan saya sendiri maupun kepada orang lain sekalipun.

Dari sloka diatas jelaslah bahwa ajaran Weda bukan hanya untuk golongan sendiri, bukan untuk Hindu saja, tetapi terbuka pula kepada semua golongan dengan demikian, Weda bukan hanya untuk diketahui oleh orang-orang dwijati tetapi siapapun dapat mendalami dan mengajarkannya. Untuk mengetahui seqala aspek Weda itu, berikut akan kami bahas segala sesuatu yang berhubungan dengan Weda itu.

 

II.  APAKAH WEDA ITU

Pengertian

Menurut arti kata Weda berarti pengetahuan. Tetapi bila ditulis dengan huruf ã (panjang) berarti kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu. Jadi Weda adalah kata-kata yang diucapkan, dinyanyikan atau dilagukan. Dan pengertian ini akhirnya di pergunakan istilah ,,Mantra”.

Manu didalam ajarannya sebagaimana yang ditulis oleh Bhagawan Bhrgu memberi keterangan tentang arti kata Weda secara limitatip, disebut dalam Bab II, 10.

Çrutis tu Wedo wijneyo dharma çastram tu wai smrtih,
te sarwartheswam immamsye tãbbyãm dharmo hi nirbabhau.
(M. II. 10).

Artinya :
Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula yang dimaksud Smrti, adalah dharmaçastra. kedua ini tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanva adalah kitab suci yang menjadi sumber dari pada Dharma (agama Hindu).

Dari ungkapan ini maka yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab suci yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Demikian pula sumber hukum suci. Jadi Weda adalah kitab suci. Lebih jauh Dr. M. Winternitz menegaskan bahwa kitab suci Weda, tidak terdiri dari satu buku saja melainkan terdiri dari banyak buku 2). Hal ini dibenarkan pula baik oleh tradisi maupun kenyataan sebagai yang diperoleh dari hasil riset.

Banyak kitab-kitab dalam Weda, Tiap-tiap Weda merupakan satu kesatuan materi yang dihimpun secara sistematik menurut umur, isi dan kegunaannya. Istilah ,,samhita” yang dipergunakan untuk menyebutkan kelompok Weda itu karena kenyataannya. Weda terdiri dari banyak buku, yang penggolongannya akan diuraikan didalam penjelasan-penjelasan berikut nanti.

Bahasa dalam Weda

Sebelum Weda mulai diselidiki, Bhagawan Panini mulai menyusun tata bahasa Sanskerta, pada th. 700 SM. dan menamakan bahasa yang dipakai didalam Weda dengan nama ,,Daiwi Wak” (Bahasa Dewata). Baru dalam tahun 200 S.M. bahasa itu mulai dikenal dengan nama Sanskerta. setelah Patanjali menulis kitab Bhasa, pada abad II S.M. Nama Sanskerta yang. untuk pertama kali diperkenalkan oleh Bhagawan Patanjali adalah untuk menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum dalam pergaulan di Bharatawarsa.

Kemudian bahasa itupun dibedakan pula dari bahasa Pali, bahasa yang dipakai oleh orang-orang Magadhi didalam penyebaran agama Buddha. Setelah Bhagawan Panini berhasil menyusun tata bahasa Sanskerta, jejak beliau diikuti pula oleh Bhagawan Kãtyayana yang lebih populer dikenal dengan Bhagawan Wararuçi pada abad V S.M. Beliau menulis keterangan-keterangan tambahan atas karya Panini disamping sebagai penulis Sarasamuccaya, yang karyanya telah diterjemahkan di Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno pada waktu jaman keemasan Hindu di Jawa dan telah pula dialih bahasakan kedalam bahasa Indonesia tahun 1970.

Sejarah pertumbuhan bahasa Sanskerta setelah lahirnya kitab Tata bahasa Panini itu kemudian membantu mempercepat proses pertumbuhannya sehingga dalam pertumbuhan abad VIII. Sanskerta menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Kesusasteraan agama lahir yang kesemuanya memperindah gaya bahasa dan membantu penyebaran ajaran agama bahkan sampai ke Indonesia.

Kitab-kitab agama di Indonesia semuanya dalam bahasa Sanskerta. Tetapi karena di Indonesia sudah terdapat bahasa tersendiri, karena itu untuk menjelaskan pokok-pokok ajaran agama itu penjelasannya dilakukan kedalam bahasa kawi. Dan mantra-mantra dan kitab-kitab agama yang kini masih tersimpan dalam bentuk lontar-lontar, umumnya terdiri dari dua bahasa, yatu bahasa Sanskerta dan bahasa Kawi atau Jawa kuno. Text Sanskerta adalah naskah aslinya sedangkan bahasa kawinya adalah merupakan terjemahan atau terjemahan berikut komentarnya. Sebagai contoh, misalnya Kitab Sarasamuccaya, Sanhyang Kamahayanikan dll. Sistem penyajiannya umumnya sama. Kecuali naskah-naskah gubahan bebas yang bersifat sastra, baik sebagai nibandha sastra misalnya Kekawin Ramayana, Gathokacasraya, Bharatayuddha dll., semuanya ditulis dalam bahasa Kawi yang banyak meminjam bahasa Sanskerta itu.

Karena itu. didalam mempelajari Weda itu, pengenalan bahasa Sanskerta, bahasa Kawi dan bahasa Jawa Kuno sangat diperlukan. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengungkap isi Weda itu nanti. Penyelidikan bahasa Sanskerta oleh bangsa-bangsa Barat telah dimulai sejak abad ke XVI. Ahli-ahli bangsa Barat yang berkecimpung dalam bahasa sanskerta a.l. Dr. Max Muller, Weber, Buhler, Sir William Jones. H.T. Colebrooke, Keilharn, Grimm, Grassmann, Jesperson. Wakernagel, C. Wilkin, A. Roger dsb.nya. Demikian pula tokoh-tokoh nasional Indonesia seperti Yogiswara, Danghyang Nirartha, Bubuksah, Panuluh, Sedah pada zaman keemasan Hindu dan dewasa ini tampil nama-nama seperti Dr. Purbacaraka (alm), Dr. Hariyati Subadio, Tjok. Rai Suddhartha dll., patut diketahui sebagai tokoh didalam bahasa Sanskerta.

1). Bhagawan Medhaditi menyatakan bahwa Weda adalah ucapan suara yang diatur menurut urutan.
2). A history of indian Literature vol. 1, part I. pg. 4.5. oleh Winternitz, Dr. M. Edisi University of Calcutta, 1959.

Cara Weda Diwahyukan

Tidak ada satu uraian tepat bagaimana wahyu itu diturunkan kecuali melalui penafsiran atau keterangan tak langsung dari berbagai ulasan yang dapat kita himpun dari berbagai buku. Perlunya mengetahui bagaimana Weda itu diwahyukan karena dijelaskan pada mulanya haliwa Weda adalah Wahyu Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu dan kebenaran akan Wahyu itu tidak boleh dibantah lagi. Karena Weda itu adalah Wahyu, maka adalah wajar pula kalau kita bertanya dan mencari jawahan atau penjelasan yang dapat mengungkapkan bagaimana wahyu itu diturunkan.

Salah satu cara penjelasan yang dapat dikaji dalam memberi ulasan tentang turunnya wahyu melalui tafsiran dan keteranganketerangan yang dapat diperoleh dan Weda itu pula. Yang penting yang harus diyakini dan diimani dalam tahap pertama ialah adanya peranan mediator antara Tuhan dengan penerimanya, yaitu para Maha Resi, dimanan dewa Brahma sebagai dewa SABDA dinyatakan menyampaikan kata-kata itu kepada penerimanya. Ada berbagai cara atau proses yang dapat kita jumpai tentang bagaimana Wahyu itu sampai kepada Maha Resi (Nabi).

  • Uraian yang pertama menjelaskan bahwa wahyu itu dimasukkan langsung kedalam pikiran orang itu atau memasukkannya dalam-dalam ke dalam hatinya. Kata-kata itu memberi kesan dan membentuk rupa atau keadaan yang kemudian menemukan bentuknya berkembang dalam pikiran.
  • Dapat pula wahyu itu membentuk kesannya dengan melalui contoh atau perintah langsung yang dilakukan oleh Dewa-Dewa yang dinyatakan Dewa-dewa itu memperlihatkan dirinya dalam berbagai bentuk manusia biasa sebagaimana dapat kita tafsirkan dalam uraian Kitab-kitab Purana.

Ajaran yang diberikan oleh Dewa-dewa itulah yang akhirnya dihukukan sebagai ajaran sabda Tuhan karena sabda itu seridiri adatab sabda Dewata (Daiwi Wak).

  • Disamping itu wahyu dikatakan diturunkan seperti suara gemanya lonceng. Gema atau AUM itulah yang membentuk rupa yang dalam aksara dikenal sebagai OMKARA atau disebut SWARA NADA. Suara nada inilah yang merupakan gemerencingnya suara yang melahirkan kata-kata yang memberi petunjuk mengenai arti dan makna suara-suara itu sendiri. Cara ini yang paling sulit dalam ilmu dan karena itu bagaian ini pula yang dinyatakan hagian yang paling rahasia.
  • Dewa-dewa yang memperlihatkan dirinya dalam berhagai bentuknya yang mulia. Kejadian ini agak berbeda dari proses yang disebut dalam uraian no. 2 diatas karena dalam uraian no. 2 diatas, dewa-dewa dalam manifestasinya berbentuk manusia biasa. Penggambaran dalam turunnya wahyu seperti dalam kejadian ini, hanya dilukiskan sebagaimana manusia secara impiris secara langsung berhadapan dengan Dewa yang akan menyampaikan pewarah-warahnya kepada si penerimanya. Contoh cara pelukisan begaimana Arjuna menerima ajaran dari Dewa yang dikatakan pula dalam Weda bahwa Siwa tidak lain dari pada dewa Brahma pula.

“SAPTA RSI PENERIMA WAHYU”

Sapta resi adalah tujuh Rsi. Sapta artinya tujuh dan resi artinva Pendeta.
Sapta resi ini termasuk golongan Wipra yang dianggap sebagai Nabi pènerima Wahyu yang pertama didalam Weda (Rg. Weda). Istilah resi tidak sama artinya dengan Pendeta, walaupun kadang-kadang diartikan demikian seperti terdapat dibeberapa daerah.

Seorang resi mempunyai sifat-sifat tertentu dan jabatan tertentu. Ia adalah pendeta dan juga adalah sasterawan. Ia adalah Nabi. Jadi sukarlah untuk mengatakan kedudukan Resi yang sebenarnya, sedangkan dewasa ini Rsi adalah pendeta. Oleh karena itu untuk membedakan arti kata Resi sekarang dengan Resi jaman dahulu biasanya digunakan istilah Maha Resi, yang artinya Resi yang agung dan utama melebihi Resi-resi yang lainnya.

Dalam hubungan ini Ia adalah Nabi dan ialah yang menerima Wahyu. Tujuh Resi ini merupakan Resi-resi yang paling banyak disebutkan namanya. baik sebagai Nabi maupun Sasterawan. Ketujuh itu merupakan kelompok-kelompok keluarga. Daripadanyalah semua sloka-sloka yang terdapat di dalam weda ini dianggap sebagai sumbernya sebab dialah yang menerima pertama kali melalui Dewa Brahma sebagai Malaikat yang menyampaikan sloka itu.

Adapun ketujuh keluarga Maha Resi itu adalah:

  • Grtsamada
  • Wiswamitra
  • Wamadewa
  • Atri
  • Bharadwaja
  • Wasistha
  • Kanwa

Untuk mengetahui kedudukan serta peranan dan ketujuh Maha Resi itu dalam rangkaian turunnya Wahyu itu, berikut ini akan kami uraikan masing-masing dan mereka sebagai berikut

GRTSAMADA

Maha Resi Grtsamada adalah maha Resi yang dihubungkan turunnya sloka-sloka Weda, Rg. Weda, terutama mandala II. Hanya sayangnya sejarah kehidupan Maha Resi Grtsamada tidak banyak diketahui. Dari beberapa cukilan kita ketahui bahwa beliau adalah keturunan dari Sunahotra dari keluarga Angira. Anehnya didalam catatan lainnya kita jumpai bahwa Grtsamada lahir dari keluarga Bhrgu sehingga dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa nama Grtsamada sejarahnya tidak dapat diketahui dengan pasti. Beliau dikatakan putra Senaka, salah seorang Maha Resi terkenal pula pada zaman itu. Bahkan didalam kitab Mahabharata terdapat cerita yang menyebutkan bagaimana Maha Resi Senaka merupakan Maha Resi terhormat dalam sejarah Hindu. Grtsamada adalah keturunan dari Senaka yang terkenal ini.

Adapun Sunahotra dikatakan juga kelompok keluarga Bharadwaja keluarga mana juga terkenal sebagai Maha Resi penerima Wahyu.

Dari uraian ini ada tanda-tanda yang membuktikan bahwa Grtsamada adalah anggota keluarga yang sama dengan Maha Resi Bharadwaja yang kemudian banyak dihubungkan dengan nama-nama Bhagawan Bhrgu. Keluarga Bhrgu ini adalah keluarga yang namanya banyak disebut-sebut. Dari Grtsamada lahir putra bernama Kurma. Lebih dari pada itu tentang cerita keluarga ini tidak banyak diketahui kecuali dikatakan bahwa ada pula terdapat sloka-sloka yang diturunkan melalui Putra-putra beliau.

WISWAMITRA

Wiswamitra adalah Maha Resi yang kedua yang banyak disebut-sebut. Dan catatan yang ada diduga beliau menerima Wahyu yang kemudian dihimpun dalam Weda. Seluruh mandala III diduga berasal dari keluarga Maha Resi Wiswamitra.

Kitab mandala III ini terdiri atas yang terdiri atas beberapa pasal. Ada pula yang mengatakan bahwa diantara pasal-pasal itu diturunkan melalui Kusika putra dan Maha Rsi Isiratha. Cerita lain mengemukakan bahwa Wiswamitra adalah putra Musika. Karena itu dapat diduga bahwa sloka-sloka Weda mandala II ini ada yang diturunkan sebelum Wiswamitra yang kemudian oleh Wiswamitra menggabungkannya dengan sloka-sloka yang diterima olehnya dalam satu mandala.

Hubungan antara ketiga nama ini menunjukkan bahwa antara Isiratha dan Wiswamitra adalah satu keluarga.

Ada pembuktian lain yang menunjukkan adanya sloka-sloka yang telah diturunkan melalui Prajapati sedangkan Prajapati dikatakan putra dan Wiswamitra. Sayangnya seluruh sloka-sloka keluarga Wiswamitra tidak banyak diketahui. Kalau kita perhatikan dua sukta terakhir ada petunjuk yang menunjukkan bahwa mantra-mantra itu diturunkan melalui Maha Resi Yamadagni, sedangkan hubungan antara Maha Resi Yamadagni dengan maha Resi Wiswamitra tidak banyak diketahui, sehingga sulit untuk memastikannya. Hal lain yang perlu diketahui tentang Wiswamitra ialah sehubungan dengan kedudukan Wiswamitra bukan sebagai Brahmana, tetapi sebagài Kesatria atau golongan penguaasa yang kemudian terkenal sebagai Maha Resi. Dalam sejarah agama Hindu nama Wiswamitra banyak disebut-sebut.

WAMADEWA

Wamadewa dihubungkan dengan sloka-sloka dalam Mandala IV didalam sloka-sloka Rg. Weda itu. Hanya sayang riwayat hidup Wamadewa banyak diketahui. Hampir semua mantra-mantra yang terdapat dimandala IV dikatakan diterin oleh Wamadewa. Hanya dinyatakan salah satu dari pada mantra yang terpenting yaitu Gayatri tidak terdapat didalam mandala IV tetapi diletakkan di Mandala III.

Didalam cerita dikatakan bahwa Malia Resi Wamadewa telah mencapai penerangan sempurna sejak masih berada dalam kandungan ibunya. Diceriterakan bahwa semasih dalam kandungan Wamadewa berdialog dengan malaekat Indra dan Aditi. Rupanya ceritera tentang dialog ini dihubungkan dengan kedudukan Wamadewa yang telah dianggap mencapai kesucian, sehingga Wamadewa dilahirkan tidak melalui saluran biasa. Hanya itulah ceritera yang kita peroleh tentang Wamadewa sebagai Maha Resi.

ATRI

Maha Resi Atri banyak dirangkaikan dengan turunnya sloka-sloka yang dihimpun dalam Mandala V. Tetapi sebagai Maha Resi, Atri tidak banyak dikenal. Ada banyak dugaan yang membuktikan bahwa nama Atri dan keluarganya banyak dirangkaikan dengan turunnya wahyu-wahyu. Nama Atri juga dihubungkan dengan keluarga Angira.

Nama-nama yang banyak disebutkan didalam Mandala ini adalah, Dharuna, Prabhuwasu, Samwarana, Ghaurawiti. Putra Sakti dan Samwarana, putra Prájapati. Didalam mandala ini terdapat 87 Sukta. Däri 87 ini 14 sukta diturunkan melalui Atri sedangkan Lainnya diturunkan melalui keluara Atri Dalam catatan yang ada, anggota keluarga Atri yang dianggap sebagai penerima Wahyu.

BHARADWAJA

Mandala VI tergolong himpunan sloka-sloka yang diturunkan melalui Maha Resi Bharadawja. Buku ini memuat 75 sukta.

Menurut otensitasnya tampaknya lebih tua dari buku yang ke V, tetapi dalam urutan ditetapkan sesudah buku ke V.

Hampir seluruh isi mandala VI ini dikatakan kumpulan dari Bharadwaja, hanya sedikit saja yang diduga turun dari keluarganya, antara lain disebut nama Sahotra dan Sarahotra.

Nama-nama lainnya seperti Nara, Gargarjiswa, yang merupakan keluarga dari Bharadwaja termasuk pula sebagai penerima wahyu.

Diceriterakan Bharadwaja adalah putra Brhaspati. Akan tetapi kebenaran tentang cerita ini belum dapat dipastikan, karena disamping nama Bharadwaja terdapat pula nama Samyu yang dianggap sebagai putra Brhaspati, sedangkan hubungan antara Samyu dan Bharadwaja tidak diketahui.

WASISTA

Seluruh buku ke VII dianggap merupakan himpunan yang diturunkan melalui Maha Resi Wasista, atau keluarganya. Putra Maha Resi Wasista bernama Sakti. Dari catatan yang ada seperempat dari mandala VII diturunkan melalui putranya. Tentang keluarga Wasista tidak banyak kita kenal. Didalam Mahabharata nama Wasista sama terkenalnya dengan Wiswamitra. Didalam ceritera itu Maha Resi Wasista bertempat tinggal di hutan, “KAMYAKA” ditepi sungai Saraswati.

KANWA

Maha Resi Kanwa merupakan Maha Resi yang ke 7 yang banyak disebut-sebut namanya. Maha Resi ini dianggap penerima wahyu yang dihimpun kemudian yang merupakan buku yang ke VIII yang isinya macam-macam.

Buku ke VIII ini sebagian besar memuat sloka-sloka yang diturunkan melalui keluarga Kanwa sedangkan Maha Resi Kanwa sendiri menerima sebagian kecil saja. Maha Resi Kanwa inilah yang ceriteranya hanyak disebut-sebut didalam kisah cintanya Sakuntala, sebagaimana diceriterakan sastrawan Kalidasa. Disamping nama Kanwa terdapat pula Bhagawan Kasyapa putra Maha Resi Marici. Maha Resi Kanwa sendiri berputra Praskanwa. Disamping sloka-sloka yang seolah-olah tiap-tiap mandala itu merupakan kelompok sendiri, yang sulit ditentukan adalah mandala-mandalanya. Disamping itu masih ada banyak nama-nama yang dihubungkan dengan Mandala VIII ini seperti Gosukti, Aswasukti, Pustigu, Bhrgu, Manu Waiwasa Nipatithi dsbnya.

Nama-nama Maha Rsi lainnya
Mandala satu merupakan kelompok mini yang memuat sloka-sloka yang turun dari berbagai famili. Boleh dikatakan didalam mandala satu ini banyak nama-nama keluarga. Mandala ini yang tidak tergolong keluarga. Maha Resi itu. Ini tidak berarti bahwa sloka-sloka itu tidak dikesampingkan, karena bagaimanapun juga sloka-sloka ini adalah Wahyu yang harus dihimpun dan dipelihara. Maha Resi Sunahsepa adalah putra angkat dari Maha Resi Wiswamitra.

Disamping nama-nama itu terdapat pula nama-nama golongan putra Rahugana dan Nodha dari Gotama. Nama Maha Resi lainnya Kaksiwan putra dari Dhirgatama, sedangkan disamping Dhirgatama terkenal pula nama Maha Resi Agastya, yang namanya tersebut didalam Mandala I.

Keluarga Maha Resi inilah yang banyak disebut-sebut namanya di Indonesia. Adapun mandala 9 dan 10 terkenal karena didalam mandala inilah dasar-dasar kefilsafatan kerohanian yang banyak diungkapkan terutama bagian mengenai Purusa Sukta, Hiranyagarbha, yang diceriterakan sebagai sloka yang diturunkan melalui Bhagawan Narayana, Prajapati dan Hiranyagarbha, putra Prajapati.

Menurut kitab-kitab Purana, kelompok para Maha Resi itu banyak. Tiap-tiap masa Manu ada Sapta Resinya sehingga jumlahnyapun banyak pula. Di samping pembagian kelompok Maha Resi menurut Masa Manu (Manwantara) merekapun dikelompok-kelompokkan lebih jauh ke dalam beberapa kelompok ahli dengan gelar mereka masing-masing, menurut Puranic Encyclopedia, 1975, yaitu :

  • Kelompok Brahma resi (Brahmarsi)
  • Kelompok Dewa Resi (Dewarsi)
  • Kelompok Raja Resi (Rajarsi)

Penelitian lebih jauh nama-nama kelompok yang dapat kit abaca dari berbagai Purana disebutkan nama-nama kelompok sebagai berikut :

  • Kelompok Brahma Resi
  • Kelompok Satya Resi
  • Kelompok Dewa Resi
  • Kelompok Sruta Resi
  • Kelompok Raja Resi

Dari istilah-istilah itu dapat dipahami bahwa sesungguhnya nama-nama itu bersifat relatif fungsional dan dihubungkan dengan sifat-sifat khas dari para Rsi, baik sebagai kedudukan, keahlian atau tugas-tugas yang dijalankan.

Seorang Brahma Resi, menurut penjelasan di dalam kitab Brahmanda Purana pada hakekatnya bertugas menyumbangkan, mempelajari dan mengajarkan Weda. Jadi fungsinya sebagai kedudukan seorang pendeta dengan gelar keresiannya yang fungsinya lebih bersifat memahami, mengembangkan tafsir dan menulis apa yang ia fahami atau mengerti dari wahyu (revelasi) yang diterima. Satya Resi adalah gelar yang diberikan sebagai Resi yang memiliki asal-usul langsung dari Yang Maha Esa pada permulaan Ciptaan. Beliau ini yang semula disebut sebagai bhatara, yang pada hakekatnya adalah merupakan Maha Resi pula.

Pada Empat Maha Resi yang disebut-sebut pertama dicipta oleh Brahma menurut Brahmanda Purana, yaitu :

  • Sonaka;
  • Sananda;
  • Sanatana;
  • Sanatkumara.

Adapun kelompok Dewa Resi, dikenal pula sebagai kelompok-kelompok Prajapati yang diperinci di dalam Brahmanda Purana terdiri atas sembilan Prajapati, yaitu :

  • Marici;
  • Bhrgu;
  • Angira;
  • Pulastya;
  • Pulaha;
  • Kratu;
  • Daksa;
  • Atri; dan
  • Wasistha.

Dari mereka inilah kemudian timbul kelompok-kelompok Resi lainnya yang mempunyai hubungan geneologi.

 

IV.  WEDA SEBAGAI SUMBER HUKUM HINDU.

Pengertian Umum

Sumber asal Hukum yaitu peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok agar tercipta suasana hidup yang serasi. berdaya guna dan tertib Hukum ini ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Hukum inilah yang merupakan undang-undang.

Manusia dalam pergaulan mereka, didalam menjalankan kehidupan mereka diatur oleh UU yang dibuat oleh lembaga pembuat UU. dibikin oleh manusia karena itu UU. adalah buatan manusia. Disamping UU. itu ada pula UU. yang bersifat murni, yaitu UU. yang dibuat oleh Tuhan juga disebut Wahyu Tuhan. Wahyu inilah yang dihimpun dan dikodifikasi menjadi “KITAB SUCI”. Jadi kitab suci adalah semacam UU yang pembuatnya adalah Tuhan, bukan manusia (apauruseya).

Didalam negara, UU. dari semua UU. disebut UUD. UUD. Itu mengatur pokok-pokok yang menjadi sendi kehidupan bernegara dan dari UUD. itu dibuat UU. Pokoknya. Seperti halnya dengan UUD. itu, dalam kehidupan beragama, semua peraturan dan ketentuan-ketentuan selanjutnya dirumuskan lebih terperinci dengan menafsirkan ketentuan-ketentuan yang terdapat didalam kitab suci itu.

Tingkah laku manusia baik yang menjadi tujuan didalam pengaturan kehidupan ini disebut Dharmika adalah perbuatan-perbuatan yang mengandung hakekat kebenaran yang menyangga masyarakat (Dharma dharayate prajah).

Untuk memperoleh kepastian tentang kebenaran ini setiap tingkah laku harus mencerminkan kebenaran hukum (Dharma), artinya tidak bertentangan dengan UU yang menguasainya. Dalam hal ini bagi umat beragarna yang juga merupakan warga Negara mereka harus tunduk pada dua kekuasaan hukum yaitu:

Hukum yang bersumber pada perundang-undangan Negara seperti UUD, UUP, UU dan peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Hukum yang bersumber pada kitab suci, sesuai menurut agamanya.

Bagi umat Hindu atau kelompok masyarakat yang beragama Hindu maka kitab suci yang menjadi sumber hukurn bagi mereka adalah Weda. Ketentuan mengenai Weda sebagai sumber hukum dinyatakan dengan tegas didalam berbagai kitab suci, antara lain:

I.  Manawadharmacastra.
a.  MDs. II. 6. Weda’khilo dharma mulam smrti sile ca tad widäm, acãrasca iwa
sadhunama atmanastustirewaca.

 
Artinya :
Seluruh Weda merupakan sumber utama dan pada dharma 1) (Agama  Hindu) kemudian barulah Smrti disamping Sila (kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang menghayati Weda) dan kemudian acara tradisi-tradisi dan orang-orang suci) serta akhirnya atmanastusti (rasa puas diri sendiri). Dari pasal ini, kita mengenal sumber-sumber buku sesuai urut-urutannya adalah seperti istilah berikut:

1. Weda, 2. Smrti, 3. Sila, 4. Acara (Sadacara) dan, 5. Atmanastusti.
Untuk lebih menegaskan tentang kedudukannya sumber-sumber hukum itu. lebih Ianjut dinyatakan didalam pasal berikut. Manawadharmaçastra II. 10.

  • II. 10. Çrutistu Wedo wijneyo dharmaçastram tu wai smrtih,

                 e sarwarthawam  imamsye tãbhbyãm dharmohi nirbabhau.

Artinya:
Sesungguhnya Sruti (Wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah dharmasastra,  keduanya tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari Agama Hindu (Dharma).

Dari pasal ini ditegaskan dua dari kelima jenis sumber hukum Hindu, Sruti dan Smrti, merupakan dasar utama yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Kedudukan pasal II.10 dan II.6, merupakan dasar yang harus dipegang teguh dalam hal kemungkinan timbulnya perbedaan pengertian mengenai penafsiran hukum yang terdapat didalam berbagai kitab agama rnaka yang pertama lebih penting dari yang berikutnya. Ketentuan ini ditegaskan lebih lanjut di dalam Manawadharmasastra II. 14. sbb :
__________________________
1). Dharma adalah nama asal agama Hindu. luga disebut Sanatana Dharma. Nama Hindu baru-baru saja     dimaksud untuk menyebutkan agama dan kepercayaan termasuk semua kebudayaan yang berkembang dilembah sungai Indus (Pakistan dan India Utara) yaitu agama yang bersumber pada Wedà.

  • MDs. II. 14. Çrutidwaidham tu yatrasyattatra dharmawubhau smrtau,

                           ubhawapi hi tau dharmau samyaguktau manisibhih.

Artinya :
Bila dua dan kitab Sruti bertentangan satu dengan yang lain, keduanya diterima sebagai hukum karena keduanya telah diterima oleh orang-orang suci sebagai hukum.

Dari ketentuan ini maka tidak ada ketentuan yang membenarkan adanya pasal yang satu harus dihapuskan oleh pasal yang lain melainkan keduanya harus diterima sebagai hukum.

Disamping pasal-pasal masih ada pasal Iainnya yang penting pula artinya didalam memberi definisi tentang pengertian sumber hukum itu, yaitu Manawadharmasastra II, 12 yang lengkapnya berbunyi sbb.:

  • MDs. II. 12. Wedah smrtih sadacarah swasya ca priyamatmanah.

                          etaccaturwidham prahuh saksad dharmasya laksanam.

Artinya :
Weda, Smrti, sadacara dan atmanastusti mereka nyatakan sebagal empat tingkat usaha untuk mendefinisikan dharma.

Dari Bab II pasal 12 ini menyederhanakan pasal 6 dengan meniadakan “Sila” karma Sila dan Sadacara, artinya juga kebiasaan. Sila berarti kebiasaan, sedangkan sãdãcãra adalah tradisi. Tradisi dan kebiasaan adalah kebiasaan pula.

Sarasamuccaya.

Kitab ini hanya memberi penjelasan singkat mengenai status Weda dimana dalam ps. 37 dan 39 kita jumpai keterangan berikut:
(a). SS. 37. Çrutirwedah samakhyate dharmaçastram tu wai smrti,
te sarwatheswamimamsye tabhyam dharmo winirbhrtah
.
Artinya:
Ketahuilah olehmu cruti itu adalah Weda (dan) Smrti itu sesungguhnya adalah         dharmacastra  : keduanya barus diyakini dan dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.

Penjelasan dan terjemahan didalam kitab Sarasamuccaya yang diterbitkan oleh Departemen Agama hanya mendasarkan terjemahan bahasa kuno Jawa kunonya, dimana menurut terjemahan Jawa kunonya itu telah diperluas artinya seperti istilah Weda diterjemahkan dengan catur Weda, walaupun demikian pengertian semula tidak merobah maknanya.

Yang menarik perhatian dan perlu dicamkan ialah bahwa baik Manawadharmaçastra maupun Sarasamuccaya menganggap bahwa Sruti dan Smrti itu adalah dua sumber pokok dari pada Dharma.

(b). SS. 39. Itihãsapurãnãbhyãm wedam samupawrmhayet,
                   bibhetyalpaçrutãdvedo mãmayam pracarisyati.

Artinya : 
Hendaknya Weda itu dihayati dengan sempurna melalui mempelajari otihasa dan Purina karena pengetahuan yang sedikit itu menakutkan (dinyatakan) janganlah mendekati saya.
Penjelasan Sloka ini dan ayat terdahulu telah pula diperluas artinya sehingga dengan demikian akan jelas artinya. Yang terpenting dapat kita pelajari dan ketentuan itu ialah penambahan ketentuan ilmu bantu yang dapat dipelajari dan kitab Itihãsa dan Purna. Kitab-kitab Itihsa ini adalah kitab-kitab Mahbharata dan Ramayana sedangkan Purna adalah merupakan kitab-kitab kuno, misa babad-babad, yang memuat sejarah keturunan, Dinasti raja-raja Hindu. Jadi secara ilmu hukum modern kedua jenis buku ini merupakan buku tambahan yang memuat ajaran-ajaran hukum yang bersifat dokrinair, memuat sumber keterangan mengenai Jurisprudensi dalam bidang hukum Hindu.

Weda sebagai sumber hukum bersifat memaksa.

Ketentuan-ketentuan yang menggariskan Weda sebagai sumber hukum, bersifat memaksa dan mutlak karena didalam Manawadharmaastra dinyatakan sehagai berikut :


a). M. Ds. II. 2. Kămătmată na prasastă na cai wehăstya kamata, kãmyohi
                          wedădhigamah karmayogasca waidikah.

Artinya :
Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh pahala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan akan pahala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu bersumber dan mempelajari Weda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Weda.

b). M. Ds. II. 5. Tesu samyang warttamăno gacchatya maralokatam,
yathă samkalpitămcceha sarwăn kámăn samasnute.

Artinya :
Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan memperoleh semua keinginan yang ia mungkin inginkan.

c). M. Ds. II. 11. Yo ‘wamanyeta te mûle hetu śastra śrayad dwijah.
sa sădhubhir bahiskaryo năstiko wedanindakah.


Artinya :
Setiap dwijati yang menggantikan dengan lembaga dialektika dan dengan memandang rendah kedua sumber hukum (śruti-smrti) harus dijauhkan dari orang-orang bajik sebagai seorang atheis dan yang menentang Weda.

d). M. Dhs. XII. 94. Pitridewamanusyănăm wedaścaksuh śănatanah,
aśakyamcă prameyamca weda śăstramiti sthitih.


Artinya :
Weda adalah mata yang abadi dari para leluhur, dewa-dewa dan manusia; peraturan-peraturan dalam Weda sukar dipahami manusia dan itu adalah kenyataan.

e). M. Dhs. XII. 95. Ya weda wăhyăh smrtayo yăśca kăsca kudrstayah,
sarwastanisphalăh pretya tamo nisthăhităh smrtah.
Artinya :
Seamua tradisi dan sistim kefilsafatan yang tidak bersumber pada Weda tidak akan memberi pahala kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber pada kegelapan.

f). Dhs. XII. 96. Utpadyante syawante ca ynyato nyani knicit,
tänyarwakkalikataya nisphaIinyanrt ni ca,

Artinya :
Semua ajaran yang timbul yang menyimpang dari Weda segera akan musnah tidak                 berharga dan palsu karena tak berpahala.

g). M. Dhs. XII. 99 Wibharti sarwabhtitni wedaastram santanam,
tasmdetat param manye yajjantorasya sdhanam
.
Artinya :
Ajaran Weda menyangga semua mahkluk ciptaan ini, karena itu saya berpendapat, itu harus dijunjung tinggi sebagai jalan menuju kebahagiaan semua insan.

h). M. Dhs. XII. 100. Senapatyam ca rajyam ca dandanetri twamewa ca,
sarwa lokadhipatyam ca wedaastrawid arhati.
Artinya :
Panglima Angkatan Bersenjata, Pejabat Pemerintah, Pejabat Pengadilan dan penguasa atas semua dunia ini hanya layak kalau mengenal ilmu Weda itu.

Masih beberapa pasal yang menekankan pentingnya Weda, baik sebagai ilmu maupun sebagai alat didalam membina masyarakat. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan-ketentuan itu penghayatan Weda bersifat penting karena bermanfaat bukan saja kepada orang itu tetapi juga kepada yang akan dibinanya. Karena itu Weda bersifat obligator baik untuk dihayati, diamalkan dan sebagai ilmu.

Dengan mengutip beberapa pasal yang relatif penting artinya dalam menghayati Weda itu, kiranya akan jelas mengapa Weda, baik Sruti maupun Smrti sangat penting sekali artinya. Kebajikan dan kebahagiaan adalah karena Dharma berfungsi sebagaimana mestinya. Inilah yang menjadi kakekat dan tujuan dari pada weda itu.

KODIFIKASI WEDA

Pengumpulan berbagai mantra menjadi himpunan buku-buku adalah merupakan usaha kodifikasi Weda. Sloka-sloka yang ribuan banyaknya telah diturunkan ke dunia ini tidak diturunkan sekaligus atau bersamaan ditempat yang sama, melainkan tidak bersamaan dan dari jaman ke jaman meliputi ribuan tahun. Untuk mencegah agar sloka-sloka itu jangan hilang dan selalu dapat diingat banyaklah usaha-usaha dilakukan untuk menyusun atau mengumpulkan sloka-sloka itu.

Didalam menyusun kembali ribuan sloka-sloka itu tidaklah mudah mengingat umur yang sudah tua dan kemungkinan telah banyak hilang. Ilmu menulis baru dikenal tidak lebih dari + 800 S.M. sehingga dapatlah dibayangkan kalau sloka yang telah turun 2000 -1500 S.M. sampai pada saat penulisannya banyak kemungkinan telah terjadi. Disinilah kesukaran-kesukaran yang dijumpai oleh Para Wipra atau Maha Rsi didalam menghimpun dan mensistematisir isinya. Kodifikasi yang dilakukan terhadap sloka-sloka Weda memiliki sistem yang khusus. Kalau kita perhatikan sistem kodifikasi itu ada beberapa kecenderungan yang dipergunakan sebagai cara perhimpunannya yaitu :

  • Didasarkan atas usia sloka-sloka termasuk tempat geografis turunnya sloka-sloka itu.
  • Didasarkan atas sistem pengelompokan isi. fungsi dan guna mantra-mantra itu.
  • Didasarkan atas resensi menurut sistim keluarga atau kelompok geneologi.

Berdasarkan sistem pertimbangan materi dan luas ruang lingkup isinya itu jelas kalau jumlah jenis buku Weda itu banyak. Walaupun demikian kita harus menyadari bahwa Weda itu mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia.

Maha Resi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut
1) Weda ruti dan
2) Weda Smrti.

Pembagian dalam dua jenis dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebugai kitab Weda baik secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. Dalam hal ini kelompok Weda Sruti merupakan kelompok buku yang isinya hanya memuat “Wahyu” (sruti) sedangkan kelompok kedua Smrti adalah kelompok yang sifat isinya sebagai penjelasan terhadap “Sruti”. Jadi merupakan “manual”, buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan sruti.

Kalau kita bnadingkan dengan ilmu politik, “Sruti”, merupakan UUD-nya Hindu sedangkan “Smrti” adalah UU. pokok dan UU. pelaksanaannya adalah Nibandha.
Kedua-duanya merupakan sumber hukum yang mengikat yang harus diterima. Oleh karena itu Bhagawan Manu menegaskan didalam kitabnya Manawadharmaastra II. 10.

Srutistu wedo wijneyo dharmasastram tu wai smrtih. te sarwarthawam imamsye  tathyam dharmahi nirbabhau.

Artinya :
Sesungguhnya Sruti (Wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalh dharmaastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dan hukum suci itu. (dharma).

Tentang sistem ini akan lebih tampak kalau kita mendalami tiap-tiap materi isi Weda itu. Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda itu, dibawah ini akan dibicarakan tiap-tiap bidang pembagian oleh Bhagawan Manu, Manawadharmasastra H, 6, 10, yaitu yang membedakan jenis Weda itu kedalam bentuk :

(A) Sruti dan
(B) Smrti.

Untuk dapat memahami selurub materi yang dikodifisir didalam kedua bidang Weda itu, berikut ini akan kami uraikan berturut-turut satu persatunya, sebagai terurai dibawah ini.



A. ŚRUTI
Kelompok Śruti, menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya, atau Weda originair. Menurut sifat isinya Weda ini dibagi batas tiga bagian, yaitu :

a. Bagian Mantra.
b. Bagian Brahmana (Karma Kanda).
c. Bagian Upanisad/Aranyaka (Jńăna kanda).

Ad. a. Mantra.
Bagian Mantra terdiri atas empat himpunan (samhita) yang disebut catur Weda samhita, yaitu :

    • Rg. Weda atau Rg Wedasamhita.
    • Sama Weda atau Samawedasamhita.
    • Yajur Weda atau Yajurwedasamhita.
    • Atharwa Weda atau Atharwaweda samhita


Dari keempat kelompok Weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Karena itu disebut Tri Weda.

Pengenalan catur Weda hanya karena kenyataan Weda itu secara sistematik telah dikelompokkan atas empat Weda.
Pembagian empat kelompok ini itu yaitu :

  • Rg. Weda Samhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan (Rc. atau Rcas). Arc. = memuja (Arc. Rc).
  • Samawedasamhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran umum. mengenai lagu-lagu pujaan (saman).
  • Yajur Weda samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajus, (pluralnya Yajumsi). Jenis Weda ini ada dua macam, yaitu:
  • Yajurweda hitam (Krşņa Yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi a.l. Taiyiriya samhita dan Maitrayanisamhita.
  • Yajur weda putih (Śukla yajurweda). yang juga disebut Wajasaneji samhita.
    • Atharwa weda samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (atharwan).

Kitab Rg. Weda merupakan kumpulan dari sloka-sloka yang tertua. Kitab ini dikumpulkan dalam berbagai resensi seperti resensi Sakala, Baskala, Aswalayana, Sankhyayana dan Mandukeya. Dari lima macam resensi ini yang masih terpelihara adalah resensi Sakala sedangkan resensi-resensi lainnya banyak yang tidak sempurna lagi karena mantra-mantranya hilang. Didalam mempelajari ajaran-ajaran Hindu dewasa ini para sarjana umumnya berpedoman pada resensi Sakala untuk mengetahui seluruh ajaran yang terdapat didalam Rg. Weda itu. Berdasarkan resensi itu. Rg. WEDA samhita terdiri atas 1017 hymn (mantra) atau 1028 mantra termasuk bagian mantra Walakhitanya. Atau disebut pula terdiri atas 10580½ stanza at.au 153826 kata-kata atau 432000 suku kata.

Rg. Weda terbagi atas 10 Mandala yang tidak sama panjangnya. Disamping pembagian atau 10 Mandala, Rg. Weda dibagi pula atas 8 bagian yang disebut “Astaka” Mandala 2 -- 8 merupakan himpunan sloka-sloka dan keluarga-keluarga Maha Rsi tunggal sedangkan mandala 1, 9, 10 merupakan himpunan sloka-sloka dari banyak Maha Rsi.

Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Weda. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 Mantra atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. Samaweda terbagi atas dua bagian yaitu bagian arcika terdiri atas mantra-mantra pujaan yang bersumber dari Rg. Weda dan bagian Uttararcika yaitu himpunan mantra-mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini terdiri atas beberapa buku nyanyian pujaan (gana). Dan kitab-kitab yang ada, yang masih dapat kita jumpai a.l. Ranayaniya, Kautuma dan Jaiminiya (Talawakara). Walaupun demikian didalam usaha penulisan kembali kitab Samaweda itu telah diusahakan sedemikian rupa supaya tidak banyak yang hilang.

Yajurweda terdirii atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dari Rg. Weda, ditambah dengan beberapa mantra yang merupakan tambahan baru. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Pataňjali, kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kita ini terbagi atas dua aliran, yaitu:

  • Yajurweda hitam (Krsna Yajurweda). Kitab ini terdiri atas 4 resensi yaitu:
  • Katakhassamhita.
  • Mapisthalakathasamhita.
  • Taithiriyasamhita (Terdiri atas dua aliran yaitu Apastamba dan Hiranyakesin).
    • Yajur Weda putih (śukla yajurweda, juga dikenal Wajasaneyi samhita). Kitab ini terdiri atas 2 resensi yaitu :
  • Kanwa dan
  • Madhyandina.

Antara kedua resensi itu hanya terdapat sedikit perbedaan Yajurweda putih ini terdiri atas 1975 mantra yang isinya umumnya menguraikan berbagai jenis yajna besar seperti Wejapeya, Aswamedha, Sarwamedha dan berbagai jenis yajna lainnya. Bagian terakhir dari Weda ini memuat sloka-sloka yang kemudian dijadikan Isopanisad.

Perbedaan pokok antara Yajurweda Putih dengan Yajurweda hitam hanya sedikit saja Yajurweda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta didalam upacara sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yajurweda itu. Di dalam Weda ini kita jumpai pula pokok-pokok upacara Darsapurnamasa yaitu upacara yang harus dilakukan pada saat-saat bulan purnama dan bulan gelap, disamping berbagai jenis upacara-upacara besar yang penting artinya dilakukan setiap harinya.

Atharwaweda yang disebut Atharwangira, merupakan kumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Kitab ini memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Kitab ini terpelihara dalam dua resensi, yaitu:

  • Resensi Saunaka. Resensi ini paling terkenal dan terdiri atas 21 buku.
  • Resensi Paippalada.

Ad. b. Brahmana (Karma Kanda)
Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut Brahmana atau Karma Kanda. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Tiap-tiap mantra (Rg. Sama, Yajur, Atharwa) memiliki Brahmana. Brahmana berarti doa. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan upacara yajna. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra.
Kitab Rg. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana, yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankhyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama terdiri atas 40 Bab dan yang kedua terdiri atas 30 Bab.

Kitab Samaweda memiliki kitab Tandya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama Pancawimsa. Kitab ini memuat legenda (ceritra-ceritra kuno) yang dikaitkan dengan upacara yajna. Disamping itu ada pula Sadwimsa Brahmana. Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab Adbhuta Brahmana, merupakan jenis Wedangga yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mukjizat.

Yajurweda memiliki beberapa kitab Brahmana pula. Yajurweda hitam (Krsna Yajurweda) memiliki Taittiriya Brahmana. Kitab ini merupakan lanjutan Taittiriya samhita Kitab ini yang menguraikan simbolisasi ,,Purusamedha” yang telah diartikan secara salah didalam tradisi Yajurweda putih (Sukla Yajurweda) memiliki Saptatha Brahmana. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyaya. Bagian terakhir dari kitab ini merupakan sumber bagi kitab Brhadaranyaka upanisad. Didalam kitab Brabmana ini mula-mula kita jumpai ceritera Sakuntala, Pururawa, Urwasi dan ceritera-ceritera tentang ikan. Atharwa weda ini memiliki kitab Gopathabrabmana.

Ad. c. Upanisad dan Arapyaka (Jńăna kanda).
Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membabas berbagai aspek teori mengenai ke-Tuhan-an. Himpunan ini merupakan bagian Jńăna Kanda dari pada Weda Śruti. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap Mantra memiliki kitab Brahmana, demikian pula tiap-tiap mantra ini memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Kelompok kitab-kitab ini disebut Rahasiya Jñăna karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia.
Didalam penelitian mengenai berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. G. Sriniwasa Murti didalam introduksi kitab Saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap Sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Dari catatan yang ada:

  • Rg.Weda terdiri atas 2l sakha.
  • Sama Weda terdiri atas 1000 sakha.
  • Yajur Weda terdiri atas 109 Sakha, dan
  • AtharwaWedaterdlijatas5osakha.

Berdasarkan jumlah sakha yaitu 1180 sakha maka jumlah Upanisad sayogyanya ada sebanyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Adapun perincian daripada kitab-kitab upanisad itu adalah sebagai berikut:

  • Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda, yaitu antara lain:

      Aitareya, Kausitaki, Nada-bindu, Atmaprabodha, Nirwana, Mudgala, Aksamalika,    Tripura, Saubhagya dan Bahwrca Upanisad, yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad.

  • Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda adalah :

      Kena, Chandogya, Aruni, Maitrayani, Maitreyi, Wajrasucika, Yogacudamani, Wasudewa, Mahat, Sanyasa, Awyakta, Kondika, Sawirei, Rudraksajabala, Darsana dan Jabali. Semuanya berjumlah enam belas Upanisad.

  • Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda, adalah :
    • Untuk jenis Yajur Weda Hitam, terdirj atas Kathawali, Taittiriyaka, Brahma, Kaiwalya, Swetaswatara, Garbha, Narayana, Amrtabindu, Asartanada, Katagnirudra, K ausika, Sarwasara, Sukharahasya, Tejobindu, Dhyanabindu, Brahmawidya, Yogatattwa, Daksinamurti, Skanda Sariraka, Yogasikha, Ekaksara, Aksi, Awadhuta, Katha, Rudrahrdaya, Yogakundalini, Pancabrahma, Pranagnihotra, Waraha, Kalisandarana dan Saraswatirahasya. sernuanya berjumlah tiga puluh dua Upanisad.
    • Untuk Jenis Yajur Putih, terdiri atas: Isawasya, Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Paramahamsa, Subata, Mantrika, Niralambha. Trisikhibrahmana, Mandalabrahmana, Adwanyataraka, Pingala Bhiksu, Turiyatita, Adhyatma, Tarasara, Yajnawalkya, Satyayani dan Muktika, semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad.
  • Upanisad yang tergolong jenis Atharwaweda, yaitu, antara lain: Prasna, Munduka, Mandukya, Athawasira, Atharwasikha, Brhajjabala, Nrsimhatapini, Naradapariwrajaka, Sita, Sarabha, Mahanarayana, Ramarahasya, Ramatapini, Sandilya,
    Paramahamsa pariwrajaka, Annapurna, Surya, Atma, Pasupata, Parabrahmana, Tripuratapini, Dewi, Bhawana, Brahma, Gamapati, Mahawakya, Gopalatapini, Krsna, Hayagriwa, Dattatreya dan Garuda Upanisad, semuanya berjumlah tiga puluh satu Upanisad.

Dengan memperhatikan deretan nama-nama kelompok Mantra, Brahmana dan Upanisad diatas, jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami Dharma, semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati.



SMRTI

Smrti adalah Weda juga, karena kedudukannya dipersamakan dengan Weda (Sruti). Manawa. Dharmasastera. II. 10. Srutistu wedo wijňeyo dharmaśastram tu wai smrtih te sarwãrtheswamimămsye tăbhyăm dharmohi nirbabhau.

Artinya :
Sesungguhnya Sruti adalah Weda dan Smrti adalah dharmasastra; keduanya tidak boleh diragukan karena keduanya adalah sumber dari hukum suci. Dan ketentuan itu jelas bahwa Dharmasastra berusaha menunjukkan tingkat kedudukan Smrti sama dengan Sruti. Dalam peterjemahan istilah Smrti itu kadang-kadang mengandung banyak arti seperti :

  • Sejenis kelompok buku Weda yang lahir dan ingatan.
  • Nama untuk menyebutkan tradisi yang bersumber pada kebiasaan yang disebut didalam Weda (Mds. II. 12.).
  • Nama jenis kitab Dharmasastra. Istilah ini lebih sempit artinya jika dibanding dengan istilah Smrti menurut arti kelompok a.

Menurut tradisi dan lazim telah diterima dibidang ilmiah istilah Smrti adalah untuk menyebutkan jenis kelompok Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara lebih sistematis manurut bidang profesi. Secara garis besarnya, Smrti depat digolongkan kedalam dua kelompok Wedasmrti, yaitu:

  • Kelompok Wedangga (Batang Tubuh Weda)
  • Kelompok Upaweda (Weda tambahan).

Kelompok Wedangga.

Adapun kelompok Wedangga ini terdiri atas enam bidang Weda, yaitu :

    • Siksa (Phonetika)
    • Wyakarana (Tata Bahasa)
    • Chanda (lagu)
    • Nirukta (Sinonim dan Antonim)
    • Jyotisa (Astronomi)
    • Kalpa (Ritual).

Ad. a. Sika (Phonetik)
Untuk dapat memahami Weda dengan tepat cabang ilmu Weda yang disebut Siksa penting artinya. Kodifikasi Weda yang diuraikan berdasarkan ilmu phonetika erat sekali hubungannya dengan ilmu Weda Sruti. Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara yang tepat dalam pengucapan mantra serta tinggi rendah tekanan suara. Buku-buku siksa ini disebut Pratisakhya yang dihubungkan dengan berbagai resensi Weda Sruti. Diantara buku-buku Pratiskhya yang ada, antara lain:

  • Rg. Wedapratisakhya, himpunan Bhagawan Saunaka berasal dari resensi Sakala.
  • Taittiriyapratisakhyasutra berasal dari resensi Taitiriya dari Krsna Yajur Weda.
  • Wajasaneyipratisakhyasutra himpunan Bhagawan Katyayana berasal dari resensi Madhyandina (Sukla Yajurweda).
  • Samapratisakhya untuk Sama Weda
  • Atharwawedapratisakhyasutra (caturadhyayika) untuk kitab Atharwa Weda.

Penulis-penulis lainnya yang juga membahas Pratisakhya itu antara lain Maha Rsi Bharadwaja, Maha Rsi Wyasa (Abyasa), Maha Rsi Wasistha dan Yajnawalkya.

Ad. b. Wyakarana (Tata Bahasa).
Wyakarana sebagai suplemen batang tubuh Weda dianggap sangat penting dan menentukan karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar. Asal mula teori pengajaran Wyakarana, bersumber pada kitab Pratisakhya.

Diantara pemuka-pemuka agama yang mengkodifikasi tata bahasa itu antara lain
Sakatayana, Panini, Patanjali dan Yaska. Dari nama-nama itu yang terkenal adalah Bhagawan Panini yang menulis Astadhyayi dan Patanjali Bhasa. Dari Bhagawan Patanjali kita mengenal kata bhasa untuk menyebutkan bahasa sanskerta populer dan Daiwiwak (Bahasa para Dewa-Dewa) untuk bahasa sanskerta yang terdapat didalam kitab Weda, mula-mula disebut oleh Panini.

Ad. c.  Chanda (lagu).
Chanda adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Peranan Chanda di dalam sejarah penulisan Weda karena dengan chanda itu semua sloka-sloka itu dapat dipelihara turun-temurun seperti nyanyian yang mudah diingat. Di antara berbagai jenis kitab Chanda yang masih terdapat dewasa ini adalah dua buah buku, yaitu :  Nidanasutra dan Chandasutra. Kitab terakhir ini dihimpun oleh Bhagawan Pinggala.

Ad. d.  Nirukta.
Kelompok jenis kitab Nirukta isinya terutarna memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat didalam Weda. Kitab tertua dan jenis ini dihimpun oleh Bhagawan Yaska bernama Nirukta, ditulis pada tahun + 800 S.M. Kitab ini membahas tiga masalah yaitu :

  • Naighantukakanda, memuat kata-kata yang sama artinya.
  • Naighamakanda (Aikapadika), memuat kata-kata yang berarti ganda.
  • Daiwatakanda (menghimpun nama Dewa-Dewa r yang ada diangkasa, bumi dan surga.

Ad. e.   Jyotisa (astronomi).
Kelompok Jyotisa merupakan pelengkap Weda yang isinya memiuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan Yajńa. Isinya yang penting membahas peredaran tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh didalam pelaksanaan yadnya.

            Satu-satunya buku Jyotisa yang rnasih kita jumpai adalah Jyotisawedăngga yang penulisnya sendiri tidak dikenal. Kitab ini dihubungkan dengan Yajurweda dan Rg. Weda.

Ad. f .  Kalpa.
Kelompok kalpa ini merupakan kelompok Wedangga yang terbesar dan yang terpenting. Isinya banyak bersumber pada kitab Brahmana dan sedikit pada kitab-kitab Mantra. Menurut jenis isinya kelompok ini terbagi atas beberapa bidang, yaitu:

  • Bidang Śrauta.
  • Bidang Grhya.
  • Bidang Dharma, dan
  • Bidang Sulwa.

Sautra atau Śrautrasütra memuat berbagai ajaran mengenai tatacara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, yang berhubungan dengan upacara keagamaan baik upacara besar, upacara kecil dan upacara harian.

Demikian pula kitab Gŗhya atau Gŗhyasútra memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yadnya yang harus dilakukan oleh orang-orang yang telah berumah tangga.

Disamping itu terdapat pula jenis kitab-kitab Kalpa yang tergolong dalam bidang Srauta dan Gŗhya yaitu kitab Srăddakalpa dan Pitrimedhaśütra. Kitab ini memuat pokok-pokok ajaran mengenai tata-cara upacara yang berhubungan dengan arwah orang-orang yang telah meninggal.

Ada pula kitab Prayascittasutra yang merupakan supllemen dari kitab Atharwa Weda.
Dari semua jenis Kalpa yang terpenting adalah bagian “Dharmasutra”, yang membahas berbagai aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Demikian pentingnya kitab ini sehingga menimbulkan kesan hahwa yang dimaksud Weda Smrti adalah Dharmasastra. Para penulis Dharmasastra yang terkenal  adalah :

  • Bhagawan Manu.
  • Bhagawan Apastamba.
  • Bhagawan Bhaudhayana.
  • Bhagawan Harita.
  • Bhagawan Wisnu.
  • Bhagawan Wasistha.
  • Bhagawan Waikanasa.
  • Bhagawan Sankha Likhita.
  • Bhagawan Yajnawalkya. Dan
  • Bhagawan Parasara.

Diantara nama-nama itu yang terkenal adalah Bhagawan Manu (Maha Rsi Manu autor Manawadharmasastra) yang karyanya ditulis oleh Bhagawan Bhrgu. Menurut tradisi, tiap yuga mempunyai ciri-ciri khas dan mempunyai dharmasastra tersendiri, antara lain :

  • Manu menulis Manawadharmasastra untuk Satyayuga.
  • Yajnawalkya menulis Dharmasastra untuk Tritayuga.
  • Sankha Likhita menulis Dharmasastra untuk Dwaparayuga, dan
  • Parasara menulis Dharmasastra untuk Kaliyuga.

Walaupun pembagian itu telah ada namun secara materiil isinya overlapping antara yang satu dengan yang lain karena itu sifatnya saling mengisi. Bagian terakhir dari jenis Kalpa adalah kelompok kitab Sulwasutra. Kitab ini memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan (Pura, Candi), bangunan-bangunan lain, dan lain-lain yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.

Kelompok jenis ini memiliki beberapa buku antara lain Silpasastra, Kautama, Mayamata, Wastuwidya, Manasara, Wisnudharmatarapurana dan sebagainya.



Kelompok Upadewa

Kelompok Upadewa adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok ini kodifikasinya terdiri atas beberapa cabang ilmu, yaitu:

  • Jenis Itihasa.
  • Jenis Purana.
  • Jenis Arthasastra.
  • Jenis Ayurweda. Dan
  • Jenis Gandharwaweda.

Ad. 1. Jenis Itihasa.
Jenis Itihasa merupakan jenis epos yang terdiri atas dua macam yaitu:

  • Rämayana terdiri atas tujuh kanda.
  • Mahabharata, terdiri atas 18 buah Buku (Parwa) dan dua buku supplemen Mahabharata yaitu kitab Hariwamsa dan Bhagawadgita.

Ramayana ditulis oleh Bhagawan Walmiki. Menurut tradisi, kejadian yang dilukiskan didalam Ramayana menggambarkan kehidupan pada jaman Tretayuga tetapi menurut kritikus Barat berpendapat bahwa Ramayana sudah selesai ditulis sebelum th. 500 S.M. Diduga ceriteranya telah populer 3100 S.M.

Ramayana merupakan epos Aryanisasi yang ditulis dalam bentuk stanza, meliputi 24.000 buah stanza. Penulisnya sendiri menamakannya puisi, ăkhyăyana, gita dan samhita. Seluruh isi dikelompokkan kedalam tujuh kanda, yaitu, Bala kanda, Ayodhyakanda, Aranyakahda, Kiskindhakanda, Sundarakanda, Yuddhakanda dan Uttarakanda. Tiap-tiap kanda itu merupakan satu kejadian yang menggamharkan ceritera yang menarik. Kitab ini dikenal sebagai Adikawya sedangkan Walmiki dikenal sebagai Adikawi.
Banyak gubahan ditulis dalam berbagai bentuk versi baru seperti Ramayanatatwapadika ditulis oleh Maheswaratirtha, Amrtakataka oleh Śri Răma, Kakawin Ramayana oleh Mpu Yogiswara, dan sehagainya.

Tentang kedudukan Itihsa diantara Weda itu disebutkan secara sepintas lalu saja didalam Weda Sruti dimana didalam Weda Sruti kita jumpai istilah-istilah akhyayana. Purãna dan Itihasa. Akhyayana merupakan himpunan ceritera-ceritera tradisi kuna dan kadang-kadang Akhyayana itu dimasukkan pula kedalam Itihasa. Itihasa berasal dari tiga kata yaitu Iti — ha — asa yang artinya : ”Sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya”. Jadi Itihasa memuat unsur sejarah yang memuat macam-macam isi. Menurut kritikus Barat, Ramayana dibandingkan sebagai kitab Illiad karya Homer.

Berbeda halnya dengan Ramayana, Mahabharata, lebih muda umurnya dan menurut Prof. Pargiter kejadian Bhäratayuddha diperkirakan pada + 950 S.M. Tetapi tradisi meletakkan kejadian itu pada permulaan zaman kaliyuga, 3101 S.M. Kitab Mahabharata menceriterakan kehidupan keluarga Bharata dan isinya menggambarkan pecahnya perang saudara antara bangsa Arya sendiri. Kitab ini meliputi 18 buah buku (Parwa) yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasana parwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprasthanikaparwa dan Swargarohana parwa. Parwa ke 12 yang merupakan parwa terpanjang yaitu meliputi 14000 stanza. Seluruh parwa meliputi 8 x besarnya Illiad dan Odyessy.

Menurut tradisi Mahabharata ditulis oleh Bhagawan Wyasa (Abyasa). Disamping kedelapan belas Parwa itu terdapat pula dua buku suplemen yaitu Hariwamsa dan Bhagawadgita. Bhagawan Wyasa dikenal pula dengan nama Krsnadwipayana, putra Maha Rsi Parasara. Maha Rsi Abyasa (Wyasa) terkenal bukan saja karena karya Mahabharata-nya tetapi juga karena karyanya dalam usaha menyusun sistematika Weda yang disumbangkan dalam menyusun kodifikasi catur Weda itu.

Mahabharata banyak menggambarkan kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu, yang mirip dengan Dharmasastra dan Wisnusmrti. Hariwamsa membahas mengenai asal mula keluarga Bhatara Krsna seperti pula yang dapat kita jumpai didalam Wisnupurana dan Bhawisyaparwa.

Ad. 2.Jenis Purna.
Jenis ini merupakan kumpulan ceritera-ceritera kuno yang isinya memuat ,,case law” dan tradisi tempat setempat. Adapun jenis-jenis kitab Purana itu ialah Bhrahmanda, Bhrahmawaiwarta, Markandya, Bhawisya, Wamana, Brahma, Wisnu, Narada, Bhagawata, Garuda, Padma, Waraha, Matsya, Kurma Lingga, Siwa, Skanda, dan Agni.

Kadang-kadang ada pula yang menambahkan dengan nama Wayupurana, tetapi nyatanya kitab ini kadang-kadang dikelompokkan kedalam kitab Bhagawata purana. Berdasarkan sifatnya kedelapan belas purana itu dibagi atas tiga kelompok, yaitu:

  • Stwikapurana terdiri dan Wisnu, Nrada, Bhgawata, Garuda, Padma dan Waraha.
  • Rajasikapurana terdiri dari Brahmanda, Brahmawaiwarta, Markandeya Bhawisya, Wamana dan Brahma.
  • Tamasikapurãna terdiri dari Matsyapurana, Kúrmapurana, Linggapurana, Siwapurana, Skandapurana dan Agnipuräna.

Kitab-kitab Purana sangat penting karena memuat ceritera-ceritera yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah dijalankan. Kitab ini merupakan kumpulan-kumpulan jurisprudensi. Pada umumnya, suatu Purana yang lengkap dan baik memuat lima macam pokok isi. Menurut Wisnupurana III. 6. 24, meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • Ceritera tentang pencipta dunia (cosmogony).
  • Ceritera tentang bagaimana tanda dan terjadinya pralaya (qiamat/akhir jaman).
  • Ceritera yang menjelaskan silsilah dewa-dewa dan bhatara.
  • Ceritera mengenai jaman Manu atau Manwantara dan
  • Ceritera mengenai silsilah keturunan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa.

Difinisi di atas tidaklah selalu sama, karena pada umumnya kitab-kitab Purana lainnya tidak sebanyak itu masalah isinya. Isi kitab-kitab Purana lainnya memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritera kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ketempat-tempat suci. Adapun peranan terpenting dari Purana ialah: karena kitab-kitab memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ke- Tuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu.

Kitab-kitab Purana ini banyak yang telah digubah ke dalam bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi yang dipelihara diberbagai Puri. Umumnya masih dalam rontal/lontar. Sejarah penulisan Purana dimulai pada tahun 500 S.M. dan mencapai kesempurnaan pada ÷ tahun 600 M. ketika Maha Raja Harsa Wardana memerintah wilayah Aryawarta. Sebagai diketahui bahwa jaman pemerintahan Harsawardana adalah merupakan zaman keemasan Hindu sehingga para pemuka-pemuka agama benar-benar memanfaatkan waktunya untuk pengabdian sepenuhnya bagi kepentingan agama.

Ad. 3. Arthasastra.
Jenis arthasastra adalah jenis ilmu pemerintahan Negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan menurut bidang ini antara lain, kitab Usana. Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Jenis terakhir inilah yang paling lengkap.

Pokok-pokok ajaran Arthasastra terdapat pula didalam Ramayana dan Mahabharata. Sebagai cabang ilmu, jenis iimu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau Dandaniti. Bhagawan Brhaspati mempergunakan istilah Arthasastra, yang kemudian, Kautilya (Canakya) didalam menulis kitabnya mempergunakan istilah Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal dibidang Nitisastra mewakili empat pandangan teori ilmu politik, yaitu Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya sendiri. Penulis-penulis lainnya seperti Wisalaksa, Bharadwaja, Dandin dan Wisnugupta banyak pula sumbangan mereka.
Jenis-jenis Arthasastra yang banyak digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Nitisara disamping catatan-catatan kecil yang  merupakan ajaran nibandha didalam bidang nitisastra.

Umumnya naskah-naskah itu tidak lengkap lagi sehingga bila ingin mengadakan rekonstruksi diperlukan data-data dan bahan-bahan lain untuk penulisannya kembali.

Ad. 4. Ãyurweda
Jenis kitab yang dikodifikasikan dibawah titel isi adalah kitab-kitab yang menurut materi isinya menyangkut bidang ilmu kedokteran. Ada banyak buku terkenal antara lain Ayurweda, Carakasamhita, Susrutasamhita Kasyapasamhita Astanggahrdaya, Yogasara dan Kamasutra.

Pada umumnya kitab Ayurweda erat sekali hubungannya dengan kitab-kitab Dharmasastra dan Purana. Ajaran umum yang menjadi hakekat isi seluruh kitab ini adalah menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rokhani dengan berbagai sistim sifatnya. Jadi Ayurweda adalah filsafat kehidupan baik etis maupun medis. Oleh karena itu luas lingkup bidang isi ajaran yang dikodifikasikan didalam bidang Ayurweda ini meliputi bidang yang sangat luas dan yang merupakan hal-hal yang hidup.

Menurut materinya, Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum, yaitu:

  • Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah.
  • Salkya yaitu ajaran mengenai ilmu penyakit.
  • Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan.
  • Bhutawidya yaitu ajaran mengenai ilmu psikotherapy.
  • Kaumarabhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak.
  • Agadatantra yaitu ilmu toxikoloki.
  • Rasayamatantra yaitu ilmu mukjizat,
  • Wajikaranatantra yaitu ilmu jiwa remaja.

Diantara jenis-jenis buku Ayurweda yang banyak disebut namanya disamping Ayurweda yang ditulis oleh Maha Rsi Punarwasu, terdapat pula kitab Carakasamhita. Kitab inipun memuat delapan bidang ajaran, yaitu:

  • Sutrathana yaitu ilmu pengobatan.
  • Nidanasthana yaitu ajaran umum mengenai berbagai jenis penyakit yang umum.
  • Wimanasthana yaitu ilmu pathology.
  • Sarithana yaitu ilmu anatomi dan emberiology.
  • Indriyasthana yaitu mengenai bidang diagnosir dan pragnosis.
  • Cikitsasthana yaitu ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy.
  • Kalpasthana.
  • Siddhisthana.

Kedua bidang terakhir merupakan ajaran umum mengenai pokok-pokok ajaran umum dibidang therapy. Kitab terakhir ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 M. Kitab Susrutasamhita terutama menekankan ajaran umum dibidang ilmu bedah dengan mengemukakan berbagai alat yang dapat dipergunakan didalam melakukan perbedahan. Buku ini ditulis oleh Susanta. Nama beliau terkenal sampai ke dunia Barat pada abad ke IX.

Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya didalam pembinaan kesehatan jasmani dan rokhani. Merupakan cabang ilmu Ayurweda juga disebut kitab Kamasastra. Kitab ini tegolong dalam bidang ilmu Wajikaranatantra. Kitab Kamasastra yang terpenting adalah karya Bhagawan Watsyayana. Menurut penelitian kitab ini ditulis sebelum abad II Masehi.

Ad. 5. Gandharwaweda.
Jenis kitab yang dikodifikasi dibawah titel ini adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting antara lain Natyasastra meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri, disamping buku-buku lain seperti Rasarnawa, Rasaratnasamuccaya dan lain-lain. Jenis kitab ini belum banyak digubah di Indonesia.

Dari uraian diatas maka jelas bahwa kelompok Weda smrti meliputi banyak buku dengan berbagai sub titelnya yang kodifikasinya mengkhusus menurut jenis bidang ilmu tertentu. Dengan uraian ini kiranya telah dapat diperkirakan betapa luas Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Didalam menggunakan ilmu Weda itu yang perlu adalah disiplin ilmu karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.

 

VI. NIBANDHA
Kelompok buku-buku yang tidak merupakan kelompok Weda tetapi isinya memberi pandangan tersendiri baik yang sependapat ataupun yang bertentangan dengan argumentasi atau alasan-alasan yang meyakinkan tetang kebenaran ajaran yang diketengahkan adalah merupakan kitab-kitab yang dapat digolongkan sebagai kelompok Nibandha. Sifatnya dapat berbentuk komentar, kritik atau ulasan-ulasan yang berdiri sendiri atau yang dikaitkan dengan salah satu pasal atau buku yang tergolong kelompok Weda. Ini penting karena apapun yang akan diketengahkan setidak-tidaknya ada kaitannya dengan Weda.
Secara tradisional sifat pengkaitan itu dibedakan antara bentuk sifat yang ortodok dan dengan yang bersifat hetherodok. Yang ortodok mengkaitkan langsung dengan sumber induknya, yaitu Weda, sedangkan yang hetherodok, tidak bersumber pada Weda melainkan berdiri sendiri dan Weda dianggap sebagai produk tidak otoriter bagi mereka. Golongan terakhir ini terdiri dari golongan Buddhis, Jaina dan Lokayatika yang ajarannya tersimpul dalam banyak buku. Walaupun demikian dari segi Hinduisme golongan Hetherodox ini adalah golongan Hindu pula.

Jenis kitab-kitab Nibandha itu banyak dan merupakan hasil karya ilmiah dari tokoh-tokoh pemuka agama Hindu. Karya mereka langsung membahas berbagai aspek terhadap berbagai persoalan menurut bidang ilmu yang terdapat dan tersebar didalam Weda. Kitab ”gubahan” yang terdapat banyak sesudah Weda Sruti dan Srnrti itu adalah merupakan karya Nihandha. Dalam hal ini misal Sarasamuccaya adalah tergolong jenis Nibandha dalam rangkaiannya dengan Itihasa. Demikian pula kitab-kitab rontal/lontar yang memuat berbagai ajaran yang merupakan gubahan baik langsung maupun tak langsung, semuanya adalah merupakan kitab-kitab Nibandha.

Kitab-kitab filsafat seperti Purwamimamsa adalah digubah berdasarkan bagian-bagian tertentu dari kitab Brahmana dan demikian pula kitab-kitab Bhasya karya Sahara, Brhattika karya Kumarih, Sarasamuccaya karya Kathyayana (Wararuci) dan sebagainya.
Jadi sangat hanyak kitab yang penting yang perlu dikenal dibidang Nihandha itu. Kitab agama yang juga dikenal sebagai kitab Tantra, Brahmasutra, Wedantasutra, Wahya, Brahmamimamsa, Uttaramimamsa, dan berbagai nama-nama buku sebagaimana disebut didalam buku Wedaparikrama dan halaman 15 - 21, semuanya adalah tergolong jenis Nibandha.

Semua jenis Nibandha itu merupakan sumber ke II yang menurut ajaran pokok-pokok ajaran Hindu yang penting pula artinya. Untuk itu bila hendak menghayati ajaran Weda sebagaimana dikehendaki menurut ketentuan-ketentuan umum itu maka jelas peranan Nibandha menentukan arah perkembangan ajaran agama. ini tidak bertentangan
dengan ajaran umum didalam Weda karena untuk menghayati Weda dianjurkan agar kita harus membaca semua atau kita harus mampu memahami dan berpandangan luas. Dengan demikian peranan ajaran Atmanastusti mempengaruhi perkembangan Nibandha.
Dengan uraian singkat ini kiranya cukup dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian ajaran Nibandha dalam rangkaian seluruh kitab Weda itu. Selanjutnya tergantung dan kita masing-masing bagaimana mamanfaatkan materi yang ada sebaik-baiknya.

Dalam hal ini, Weda membuka jalan yang lebih bijaksana dengan menetapkan fungsi dan tugas ,,Lembaga Parisada” sebagai lembaga majelis agama yang mempunyai fungsi judikatip bagi masyarakat Hindu. Tentang kedudukan Parisada ini diatur didalam Weda Smrti. (Manawadharmasastra XII. 109 — 115) yang perumusannya berbunyi sebagai berikut:
1. Ds. XII. 108.
    Anamnatesu dharmesu katham syaditi ced bhawed.
    yam sista brahmana bruyuh sadharmah syadacamkitah.

Artinya: :
Kalau ditanya bagaimana hukumnya sedangkan ketentuan itu belum dijumpai secara khusus maka para sista (ahli) dalam bidang itu akan menetapkannya sebagai ketentuan yang mempunyai kekuatan hukum.

2. M. Ds. XII. 109.
    Dharmendhigatoyoistu wedah saparibrhanah,
    tesista brahmãna jneyah sruti praptyaksahetawah.

Artinya:
Para Brahmana yang tergolong sista menurut Weda, adalah mereka yang mempelajari Weda lengkap dengan bagian-bagiannya dan dapat membuktikan pandangannya dari segi Sruti.

3. M Ds. XII. 110.
    Dasãwarã wã parisadyam dharma parikalpayet,
    tryawarã wa’pi wrttasthä tam dharma na wicalayet.

Artinya :
Apapun juga bentuk Parisada itu jumlah anggotanya sekurang-kurangnya terdiri atas sepuluh orang atau tiga orang yang sesuai menurut fungsi jabatannya; keputusannya dinyatakan sah dan mempunyai kekuatan sah yang tidak boleh dibantah.

4. M. Ds. XII. 111.
    Traiwidyohaitukastarkamairuktodharma patnakah trayascasraminahpurwe parisatsyad       dasãwarã.

Artinya :
Tiga orang ahli dibidang Weda, seorang ahli dibidang lokika. seorang ahli dibidang Mimamsa, seorang ahli dibidang Nirukta, seorang abli didalam pengucapan mantra dan tiga orang dari jenis golongan pertama merupakan anggota Parisada ahli yang terdiri atas 10 anggota.

5. M Ds. XII. 112.
Rg. Weda widyajurwicca samaweda widewaca tryawarã parisajjneyãdharma  samsaryanirnaye.

Artinya :
Seorang yang ahli dibidang Rg. Weda, seorang yang mengerti Yajurweda dan seorang yang mengerti Samaweda dinyatakan merupakan tiga anggota majelis Parisada yang mempunyai wewenang dalam memutuskan bila perumusan hukum Hindu itu diragukan.

Dari lima contoh diatas maka jelas bahwa lembaga Parisada mempunyai peranan penting pula sebagai lembaga yudikatip dalam menentukan rumusan-rumusan yang diperlukan karena suatu hal pasal-pasal yang diperlukan dibidang agama belum dijumpai atau masih diragukan.

Dengan berpedoman pada naskah-naskah ini maka tidaklah begitu sulit dalam mempergunakan Weda itu. Yang terpenting didalam penggunaan Weda ini seseorang harus memahami masalahnya dan mengetahui kira-kira tentang masalah yang dihadapi serta letak dimana ketentuan hukum itu akan dijumpai.  Inilah yang merupakan ajaran umum yang perlu dihayati bagi setiap Hindu dan mereka yang akan menyimpulkan berbagai tradisi Hindu menurut Weda.



PENYEBARAN AJARAN WEDA

Penyebaran ajaran Weda didasarkan ketentuan Rg Weda X. 71. (3) Berdasarkan sloka-sloka itu, sabda-sabda dalam Weda akan tersebar luas serta menjadi populer melalui gita dan lagu yang disampaikan melalui yadnya. Dengan demikian maka Weda akan didengar oleh masyarakat umum tanpa mengenal batas karena golongan.

Menurut Rg. Weda X. 71. (4) menyebutkan adanya empat macam orang yang akan menyebarkan ajaran Weda menurut profesi mereka masing-masing. Keempat tipe itu merupakan sistim penyebaran ajaran yaitu:

  • Ahli kawisastra akan menyebarkan ajaran Weda melalui profesi mereka, misalnya dengan menyusun tulisan-tulisan kawi atau puisi dan melagukannya sehingga setiap orang dapat turut mendengar, menikmati keindahan isi serta bentuk gubahan sastra.
  • Seniman akan menyebarkan ajaran Weda melalui profesi mereka, misalnya dengan menyanyikan atau melakukan ajaran itu sehingga setiap orang ikut menikmati keindahan gubahan isinya melalui gubahan lagu-lagunya. Dengan demikian dilagukannyalah sabda sabda itu dalam bentuk nyanyian, kekidungan dan lain-lain baik dalarn bentuk macapat maupun dalam bentuk kekawin seperti Gayatri, Usnik, Anustub, Brihati, Pankti, Tristub, Jagati, Mandamalon dan sehagainya.
  • Ahli-ahli yang akan membahas, menggubah, mengembangkan dan sebagainya, sehingga isinya dapat dimengerti, dirasakan dan dihayati sepenuhnya baik secara populer maupun secara ilmiah. Melalui kaca mata ahli inilah ajaran Weda itu disebarkan dan diyakini oleh setiap pembacanya.
  • Pendeta-pendeta pemimpin upacara yadnya yang akan merumuskan, membudayakan dan mengembangkan melalui cara doa-doa, improvisasi, penghayatan secara mistik sehingga keseluruhan ajarannya dapat dinikmati serta dihayati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik mereka yang berpikiran maju maupun yang masih sederhana jalan pikirannya. Pandita akan mengucapkan mantra-mantra dengan menghayati dan melagukannya sedangkan yang lain mendengar dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh pandita itu. Ajaran inipun diketengahkan didalam Yajur Weda XII. 1. 1.

Berdasarkan sistim yang telah dikemukakan diatas yang diungkapkan berdasarkan Rg. Weda X, 73 (3 - 11) diatas dapatlah diharapkan ajaran Weda itu akan tersebar luas. Disamping itu menurut Yajur Weda XVI. 1 - 3 dan demikian pula menurut Rg. Weda II (23) bahwa ajaran Weda harus dipopulerkan dan diajarkan kepada semua golongan tanpa membeda-bedakan golongan mereka. Ajaran Weda hukan saja harus dihayati oleh golongan Dwijati saja, melainkan kepada Sudra dan orang yang bukan Hindupun dapat diajarkan Weda itu. Dengan demikian ajaran Weda menjadi populer dan dapat merobah dunia dengan menjadikan pembaca atau penghayatannya menjadi orang yang baik. Orang baik menurut ajaran Weda itu disebut dengan istilah Arya (Rg. Weda IX. 635). Spirit ajaran inilah juga yang membuat Asoka, seorang raja Buddhis bersemangat menyebarkan ajaran ”dharma” dengan menamakan dirinya sebagai kekasih dewata yang menaklukkan dunia melalui ajaran kedharmaannya. Disamping itu, Hindu mempunyai sistim lain dalam penyebaran ajaran Weda secara populer, yaitu dengan mengintrodusir ajaran Rsi yajna atau Brahma yajna. Ajaran ini dimaksudkan agar dipatuhi dan karena itu ajarannya bersitat obligatos. Melalui sistim TRI RNA (Tiga Macam Hutang), yaitu Dewa Rna, Rsi Rna dan Pitri Rna, maka ajaran Rsi Rna inilah dikembangkan ajaran Rsi Yajna yang menurut Manawadharmasastra, yajna itu dapat dilakukan dengan :

    • menghormati Pandita Brahmana dengan ajaran daksinanya.
    • mewajibkan membaca atau mempelajari Weda baik melalui guru (acarya) maupun dengan cara belajar sendiri (guruswadhyaya).
    • memperingati hari turunnya Weda, misalnya menyelenggarakan hari ,,Saraswati” sebagai hari turunnya Weda.

Untuk memantapkan penyebaran ajaran Weda, diketengahkan pula ajaran mengenai pahala sebagai akibat atau rakhmat bagi seseorang yang mempelajari atau membaca Weda.
Untuk dapat menghayati beberapa pahalanya didalam mempelajari Weda itu, Maha Rsi Manu didalam Manawadharmasastranya, menyatakan hal-hal sebagai berikut :

M. Dhs. II. 14.

Srutidwaidam tu yatrasyãt tatra dharmwubhau smrtau,
ubhãwapi hi tau dharmau samyang uktau manisibhih.

Artinya :
Pengetahuan smrti diwajibkan bagi mereka yang berusaha memperoleh pahala materiil  dan kebahagiaan duniawi sedangkan mereka yang ingin memperoleh pahala rokhani itu, Sruti adalah mutlak.

M Dhs. II. 26.

Waidikaih karmabhih punyair nisekãdir dwijan manam,
karyah sarirasamskarah pwanah pretya ceha ca.

Artinya :
Dengan melaksanakan upacara-upacara keagamaan yang diwajibkan oleh Weda, upacara praenatal dan samskara serta upacara-upacara lainnya akan mensucikan badan serta membersihkan diri seseorang dan dosa-dosanya setelah mati.

M. Dhs. III. 66.
Mantratastu smrddhãni kulãnyalpa dhanãnyapi, kulasamkahyãm ca gachanti karsanti ca mahadyasah.

Artinya :
Keluarga yang kaya akan pengetahuan Weda, walaupun hartanya sedikit, mereka tergolong diantara orang-orang besar dan terkenal.

M. Dhs. XI. 57.

Brahmajjnata wedaninda kanta saksyam suhridwadah, garhitanadyayorjagdhih surapana samani sat.

Artinya :
Melupakan Weda, menentang Weda, memberi kesaksian palsu pembunuhan teman sendiri, memakan makanan yang dilarang, menelan makan-makanan yang tak layak sebagai makanan adalah enam macam kesalahan yang dosanya sama dengan minum sura.

M. Dhs. XI. 246.

Wedabhyaso’nwaham saktya mahayajnakriya ksama, nasayantyasu papani mahapataka janyapi.

Artinya :
Mempelajari Weda setiap harinya, melakukan panca maha yadnya sesuai menurut kemampuannya, sabar dalam menderita, semuanya itu cepat atau lambat akan melenyapkan semoa dosa-dosanya walaupun dosa besar sekalipun.

Dari uraian-uraian diatas itu jetaslah hahwa pengajian Weda adalah sangat penting, baik untuk diri sendiri maupun akibatnya untuk kesejahteraan umat manusia. Dalam hal ini, Maitri Upanisad IV. 3. menegaskan bahwa adalah merupakan jaminan bagi seseorang akan mencapai kesempurnaan melalui belajar Weda serta melakukan kewajiban-kewajiban dengan teratur. Melakukan tugas kewajiban yang menjadi tugasnya adalah tingkah laku yang menjadi azas kehidupan beragama dan itu adalah ketentuan. Kewajiban-kewajiban seperti yang diwajibkan dan dianjurkan didalani Weda dan tidak nielanggar kewajihan yang telah ditetapkan akan meningkatkan tingkat kehidupan manusia karena sesungguhnya itulah yang dinyatakan sebagai kesucian yang layak. Inilah pokok-pokok yang diajarkan didalam Maitri Upanisad IV. 3.

Disamping Maitri Upanisad, Chandogya Upanisad XXIII. I. menegaskan hal-hal sebagai berikut : ,,Ada tiga kewajiban yang harus dilakukan yaitu berkurban mempelajari Weda dan berdana (bersedekah); Itu adalah tugas utama. Hidup bertapa merupakan kewajiban kedua sedangkan hidup berumah tangga dengan mengajarkan Weda merupakan tugas yang ketiga. Semua itu akan membawa kebajikan pada dunia. Ia yang tetap berdoa akan mencapai kesempurnaan.

Dan contoh-contoh diatas kiranya cukup jelas bagaimana Weda itu dipopulerkan dan disebarkan sehingga menjadi milik setiap umat manusia. Inilah pokok-pokok ajaran yang menjadi sendi kehidupan beragama menurut Hindu.

Untuk dimaklumi, bahwa petikan-petikan itu baru sebagian kecil saja yang diketengahkan karena banyak sloka-sloka yang dapat dijadikan titik tolak pembuktian yang bermanfaat sekali artinya dalam menghayati ajaran penyebaran ajaran Weda itu.

 

PETUNJUK PENGGUNAAN WEDA

Dan uraian diatas, luas lingkup materi Weda mcliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Didalam mencari pasal-pasal yang diperlukan baik untuk pedoman maupun sebagai landasan hukum didalam menilai berbagai aspek kehidupan masyarakat Hindu tanpa menyadari sistimatika diatas itu tidaklah mudah meraba hakekat yang menjadi dasar pola hukum yang terkandung dalam Weda untuk merumuskan seluruh tingkah laku manusia yang disebut dharmika.

Menghayati Weda tidak cukup hanya melihat aspek Sruti dan Smrtinya asia tetapi seluruh produk Smrti dan Wibandha itupun perlu harus dihayati dan dikaji. Oleh karena itu Bhagawan Wararuci (Kathyayana) didalam kitab Sarasamuccayanya seseorang mempelajari pula Itihasa dan Purana karena mereka yang tidak menghayati suplemen Weda itu tidaklah dapat menghayati Weda dengan baik.

Kebijaksanaan dan kebahagiaan akan dapat dicapai bila seseorang telah benar-benar menghayati Weda sebagai kenyataan. Dari Manusmrti II. 12. telah menegaskan bahwa kebajikan yang merupakan hakikat daripada Dharma diwujudkan didalam dunia ini berdasarkan norma yang tertera dan tersirat didalam Sruti, Smrti, Sadacara, Sila dan Atmanastusti dan karena itu didalam menulis tingkah laku manusia, lembaga-lembaga Hindu dalam lingkungan masyarakat Hindu tidak dapat lepas dari norma-norma sebagai mana terdapat didalam berbagai sumber itu.

Tingkah laku manusia bermasyarakat ditandai oleh berbagai jenis menurut pribadi maupun secara bermasyarakat, memiliki menentukan dimana kita akan memperoleh sumber hukum yang dapat dipergunakan didalam mencari materinya.

Sebagai gambaran perbandingan yang mudah. Wedasruti adalah merupakan UUD agama Hindu sedangkan Wedasmrti adalah UUP agama Hindu. Sebagai undang-undang agama, materi isinya sangat luas, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu ciri-ciri dari tiap-tiap jenis buku dengan pokok permasalahan yang menjadi dasar isi dari pada kitab itu harus dihayati. Sebagai halnya seorang ahli hukum yang hendak mencari pasal mengenai bidang hukum perdagangan ia harus mencari didalam kitab hukum Dagang dan tidak didalam kitab hukum agama atau syariat agama Hindu harus dicari didalam Dharmasastra sedangkan untuk tatalaksana ritual harus dicari didalam kitab-kitab Brahmana, Grhyasutra, Srautasutra dan lain-lainnya.

Inilah yang harus dihayati dan dipegang sebagai pedoman didalam mengkaji segala permasalahan hukum dan ajaran agama. Memang harus disadari bahwa materinya kadang-kadang overlaping antara satu buku dengan buku yang lain. Kadang-kadang terdapat pula kekaburan isi yang sulit dipahami oleh orang-orang awam. Akan lebih sulit lagi kalau sampai didalam pelaksanaan ajaran agama itu tidak dapat perumusan-perumusan yang tegas sehingga tidaklah mudah bagi seseorang menentukan mana yang besar dan sah menurut ajaran Hindu.

 

BUKU BACAAN

  • A History of  Indian Literature
    (Dr. M. Winternitz, Ph. D.)
    University of Calcutta, 1959.
  • A History of The Samskrta Literature.
    (V. Varadacrari, M.A.)
    Ram Narain Lal, Allahabad, 1952.
  • Hindu Samskaras, a scio - religious study of the
    Hindu Sacraments.
    (Dr. R. B. Pandey)
    Vikrama Publication, Banaras (1949).
  • Hymns of the Rg. Veda
    (Ch. Manning).
    Susil Gupta Ltd. (1952).
  • The call of Vedas.
    (Dr. AC. Bose).
  • The sacred Book of the East.
    (G. Bhuler).
  • Manawadharmacastra.
    (G. Pudja, M.A. dan Tjok. Rai Suddharta M.A.).
  • A Vedic Reader for students.
    (A. A. Macdonell, M.A. Ph. D.).
    Offord University Press. (1956).
  • The Thisteen Principal Upanisads.
    (Dr. R.E. Hume).
    Offord University Press. 1 954.
  • Hindu Religion, customs and Manners.
    (P. Thomas).
  • Saiva Upanisads.
    T.R. Srinivasa Ayyangar (1953).
  • Wedaparrikrama.
    G. Pudja M.A. (1971).
  • Sarasamuccaya.
    I.N. Kadjeng DKK. (1970).
  • Hymms from the Vedas.
    (A. C. Bose).
    Asia Publishing House, 1966. 

DAFTAR NAMA-NAMA RSI YANG DISEBUT DIDALAM WEDA

Aghamarsana (putra Madhucchanda).
Agastya
Apratiratha.
Atharwan.
Atri
Bhrgu.
Bharadwaja (putra Brhaspati).
Brhaspati (Keluarga Angira).
Brahma Swayambhu.
Brahma.
Damana (putra Yama).
Dadhyac.
Dirghatama (putra Utatthya).
Ghosa (putri Kaksiwat).
Garga (putra Bhraradwaja).
Gotama (Putra Rahugana).
Hiranyagarbha (putra Prajapati).
Irimbithi (keluarga Kanwa).
Yetri (Putra Madhucanda).
Kawasa (putra Elusa).
Kasyapa (Keluarga Marici).
Kutsa (Putra Angira).
Madhucchanda (putra Wiswamitra).
Manyu (putra Tapa).
Manu (putra Wiwaswat).
Nidhruwi (Keluarga Kasyapa).
Payu) Putra Bharadwaja).
Paramesthin.
Parucchepa.
Patiwedana.
Prajapati.
Santati.
Samkusuka (putra Yama).
Saunaka.
Samwanana (keluarga Angira).
Sisu (keluarga Angira).
Sindhudwipa (putra Raja Ambarisa Twastri).
Surya (putri Sawitri).
Sobhari (keluarga Kanwa).
Syawaswa (putra Atri).
Ula (keluarga Wata).
Wamadewa (putra Gotama).
Wasistha.
Wiwaswat (putra Aditi).
Wiswamitra (putra Gathin).
Wyasa.
Yami (putri Wiwaswat).
Yama (putra Wiwaswat).

(N.B. Nama-nama itu terdapat didalam Rg. Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda, sedangkan     namanama Rsi sesudah jaman Weda banyak pula, masih dalam penelitian).