Anak Wajib Melindungi Ibunya

Weda Wakya
Anak Wajib Melindungi Ibunya

Kale'daataa pita vaasyo
Vasvascaanupayan patih
Smrte bhartari putrastu
Vaasyo matura raksitaa
(Manawa Dharmasastra,IX.4)

Maksudnya: Bersalahlah seorang ayah yang tidak mengawinkan putrinya kalau sudah waktunya. Seorang suami dapat disalahkan kalau tidak menggauli istrinya pada waktunya. Seorang putra dapat disalahkan kalau tidak mengayomi ibunya apalagi suami ibunya telah meninggal.

Umumnya banyak ibu meskipun sudah renta hidup bahagia karena mendapatkan perhatian khusus dari putra dan putrinya. Meskipun waktu putra dan putrinya dari dalam kandungan sampai jadi orang, dia urus dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Ibu-ibu pada umumnya tidak pernah punya pamerih setelah tua agar dimanjakan putra putrinya. Tetapi tidak semua ibu-ibu yang sudah renta itu hidup bahagia mendapat perhatian penuh hormat dan kasih sayang dari putra putrinya. Banyak juga ibu-ibu yang menderita apalagi suaminya telah meninggal. Ada yang hidup berkekurangan baik materi maupun kebutuhan nonmateri seperti rasa hormat dan kasih sayang anak cucunya. Waktu anaknya dari dalam kandungan sampi bersekolah ibu mendamipingi suaminya mengurus putra dan putrinya itu. Setelah jadi orang, idealnya anak itulah yang semestinya menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang pada orang tuanya. Tetapi tidak semua orang mendapatkan perhatian seperti itu. Apalagi anaknya sudah berumah tangga, ada juga yang mengabaikan ibunya. Ada anak setelah sukses hidup berkecukupan dengan istri dan putra putrinya tidak memperhatikan nasib ibunya. Padahal dia itu dari kecil hingga besar dan sukses karena pengabdian ibunya dengan penuh kasih sayang tanpa pamerih. Banyak putra setelah sukses meraih pendidikan tinggi, jabatan terhormat, rezeki berlebihan, tetapi membiarkan ibunya hidup telantar. Bahkan ada anak yang mengabaikan perhatian pada ibunya meskipun mereka itu berpendidikan tinggi. Ada macam-macam alasan yang melatarbelakangi seorang anak setelah sukses lupa memperhatikan ibunya. Ada karena takut pada istrinya yang karena beda latar kehidupannya atau pernah tidak cocok dengan sang mertua. Maklum ibu yang renta apalagi kurang pendidikan dan pergaulan tentunya ada saja yang tidak nyambung dengan menantunya. Apalagi sang menantu beda latar belakang kehidupan, pendidikan dan lingkungan pergaulan dengan sang mertua. Perbedaan latar belakang itulah yang sering menjadi pemicu konflik. Dari konflik kecil-kecilan sampai membesar. Kalau kedua belah pihak sama-sama kurang bisa mengendalikan diri maka sang anak yang kurang bijak bisa ikut-ikut bela istri dan memusuhi ibunya. Seyogianya sang putra jadi mediator antara ibu dan istrinya. Dengan mediator itu perbedaan tidak perlu sampai jadi konflik, apa lagi sang ibu sampai telantar. Ibu dan istri kedua-duanya wanita harus wajib dihormati dan jangan sampai mereka hidup telantar. Apalagi Manawa Dharmasastra III.56 menyatakan: ''Dimana wanita dihormati di sanalah para Dewa senang dan melimpahkan anugerahnya. Di mana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apa pun yang memberikan pahala mulia.'' Demikian pustaka suci menyatakan bermusuhan adalah hidup yang tidak enak, apalagi antara anak dengan ibu atau antara mertua dengan menanti sejuh mungkin harus dihindari. Sarasamuscaya 247 menyatakan: “Orang yang ditinggalkan oleh ibunya karena permusuhan dengan ibunya sendiri, orang tersebut akan miskin, akan senantiasa menghadapi duka nestapa, dunia pun seakan-akan tidak ada apa-apanya, sepi adanya.”

Oleh karena itu sebagai putra, generasi-generasi muda Hindu yakinilah kebenaran ajaran agama Hindu ini terutama dalam melakukan pengabdian pada orang tua, terutama ibu yang melahirkan dan mengurus kita sampai jadi orang. Kita jangan mengabaikan kewajiban mulia untuk memperhatikan keberadaan ibu kita, apalagi mereka telah renta. Seandainya ibu kita itu ada aneh perilakunya karena renta, hal itu jangan menyurutkan pengabdian kita pada orang tua terutama ibu.

Beberapa tahun yang lalu ada seorang ibu yang semua putranya sukses meraih pendidikan dan jabatan terhormat bahkan ada yang mendapat jabatan terhormat di luar negeri. Semua anaknya bekerja di luar Bali. Ibu tersebut suaminya meninggal, dia tinggal seorang diri di suatu desa di Bali. Dana untuk hidupnya dikirimi oleh putra-putranya yang sukses dari rantau. Tetapi sang ibu yang sudah renta selalu hidup kesepian. Lama kelamaan ibu tersebut tak tahan kesepian sendiri terus bunuh diri. Ini mungkin juga karena dilema perubahan zaman. Ibu tersebut hidup dalam budaya agraris. Dia berhasil menggenjot pendidikan putra-putranya dengan penuh dedikasi. Setelah putra-putranya berhasil memasuki kehidupan industrial, sang ibu tidak bisa mengikuti perubahan sistem budaya. Dia pun terpinggirkan oleh zaman di mana dia juga ikut mengubahnya melalui pendidikan putra-putranya. Banyak sesungguhnya ibu-ibu yang hidup kesepian di desa setelah putranya sukses dan tinggal di kota. Apalagi pasangan sang putra di kota hanya mau hidup bersenang-senang dengan pasangannya dan tidak mau menerima sang mertua masih kental dengan budaya agrarisnya. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari putra-putra yang sukses, jangan biarkan ibunya hidup kesepian. Budaya industri tidak mesti meninggalkan budaya agraris secara mutlak. Tanpa budaya agraris, budaya industri pun akan keteteran menghadapi gejolak zaman.

Seorang putra wajib memberikan perhatian lebih pada ibunya karena derita saat mengandung sangatlah berat. Karena itu sangat logis pernyataan pustaka Manawa Dharmasastra II.145 menyatakan sebagi istri kehormatannya setara dengan suaminya. Tetapi sebagai ibu atau disebut pitri matta, seribu kali lebih terhormat dari seorang ayah. Memang Manawa Dharmasastra II.121 menyatakan bahwa mereka yang berbhakti dan patuh pada orang tuanya akan mendapatkan empat pahala yaitu semakin sejahtera (kerti), semakin kuat lahir batin (bala), panjang umur (yusa) dan semakin berilmu (vidya).

[Balipost Minggu, 04 Desember 2011 – Ketut Wiana]