| LELUHUR BALI KUNO DI GUNUNG KAWI |
|
Leluhur Bali Kuno di Gunung Kawi Selain tempat memuja roh leluhur raja-raja Bali Kuno, Candi Gunung Kawi di Tampaksiring juga diyakini sebagai tempat nyaman bersamadi, menuju titik hening damai. Medio Mei 2006, empat warga Eropa yang baru saja usai menyaksikan pertunjukkan tari barong di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, sontak menuju tinggalan situs tua, Candi Gunung Kawi, di Desa Tampaksiring. Ditemani pemandu, tetamu berkebangsaan Perancis itu menuruni 150 undak jalan setapak berlapis beton. Tiba di tepian barat Tukad (Sungai) Pakerisan, tetamu itu tepekur menyaksikan deretan candi yang terpahat rapi di dinding tebing. Kamera digital yang sedari awal menggelayut di tangan turis pria, mulai sibuk membidik-bidik sasaran. Satu per satu candi tua yang oleh masyarakat setempat lumrah disebut “Candi Kawanan” (candi di sebelah barat) itu diabadikan. Tentu tak lupa pula mereka mengabadikan diri berlatarbelakangkan candi tebing ini. Di kalangan pelancong asing, lebih-lebih yang suka peninggalan purbakala, Candi Gunung Kawi selalu menjadi daya tarik tersendiri. Para pemandu seakan tak kewalahan bahan dalam menjelaskan berbagai keunikan dan kekhasan situs yang berlokasi di Banjar Penaka, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar ini. “Candi Gunung Kawi memiliki perbedaan yang lain dibandingkan jenis candi di Jawa,” tutur Nyoman Sonaka, pemandu dari sebuah biro perjalanan di kawasan Jalan Raya Ngurah Rai Sanur, Denpasar. Tempat-tempat pemujaan Hindu lazim, memang, berdekatan dengan sumber-sumber air: danau, laut, sungai, mata air, ataupun pertemuan aliran air ( campuhan, sanggam ). Bila tak dekat air, kerap akan dibuatkan telag atau kolam buat mengalirkan dan menampung air. Bagi manusia Bali penganut Hindu, air tentu bukan sebatas sumber kehidupan dan pemberi kesuburan. Air juga mengandung makna kesucian. Karenanya, di Bali dalam suatu upacara ada istilah nunas tirtha , mohon air suci. Air-lah yang mengawali sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian tradisi upacara manusia Bali Hindu, sampai kini. Maka, bukanlah suatu kebetulan manakala Candi Gunung Kawi berdampingan dengan aliran air Tukat Pakerisan yang berpusat hulu di Tirta Empul. Candi Gunung Kawi memang tinggalan tua berarsitektur pra-Hindu di Bali. Laporan Tim Peneliti Universitas Udayana, tahun 1990, mengungkapkan situs tua ini ditemukan tahun 1920 oleh seorang residen yang berkuasa di Bali kala itu, bernama HT Damste. Arkeolog Dr R Goris, misalkan, dalam artikel “Dinasti Warmadewa dan Dharmawangsa di Pulau Bali” terbitan tahun 1957 menyebutkan, Candi Gunung Kawi merupakan bangunan yang difungsikan sebagai tempat memuliakan roh Raja Udayana beserta keluarganya. Tafsiran ini dihubungkan dengan pahatan prasasti pada salah satu candi. Tipe huruf serupa dapat dilacak kembali ke zaman Kadiri (Jawa Timur) tahun 1100 – 1220 Masehi. Tipe huruf Kadiri Kwadrat biasanya dipergunakan pada prasasti-prasasti pendek sebagai hiasan pada candi, pintu gua, atau tempat suci, serta pada patung. Di Bali, jenis huruf ini banyak dipergunakan pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Di sebelah barat Sungai Pakerisan terdapat kelompok candi empat. Goris memperkirakan keempat candi dimaksud sebagai “ padharman ” empat selir Raja Anak Wungsu. Di sebelah barat daya, ada satu candi yang dikenal dengan candi ke-10 (sepuluh). Pada pintu masuk candi ini terdapat tulisan “ rakryan ”. Mencermati tulisan huruf Kadiri Kwadrat tersebut, besar kemungkinan kelompok candi ke-10 sebagai tempat padharman pejabat atau perdana menteri pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Bermula dari hilangnya seorang warga Banjar Penaka bernama I Kenil. Pria berusia 50 tahun tersebut sempat tak diketahui jejaknya selama dua pekan. Keluarga dan warga Penaka dibuat cemas. Mereka bingung, berusaha mencari tahu di mana sesungguhnya Kenil berada. Pencarian dilakukan ke seluruh banjar, termasuk ke keluarga yang ada di luar Penaka. Hasilnya? Nihil. Tak ada titik terang. Di tempat becek itulah keluarga Kenil dihimbau menghaturkan sesaji, memohon agar keluarganya yang hilang kembali lagi ke rumah. Tiba di Penaka, keluarga Kenil melaksanakan titah jero balian , tentu dengan dipandu Jero Mangku di Pura Gunung Kawi. Permohonan warga Penaka ini terkabulkan. Selang tengah hari, ternyata orang yang hilang itu telah kembali ke rumahnya. Lokasi yang masih berselimut semak belukar itu kemudian dibersihkan warga desa. Ternyata malah ditemukan banyak gua menyerupai gua yang ada di sekitar Pura Gunung Kawi. Masyarakat Penaka selanjutnya membersihkan temuan baru itu—mereka lantas memberi nama Pura Goa Baru, tempat memuja Ida Batari Melanting. Keadaan alam di sekitar candi nan asri dengan gemericik air Tukad Pakerisan yang tiada henti ini tentu menambah sejuk suasana, sehingga diyakini menebarkan energi alam yang kuat. Kondisi serupa jelas memberi peluang besar bagi orang-orang yang berkeinginan melaksanakan samadi, menyamudera dengan keheningan alam dan jiwa. I Wayan Sucipta, KS |