| DOA DURYODANA PADA IBU GANDARI |
|
Renungan Siang itu, sang surya memancarkan sinarnya yang lembut, namun di hati Duryodana, semua itu hadir sebagai sebuah kehampaan, karena semua teman-teman serta saudaranya telah mendahului pergi ke alam lain, kalah perang. Duryodana memandangi medan kuru ksetra yang sangat luas dan kering seakan-akan tidak bersahabat, yang tampak adalah hanya puing dan desau angin yang seakan mengejek hati Duryodana. Duryodana kembali teringat kata-kata Widura. “Kau, Duryodana akan menjadi penyebab kehancuran bangsa kuru, karena sifatmu yang sombong dan serakah.” Mengingat semua itu hati Duryodana seakan teriris. Ia berpikir dan berkata dalam hati, Widura pasti telah melihat semua ini dengan mata bhatinnya. Lalu Duryodana menaiki punggung kudanya, di atas kuda dia kembali melihat tenda-tenda Kurawa yang kosong, ditinggalkan mati penghuninya. Kuda yang lelah dan banyak luka-luka itu dipacunya. Kuda itu meringkik lalu lari. Sekejap setelah itu tersungkur, lalu mati. Kudanya telah kehabisan darah karena kena senjata sakti musuh. Duryodana menangisi keadaan itu, kuda yang satu-satunya, yang menjadi teman setia saat itu kini juga mati. Dia meninggalkan bangkai kudanya. Pikirannya menerawang, memikirkan delapan belas hari yang lalu, betapa kemegahan dan keperkasaan pasukannya, seakan tak terkalahkan. Mengingat itu lagi, hatinya sangat berat karena kesedihan. Bukan sedih untuk dirinya, namun kesedihan untuk mereka yang telah mati untuknya. Pikirannya melayang pada Karna, Bagaimana dia telah menderita. Ia telah melakukan banyak hal untulcnya, dan dia harus mati demi membela dirinya, temannya. Ia pasti sangat bingung ketika mengetahui bahwa para Pandawa adalah saudaranya. Karna, satu-satunya Karna. Wajah Duryodana terbakar seakan-akan hujan api telah mengguyurnya. Ia ingin melarikan dirinya secepatnya. Ia terus berjalan dan berjalan, sampai di suatu tempat di pinggir danau yang sejuk dan tenang. Dia ingin menyejukkan badannya. Mengingat sifat dan pengorbanan Karna, Duryodana tidak ingin hidup lagi, dia ingin bertemu Karna di alam lain. Dunia fana ini tidak bersahabat lagi dengan dirinya. Kondisi ini dilihat oleh Sanjaya, hati Sanjaya sedih. Sanjaya seorang kusir kereta, yang masih hidup, “Tuanku, aku adalah kusirmu.” Duryodana berkata, “Sanjaya, aku bahagia sekali, kau telah lolos dari kemarahan Pandawa.” Ia memeluknya dengan hangat dan memegang tangannya. “Apa yang terjadi pada dirimu,” kata Duryodana. “Hamba hampir dibunuh oleh Satyaki, namun dihalängi oleh Bhagawan Byasa, tujuannya adalah supaya hamba bisa menemui sang raja dan menceritakan kondisi di Kuruksetra. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada paduka, Anda tidak seperti dulu lagi, kenapa tuanku?” Tanya Lalu Duryodana melanjutkan, “Aku ingin engkau menemui ayahku dan memberitahukannya, “Putramu, Duryodana telah menenangkan diri di danau, bilanglah begitu Sanjaya.” Wajah Duryodana nampak sangat sedih dan ia berharap dapat menyejukkan kaki-kakinya yang terasa panas dan juga hatinya dengan tinggal di danau itu beberapa saat. “Sanjaya, Apalah gunanya hidup jika semua saudara mati dan juga teman-temanku dan ketika perang berakhir dengan kemenangan di pihak Pandawa, yang aku benci dan musuhi. Ada dua kemungkinan, aku hidup atau mati, kalau aku hidup dia harus mati, namun kini peluang untuk aku hidup sangat kecil, dan aku tidak ingin mempertahankan apa pun, hanya kematian yang membahagiakan diriku. Oh, Sanjaya katakan pada ayahku, bahwa aku tidak memiliki keinginan untuk hidup sama sekali. Sampaikan kepada ayahku salam hormatku, Aku tidak bisa menemuinya lagi. Aku meminta maaf atas kesedihan yang telah aku berikan kepadanya. Aku tahu dia berambisi agar aku menjadi raja, untuk menggantikannya, namun itu kini tidak mungkin, karena cintanya padaku, Aku menjadi seperti ini. Ia selalu mencintai aku lebih dari apapun.” Sanjaya tak tahan lagi, dia menangis sejadi-jadinya. Lalu, Sanjaya bertanya, pesan apa yang paduka hendak sampaikan kepada Ibu Gandari? Duryodana menarik nafas panjang, kemudian berkata, “Sanjaya, katakan kepada ibu Gandari, bahwa aku tidak pantas menjadi anak seorang ibu mulia seperti dirinya. Dia seorang yang saleh, dan taat akan kebenaran, dia juga tidak memberkati aku ketika perang ini dimulai, karena apa yang aku harapkan tidak sesuai dengan nazar sucinya. Aku tidak pernah mengindahkan kata-katanya. Katakan padanya bahwa Duryodana ini, yang tidak pernah menundukkan kepala kepada siapa pun, bersujud di kakinya dan memohon ampunan darinya. Katakanlah kepadanya bahwa satu-satunya doaku adalah memilikinya menjadi ibuku dalam kelahiranku yang akan datang dan juga pada semua kelahirannku, aku bangga memiliki ibu seperti itu, dalam kelahiran nanti aku ingin menghormatinya dan menepati segala perintahnya. Katakanlah begitu dan pergilah sekarang Sanjaya, aku akan beristirahat dan menenangkan sukmaku di dalam danau sebelum ada orang yang melihatku.” Sanjaya pergi dan Doryodana terjun dalam Danau Dvaipayana, untuk merenungi kehidupan yang masih tersisa. ”Om Gam Ganapataye namaha”. Raditya – 135, Oktober 2008. |